
"Baiklah, memang kebetulan saya akan makan siang, tetapi bolehkah kita bertanya terlebih dahulu kepada sekertaris saya, apakah dia tidak masalah kalau anda ikut kami makan siang" jawab Endra lalu melihat ke arah Naina yang masih pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Ahahaha,, tuan sungguh sangat berterus terang, apa tuan tidak menyadari bahwa sekertaris jaman sekarang terkadang mereka menginginkan posisi seorang nyonya" sindir wanita itu dan melihat juga kearah Naina.
"Sayang, kemarilah,,, sapa nyonya Atika yang berasal dari perusahaan kosmetik terbesar di negara BB,, beliau asli Indonesia yang sukses di luar negeri, jadi sangat fasih berbahasa Indonesia" panggil Endra pada Naina.
Awalnya Naina ragu, tapi saat Endra mengulurkan tangannya dan kembali meminta supaya dia mendekat, akhirnya Naina mendekat, dengan sedikit canggung Naina menganggukkan kepalanya untuk menyapa Atika.
"Apa maksudnya dengan sayang, apa tuan Endra yang terkenal sangat terhormat, dan dingin terhadap wanita bisa seperti ini?? dahulu image pasangan romantis disematkan pada tuan dan mantan istri tuan, lalu setelah bercerai, apakah tuan menjadi sedikit,,, ah sudahlah,, tidak pantas aku mengatakannya,, lagipula aku datang hanya untuk bekerja sama karena tuan terkenal sangat kompeten, tapi pribadi tuan sungguh bertolak belakang" Atika sepertinya sangat tersinggung karena dia merasa kalah hanya dengan seorang sekretaris.
"Nyonya Endra,, apakah boleh kalau nyonya Atika ingin bergabung bersama kita untuk makan siang?" tanya Endra pada Naina tanpa membalas apapun perkataan Atika.
Naina tersenyum dan mencubit gemas pipi Endra, dengan senyuman manis yang masih terukir di bibirnya, Naina lalu melihat ke arah Atika.
"Tentu boleh nyonya, anda boleh ikut makan siang bersama kami" ujar Naina.
Atika menjadi canggung karena dia tidak mengerti yang terjadi, tetapi dia lalu menyadari bahwa Naina adalah istrinya Endra.
Atika lalu pamit setelah mengetahui Endra tidak mungkin bisa dia dapatkan kali ini, tetapi senyuman liciknya kemudian hadir saat keluar ruangan dan masuk ke dalam mobil nya.
"Aku sudah lama menunggumu, kalau hanya wanita itu, bagiku tidak ada apa-apa nya, lagipula aku tau kamu sudah sembuh, aaakkkkkhhhh Endra sayang,, aku harus mendapatkan dirimu" gumam Atika sensual dan meraba bagian intimnya.
Endra membawa Naina ke sebuah restoran mewah, sebenarnya Naina tidak terlalu menyukainya karena bagi Naina, makan itu yang penting kenyang tidak perlu yang mewah.
"Apa tadi kamu cemburu pada mereka sampai menghajar mereka seperti itu?" tanya Endra yang telah mengetahui siapa para wanita itu, Naina tertawa mendengarnya.
"Ahaha, kalau aku cemburu, mereka tidak akan mungkin seperti itu, kenapa aku harus cemburu pada masa lalu?" jawab Naina santai sambil memakan steak daging sapi yang dipesankan oleh Endra untuknya.
"Katakan saja, kamu tidak perlu malu"
"Tuan Endra yang terhormat, saat aku cemburu dunia ini akan hancur, jadi kamu jangan macam-macam padaku,, tadi aku tidak cemburu tapi marah" jawab Naina lalu menyuapi suaminya.
"Maafkan atas masa lalu ku" ucap Endra dan terus memandangi wajah istrinya.
