Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Bebas


__ADS_3

Naina tiduran didalam kamar yang berada dirumah Rayhan, hari ini adalah sidang putusan pengadilan kasus Endra, dia dilarang datang ke pengadilan oleh Endra, dan terus dijaga oleh bi Wulan dan bi Yeni didalam kamar nya, bahkan untuk melihat persidangan itu secara online di televisi juga tidak di izinkan.


"Den Endra tidak mau kalau sampai nona menangis melihatnya di kursi terdakwa seperti itu,, percayalah non,, den Endra pasti akan segera pulang" bi Wulan dan bi Yeni yang duduk didepan pintu nya menghalangi jalan supaya Naina tidak keluar dari kamar.


"Kenapa aku juga seperti sedang berada di dalam tahanan, dengan dua bibi menjagaku" keluh Naina lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, kedua bibi hanya saling pandang dan tersenyum.


"Bibi sampai berkhayal menjadi non,, suami nona sangat perhatian pada nona, begitu mencintai dan menyayangi nona,, sungguh kehidupan seperti dalam novel atau film romantis" ujar bi Yeni sambil melihat kearah Naina yang bertingkah sangat imut, dengan wajah cantik tapi tetap terlihat imut karena wajahnya yang mungil, Naina menepuk-nepuk keras sebuah bantal dan bibirnya dimajukan.


"Nona sangat cantik,, pantas saja den Endra sangat menjaga nona, bibi saja yang perempuan, sangat suka melihat wajah nona" sekarang bi Wulan yang berbicara.


"Bibi berdua ini tidak perlu merayuku supaya aku hanya diam saja, tolong kepinggir bibi, aku mau lewat,, bibi tidak mau kalau aku menggunakan kekerasan kan?" Naina bangkit dari ranjang dengan wajah yang dia pikir sangat menyeramkan.


"Hahahaha,, nona ini sedang melakukan apa,, cepat lah tidur siang, ini sudah waktunya, kami akan pergi setelah nona tidur"


"Bagaimana aku bisa tidur dengan bibi ada disana, keluarlah dulu, setelah bibi berdua keluar, aku pasti akan tertidur dengan nyenyak"


Sepertinya kedua bibi itu tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Naina, karena mereka tetap saja diam ditempatnya, Naina merasa konyol dengan kondisi dan keadaan nya yang seperti anak kecil atau anak muda yang dilarang oleh kedua orang tuanya untuk pergi bermain.


Karena terus menggerakkan badannya kesana kemari, sepertinya Naina kelelahan, sehingga dia ketiduran, bi Wulan dan bi Yeni lalu keluar dari kamar secara perlahan.


Naina tersenyum dalam tidurnya, entah apa yang sedang dia impikan, dan saat membuka mata dia semakin tersenyum lebar, tetapi langsung kembali menutup matanya.


"Ternyata aku masih berada di alam mimpi" gumam Naina lalu mempererat pelukannya pada guling yang menemaninya selama Endra ditahan polisi.


Naina kembali membuka matanya karena merasa sudah semakin sore, tetapi dia langsung menutup wajahnya menggunakan selimut.


"Kenapa aku terus memimpikan dan membayangkan nya,, hhhhaaaaa hhuuaaaa,, aku merindukanmu, kenapa sangat lama sekali kamu pulang" Naina menangis di balik selimut yang dia pakai.


"Siapa yang kamu rindukan?"


Naina membuka selimut nya dan menoleh ke sampingnya lagi, dimana dari tadi bayangan Endra ada disana, dan anehnya bayangan itu kenapa tidak juga pergi, biasanya terus datang tapi cepat pergi juga.


"Kenapa kamu bisa berbicara, cepat menghilang lah" Naina lalu melemparkan bantal.


"Aaakkkkkhhhh!" Endra mengucek matanya karena terkena ujung bantal yang dilemparkan oleh Naina.


"Kenapa bisa berteriak? apa kamu hantu?" tanya Naina lalu bangkit dari tidurnya dan mendekati tubuh kekar yang dia rindukan selama ini, Endra hanya tersenyum dan diam saja melihat tingkah lucu istrinya.


"Kenapa kamu terus tersenyum dan tidak mau pergi? apa kamu mau menyiksa ku dengan membuat aku semakin tidak bisa menahan kerinduanku?, hhaahhh!" Naina mencubit pipi tubuh itu, tubuh yang dia pikir hanya bayangan.


