Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Seminar di Luar Negeri


__ADS_3

"Apa yang sekarang harus aku lakukan??" Naina panik karena menerka-nerka apa yang akan diminta Endra darinya.


Tanpa memperdulikan sakit yang sedang dia rasakan, Naina datang ke salon kecantikannya, dia menyelesaikan pekerjaan penting lalu menyerahkan tanggung jawab atas salon kecantikannya untuk waktu yang belum bisa dipastikan kepada karyawan kepercayaannya.


Naina mengingat Sindi yang meminta bantuan kepada dirinya, Naina meminta bantuan kepada seseorang untuk mengawasi Roni dan keluarganya serta meminta informasi jika benar bayi Sindi akan dibuang selayaknya anak-anaknya dahulu.


Sejak awal memang Roni hanya bermain dengan Sindi supaya bisa melahirkan anak laki-laki untuknya, jadi sudah pasti bagi Roni tidak akan ada rasa kasihan sedikitpun, sebenarnya Naina tidak terlalu mengerti dengan perubahan Roni yang sangat berbeda jauh dari saat pertama dahulu dia mengenalnya.


Tamat sekolah SMA, Naina langsung dijodohkan dengan Roni, yang menurut ayahnya akan selalu bisa membahagiakan dirinya, dan memang benar seperti itu, setidaknya saat anak pertama mereka lahir, semua masih sangat normal, tetapi saat kelahiran anak keduanya yang kembali berjenis kelamin perempuan, dari sana Roni mulai berubah.


Mungkin karena tekanan dari pihak kedua orang tuanya yang menginginkan bayi laki-laki yang membuat Roni berubah, tapi Naina merasa bukan hanya karena masalah itu, tetapi sekarang semuanya sudah tidak ada artinya lagi mau apapun alasan sebenarnya yang Roni sembunyikan.


Naina menjual mobilnya dan mengambil sebagian tabungannya, Naina memasukkan hasil penjualan mobilnya dan uang tabungannya kedalam sebuah amplop coklat besar, Naina mendatangi perusahaan Endra karena ingin menemui Suseno, Naina tidak mengetahui bahwa Endra maupun Suseno sudah tidak ada lagi di perusahaan yang sekarang telah sepenuhnya menjadi milik Intan.


"Semoga hanya ada tuan Suseno, aku tidak mau bertemu dengan lelaki mesum itu" batin Naina saat mengumpulkan keberaniannya untuk memasuki perusahaan.


"Apa yang kamu lakukan disini wanita murahan?!!" teriak Intan saat melihat Naina memasuki perusahaannya.


"Maaf nyonya, saya ingin menemui tuan Suseno atau tuan Endra,, ada hal yang ingin saya bicarakan"


"Kamu itu sungguh wanita yang tidak tau malu, berani-beraninya kamu mencari suami orang lain!!"


"Nyonya jangan salah paham, saya hanya,,,,"


"Nona Naina!"


Naina tidak melanjutkan ucapannya karena ada yang memanggilnya, Suseno mendekatinya.


"Apa yang nona lakukan disini?" tanya Suseno pada Naina dan tidak memperdulikan keberadaan Intan, karena perceraian Endra dan Intan sudah mulai di layangkan di pengadilan agama jadi bagi Suseno, sekarang Intan bukan siapa-siapa lagi baginya.


"Aku ingin menemui tuan" jawab Naina lalu mengajak Suseno


"Apa yang kamu lakukan disini, disini sudah tidak ada tempat untuk dirimu lagi!" teriak Intan pada Suseno, karena malas untuk meladeni Intan, Suseno mengajak Naina untuk segera pergi dari sana, Naina merasa bingung karena Suseno diusir dari sana, karena sepengetahuannya perusahaan itu masih milik Endra, tetapi Naina tidak terlalu mau memikirkan karena tidak ada hubungannya dengan dirinya.


"Apa yang coba kamu lakukan Naina, apa yang kamu inginkan dengan datang kesini? untung saja pengawal mu segera memberitahu tentang pergerakan dirimu" batin Suseno saat berjalan bersama Naina untuk menuju sebuah cafe supaya lebih nyaman untuk berbicara.


"Tolong berikan ini pada tuan Endra, ini memang tidak seberapa dibandingkan dengan pertolongan nya padaku selama ini, saya pamit undur diri"


"Nona Naina,," Suseno memanggil Naina, mencoba menahannya supaya tidak beranjak dulu dari duduknya.


"Apa yang membuat nona begitu membenci Endra?"