"Jangan mengungkitnya lagi, bukankah aku juga punya masa lalu,, dan masa laluku juga tidak indah, jadi lupakan semuanya" Naina menggenggam tangan Endra untuk menguatkan suaminya.
"Terimakasih sayang" Endra semakin merapatkan tubuhnya pada Naina, mereka ada di restoran dengan ruangan privat, jadi tidak perlu malu dilihat oleh pengunjung lainnya.
"Ucapkan terima kasih dengan benar,, yaitu tidak menganggu tidurku malam ini" bisik Naina karena suaminya itu berusaha memeluknya.
"Baiklah, tapi aku akan melakukannya sekarang, dan mulai besok aku akan melakukannya dua kali lipat, malam ini kamu boleh beristirahat dengan tenang" ujar Endra membuat Naina membelalakkan matanya.
"Kamu sangat curang,, aaakkkkkhhhh!" Endra telah \*\*\*\*\*\*\* habis bibirnya, Naina berusaha mendorong tubuh Endra karena takut ada pelayan yang masuk.
"Iya baik, aku tidak meminta ucapan terima kasih dengan benar, lakukan seperti biasanya saja, dan sekarang biarkan aku makan" ucap Naina lalu menahan bibir suaminya yang kembali ingin menciumnya.
"Begitu dong,, pintar sekali wanita cantik ini,, istri siapa ya??" Endra terus menggoda Naina membuat Naina kesal lalu menggigit tangan Endra yang sedang mencoba menyuapinya.
"Aaagggghhhh!,,, kamu tidak sabaran sekali sayang, iya nanti dirumah,, kamu boleh menggigitku sepuasnya" ujar Endra semakin menggoda Naina.
"Sepertinya klien mu tadi menyukai dirimu"
"Apa kamu cemburu??" tanya Endra memancing Naina.
"Iya" jawab Naina singkat tapi sangat jelas, Endra sangat senang mendengarnya, karena itu berarti Naina memang mencintainya, Endra langsung menyambar bibir Naina yang sedang meminum es jeruk.
"Hhhmmmmpppp" Naina kaget karena gerakan cepat Endra, Endra bahkan menyedot air minum yang ada di mulut Naina supaya Naina tidak tersedak, Endra terus menciumi Naina, dia sangat bahagia karena sampai saat ini, Endra kadang masih tidak percaya bahwa Naina telah menerima dirinya seutuhnya, baik hati maupun raganya.
Wajah Naina merona merah karena malu dengan ulah suaminya, Endra bahkan tidak merasa jijik meminum air yang telah ada di mulutnya, Naina menutupi wajahnya karena malu setelah Endra melepaskan ciumannya, karena hal itu dibarengi dengan masuknya salah satu pelayan untuk menyajikan pesanan terakhir mereka, tadi Naina meminta dessert es krim.
Naina mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu dengan masih sedikit menutupi wajahnya, Endra semakin gemas dengan tingkah laku Naina dan kembali melakukan hal yang sama saat Naina sedang memakan es krim nya.
"Sudah,, dadaku sangat sakit"
__ADS_1
"Itu karena kamu mencintaiku" jawab Endra yakin.
"Memang benar, jadi aku mohon jangan lakukan hal seperti ini secara tiba-tiba lagi"
Mendengar jawaban dari Naina membuat Endra semakin tersenyum lebar dan mencium pipi Naina yang masih asyik memakan es krim nya untuk menutupi hatinya yang terus berdebar, Endra langsung menarik Naina kedalam pelukannya dan terus menciumi kepala istrinya tersebut, Endra sangat bahagia.
"Bisakah tolong dengarkan perkataan ku,, aku benar-benar berharap kamu tidak bekerja lagi"
Naina tidak tau harus menjawab apa, tetapi dia benar-benar harus bekerja, karena dia masih selalu beranggapan suatu saat Endra akan berubah, jadi dia harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, masalah hati dia akan terus menguatkan diri, tetapi masalah finansial, dia harus bersiap dari sekarang.