"Sakit ssaayyyaaang" Endra memegangi pipinya, Naina melihat ke arah tangan nya yang baru dia pakai untuk mencubit, dia merasa kalau ini tidak seperti biasanya, karena ini terasa nyata.


"Apa kamu nyata?" tanya Naina menoel pipi Endra.


"Aaakkkkkhhhh!!" Naina kaget karena Endra mendorong dan langsung menindih tubuhnya, Naina memegangi wajah suaminya.


"Sayang,, ini benar kamu??!" tanya Naina dan membuka lebar kedua matanya lalu dengan cepat menarik wajah suaminya.


"Hheeemmmpppp" Endra kaget dengan serangan Naina, tapi dia juga sangat senang, karena menyadari bahwa istrinya begitu merindukan nya, setelah melepaskan ciumannya Naina lalu menangis dan terus memeluk erat tubuh Endra.


"Kenapa baru datang?? aku hampir mati merindukanmu, aku terus berkhayal melihat dirimu,, hhiikkksss"


Endra menghapus air mata Naina, dan tanpa kata langsung menciumi seluruh wajah istrinya, dia sudah tidak bisa berkata apapun lagi, hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan melihat istrinya, apalagi istrinya juga ternyata begitu merindukan dirinya.

__ADS_1


"Sayang,, apa kamu tidak akan bercerita dulu padaku,, apa yang selama ini kamu lakukan di tempat asing?" tanya Naina saat Endra sedang menciumi lehernya.


"Aaakkkkkhhhh aaaahhhh" Naina merintih karena Endra membuat tanda merah di lehernya, Naina mendorong tubuh Endra kesampingnya, dan dengan cepat Naina menindih tubuh suaminya.


"Aku juga bisa, aku sudah belajar caranya" ucap Naina lalu menuju leher Endra, dia juga berniat untuk membuat tanda merah di sana, tetapi tidak seperti dugaannya, karena dia ternyata tidak bisa dan malah membuat Endra tertawa karena tidak kuat menahan rasa geli.


Naina kesal lalu turun dari tubuh Endra dan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, Endra heran melihat tingkah istrinya, lalu mendekati istrinya dengan pelan dan memeluknya dari belakang.


"Aku tidak mentertawakan diri mu sayang,, aku hanya tidak bisa menahan geli,, kenapa kamu begitu kesal hanya karena tidak bisa melakukan itu?"


Naina masih diam, padahal dia sangat merindukan suaminya, tapi karena tiba-tiba dia mengingat tanda merah buatan Atika dileher suaminya, Naina menjadi merasa cemburu, ditambah saat dia tidak bisa melakukan nya, dia menjadi kesal pada dirinya sendiri.


"Sayang,, kenapa kamu seperti ini,, aku sangat merindukanmu,, selama ini aku begitu kedinginan tanpa dirimu, aku merasa aku akan mati, lalu kenapa sekarang kamu seperti ini?" Endra semakin mempererat pelukannya pada Naina.


"Maafkan aku, kamu menderita karena diriku" Naina meminta maaf karena Endra membunuh Anton yang selalu berniat jahat padanya, kalau seandainya Naina tidak pernah mengenal Anton, pasti Endra tidak akan pernah ditahan bahkan dipenjara.


"Aku tidak melakukannya hanya untukmu, tapi aku melakukan nya untuk diriku sendiri,, bahkan sedetikpun saat aku kedinginan didalam ruangan penjara itu, tidak pernah aku merasa menyesal melakukannya,, yang aku ingat hanyalah senyumanmu dan kehangatan dirimu, tapi kenapa kamu kesal saat aku pulang? apa kamu tidak merindukan ku?"


Naina dengan pelan menghadap ke arah Endra, lalu membalas pelukan suaminya itu, mereka berpandangan dan saat Endra ingin mencium bibir Naina.


"Apa kamu sudah makan? biasanya orang kalau keluar dari penjara pasti kelaparan karena makanan disana tidak enak,, lagipula kenapa kamu sangat aneh sekali,, apa yang membuatmu tidak mengizinkan ku datang? apa kamu tidak merindukan ku?" Naina menahan bibir suaminya dan mengajaknya berbicara.


"Aku tidak kelaparan,, aku ini Endra Prasetya,, walau di dalam penjara,, aku bisa makan apapun yang aku mau, lagipula aku bukan penjahat"


"Apa kamu satu ruangan dengan mafia?" Naina sepertinya ingin menjahili suaminya.