"Bukankah tuan juga pasti tau kalau dia pernah melecehkan saya? saya yakin tuan pasti tau, bagaimana dia memaksa saya memasuki kamar gila itu bersama dengan nyonya Intan, apa menurut tuan hal sebesar itu tidak cukup untuk membuat diriku membencinya? bahkan hal seperti itu bisa saja dilaporkan kepada pihak kepolisian"


"Nona,, itu kesalahan terbesar dia pada nona dan itu sangat fatal, dia hanya mengikuti naluri hasratnya,, tanpa berfikir panjang, tapi dia sangat menyesali hal itu, tidak bisakah nona memaafkan dirinya?"


"Aku akan memaafkan dirinya kalau dia tidak pernah menemui diriku lagi, maaf tuan,, hari sudah semakin malam, aku harus segera pergi"

__ADS_1


Naina langsung bergegas dan meninggalkan tempat itu untuk segera pulang, tetapi malam ini dia berencana untuk menginap di rumah orang tuanya, Naina kerumah orang tuanya dengan mobil online yang dia pesan, papa Yanto yang kebetulan berada di teras merasa aneh karena biasanya anaknya memakai mobil pribadinya sendiri.


"Nai, kenapa kamu sudah bepergian, istirahat dulu,, kamu belum sepenuhnya pulih, apa itu yang membuat dirimu memilih naik mobil online untuk datang ke sini? karena kamu belum kuat untuk menyetir mobil sendiri?"


Naina tidak tau harus menceritakan tentang mobilnya yang sudah dia jual atau tidak, kalau menceritakan kepada ayahnya, sudah pasti ayahnya akan curiga, apalagi Naina terlihat sangat terburu-buru, tetapi Naina tidak mau berbohong pada ayah atau keluarga nya.


"Aku mau keluar negeri ayah, jadi aku menjual mobilku, mungkin terlihat sangat terburu-buru, tetapi aku pernah berniat menjual mobilku, tetapi batal karena suatu hal, tadi aku dengan mudah menjualnya karena pihak yang dulu berharap membeli mobilku belum berubah pikiran, jadi dia langsung membayar, aku membutuhkan uang untuk sesuatu, lagipula kalau mobil tidak dirawat akan rusak, jadi lebih baik aku jual saja"


"Untuk apa kamu pergi keluar negeri?"


"Aku ada undangan seminar dan juga sekalian mau bekerja sama dengan seorang kolegaku dari luar negeri untuk membuka salon kecantikan di sana"


"Kamu sudah memikirkan hal itu dengan sebaik-baiknya?"


"Sudah ayah, aku sudah sangat yakin"


Naina lalu masuk kedalam rumah, mama Nimah sedang berada dikamar Ningsih menemani bayi dan juga Ningsih.


"Kakak kenapa kesini? apa kakak sudah sehat?"


"Naina, kenapa kamu selalu saja seperti ini, jaga kesehatan kamu"


"Aku ingin tidur disini, aku sudah merasa lebih baik" Naina memandangi wajah bayi mungil anaknya Ningsih.


"Ma, aku ada pekerjaan ke luar negeri, aku minta tolong untuk untuk menengok anak-anakku sebulan sekali, untuk biaya mereka,, aku akan rutin mengirimkan ke pihak pengelola asrama nya, jadi mama tidak perlu memikirkan hal itu, aku akan berusaha untuk segera menyelesaikan pekerjaan disana secepatnya, maaf merepotkan"


"Tidak repot Nai,, kapan kamu merepotkan mama,, tapi apa tidak bisa diundur sampai kamu benar-benar sehat? mama tidak mau terjadi apa-apa padamu disana"


Mama Nimah dan Ningsih saling memandang, mereka merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Naina, diam-diam mama Nimah menghubungi Endra dan menceritakan tentang rencana Naina yang akan pergi ke luar negeri.


"Baik ibu, terimakasih informasinya" Endra meremas amplop coklat berisi uang yang diberikan oleh Naina pada Suseno, sepertinya uang itu sudah sampai pada Endra.


"Aku tidak akan membiarkannya pergi dariku, walaupun aku harus memaksanya" Endra menyimpan uang dari Naina kedalam lemari.



Naina berangkat ke luar negeri, dia merasa sangat lega karena Endra tidak menghalanginya, Naina berfikir kalau Endra pasti tidak mengetahui kepergiannya.



Perjalanan cukup jauh, dan mungkin karena kondisinya yang sebenarnya belum terlalu sehat, Naina menghabiskan waktu di perjalanan dengan banyak tidur.



Naina dijemput oleh seorang pria suruhan dari orang yang mengundangnya untuk mengisi seminar tentang kecantikan bagi para TKW yang bekerja disana, Naina mendekati pria itu karena terlihat membawa kertas bertuliskan nama dirinya.


