
"Tidak apa-apa, lain kali lebih perhatikan jalanmu" ucap wanita itu pada Naina, lalu wanita itu menggandeng tangan pria yang ada disebelahnya.
"Kak Endra,, ayo kita dinner di hotel ini, disini tempatnya sangat nyaman"
Endra tidak menjawab apa yang dikatakan oleh wanita itu tetapi malah memandang wajah Naina dengan tajam, terpancar kemarahan dalam pandangan itu, Naina tidak bisa mengatakan apapun.
Wanita itu menggoyangkan tangannya untuk mencari perhatian Endra, dengan cepat Naina berlalu pergi dari sana, sebenarnya Endra mencoba untuk mengejarnya tetapi ditahan oleh wanita yang bersamanya.
"Tidak salah apa yang aku pikirkan, dia itu memang pria mesum" batin Naina saat memasuki kamar hotel nya, Naina mengingat ucapan wanita yang bersama dengan Endra untuk dinner di hotel yang dia tempati.
"Aku tidak bisa keluar untuk makan, aku tidak mau bertemu dengan pria mesum itu, untung aku masih memiliki mie instan, tetapi sepertinya aku tidak akan kenyang, semua gara-gara pria mesum itu, aku jadi tidak bisa keluar dari kamar ini" Naina menggerutu dalam hati.
Sementara Endra yang sedang makan malam dengan wanita yang bersamanya tadi, terlihat dia tidak nafsu makan dan terus mencari kedatangan Naina.
"Tidak perlu mencarinya, dia pasti tidak akan datang, lebih baik kakak makan saja, karena kakak butuh banyak asupan makanan untuk bisa mengejar Naina"
"Aku tidak mau melakukan hal ini, aku hanya harus masuk kedalam kamar nya"
"Hahaha, jangan terlalu tidak sabaran, untuk apa kakak melakukan hal itu? yang kakak dapatkan hanya tubuhnya, apa kakak mau hidup dengan boneka? kakak harus merebut hatinya terlebih dahulu"
"Kalian para wanita kenapa sangat ribet sekali, pada akhirnya hanya hubungan badan lah yang sebenarnya dibutuhkan"
Wanita itu tidak menjawab dan hanya meneruskan makan malamnya, wanita itu adalah saudara sepupu Endra, sebagai saudara tentu saja sangat tau bagaimana kondisi Endra.
"Kak, aku tau kalau kakak belum pernah berpacaran, belum pernah mendekati wanita dengan benar, karena dari dulu hanya hubungan itu yang kakak dapatkan dari wanita, tapi asal kakak tau, bagi wanita baik-baik, hubungan badan itu tidak lebih penting dari hubungan hati, kita tidak memungkiri kalau kita butuh berhubungan badan, tetapi harus didasari dengan hubungan hati yang kuat"
"Rania, apa suamimu masih lama datangnya? aku ingin segera ke kamar untuk beristirahat" Endra malas berada disana, karena dia mau diajak makan ditempat itu karena berharap bertemu dengan Naina.
"Sebentar lagi, kakak makan dulu, atau aku tidak mau membantu kakak untuk mendapatkan hati Naina"
Mendengar ancaman dari adik sepupunya, Endra akhirnya makan tetapi dia segera pergi setelah berbasa-basi sebentar dengan suami Rania yang baru datang.
Pagi hari nya Naina terpaksa harus keluar dari kamarnya untuk mencari sarapan, karena siang harinya dia harus datang kembali ke mall tempatnya bekerja sama dengan Saras untuk membuka klinik kecantikan, disana Naina hanya memasukkan brand miliknya dan dia juga dijadikan model dari klinik kecantikan itu.
"Hayy, kamu yang kemarin menabrak ku kan?"
"Eh iya, maaf untuk itu"
"Tidak apa-apa, kamu juga kan tidak sengaja"
Naina tidak menyangka kalau dia akan kembali bertemu dengan wanita itu, Naina pikir wanita itu dan Endra hanya makan malam disana, tetapi sepertinya mereka juga menginap di hotel itu.
