
"Kakak,,,,!"
Ningsih menghambur masuk ke dalam pelukan Naina yang baru masuk kedalam rumah, mama Nimah yang mendengar teriakkan Ningsih langsung keluar dari dapur dan tidak bisa menahan air matanya, mereka berpelukan dan menangis, mama Nimah melihat kearah kepala Naina yang diperban.
"Sayang, apa yang terjadi pada dirimu, kenapa sangat lama bagimu untuk pulang ke rumah, tapi tidak apa-apa sayang,, yang penting kamu sudah pulang, dimana tuan Endra? dia pasti yang mengantarkan dirimu" mama Nimah melepaskan pelukan dan mencoba mencari keberadaan Endra.
"Apa maksud mama? aku pulang sendiri, dia itu jahat ma" Naina berteriak karena tidak suka dengan mamanya yang sepertinya sangat mempercayai Endra, mama Nimah dan Ningsih terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Naina.
"Kak, yang menyelamatkan ku adalah kak Endra dan kak Suseno, lalu kak Endra juga selama ini selalu berusaha mencari keberadaan kakak, dia bahkan merawat anak-anak kakak di asrama" ujar Ningsih.
Mendengar penjelasan dari Ningsih membuat Naina kaget dan tidak menyangka karena Endra selama ini hanya selalu melecehkannya setiap bertemu, dia pikir Endra orang jahat sama seperti Intan istrinya.
"Mungkin kakak salah paham, sekarang kakak lebih baik istirahat terlebih dahulu" Ningsih memapah kakaknya menuju kamarnya, setelah Naina berganti baju dan tiduran, Ningsih membiarkan kakaknya beristirahat.
Naina termenung memikirkan segalanya, dia sangat membenci Endra dari saat dia dibawa masuk kedalam kamar gila itu oleh Endra, dan setelahnya juga Endra selalu saja melecehkannya dengan terus menyentuh nya setiap bertemu, Naina pikir kalau Endra adalah lelaki mata keranjang karena tidak mendapatkan kepuasan dari istrinya.
"Ningsih sudah masuk kedalam perangkap anakku, tidak lama lagi dia akan menjadi budak nafsu dalam keluarga kami, sebelum itu aku harus membuat wanita ini juga masuk perangkap ku, kita akan melakukan nya di hotel seperti saat dulu, penonton pasti akan sangat ramai, melihat pemeran utamanya yang sedang terluka dan tidak berdaya" ujar Anton entah pada siapa karena sedang melakukan panggilan telepon, Naina mengingat kembali kejadian saat sedang berada didalam mobil Anton yang akan membawanya ke sebuah hotel, untung Rayhan datang tepat waktu menyelamatkan dirinya.
Naina mengingat hal itu dan marah, dia marah pada dirinya sendiri karena menjadi wanita lemah bahkan belum tuntas membalaskan dendam adiknya, awalnya dia pikir Ningsih sudah baik-baik saja tanpa Putra, ternyata dia kembali kecolongan dengan tingkah adiknya.
"Ibu Naina sudah kembali lagi? apa liburan nya menyenangkan?" tanya salah satu karyawan nya di salon kecantikannya, Naina tidak mengerti maksud dari ucapan karyawannya itu dan hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1
Naina sudah kembali bekerja dan ingin memeriksa semua pekerjaan yang pastinya keteteran saat dia tidak ada, tetapi ternyata semua tidak seperti dugaannya, karena semua berjalan dengan lancar dan bahkan salon kecantikannya lebih maju dan omsetnya semakin meningkat, dan saat dia memasuki kantornya dia melihat seseorang duduk di kursinya.