__ADS_1


"Perkenalkan nama saya Raka, saya diutus ibu Saras untuk menjemput ibu dan mengantarkan ke hotel yang telah dipesan oleh beliau"



"Baik, terimakasih"



Rupanya hotel yang akan ditempati oleh Naina tidak terlalu jauh dan mereka segera sampai, Naina mengambil kunci hotel dan segera bergegas masuk kedalam kamar untuk segera mandi, perjalanan jauh yang membuatnya lama di pesawat membuatnya merasa sangat tidak nyaman karena badannya lengket.



Setelah mandi Naina menghubungi ibu Saras untuk menanyakan tentang acara seminar, setelah mengetahui waktu dan tempat acara, Naina lalu membuat mi instan, untung saja dia sudah sedia sebelumnya, karena pasti akan malas untuk keluar hotel mencari makanan setelah capek lama diperjalanan, dan di pesawat dia tidak terlalu nafsu makan.



Waktu seminar hampir dimulai disebuah mall, Naina sudah berdandan dengan sangat rapi dan cantik, bahkan orang tidak akan mengira kalau dia adalah seorang janda dengan dua orang anak.


Naina merasa sedikit demam panggung, karena ini pertama kali melakukan seminar di luar negeri, walau kebanyakan yang datang adalah para pekerja yang sama-sama berada dari Indonesia, tetapi tetap saja rasanya sangat berbeda.


"Nona atau nyonya Naina?" tanya host acara itu sebelum acara benar-benar dimulai.


"Apa saja boleh, karena saya memang sudah mempunyai dua orang anak"


"Apa anda bercanda?? aku berpikir anda pasti sudah memiliki suami, karena kecantikan anda, sudah pasti banyak yang ingin anda untuk menjadi pendamping hidup, tetapi aku sungguh tidak menyangka bahwa anda sudah memiliki dua orang anak"


"Jangan terlalu melebih-lebihkan, saya biasa saja"


"Baiklah,, acara akan dimulai, nona bisa lebih santai saja, rileks" host itu menyadari bahwa Naina sepertinya sedikit demam panggung.


Acara berjalan sangat lancar, Naina menjelaskan tentang kesehatan kulit dan bagaimana cara merawat yang baik dan benar serta tidak lupa untuk promosi produk perawatan wajah dan kulit miliknya.


"Sebentar lagi saya mendengar bahwa nona,, aduh maaf,, saya terus memanggil nona karena memang masih terlihat sangat cantik dan segar,, baiklah kembali ke topik, apa benar nona dan ibu Saras akan segera membuka klinik kecantikan di negara ini?"


"Iya, benar sekali,, bagi yang mempunyai keluhan seputar wajah dan kulit, bisa untuk segera datang ke klinik kecantikan yang akan segera kita buka yang masih terletak di dalam mall ini juga, tepatnya dilantai tiga" Naina tersenyum karena berhasil menguasai demam panggungnya dan bisa lancar mengisi acara itu.


Acara diakhiri dengan tanya jawab, Naina dengan lancar menjawab satu persatu pertanyaan yang diberikan untuknya, acara lalu diakhiri dengan foto bersama.


"Aku panggil Naina saja ya, biar lebih akrab, kamu sepertinya seumur dengan adikku, sekarang lebih baik kamu kembali ke hotel untuk beristirahat, besok datang lagi kesini untuk melihat klinik kecantikan yang sudah aku persiapkan, hanya perlu kamu datang untuk pembukaan, maaf aku melakukan tanpa persetujuan darimu, karena tadinya aku pikir kamu tidak akan datang dan hanya mewakilkan pada asistenmu"


"Tidak apa-apa, harusnya saya berterima kasih karena ibu sudah begitu baik"


"Jangan terlalu kaku, biasa saja dan jangan panggil aku ibu, kalau kamu tidak mau manggil namaku, panggil kakak saja"


"Baik, terimakasih"


Naina lalu pamit untuk segera menuju ke hotelnya kembali, dia sangat lelah, mungkin karena dia yang sebenarnya masih sakit tapi memaksakan diri untuk bekerja, jadi dia merasa cepat lelah.

__ADS_1


Naina memasuki hotel dengan membuka ponselnya untuk melihat semua pesan masuk, pesan yang membuat nya bahagia adalah pesan dari anak-anaknya yang selalu memberi nya semangat, tapi karena sangat focus dengan ponselnya dia tidak sadar menabrak seseorang.


"Maaf" ucap Naina lalu membungkukkan badannya, dan saat dia melihat siapa yang telah dia tabrak, dia tersenyum karena yang dia tabrak seorang wanita cantik yang juga sedang tersenyum padanya, tadinya dia sudah berfikir orang itu akan memarahinya, tapi saat Naina menoleh pada orang disebelah wanita itu, sontak saja Naina mundur karena kaget.


__ADS_2