Naina memang mencintai Endra dan sudah menerima suaminya itu apa adanya tanpa memikirkan masa lalunya, hanya saja pengalaman membuat Naina lebih waspada.
"Aku akan bosan nantinya, tolong biarkan aku bekerja walau hanya sebentar setiap harinya,, aku juga merasa tidak enak denganmu, aku tau Renata sangat kompeten dan membuat salon kecantikan milikku berjalan lebih baik tetapi,," Naina tidak melanjutkan ucapannya karena Endra memotong ucapannya.
"Apa kamu masih meragukan ku? apa kamu tidak yakin kalau aku sanggup menghidupi mu dan anak-anak?"
Naina tidak menyangka Endra bisa berfikiran seperti itu, karena Naina yang sudah sejak lama hidup mandiri, bahkan saat masih bersama dengan Roni, dia sudah biasa mandiri karena uang nafkah dari Roni yang tidak pernah mencukupi, tetapi Naina tidak pernah mengeluh dan hanya terus bekerja keras.
Jadi saat ini juga Naina tidak akan mau untuk meminta uang pada Endra, sepertinya Naina belum menyadari perubahan hidupnya, sekarang dia adalah seorang istri dari Endra Prasetya yang termasuk pengusaha sukses dikota itu, walau sempat diterpa masalah, tetapi kondisi finansial Endra tidaklah terpuruk.
"Sayang,,, mobilmu yang terparkir dirumah,, bahkan rumah yang kita tempati semua atas namamu, kalau kamu mau aku bisa menggantikan semua asetku menjadi atas namamu, supaya kamu yakin padaku, biarkan aku yang menumpang padamu" ucap Endra lalu memegangi kedua pipi Naina supaya istrinya itu focus padanya.
Naina terdiam mendengar ucapan suaminya, dia menikah dengan Endra bukan karena menginginkan harta nya tetapi benar-benar menerima Endra apa adanya, bahkan butuh waktu lama bagi Naina untuk bisa menerima Endra sepenuhnya, dan hal itu bukan sama sekali karena hartanya.
"Apa kamu pikir aku menerimamu karena hartamu? aku bukan wanita seperti itu" Naina melepaskan tangan Endra dan merapikan tas serta ponselnya, Endra mendekap erat tubuh Naina.
"Sayang maafkan aku,,, aku sungguh tidak tau apa yang harus aku lakukan, maafkan kalau aku menyinggung perasaanmu, aku hanya tidak ingin kamu bekerja, karena aku tidak mau kamu kecapean atau mendapatkan masalah apapun nantinya, aku hanya ingin supaya kamu selalu ada dalam pengawasan ku, maafkan aku karena terlalu mencintaimu dan bergantung padamu"
"Aku mencintaimu, percayalah sayang,, aku tidak akan mendapatkan masalah apapun, memang siapa yang berani padaku?? istri dari tuan Endra Prasetya, aku bisa menjaga diriku, percayalah"
"Baiklah, tapi katakan padaku kalau ada masalah apapun, jangan pernah bertindak sendirian seperti tadi"
Naina mengangguk, mereka lalu bersiap untuk kembali pulang karena waktu sudah menunjukkan hampir sore hari, Endra tidak kembali ke kantornya karena pekerjaannya sudah selesai dan semua bisa diatasi oleh Suseno.
"Naina,, jangan membuat kami khawatir, kamu harus bisa menjaga dirimu" ujar Rayhan yang belum kembali kerumahnya karena tertunda disebabkan oleh Naina yang menghilang, setelah melihat menantunya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, Reyhan lalu berpamitan untuk segera kembali ke rumahnya.
Sebelum Rayhan berangkat, terlihat Reynolds yang membawa koper Rayhan keluar dari kamar tamu, saat Rayhan sedang berbicara dengan Endra, Naina mengambil kesempatan untuk berbicara pada Reynolds yang sedang menuju garasi.