"Aku lah mafianya,, aku adalah mafia tampan yang akan memenjarakan dirimu seumur hidupku didalam penjara cintaku,, sudah puas?!" Endra kesal karena istrinya terus menahan bibirnya.


"Lalu bagaimana dengan pengacara cantik? apa kamu bertemu dengan mereka, aku dulu bercita-cita menjadi pengacara, karena bisa membantu orang lain,, tapi cita-citaku tidak bisa terlaksana karena bahkan aku tidak pernah kuliah"


"Ahahahaha,, iya,, iya,,, iyaaaa ssaayyyaaangku" Naina yang lebih dulu bangkit dan menindih tubuh suaminya.


"Apa yang kamu rindukan dariku?" tanya Naina sambil membuka kancing kemeja Endra.


"Semuanya"


Naina juga membuka bajunya, dan terlihatlah pemandangan indah yang sangat dirindukan oleh Endra, dua gunung kembar istrinya telah terbuka dan bebas untuk dia lahap, tapi Naina lagi-lagi mengerjainya.


Saat Endra mencoba meraih gunung kembar istrinya, Naina memundurkan tubuhnya, Endra geram melihatnya.


"Jangan salahkan aku kalau kamu tidak akan pernah bisa turun dari ranjang,, cepat sayang,, aku kehausan!!" Endra menarik tubuh Naina mendekat padanya, dengan cepat Endra langsung melahap gunung kembar itu secara bergantian.


Endra melepaskan rindu pada istrinya dengan tidak memberikan waktu istirahat sedikitpun pada istrinya, Naina terlihat sangat kelelahan setelah beberapa ronde dan meminta kepada suaminya untuk segera mengakhiri nya.


"Tidak akan pernah berakhir sayang" bisik Endra ditelinga Naina saat istrinya itu kembali mengejang, tenaga Endra begitu besar, bahkan lebih besar dari biasanya, mungkin karena sudah lama dia memendam hasrat nya karena terhalang jeruji besi.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dengan tidak mengizinkan diriku untuk datang mendatangi mu di penjara, dengan siapa kamu disana,, siapa yang menjenguk mu??" tanya Naina yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya, mereka saling memeluk setelah pergulatan panjang dan berulang.


"Sayang,, ditempat itu banyak sekali orang jahat,, aku tidak mau kamu datang ketempat seperti itu,, dan iya benar ada yang datang menjengukku setiap hari, yaitu bi Wulan atau bi Yeni secara bergantian, mereka sering membawakan makanan yang kamu masak, bukankah setiap pagi kamu memasak sampai siang untuk mengisi waktu? lalu membagikan makanan itu pada orang-orang?? setiap hari aku diambilkan satu,, kamu sangat dermawan sekali,, dan bisa mengisi rasa rindumu dengan hal yang bermanfaat"


"Itu karena aku meniru dirimu, kamu juga sering kan melakukan hal seperti itu?"


Endra tersenyum mendengar perkataan istrinya, lalu memeluk tubuh Naina dengan erat, dia sungguh bahagia mendapatkan istri yang bisa dibilang sempurna baik fisik maupun hatinya.

__ADS_1


"Bi Wulan atau bi Yeni setiap hari memotret dirimu dan meletakkan foto-foto itu didalam kotak nasi, jadi aku bisa tau apa yang kamu lakukan"


"Apa iya? kok aku tidak tau" Naina lalu melihat ke arah mata suaminya untuk mencari tau kejujuran nya.


"Kenapa aku harus berbohong,, kenapa aku bisa bertahan disana ya karena foto-foto itu dan juga karena masakan mu yang sangat lezat,, itu fotonya aku bawa pulang lagi kalau kamu tidak percaya"


"Kenapa kamu sangat manis sekali,, ini berbanding terbalik dengan Endra yang aku kenal saat awal bertemu,, aku pikir kamu adalah lelaki penyuka tubuh wanita saja"


"Kalau sekarang aku seperti apa?" tanya Endra manja.


"Kamu,, apa ya,, aku tidak tau" Naina tidak tau apa yang harus dia katakan, dia tidak bisa mendeskripsikannya.


"Kenapa bisa seperti itu,, kamu adalah hidupku,,, aku sangat yakin kalau tidak akan bisa hidup tanpamu,, tapi kamu tidak tau aku seperti apa" Endra ngambek lalu mendekap erat kepala Naina supaya dia tidak melihat wajah istrinya.


