
"Apa ada hal bagus?" tanya Endra saat melihat Suseno yang tersenyum sambil melihat laporan yang baru saja diberikan oleh sekertaris.
"Tidak ada,, hanya saja aku merasa lebih segar dari biasanya" jawab Suseno tanpa mengalihkan perhatiannya pada laporan yang ada didepannya.
"Mungkin karena kotoran didalam tubuhmu sudah keluar?" tanya Endra blak-blakan, mereka sudah dewasa kalau untuk urusan yang seperti itu, tidak perlu malu walau untuk perasaan mereka sama-sama belum berpengalaman, tapi untuk masalah hasrat tubuh, naluri lelaki mereka tidak bisa ditutupi lagi.
Endra juga tahu tentang Suseno yang ditinggalkan oleh kekasihnya dulu karena terlalu sibuk bekerja, jadi saat ini Endra berharap kalau Suseno bisa menemukan kebahagiaannya.
"Mereka berdua berbanding terbalik, Naina polos dalam hal itu tapi adiknya sepertinya sangat berpengalaman" batin Endra, dia mengingat saat Ningsih dulu pernah menggodanya.
"Kamu benar-benar sudah yakin dengan dia?" tanya Endra dengan serius, sehingga Suseno yang sedang sibuk juga menyadari keseriusan Endra dan melihat ke arahnya.
"Aku tidak yakin,, tapi aku sadar kalau aku tertarik padanya, aku bahkan tidak rela kalau melihat dirinya bersama orang lain,, aku tau dengan pasti bagaimana masa lalunya, tetapi bukankah setiap orang pasti punya masa lalunya masing-masing,, aku terpikat pada daya tarik kepercayaan diri yang ada padanya, dan juga dia wanita kuat yang sanggup menghadapi masalahnya" Suseno mengingat saat mereka bangun tidur setelah Ningsih membuat miliknya muntah.
🥵 Flashback (Suseno 💜 Ningsih) 🥵
"Apa yang aku lakukan tadi?? kenapa aku begitu berani?? dia pasti menganggap diriku wanita murahan,, bodohnya aku" gumam Ningsih yang sudah bangun terlebih dahulu.
Tadi Ningsih tau kalau Suseno sudah sangat bernafsu dan harus mendapatkan pelepasannya, karena Suseno sanggup untuk tidak melakukan hal itu dengannya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai tempat pelepasan, Ningsih yang senang karena merasa dihargai oleh Suseno menjadi tidak tega dengan kondisi Suseno yang sudah sangat kepanasan.
Ningsih adalah wanita dewasa dan dia juga sudah berpengalaman dalam hal itu, apalagi saat misi balas dendam nya pada Putra saat itu, dia menjadi semakin lihai saja dalam hal memuaskan hasrat pria.
"Seharusnya aku diam saja tadi" Ningsih dengan pelan lalu berniat untuk turun dari ranjang, sementara Suseno masih terpejam.
"Aakkkkhhhhhh!" Ningsih kaget karena Suseno tiba-tiba menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Kapan kakak bangun?" tanya Ningsih pelan, hatinya merasa sangat malu karena dia sangat yakin kalau Suseno mendengarkan apa yang tadi dia katakan, dan dia lebih malu lagi mengingat apa yang sudah dia lakukan tadi pada burung Suseno.
"Kenapa sekarang kamu kembali ingat dengan sebutan kakak,, tadi saat menantang ku, sepertinya kamu begitu percaya diri" Suseno tersenyum menyadari bahwa Ningsih malu karena perbuatannya sendiri yang sepertinya dilakukan secara refleks.
"Maaf" Ningsih berkata pelan, Suseno melepaskan pelukannya lalu mencium kening Ningsih.
"Jangan malu apalagi menyesalinya,, aku tidak mau kalau sampai kamu menyesali perbuatanmu tadi,, aku tidak menganggap bahwa dirimu adalah wanita rendahan,, kalau kamu wanita rendahan,, kamu pasti sedang bersama dengan Rey dan bisa saja setelah nya kamu baru mendatangiku,, kamu melakukannya karena mempunyai perasaan terhadap diriku,, bukankah seperti itu?? atau aku hanya terlalu percaya diri??" ujar Suseno sambil membelai lembut rambut Ningsih.
"Aku menyukai mu sejak lama, tapi karena sikap dingin mu, lalu aku berteman dengan Reynolds,, sepertinya itu kesalahan ku,, seharusnya sebagai seorang wanita, aku tidak terlalu berani, kak Naina saja tidak seperti diriku,, entah kenapa aku bisa menjadi seperti ini"
"Setiap orang mempunyai masalalu dan kisah hidupnya masing-masing,, kakak mu berkepribadian seperti itu karena kehidupannya dahulu,, begitu juga dengan dirimu, kisah hidupmu berbeda dengan kakakmu, jadi pasti kepribadian kalian juga berbeda,, aku menerima dirimu apa adanya" Suseno lalu mengajak Ningsih untuk segera bersiap untuk pulang.