"Rey tunggu,," panggil Naina.
Reynolds menoleh dan menganggukkan kepalanya memberi hormat pada Naina, setelah merapikan koper kedalam mobil, Reynolds lalu sedikit mendekat ke arah Naina, karena dia tau kalau Naina akan menanyakan sesuatu.
"Kenapa kamu menolak dijodohkan dengan adikku?? apa dia tidak cukup layak untuk dirimu?"
"Bukan begitu nona, justru sebaliknya,, sayalah yang tidak layak untuk nona Ningsih, sungguh sangat tidak layak, sudah sangat benar kalau Seno yang menerima perjodohan itu"
"Apa kamu tidak mempunyai perasaan sedikitpun terhadap Ningsih?"
"Bagi orang seperti saya, cinta tidak terlalu penting"
"Bagi siapapun cinta itu sangat penting, cobalah berusaha terlebih dahulu, aku yakin kalian akan cocok"
__ADS_1
"Tidak nona,, biarkan nona Ningsih berbahagia bersama Seno, aku yakin Seno bisa membahagiakannya"
"Aku juga percaya akan hal itu, tetapi aku adalah kakaknya Ningsih, dan Seno sudah seperti kakak nya suamiku, yang berarti dia juga kakakku, aku sangat yakin kalau Seno menerima perjodohan itu hanya demi ayah Rayhan, tidakkah ini terlalu kejam untuknya?? aku bukan ingin memojokkan dirimu, tapi aku sangat yakin bahwa kamu yang lebih bisa membahagiakan Ningsih"
"Ssaayyyaaang,, ssaayyyaaang!!" terdengar suara Endra berteriak mencari istrinya, Naina langsung menjawab dan mengatakan dia berada di garasi.
"Apa yang kamu lakukan disini??" tanya Endra langsung memeluk Naina tanpa malu walau dilihat oleh Reynolds, tatapan mata Endra seperti ingin membunuh Reynolds, sepertinya Endra cemburu melihat istrinya yang tengah berbicara dengan Reynolds.
Melihat tatapan mata Endra membuat Reynolds langsung menundukkan wajahnya, dia tidak berani berkata apapun, untung saja Naina menjelaskan apa yang terjadi.
"Aku menanyakan tentang perjodohan Ningsih, dan hanya ingin tau kenapa dia menolaknya"
"Sayang, jangan ikut campur urusan orang lain lagi, kamu hanya cukup mengurusi diriku saja" ujar Endra lalu melepaskan pelukannya dan mencium kening Naina, Rayhan sudah selesai bersiap dan segera bergegas untuk kembali ke rumah setelah berpamitan pada anak-anaknya.
"Ingat pesan ayah ya Nai,, jangan membahayakan dirimu, dan Endra,, kamu harus lebih ekstra lagi menjaga istrimu"
Setelah kepergian Rayhan, Endra langsung menggendong Naina menuju ke kamar untuk mandi sore bersama, setelah selesai mandi, Endra bermanja-manja dengan meletakkan kepalanya diatas pangkuan istrinya.
"Sayang,,, bagaimana caramu mengetahui keberadaan ku tadi pagi?" tanya Naina sambil membelai rambut suaminya.
"Aku tentu tau dimana hatiku berada, kenapa kamu harus menanyakan hal itu" jawab Endra meng gombal.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi masalah itu, malam ini mau makan apa? aku ingin memasak"
"Benarkah??,, apapun yang kamu masak,, aku akan memakannya, tapi apa kamu tidak lelah? kita bisa meminta pada bibi untuk memasak"
"Memang nya aku melakukan apa sehingga membuatku menjadi lelah? aku benar-benar bosan sayang, biarkan sekarang aku masak terlebih dahulu ya, sebentar lagi waktunya untuk makan malam" Naina mencium kening suaminya.