"Kenapa tidak mau melihat wajah ku?"


"Karena aku tidak bisa marah atau sekedar kesal kalau melihat wajah cantikmu"


"Dasar om-om,, bisa banget membuat orang klepek-klepek dengan kata-kata,," ucap Naina lalu melepaskan dekapan suaminya, Naina mensejajarkan wajah mereka.


"Aku tidak tau apa yang harus aku katakan,, semuanya ada pada dirimu,, sepertinya kamu sudah mengambil hati dan nyawaku,, karena kalau aku jauh darimu, aku merasa seperti akan mati" Naina lalu mencium kening suaminya, Endra tersenyum senang.


"Ada yang ingin kamu makan?" tanya Endra yang sepertinya merasakan lapar dan ingin mengambil makanan ke luar kamar, mereka pasti telah melewatkan makan malam karena hari sudah sangat larut malam.


"Tidak,, aku mau tidur"


"Makan sedikit saja ya, nanti kamu masuk angin,, tunggu sebentar" Endra memakai baju dan celananya lalu segera bergegas untuk mengambil makanan.


"Apa yang bibi lakukan disini?" tanya Endra ketika keluar kamar dan mendapati bi Wulan dan bi Yeni yang duduk di depan meja makan.


"Kami menunggu den dan nona, kalau-kalau kelaparan karena dari sore belum makan apapun,, apalagi nona yang sudah lama susah makan, tadi siang nona hanya makan sangat sedikit" ujar bi Yeni lalu menyiapkan makanan untuk Endra dan Naina.


"Kenapa dia sedikit makan nya? apa dia sakit??, tapi dia tidak mengatakan apapun kalau sedang sakit" Endra menjadi panik dan ingin segera buru-buru kembali ke kamar.


"Jangan terlalu khawatir den,, nona hanya sangat menghawatirkan dan merindukan den Endra,, sebenarnya bibi kasihan pada non Naina,, karena tidak mempunyai obat rindu selama den Endra tidak dirumah, berbeda dengan den Endra yang melihat fotonya setiap hari" bi Wulan menjelaskan sambil menuangkan air minum kedalam botol, supaya Endra mudah membawanya ke dalam kamar.


"Apa yang aku lakukan adalah kesalahan bi?" tanya Endra.


"Bibi juga tidak tau, ini makanan dan minumnya sudah siap, lebih baik den Endra segera kembali,, mungkin non Naina akan banyak makan karena ada den Endra disampingnya" ujar bi Yeni sambil memberikan nampan yang berisi makanan.


"Terimakasih bibi semua" Endra lalu bergegas kembali kedalam kamar.


Endra membantu Naina untuk duduk lalu merapikan rambut istrinya yang sangat berantakan, Endra mencoba menyuapi makan untuk istrinya dan ternyata Naina mau, Endra sangat senang melihatnya.


"Sudah,, aku sudah banyak makan" Naina menggeleng dan mengambil botol minum.


"Kata para bibi kamu susah makan selama ini, sekarang makanlah yang banyak"


"Siapa yang akan makan dengan lahap kalau suaminya tidak ada disampingnya dan sedang menghadapi masalah,, kamu sangat tega membiarkan diriku sangat merindukan mu,, kita ini suami istri,, seharusnya susah senang bersama, aku seperti tidak ada gunanya saja" Naina lalu minum setelah menyelesaikan ucapannya.


"Bukan seperti itu sayang,, kamu adalah segalanya bagiku,, aku hanya ingin kamu selalu aman, tapi baiklah sayang,, aku minta maaf kalau apa yang aku lakukan mengecewakan dirimu"


Mereka menyelesaikan makan malam lalu menyikat gigi sebelum beristirahat, Endra menggendong Naina karena sudah pasti istrinya itu kesusahan berjalan karena ulahnya, Endra memeluk Naina supaya istrinya cepat tidur, setelah Naina tidur, Endra membelai lembut wajah istrinya.

__ADS_1


Endra belum bisa tidur, jadi dia turun dari ranjang dengan pelan, Endra membuka ponselnya hingga saat dia membuka-buka pesan yang terkirim padanya, dia melihat foto terakhir yang masuk kedalam ponselnya, terlihatlah foto saat Suseno dan Reynolds bertengkar, sepertinya itu dari salah satu pengawalnya.


"Semoga tidak terjadi perpecahan" gumam Endra.


__ADS_2