Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Nostalgia


__ADS_3

Naina hanya diam dan terus melihat kearah luar jendela mobil, dia sangat paham dengan sifat suaminya, dari awal sebelum pernikahan mereka saja, Endra sudah sering memaksanya.


Sebenarnya ini bukan salah Endra sama sekali, tetapi hati kecil Naina tidak bisa atau mungkin belum bisa menerima kenyataan bahwa suaminya telah di gerayangi perempuan lain.


"Aku tidak boleh egois" batin Naina setelah mengalami pergulatan batin, lagipula kalau tidak ada suaminya yang tadi menolongnya, entah sudah jadi apa dia sekarang.


Saat melihat ke luar jendela, Naina mengenali tempat itu dan meminta kepada suaminya untuk berhenti sebentar karena terlihat sangat ramai, sepertinya sekolah sedang mengadakan suatu acara.


"Ini bukankah sekolah kita dulu, ayo berhenti sebentar" pinta Naina yang tentu saja langsung di turuti oleh Endra.


Naina keluar dari mobil setelah melepaskan celemek yang masih dia pakai dari tadi, Naina segera berjalan cepat kedalam sekolah dan terlihat murid-murid sedang bernyanyi bersama, sepertinya mereka sedang mengadakan acara konser di sekolah.


"Hey preman, itu benar kamu kan?" tanya sebuah suara pria membuat Naina menoleh ke arah sumber suara itu, Naina merasa tidak mengenalnya hingga dia tidak memperdulikan dan berjalan mendekati stan penjual gulali.


"Preman, kenapa kamu begitu sombong?" kejar pria itu tetapi dihalangi oleh Endra dengan memegangi kerah baju pria yang mencoba mendekati istrinya itu.


"Apa yang kamu inginkan?! istriku tidak mengenalmu!" teriak Endra tidak suka lalu mendorong pria itu hingga mundur ke belakang karena dorongan dari Endra.


"Naina, ini aku Zaki,, kita dulu teman sebangku, kamu tidak terlalu banyak perubahan dan semakin terlihat cantik, tapi apa benar lelaki kasar ini suamimu?" ujar Zaki sambil membenarkan kemejanya lalu melihat kesekitar, dia malu dilihat banyak orang karena di dorong oleh Endra.


"Zaki?? bukankah dulu kamu kerempeng? aku sampai pangling dan tidak mengenalimu" sepertinya Naina sudah mengingat kembali siapa temannya itu, tetapi saat Naina ingin mendekati Zaki, dia ditahan oleh Endra yang menghalanginya jalannya.


"Dari sini saja menyapanya" ucap Endra.


"Naina, aku merasa tidak asing melihat suamimu ini, apa dia alumni sekolah ini juga?" tanya Zaki.


"Iya, tapi berbeda beberapa angkatan, kenapa kamu disini?" tanya Naina yang hanya kepalanya saja yang bisa nongol dibalik badan Endra yang terus menahannya.


"Aku menjadi guru disini, seperti cita-cita ku dahulu, lalu kenapa seorang preman seperti dirimu bisa berakhir dengan lelaki kasar seperti dia? apa jiwa preman mu sudah hilang?" ledek Zaki, Naina dan Zaki dulu sangat akrab, Zaki yang sempat jadi bahan Bullyan dari teman-teman yang lain karena badannya yang kecil, sering kali mendapatkan perlindungan dari Naina.


"Tuan Endra Prasetya, apa yang membawa tuan kemari? apa kabar nyonya" seorang guru yang terlihat sudah berumur tiba-tiba datang dan langsung mendekati Endra, guru itu dulunya adalah guru olahraganya Naina.


"Apa kabar juga pak Seto" sapa Naina kembali dan mencoba mengulurkan tangannya, tetapi tidak sampai karena terus dihalangi oleh Endra, tetapi Endra yang mengulurkan tangannya untuk menyapa pak Seto.


"Jangan terlalu formal pak, saya disini hanya murid bapak bukan siapa pun itu" ucap Endra merendahkan diri.


"Acara hari ini juga donatur terbesarnya adalah tuan Endra, terimakasih saya ucapkan sebesar-besarnya, semua siswa disini menikmati acara hari ini"


"Tidak perlu sungkan bapak" Endra semakin tidak nyaman dengan sikap gurunya dahulu.