"Kamu yakin?" Endra sepertinya masih ragu, karena Endra tidak mau kalau sampai Suseno tersakiti nantinya.
"Apa karena dia pernah berusaha menggoda mu??" tebak Suseno karena dia juga tau akan hal itu, Endra tidak menjawab lagi dan memilih untuk melihat istrinya yang terlihat keluar dari dalam kamar secara perlahan.
"Apa masih sakit ya?" batin Endra sambil mengambil ponselnya untuk menelepon istrinya terlebih dahulu sebelum serius bekerja, tapi belum juga Endra memencet tombol panggilan, Suseno sudah lebih dulu mengatakan sesuatu.
"Hidupnya pasti berat karena harus membesarkan seorang anak sendirian walaupun tidak kesulitan secara ekonomi, karena aku yakin kalau Naina pasti mengurus masalah itu, tapi Ningsih pasti butuh sosok lelaki untuk mendampingi nya,, saat itu dia menggoda mu karena Naina belum mempunyai perasaan apapun terhadap dirimu,, jadi itu tidak sepenuhnya salah, lagipula itu sudah lama berlalu"
"Kamu tau kalau aku hanya menghawatirkan dirimu,, tapi keputusan ada ditangan mu, jadi aku hanya akan mendukungnya,, aku hanya berkewajiban untuk mengingatkan,, sekarang jangan ganggu aku lagi,, aku mau menelfon istri cantikku dulu"
"Kamu baru saja satu jam yang lalu sampai ke kantor,, lalu sekarang kamu sudah menelfon nya lagi?? bisa-bisa dia cepat bosan padamu" Suseno mencibirkan bibirnya saat Endra menatap tajam kearah nya.
"Oh iya Ndra,, Rey tidak pulang sejak kemarin" ujar Suseno sepertinya agak khawatir pada saudara angkatnya tersebut, Endra kembali meletakkan ponselnya dan tidak jadi menelepon Naina.
"Biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu" Endra sudah pasti tau tentang kondisi Reynolds
__ADS_1
"Apa sudah dipastikan kalau wanita yang bersama Rey adalah Renata?" tanya Endra lagi, yang lalu dibenarkan oleh Suseno.
🥵 Flashback (Reynolds 💜 Renata)🥵
"Ren,, Renata,,, aku mohon buka dulu pintunya" Reynolds berhasil menyusul Renata yang hampir saja melajukan mobilnya.
"Ada apa lagi Rey?? kita tidak sedekat itu untuk berbicara, sudah lupakan yang baru saja terjadi, sekarang minggir lah!!" Renata baru sesekali bertemu dengan Reynolds karena mereka adalah karyawan Endra walau tidak bekerja dalam satu perusahaan, saat ada acara kantor baru mereka bertemu walau tidak saling sapa karena tidak saling mengenal dekat, hanya saja saat acara double date yang ternyata pada kenyataannya menjadi triple date, saat itu Renata jadi mengenal Reynolds, walau hanya sebatas saling mengenal saja, karena mereka bahkan tidak berkomunikasi setelah nya.
"Ren,, maafkan aku,, aku dalam kondisi pikiran yang tidak benar" Reynolds tidak tau harus bagaimana untuk menghadapi situasi saat ini.
Renata lalu keluar dari dalam mobilnya dan langsung menampar pipi Reynolds, dia akhirnya menangis sambil memukuli dada Reynolds.
"Kenapa Rey,, kenapa kita harus seperti ini??!,, aku sudah menunggunya begitu lama,, tapi kenapa dia memilih wanita yang baru dikenal nya?"Renata menyukai Suseno dari awal dia masuk ke perusahaan Endra, saat itu masih di perusahaan Intan, Renata terus bekerja keras supaya bisa menarik perhatian Suseno.
"Sampai akhir dia bahkan tidak menoleh sedikitpun padaku!!" Renata yang tadi juga pikirannya sangat kalut karena mengetahui bahwa Reynolds bersedih karena Ningsih, tanpa pikir panjang lagi, karena hatinya yang sangat sakit, akhirnya menyerahkan mahkota nya pada Reynolds yang sedang sama-sama terluka.
Renata paham, kalau Reynolds bersedih karena Ningsih, itu berarti Ningsih bersama dengan Suseno, dua orang yang sama-sama terluka, meluapkan emosi kesedihannya dengan menyatukan tubuh mereka dengan penuh deraian air mata.
"Sudah Rey,, ini bukan hanya kesalahan mu, ini kesalahan ku juga, jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi"
__ADS_1
Reynolds tidak lagi mengejar Renata yang telah bersiap melajukan mobilnya, mereka masih harus menata kembali hati mereka masing-masing, kesalahan yang telah Reynolds dan Renata lakukan bersama, adalah pelepasan kesedihan yang mendalam di hati mereka.