"Maaf nyonya, saya pikir nyonya belum datang, perkenalkan nama saya Renata, saya diutus oleh Endra untuk bertanggung jawab ditempat ini selama nyonya berlibur, ini nomor kontak saya kalau ada yang perlu ditanyakan mengenai segala sesuatu yang terjadi selama nyonya pergi, saya mohon undur diri"
Naina duduk terdiam memikirkan tentang segalanya, dia tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Endra, selama ini dia pikir kalau Endra hanya penasaran terhadapnya, tetapi kenapa Endra sejauh ini bertindak, dia bahkan mengurusi pekerjaannya dan bahkan merawat anak-anaknya juga.
"Aku hanya harus tetap waspada, dia pasti hanya ingin memamerkan hartanya untuk bisa menjerat diriku, untuk apa dia melakukan hal itu disaat dia bisa mendapatkan wanita manapun, kenapa harus aku kalau bukan karena dia hanya penasaran" gumam Naina lalu melihat berkas-berkas laporan salon kecantikannya yang semua terselesaikan dengan baik.
Karena tidak ada lagi yang bisa dia kerjakan dia lalu melihat akun Bank nya dan betapa kagetnya karena uangnya utuh dan terus bertambah, dia pikir Endra mengambil dari hasil salon kecantikannya untuk membiayai anak-anaknya.
"Kenapa aku harus berurusan dengannya, tidak bisakah aku pergi darinya dengan damai" Naina mengambil sebagian uangnya untuk memberikan pada Endra sebagai ganti karena sudah memberikan semua keperluan anak-anaknya selama dia tidak melakukannya.
"Aku sangat malas untuk bertemu dengannya lagi" gumam Naina, tetapi dia tidak bisa mengabaikan hal itu, Naina ingat dengan Suseno, dia lalu mempunyai ide untuk menitipkan saja pada Suseno, Naina lalu menuju perusahaan Endra karena saat ini jam kerja, jadi pasti Suseno ada disana.
"Berikan saja langsung, kamu itu adiknya jadi tidak perlu malu bertemu dengannya" jawab Suseno dengan entengnya membuat Naina kesal mendengarnya.
"Dia sedang tidak ada di kantor, tuan Rayhan jatuh sakit karena anak perempuannya pergi meninggalkan nya"
"Tuan Rayhan sangat menyayangimu, beliau berharap kamu dan Endra bisa bersama, hidupnya sudah tidak lama lagi, lagipula apa kamu tidak merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Endra?"
"Memang apa yang harus aku rasakan? dia pria mesum yang selalu mengambil kesempatan pada wanita lemah" jawab Naina lalu mengepalkan tangannya mengingat kembali semua perlakuan Endra padanya saat sebelum amnesia bahkan saat dia amnesia.
"Dia bukan pria seperti itu Naina, kamu tidak akan sanggup mendengar apa yang sudah dia lalui, sudah dulu,,, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" Suseno lalu pergi setelah memberikan alamat rumah sakit dimana Rayhan dirawat, Naina bimbang untuk datang menjenguknya, tetapi dia mengingat semua kebaikan Rayhan padanya yang telah menyelamatkan diri nya dan bahkan merawatnya selama ini.
"Naina" panggil Rayhan melihat kedatangan Naina.
"Untung saja tidak ada pria mesum itu disini" batin Naina lalu mendekati Rayhan yang terbaring dengan infus dan alat bantu pernafasan.
"Ayah, maaf,,, maksud aku tuan,," Naina sedikit tergagap karena selama ini biasa memanggil Rayhan dengan panggilan ayah.
__ADS_1
"Panggil aku seperti itu Naina, aku adalah ayahmu, aku tidak tau apa yang terjadi padamu dan Endra, tetapi kamu tetap anak ayah, kemarilah,," Rayhan menggenggam tangan Naina lalu tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Endra berdiri disana dengan tatapan tajamnya melihat kearah tangan Naina yang digenggam oleh ayahnya.
Rayhan menyadari kalau anaknya sedang cemburu padanya, Rayhan tersenyum tetapi tidak melepaskan genggaman tangannya, sementara Naina langsung membuang muka saat tidak sengaja berpandangan dengan Endra.