__ADS_1


Sepertinya disekolah itu yang diundang ke acara pernikahan Endra dan Naina hanya beberapa termasuk pak Seto, sementara Naina tidak banyak mengundang tamu, bahkan Zaki saja tidak dia undang.


"Jadi Endra Prasetya pengusaha sukses ini suamimu Nai?? tapi bukankah dia suaminya Intan? jangan bilang kalau kamu itu pelak**" ucap Zaki tanpa basa-basi, karena dia merasa sangat akrab dengan Naina.


"Sembarangan, mau aku jadiin peyek ya kamu?!" teriak Naina kembali mencoba mendekati Zaki, tetapi Endra terus menahan tubuh Naina bahkan sudah menghalangi dengan menggunakan tangannya.


"Baiklah tuan Endra dan nyonya Naina, silahkan nikmati acara ini, apa tuan mau mampir ke kantor?" tanya pak Seto, tetapi langsung ditolak oleh Endra secara halus, karena dia datang hanya untuk mengikuti keinginan Naina.


"Nai,, aku juga harus pergi dulu, ada yang memanggilku, have fun ya, jangan lupa sering mampir kesini" Zaki lalu segera bergegas pergi karena ada murid yang memanggilnya.


Naina mencari uang di saku bajunya dan tidak ada, semua uangnya ada di toko, bahkan dompet, ponsel serta tasnya juga ada disana, tadi Endra membawanya paksa, jadi dia tidak sempat berkemas.


Karena tidak mungkin bagi Naina untuk meminta uang pada Endra, jadi Naina berjalan menjauhi stan penjual gulali dengan perasaan sedih, Endra tidak bisa menahan senyumnya melihat Naina, istrinya terlihat imut seperti anak kecil yang sedih karena tidak bisa atau dilarang membeli sesuatu oleh orang tuanya.


"Apa kamu menginginkan itu sayang?" tanya Endra menahan tangan Naina.


"Tidak" jawab Naina singkat dan semakin membuat Endra gemas melihat istrinya yang sedang merajuk.


Naina berjalan cepat ke belakang sekolah itu, tempat dimana dulu dia menyelamatkan Endra saat di keroyok oleh teman-temannya, Endra juga kembali mengingat hal itu.


"Dulu ditempat ini aku menemukan Zaki yang terluka karena dipukul seseorang" Naina mengingat kembali kenangan tempat itu.


"Kenapa yang kamu ingat malah dirinya, kita juga pertama bertemu disini, karena waktu itu kamu melindungi ku, maka balasan ku adalah, aku akan melindungi mu seumur hidupku" ujar Endra lalu memeluk Naina dari belakang, istrinya sedang berjinjit untuk melihat ruangan kosong yang ada disitu tetapi saat ini sudah tidak beratap, sepertinya akan di renovasi.


"Ah apa yang kamu lakukan?? cepat turunkan!!" Endra menjadi kaget karena melihat kepanikan Naina, lalu segera menurunkan Naina kembali.


"Aaa,, ada apa?" tanya Endra berniat melihat isi didalam ruangan yang membuat Naina terkejut.


Naina berlari kecil meninggalkan tempat itu, Endra yang melihatnya langsung menyusul nya, Naina berhenti disebuah bangku pinggir kelas, Endra lalu duduk disampingnya, karena penasaran, Endra langsung bertanya apa yang terjadi.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berlari saja"


"Apa kamu bilang?"


"Aku hanya ingin berlari, memang tidak boleh?"


"Oh aku paham, kamu mengerjai ku ya?!"


Naina tertawa, dia mengingat kejahilannya pada Zaki dahulu, yang pura-pura ketakutan melihat hantu di ruangan itu, Zaki sampai ngompol di celana, Endra kesal melihatnya karena Naina terus mengingat tentang temannya.

__ADS_1


Endra tidak memperdulikan lagi sedang berada dimana mereka, dengan gerakan cepat, Endra membungkam mulut istrinya yang sedang tertawa, tetapi anehnya Naina kali ini tidak menolak dan membalas ciuman Endra.


"Apa kamu sudah memaafkan ku?" tanya Endra.


"Apa yang harus dimaafkan? bukankah kamu tidak bersalah?"


Mereka lalu saling berbalas senyuman, saat Endra ingin kembali mencium Naina, kali ini istrinya itu menolak dan bangkit dari duduknya, Endra menarik tangan Naina karena tidak terima ciumannya ditolak.


