
"Sebenarnya apa maumu? kenapa terus seperti ini?" Naina sudah terlalu lelah terus melawan Endra yang selalu berusaha menyentuhnya.
"Aku tidak tau harus bagaimana? aku tidak tau harus apa, aku hanya ingin selalu berada didekat dirimu, maafkan atas semua kesalahanku selama ini" jawab Endra yang masih memegangi tangan Naina.
Endra tidak tau cara menghadapi wanita dengan benar, dia tidak pernah menyukai wanita lalu mencoba mendekatinya, dia jatuh cinta pada Naina disaat mereka sudah dewasa, hormon dalam tubuhnya sudah berbeda dengan hormon anak muda yang sedang jatuh cinta.
Naina tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Endra, mereka sudah dewasa dan sudah pernah berumah tangga sebelumnya, lalu bagaimana bisa Endra mengatakan tidak tau cara menghadapi wanita, Naina mengira kalau semua perkataan Endra hanya untuk menarik perhatiannya saja, Naina melepaskan pegangan tangan Endra dan langsung berlari meninggalkan Endra.
Endra tidak mengejar lagi karena dia mendapat telepon dari ayahnya, dengan cepat Endra langsung kembali ke ruangan ayahnya dan menanyakan kebutuhan ayahnya.
"Ayah ingin pulang Ndra, ayah tidak betah di sini"
"Ayah, tetaplah disini untuk beberapa hari kedepan, setelah semua benar sudah membaik, baru kita pulang"
"Ndra, ayah sudah tua, memang sudah waktunya ayah segera pergi, ayah tidak mau disaat terakhir ayah hanya berada dirumah sakit, ayah ingin dirumah, tempat dimana penuh kenangan bersama mamamu, sambil menunggu mamamu untuk menjemput ayah"
"Ayah jangan berbicara seperti itu, ayah pasti sembuh!" Endra tidak bisa lagi menahan perasaannya mendengar ucapan ayahnya.
"Ndra, dekati Naina dengan benar, ayah tau kalau kamu tidak tau bagaimana cara yang benar mendekati wanita, kamu hanya tau kalau mengekspresikan cinta itu dengan sentuhan, itu tidak salah, tapi ada tahapannya untuk sampai seperti itu, ayah sangat menyukai Naina, dia wanita kuat dan mandiri, mungkin dia sempat berubah saat kemarin dia amnesia, itu menunjukkan bahwa dia hanya wanita biasa, sekuat apapun dia,, tetap saja dia wanita lemah yang butuh perlindungan"
__ADS_1
Endra tidak menjawab apapun karena memang dia tidak mengerti, dia hanya terus dikuasai dengan nafsunya saat didekat Naina, Endra yang sedari kecil jadi objek pelampiasan nafsu oleh wanita-wanita yang tidak bermoral, apalagi kondisinya yang menjadi tidak normal setelah mengalami penculikan karena menjadi depresi dan trauma.
Tetapi Naina bisa menyembuhkannya dan membuatnya menjadi normal kembali, dia sangat senang sekali dan naluri birahi nya ingin segera melepaskan nafsunya yang selama ini terpendam, dia ingin benar-benar menjadi lelaki seutuhnya, karena Rayhan terus memaksa untuk pulang, akhirnya mau tidak mau, Endra hanya bisa menurutinya.
"Tinggallah disini, jangan selalu tinggal di kantor atau di hotel, ayah tau kamu sudah lama tidak tinggal bersama Intan, kamu punya rumah" ucap Rayhan pada Endra saat mereka sampai di rumah, Rayhan duduk di kursi roda karena masih lemah.
"Adakan makan malam dan undang seluruh keluarga Naina, ayah ingin mengenal mereka, katakan saja ini undangan dari ayah angkat Naina, mereka pasti tidak akan menolak"
"Ayah, jangan lakukan hal yang tidak berguna lagi, biarkan aku mendekati Naina dengan caraku sendiri"
"Lakukan saja caramu itu, ayah melakukan hal ini hanya untuk lebih akrab dengan Naina dan keluarganya, tidak ada urusannya dengan dirimu, lakukan malam ini" Rayhan tidak menunggu lagi jawaban dari Endra dan langsung meminta Reynolds untuk mendorong kursi roda nya kedalam kamar.