"Naina, apa kamu sudah kembali bekerja?"
Naina hanya menjawab dengan anggukan dan mencoba melepaskan tangannya tetapi Rayhan tidak melepaskannya karena ingin melihat reaksi Endra selanjutnya.
"Biarkan ayah menggenggam tanganmu untuk sementara, ayah sangat merindukan dirimu, ayah pikir kamu tidak mau lagi menemui ayah"
"Maafkan aku karena kemarin pergi begitu saja sebelum mengucapkan terima kasih untuk semuanya" Naina menganggukkan kepalanya lalu meletakkan tangan Rayhan di keningnya layaknya seorang anak yang sedang salim pada ayahnya, melihat hal itu Endra tidak tahan lagi dan melepaskan genggaman tangan Naina dan ayahnya.
"Kamu ini kenapa Ndra? datang-datang marah, apa yang salah dengan ini? Naina adalah anak ayah, dan dia adalah adik mu, hal seperti ini sangat lumrah dilakukan oleh ayah terhadap anaknya"
"Dia bukan adikku!!" teriak Endra, sementara Naina memajukan bibirnya karena kesal dengan kelakuan Endra, tetapi hal itu malah membuat Endra gemas dan tanpa rasa malu didepan ayahnya, Endra mengecup bibir Naina.
Naina sangat malu dengan perlakuan Endra, dan langsung mendorong nya dengan kuat, Naina langsung bergegas pergi dan hanya membungkukkan badannya pada Rayhan untuk berpamitan, Endra mengejar nya dan untung saja dia bisa menyusul Naina yang sudah memasuki sebuah lift.
Naina tidak bisa kabur lagi dan terpojok oleh Endra karena saat itu banyak yang menaiki lift, Naina menundukkan wajahnya saat Endra terus mendekati tubuhnya, Naina pikir karena Endra terdorong oleh orang lain tetapi hal itu disengaja oleh Endra karena lift itu tidak terlalu penuh.
Saat Naina keluar dari lift, Endra menahan tangannya dan menariknya, Naina mencoba melawan dan berteriak, tetapi dia dimarahi oleh security karena berisik.
"Jangan berisik ditempat ini, suami istri kalau bertengkar jangan ditempat umum!" teriak security, saat Naina mencoba menjelaskan bahwa mereka bukan suami istri, Endra membekap mulutnya.
"Maafkan istri saya, dia sedang datang bulan" ucap Endra lalu menarik tubuh Naina dan masih terus menutup mulutnya, Endra memojokkan tubuh Naina di tembok saat di sebuah lorong yang sepi.
"Berteriak dengan keras, karena saat itu aku akan menutup mulutmu dengan mulutku" ujar Endra memandangi Naina sebelum melepaskan tangannya yang dari tadi membekap mulut Naina, mereka berpandangan lalu Naina mendorong tubuh Endra dan mengambil uang didalam tasnya.
"Aku kembalikan uang mu, jangan berani temui anak-anakku lagi" ujar Naina menyerahkan uang itu tetapi Endra tidak menerimanya dan malah seperti biasanya, Endra langsung mencium Naina, cukup lama ciuman itu hingga ada suara yang mendekat, ternyata itu adalah dua orang pekerja dirumah sakit itu sebagai OB, Endra mengambil uang yang dipegang oleh Naina dan memberikannya kepada OB itu.
__ADS_1
"Istriku ingin berbagi, tolong terimalah" ucap Endra, dan tentu saja kedua OB itu sangat bergembira menerima nya, Naina tidak bisa berkata apa-apa melihat hal itu, bahkan saat dia di doakan agar pernikahan nya dengan Endra selalu bahagia, Naina tidak bisa membantah karena Endra sudah membelai lembut bibirnya, seolah tanda supaya dia diam.
"Jangan selalu bertindak semau dirimu!" teriak Naina dan mencoba pergi tetapi Endra kembali menangkapnya.