"Disini mulai ramai, sepertinya acara sudah selesai, ayo segera pergi dari sini" ajak Naina.


Endra juga langsung bangkit dari duduknya dan menarik tangan Naina, untung saja penjual gulali yang tadi Naina inginkan masih ada, walau Naina bilang tidak mau, Endra sangat tau kalau istrinya itu sangat menginginkan gulali warna warni itu, Naina berjalan cepat karena malu menjadi pusat perhatian banyak murid-murid sekolah yang kebanyakan dari mereka sedang jajan seusai acara.


Endra meminta pada Naina untuk menunggu sebentar saja, memang saat itu penjual gulali sedang diserbu banyak pembeli, karena gulali nya dibuat lucu berbentuk hati, menyesuaikan dengan tempat, dimana biasanya, sekolah SMP atau SMA, menjadi tempat bersemi nya cinta para remaja.


"Satu gerobak ini harganya berapa? aku akan membelinya semua, tapi tolong berikan aku satu gulali terlebih dulu, dan anak-anak yang baik, bolehkah aku menyela antrian kalian?? tetapi setelahnya kalian bisa mengambil gulali nya secara cuma-cuma, panggil semua teman kalian juga" ujar Endra kepada penjaga stand gulali itu dan kepada seluruh siswa yang sedang mengantri.


Tentu saja para siswa itu sangat senang dan bersorak gembira, Naina semakin malu saat Endra memberikan gulali padanya karena kembali menjadi pusat perhatian, dan segera bergegas pergi dari sana, dan tidak mengingat untuk berpamitan dahulu pada Zaki.


"Waaahhh manisnya, hanya karena tidak mau istrinya capek mengantri, dia membeli satu gerobak, aku mau juga nantinya dapat suami seperti itu" ujar salah satu siswi, sementara para siswa ketar-ketir karena tipe cowok dari para cewek disekolah itu tiba-tiba menjadi sangat tinggi karena melihat tingkah Endra.


"Dasar om-om bucin" ucap salah satu siswa.


Naina memakan gulalinya di dalam mobil, Endra manyun karena tidak disuapi lagi seperti saat mereka berkencan dulu, dan Naina yang tidak peka terus saja memakan gulalinya, satu suapan terakhir ditangan Naina, tepat saat Endra meminggirkan mobilnya dan melepaskan sabuk pengaman nya, gulali itu hampir sampai di mulut Naina.


Hhhaaapppp


Endra menarik tangan Naina dan memasukkan gulali itu ke mulutnya, Naina kegelian karena Endra juga ******* jari-jarinya, Endra mengambil tisu lalu membersihkan tangan Naina, sementara Naina sendiri masih terdiam karena kaget dengan kelakuan Endra yang selalu diluar nalarnya.


Endra kembali memakai sabuk pengamannya lalu kembali melanjutkan perjalanan, tanpa berbicara sepatah katapun, tetapi senyuman terukir indah di wajah tampannya, Entah kenapa Naina terpesona melihatnya.


"Suamimu ini memang tampan, mungkin kamu baru menyadarinya, tetapi jangan terus memandangku seperti ini, kamu pasti tidak mau kalau aku memakan dirimu disini?" ujar Endra, tetapi pandangannya tetap focus pada jalanan.


Naina tidak menjawab apapun dan memalingkan wajahnya karena dia ketahuan sedang memandangi wajah suaminya itu.


"Tidak perlu malu, bukankah aku memang hanya milikmu, jadi kamu bebas melakukan apa saja padaku, apalagi hanya sekedar memandang,, asal kamu tau sayang,, cintaku padamu jauh lebih besar dari cintamu padaku"


"Kenapa kamu berfikiran seperti itu?" tanya Naina.


"Aku gila tanpamu, tetapi kamu terlihat biasa saja tanpa ku"

__ADS_1


Naina menggigit bibirnya mendengar perkataan dari suaminya, dia merasa Endra hanya sedang merayu dan menggodanya saja, tetapi Endra terus diam bahkan saat mereka sampai dirumah.


"Ada apa?" tanya Naina sebelum turun dari mobil karena melihat suaminya yang menjadi diam, tetapi Endra tidak menjawab apapun dan hanya menggandengnya untuk memasuki rumah.


__ADS_2