
"Apa? Endra mencintai seseorang?" tanya Rayhan pada Suseno yang sedang menelepon nya, selama ini Suseno rajin memberitahukan kepada Rayhan tentang apapun yang terjadi pada Endra.
"Iya tuan, hanya saja wanita itu membenci Endra"
"Datang kemari besok dan ceritakan semua nya tentang wanita itu" perintah Rayhan lalu menutup panggilan telepon itu, karena bibi yang bekerja di rumahnya mendekati nya.
"Maafkan saya tuan, tetapi Reynolds seperti nya sedang dalam masalah, saya mohon jangan pecat dia karena saya yakin kalau dia hanya,,," bibi tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Bi Yeni,, sebenarnya ada apa? coba ceritakan dengan pelan, kenapa aku akan memecat Reynolds kalau dia tidak berbuat salah?"
"Tuan,, saat ini Reynolds dan nyonya Intan dikamar sedang,," bibi kembali terdiam, dia tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, karena ini pasti akan menjadi pukulan besar di hati Rayhan.
"Katakan dengan benar bibi, aku masih tidak mengerti"
"Mereka melakukan hubungan terlarang dikamar itu" akhirnya bi Yeni memberitahukan yang sebenarnya, karena dia tidak mau menyembunyikan kesalahan sebesar itu, dan bi Yeni juga berharap agar Reynolds kembali ke jalan yang benar.
Rayhan meminta kepada bi Yeni untuk membuat masakan yang banyak karena akan ada tamu yang datang, mendengar perintah dari tuannya membuat Bu Yeni sedikit merasa heran karena tuannya tidak bereaksi apapun pada masalah Reynolds dan Intan.
"Jangan terlalu dipikirkan bibi, mereka sudah dewasa jadi tentu saja sudah tau sebab dan akibat dari setiap perbuatan yang mereka lakukan, dan ini masalah keluarga, ini seperti borok yang tidak seharusnya ada di keluarga ini tetapi ini sudah terjadi, tetapi bibi tenang saja karena aku tidak akan memecat Reynolds"
Bi Yeni lalu menuju dapur untuk memasak sesuai perintah dari tuannya, bi Yeni masih tidak tau siapa yang akan datang sampai dia harus banyak memasak karena ini bukan akhir minggu atau hari spesial, bi Yeni sudah bekerja di sini selama puluhan tahun dari saat Endra masih kecil, jadi sangat paham kalau dirumah ini jarang ada tamu selain akhir minggu atau hari tertentu.
"Bibi masak sebanyak ini untuk apa? apakah akan ada acara atau tamu yang datang?" tanya Reynolds yang sepertinya sudah sangat puas mengairi sawah milik Intan.
"Tidak perlu banyak berbasa-basi, cepat mandi dan bersihkan tubuhmu yang sangat bau ini, walau aku yakin dengan mandi juga akan tetap bau tapi setidaknya kamu bersih sebelum kembali bekerja" bi Yeni tidak mau melihat kearah Reynolds, seperti nya bi Yeni sangat kecewa dengan yang dilakukan keponakannya yang sudah dia anggap sebagai anak sendiri.
Reynolds hanya bisa menurut, dia sangat paham kalau bibinya pasti sangat marah dan kecewa padanya, Reynolds lalu mandi dan dengan cepat kembali ke dapur untuk membantu bibinya.
Sesaat sebelum makan siang, semua hidangan sudah tersedia di atas meja, tetapi tamunya belum juga datang, sementara Rayhan dan Intan sudah duduk dimeja makan dari tadi.
"Ayah, kita sedang menunggu siapa? tidak mungkin Endra akan pulang disaat ini karena dia itu sangat gila kerja"
"Intan, apa kamu merasa tidak suka dengan Endra yang gila kerja? bukankah itu yang membuat hidupmu terjamin dan bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan"
Mendengar perkataan dari ayah mertuanya membuat Intan sedikit kelabakan karena tidak menyangka bahwa kali ini ayah mertuanya akan berkata seperti itu, karena dari kemarin ayah mertuanya selalu membelanya bahkan saat didepan Endra.
"Bukan seperti itu ayah, maksud aku dia menjadi sangat kurang memperhatikan aku" Intan mencoba kembali berakting sedih di depan ayah mertuanya, Intan tidak menyadari bahwa Rayhan sudah tau semua kelakuan buruknya dan bahkan sangat membenci dirinya.
__ADS_1
Selama ini Rayhan hanya berpura-pura tidak tau apa-apa, tetapi saat ini dia akan bergerak cepat untuk membalas dendam pada Intan dan keluarganya.
"Tuan, nyonya Romlah sudah datang" bi Yeni datang bersama dengan tamu yang diundang oleh tuannya.
"Selamat datang nyonya, terimakasih telah sudi datang" sapa Rayhan dengan ramahnya pada ibu Romlah.