"Kakak, apa kakak yakin tidak akan datang? bukankah disini sebenarnya hanya kakak yang mereka harapkan kedatangannya" Ningsih menelepon Naina yang masih berada di salon kecantikannya padahal hari sudah menjelang malam dan mereka harus segera bersiap untuk berangkat ke rumah Rayhan.
"Tidak Ning, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan secepatnya, minggu depan aku ada undangan seminar keluar negeri jadi aku harus mempersiapkan segalanya, tolong sampaikan salam dan permintaan maaf ku pada ayah Rayhan" Naina lalu menutup ponselnya dan mematikan ponselnya itu supaya tidak ada yang bisa menghubunginya.
Ningsih dan kedua orang tuanya berangkat ke rumah Rayhan tanpa Naina, pada kesempatan itu mereka mengucapkan terima kasih atas bantuan Rayhan dan Endra yang telah membantu Naina dan Ningsih.
"Apa Naina akan segera datang?" tanya Rayhan, mendengar pertanyaan dari Rayhan membuat Ningsih dan kedua orang tuanya menjadi tidak nyaman dan merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Maaf tuan, Naina sepertinya sangat sibuk, jadi malam ini tidak bisa datang, saya selaku mamanya memohon maaf, semoga dilain waktu Naina bisa datang kemari" mama Nimah merasa sangat bersalah karena terlihat Rayhan yang sangat kecewa, begitu pula dengan Endra yang langsung meletakkan sendoknya dan menyudahi makannya.
Endra lalu pamit sebentar ke kamar nya karena ada sesuatu yang harus dia ambil, tidak disangka kalau Ningsih akan mengikutinya dan tanpa permisi langsung masuk ke dalam kamar Endra, Ningsih membuat Endra kaget karena tanpa peringatan langsung memeluk tubuh Endra.
Endra yang kaget langsung mendorong tubuh Ningsih dan dengan cepat mundur untuk membuat jarak, tetapi Ningsih tidak pantang menyerah dan malah mengunci pintu kamar membuat Endra terbelalak karena kaget dengan apa yang dilakukan oleh adik dari wanita yang dicintainya.
"Apa yang kamu lakukan, cepat keluar dari sini!!" teriak Endra.
"Tidak perlu jual mahal dan berpura-pura kak Endra,, aku tidak kalah dari kakakku, walau dia memang lebih cantik dari diriku tapi setidaknya aku lebih muda darinya, aku pasti bisa lebih memuaskan hasrat mu" ujar Ningsih lalu membuka kancing bajunya.
"Aku tidak akan segan untuk melukai mu kalau sampai kamu melakukan hal yang diluar batas,, walau kamu adik dari wanita yang aku cintai"
"Cinta kata kakak?? cinta apanya?? bahkan kak Naina tidak mengetahui hal itu dan tidak sedikitpun tertarik pada kakak, sudahlah kak Endra, lebih baik denganku saja, aku memang sedang hamil, tapi apa kakak tau,, kalau orang yang sedang hamil bisa lebih menggairahkan" Ningsih terus melangkah mendekati Endra sementara itu Endra semakin menjauh, dia tidak mengerti dan harus berbuat apa, karena diluar ada keluarga Naina, apa yang akan dipikirkan mereka saat melihat hal ini.
"Jangan lakukan hal sembrono, aku tidak mau melukai harga dirimu" Endra terus berusaha menghindar, tetapi untuk berteriak atau keluar dari kamar dia juga memikirkan nama baik Ningsih, bagaimanapun juga dia adalah adiknya Naina, karena salah langkah bisa jadi Endra lah yang dituduh bermain gila dan mencoba mendekati Ningsih.
"Kakak jangan jual mahal begini, coba saja dulu kak, bahkan mantan pacarku saja ketagihan dengan permainan ku, sementara kak Naina itu sangat monoton, kehidupannya hanya lurus, jadi tidak mungkin bisa memuaskan fantasi kakak" Ningsih sudah berhasil memojokkan tubuh Endra.
"Apa kamu tidak malu melakukan hal seperti ini??!" Endra geram dan tidak bisa menahan diri lagi, Endra mendorong tubuh Ningsih tetapi langsung memegangi tangannya karena akan membentur meja, Endra masih punya hati nurani, dia tidak mau terjadi sesuatu pada kandungan Ningsih.
__ADS_1
Tetapi Ningsih masih saja berusaha untuk merayu Endra dengan tidak melepaskan tangannya.