Naina lalu beranjak untuk segera menuju ke dapur, dan seperti biasanya, didalam dapur para bibi sedang sibuk untuk memasak, Naina menjadi ragu untuk memasak karena takut menyinggung perasaan mereka, tapi bi Wulan mendekati Naina dan mengatakan tidak apa-apa kalau Naina ingin memasak.
"Masakan yang sudah ada akan kami bagikan kepada para satpam komplek, itu sudah sering terjadi, karena kami memang diminta untuk setiap hari memasak, walaupun den Endra belum tentu makan dirumah, hasil masakan akan dibagikan kepada siapa saja yang membutuhkan, kadang-kadang pedagang asongan atau kadang para pengemis atau pemulung yang berada disekitar sini"
Naina tersenyum bangga mendengarnya, ternyata suaminya orang yang dermawan, tetapi sesaat sebelum dia memulai memasak, Endra mendatangi nya dengan tergesa-gesa dan sudah berganti baju menjadi baju kerja.
"Sayang,,, aku harus segera ke kantor karena ada sesuatu yang sangat mendesak, kamu makanlah dulu, jangan menungguku, takutnya aku sedikit lama" Endra lalu mencium kening Naina sebelum segera bergegas pergi ke kantornya.
Naina tetap memasak dengan riang gembira, dan tidak mau makan terlebih dahulu karena dia ingin menunggu Endra.
"Ada apa??!" tanya Endra setelah sampai kedalam kantornya.
Seno menceritakan semuanya, bagaimana tadi Atika kembali lagi datang dan membatalkan kontrak kerja sama, dan kalau Endra ingin agar kontrak kerja sama tetap terjalin, Endra harus menemui Atika langsung, tanpa mewakilkan pada siapapun.
"Tuan,, nyonya Atika adalah anak dari adiknya tuan Arga, kalau kerja sama dengannya terputus, aku khawatir akan berimbas juga pada kerja sama kita dengan perusahaan tuan Arga"
"Dimana aku harus menemui nya?" tanya Endra pada Suseno.
"Di hotel XZ"
"Apa kamu gila??"
Suseno tidak bisa menjawab apapun karena dia sendiri merasa bingung dengan kejadian ini, tetapi dia tidak memaksa Endra untuk menemui Atika kalau memang Endra tidak mau.
"Lalu kenapa kamu memanggilku kalau kamu tidak memaksaku?? dengan menyuruhku datang, sudah sangat jelas kalau kamu berharap aku mendatanginya, apa kamu tidak berfikir?? bagaimana kalau Naina mengetahui hal ini?!"
"Endra,, kontrak kerja sama ini sangat besar, dan kalau dua perusahaan langsung memutuskan menyudahi hubungan kerja sama dengan perusahaan kita, kamu pasti tau apa yang akan terjadi, aku sudah mengirimkan alamat hotelnya padamu, pikirkan sendiri saja, lagipula bukan kah kamu bisa menjaga diri"
Suseno kembali focus dengan pekerjaan, bagi Endra masalahnya bukan pada dirinya, karena dia tidak tertarik pada wanita manapun selain istrinya, hanya saja ke salah pahaman yang ditakutkan akan terjadi pada Naina kalau mengetahui hal ini.
Endra memasuki mobilnya, dia ragu untuk sesaat, apakah akan kembali pulang atau menemui Atika, sementara di rumah, terlihat Naina sedang menunggu kedatangan Endra.
Jeggelleekkk,,, pintu sebuah kamar hotel terbuka,
"Kamu datang juga akhirnya" ujar Atika dengan senyuman lebarnya.
Dilain tempat yaitu dirumah Naina, dengan perasaan gembira Naina juga membuka pintu rumah, bahkan tidak membiarkan pelayan yang ingin membantu untuk membukakan pintu.
__ADS_1
"Kenapa??" ujar Naina lalu menutup mulutnya karena kaget.