"Tentu saja saya harus datang, bahkan merasa terhormat dengan undangan tuan Endra" ibu Romlah tersenyum lalu duduk di kursi dekat dengan Intan.
"Mama, apa yang mama lakukan disini?" tanya Intan heran pada mamanya yang datang ke rumah ayah mertuanya.
"Mama diundang oleh tuan Rayhan, ada sesuatu yang akan kita bicarakan mengenai kelangsungan bisnis yang kita gabungkan sesaat setelah pernikahan kalian, bisnis itu sekarang sangat maju pesat" ibu Romlah terlihat sangat antusias.
Rayhan sudah merencanakan untuk segera mengakhiri hubungan bisnis mereka, karena hanya Endra saja yang bekerja keras sementara keluarga Intan hanya menikmati hasilnya saja, tetapi tentu saja Rayhan akan berusaha supaya tidak terlalu mendapatkan banyak kerugian, saat ini dia harus menahan diri sebentar lagi sambil mengulur waktu menunggu kedatangan Endra.
"Silahkan dinikmati terlebih dahulu hidangan yang telah disajikan, sepertinya sudah mulai dingin, semoga ibu Romlah menikmati makanan sederhana keluarga ini" Rayhan terlihat sangat ramah dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.
Mereka memulai makan siang dengan pikirannya masing-masing, ibu Romlah terlihat sangat senang karena dia pikir perusahaan mereka kembali mendapatkan untung yang besar, tetapi Rayhan sudah mempunyai rencana yang pasti tidak akan membuat Endra selalu menjadi sapi perah untuk Intan dan keluarganya.
Saat dulu perusahaan mereka melakukan merger, dari awal hanya Endra yang bekerja keras untuk membangun perusahaan mereka menjadi lebih besar, sementara Intan dan keluarganya hanya menikmati saja hasilnya, Rayhan menyelesaikan makan siangnya dengan cepat karena dia sudah tidak sabar untuk segera mengungkapkan apa alasan nya mengundang ibu Romlah.
"Ibu Romlah, saya akan melakukan akuisisi untuk perusahaan yang selama ini dikelola oleh Endra" pernyataan Rayhan seperti sebuah bom yang membuat Intan dan ibu Romlah sangat kaget.
"Sudah sangat wajar bagi seorang suami untuk bekerja keras demi keluarganya, saya sebagai ayah Endra tidak memungkiri bahwa hal itu memang kewajiban Endra, tetapi apakah sebagai istri,, Intan juga sudah menjadi istri yang baik untuk Endra? kenapa hanya Endra yang harus bekerja keras, bukankah hidup berkeluarga, hidup berpasangan itu harus saling membantu dan mendukung?" Rayhan mulai menjelaskan apa yang membuat nya ingin melakukan akuisisi perusahaan keluarga mereka.
"Kita akan melakukan rapat untuk menentukan siapa yang berhak melakukan akuisisi" tambah Rayhan dengan tenang.
"Tuan Rayhan, hubungan antara kita selama ini baik-baik saja, lalu kenapa tiba-tiba melakukan hal semacam ini?"
Rayhan sudah sangat malas untuk menceritakan kebusukan mereka, Rayhan juga sudah tau kalau selama ini keluarga Intan sudah bersiap untuk merebut perusahaan tanpa sisa sedikitpun, tapi berbeda dengan Rayhan, walau pada awalnya dia juga ingin balas dendam sekejam-kejam nya tetapi saat ini Rayhan hanya ingin supaya anaknya cepat terlepas dari jeratan Intan.
"Saya sudah sangat yakin kalau ibu Romlah pasti tau alasan apa yang mendasari saya melakukan hal ini, saya juga tau dengan pasti kalau ibu ingin merebut perusahaan itu untuk keluarga ibu sendiri, tetapi saya berbeda,, saya tidak licik seperti anda"
"Tuan sudah salah paham, saya tidak pernah mencoba melakukan hal seperti itu" elak ibu Romlah, dari tadi Intan hanya diam tidak menyangka ayah mertuanya yang dari kemarin terlihat begitu ramah padanya, ternyata menyimpan rahasia besar.
Rayhan mengetuk meja menggunakan sendok, lalu tidak lama Reynolds datang membawa sebuah laptop lalu meletakkan nya di meja makan menghadap pada ibu Romlah dan Intan, tidak lama sebuah video yang tidak pantas diperlihatkan pada layar laptop.
Intan pucat pasi melihat nya, dia lalu melihat ke arah Reynolds yang ada di belakang laptop itu, pandangan mata mereka bertemu, terlihat Reynolds menarik sebelah kanan bibirnya hingga terlihatlah senyuman yang seperti meledek Intan.
__ADS_1
Intan mengepalkan tangannya menahan amarah, dia lalu menatap tajam ke arah ayah mertuanya, Intan sadar kalau Rayhan telah merencanakan semua ini.
"Apa pantas seorang istri melakukan hal semacam ini disaat suaminya sedang bekerja keras? menurut ibu apa hal semacam ini tidak cukup untuk melakukan gugatan cerai? tetapi perceraian hanya boleh dilakukan setelah perusahaan sudah memiliki satu pemilik, karena pasti akan terjadi kekacauan di perusahaan saat pasangan romantis yang menjadi icon dari perusahaan melakukan perceraian" ujar Rayhan lalu menutup laptopnya.
"Ini semua karena Endra yang tidak mampu untuk menjadi seorang suami, dia yang membuat Intan terpaksa melakukan hal itu!!" teriak ibu Romlah membela anaknya.
"Putri anda yang tidak bermoral yang harus disalahkan, kenapa selalu saja Endra yang disalahkan? karena kalau memang Endra tidak mampu, tidak mungkin ada wanita yang bisa,,,, !" Rayhan tidak melanjutkan ucapannya karena Endra datang dan memegang bahunya.
Endra datang tepat waktu, karena kalau sampai Rayhan menyebut nama Naina, itu akan sangat membahayakan bagi Naina, walau sebenarnya Intan juga sudah mengetahui hal itu dan sudah menceritakan tentang Naina pada ibu Romlah, tetap saja nama Naina tidak untuk disebutkan dalam masalah keluarganya, sudah cukup bagi Endra melakukan kesalahan dengan membawa Naina kedalam kamar gila, sekarang Endra tidak mau lagi menyeret Naina dalam masalah rumah tangganya.
"Sudahi sampai disini, lakukan apapun yang ingin kalian lakukan, rapat untuk akuisisi perusahaan akan dilakukan satu bulan dari sekarang" ucap Endra lalu mendekati Reynolds dan memegang bahunya lalu tersenyum sambil berkata,
"Terimakasih atas bantuannya"
Mendengar Endra yang juga ternyata termasuk dalam semua rencana ini, membuat Intan sangat geram, dia bangun dari duduknya dan mendekati Endra lalu memukul nya dengan keras, Endra memegangi pipinya dan ujung bibirnya yang berdarah, tetapi Endra hanya tersenyum meremehkan.
"Kurang aajjjaarrr!!" teriak Intan kembali mencoba memukul Endra tetapi dihalangi oleh Reynolds, melihat Reynolds tentu saja Intan semakin marah, karena dia pikir Reynolds hanya lelaki biasa yang tergoda padanya, Intan tidak menyangka bahwa dia telah dipermainkan oleh Reynolds.
Intan terus memukuli Reynolds dan berteriak histeris, ibu Romlah mendekati anaknya lalu membawanya keluar dari rumah itu setelah mengancam Rayhan dan Endra.
"Aku akan mengatakan kepada seluruh dunia tentang kelemahan mu yang sangat memalukan bagi seluruh pria di dunia ini, dan lihatlah bagaimana orang hanya akan membela Intan, setelah itu sudah pasti perusahaan itu menjadi milik kami sepenuhnya!!"
Endra dan Rayhan duduk setelah keributan itu selesai, sekarang Rayhan menanyakan alasan Endra tidak mengatakan padanya kalau dia sudah sembuh.
"Itu sangat membahagiakan untuk ayah,, bawa perempuan itu lalu menikahlah dengannya, setelah itu ayah sudah tidak akan merasa menyesal lagi kalau harus menyusul mama mu" Rayhan memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Ayah, jangan berbicara hal yang tidak masuk akal, dan juga jangan libatkan Naina dalam masalah ini, aku tidak mau dia terluka, aku sadar dia akan segera meninggalkan ku, tetapi itu lebih baik daripada dia akan terus terancam jika didekat ku,, aku cukup melihatnya dari jauh, jadi aku mohon padamu ayah, jangan lakukan apapun mengenai Naina"
Kring kring kring kring
Ponsel Endra berdering, dengan cepat Endra mengangkat nya karena itu panggilan dari Suseno yang sudah pasti sangat penting.
"Naina membatalkan kerja sama, dia berjanji akan membayar penalti satu minggu lagi, tadi juga dilaporkan oleh pengawalnya kalau dia terlihat memasuki sebuah dealer mobil, sepertinya dia akan menjual mobilnya untuk tambahan membayar penalti" Suseno memberikan laporan setelah dia juga mendapat info dari orang suruhan Endra yang selama ini selalu mengawasi dan menjaga Naina dari jauh.
"Bilang padanya kalau pihak kita yang membatalkan kerja sama terlebih dahulu, jadi pihak kita yang akan menanggung penalti nya" Endra lalu menutup teleponnya.
Endra termenung, dia merasakan sakit di dalam dadanya,
__ADS_1
"Apakah ini akhir dari semuanya? apakah aku benar-benar tidak ada kesempatan untuk bersama mu Naina?" batin Endra lalu melemparnya ponselnya dengan keras membuat Rayhan kaget, karena sudah lama anaknya tidak menunjukkan perasaan atau emosi, selama ini Endra hanya menurut dan terus bekerja keras.