"Kamu pasti mau sarapan ya? ayo bareng,, aku juga mau sarapan, oh iya,,, perkenalkan nama ku adalah Rania"
Naina menyambut uluran tangan Rania dan dia menyebutkan namanya, kedua wanita itu sarapan dengan sesekali tertawa karena mengobrol ringan dan mengobrol dengan santai.
"Kamu sudah menikah?" tanya Rania yang membuat Naina merasa tidak nyaman, melihat Naina yang sepertinya tidak suka dengan pertanyaannya membuat Rania meminta maaf.
"Tidak apa-apa, aku adalah janda dengan dua putri"
__ADS_1
Rania pura-pura terkejut padahal dia sebenarnya tau karena Endra sudah menceritakan semuanya, hanya saja Rania mencoba mengetes kejujuran dari Naina, karena biasanya wanita cantik seperti Naina akan menyembunyikan identitas dan kondisinya.
"Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal misalnya kamu tidak percaya karena menganggap aku terlihat masih muda, atau apalah itu" ucap Naina mengacungkan sendoknya pada Rania, entah kenapa dia sudah merasa nyaman mengobrol dengan Rania, mungkin karena dia tidak mempunyai teman yang bisa dia ajak mengobrol bersama.
Endra datang dan berniat duduk disebelah Naina, tetapi Rania memberi kode untuk duduk disebelahnya, Endra yang mengerti lalu duduk disebelah Rania, melihat kedatangan Endra membuat Naina langsung meletakkan sendoknya dan tidak nafsu untuk melanjutkan makannya.
"Aku duluan" Naina bangkit dari duduknya dan langsung bergegas pergi dari sana tanpa memperdulikan pertanyaannya Rania yang heran karena dia tidak menyelesaikan sarapannya, Endra mengejar Naina dan bersembunyi dibalik pilar saat melihat Naina membuka kunci pintu kamarnya, Endra langsung mendekat sebelum pintu itu tertutup dan memasukkan satu kakinya saat Naina akan menutup pintu kamar, betapa terkejutnya Naina saat Endra dengan kekuatannya mendorong pintu supaya bisa masuk kedalam kamar Naina.
"Aaahhhhh!" Naina sedikit terdorong ke tembok, untung saja kepalanya tidak terbentur, Endra tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung meraih dan mendekap tubuh Naina lalu menciumnya dan semakin menekan tubuh Naina ke tembok.
"Aaakkkkkhhhh" Naina terus menggelengkan kepalanya untuk melepaskan diri dari ciuman Endra, tangannya seperti biasa sudah berada dalam cengkeraman tangan Endra, terlihat buliran air mata jatuh dari mata Naina, Endra melepaskan ciumannya dan menciumi mata Naina yang terus mengeluarkan air mata.
"Jangan menangis, aku tidak akan menyakitimu, aku sangat merindukanmu" Endra semakin mendekap erat tubuh Naina.
"Lepaskan aku, dasar lelaki mesum kotor tidak tau diri, bisa-bisanya kamu datang kesini dan meninggalkan teman kencanmu sendiri"
"Apa kamu cemburu?" tanya Endra dengan percaya diri.
"Apakah ada yang akan percaya dengan ucapan mu? kita sedang berada di dalam sebuah kamar dan kamu berada dalam kungkungan diriku, siapapun pasti akan mengatakan kalau kita ini adalah pasangan"
"Jangan gila, cepat lepaskan,, aahhhh!!!" Naina merasa kaget dengan benda keras yang terasa di samping pahanya, Naina membelalakkan matanya karena menyadari pedang Endra terbangun.
"Apa kamu sudah sembuh?" tanya Naina langsung pada intinya, bahkan hal itu membuat Endra merasa malu.
"Cepat pulang kerumah mu, dan berhubungan lah dengan istrimu, bukankah ayah Rayhan sangat menginginkan seorang cucu"
"Aku mau kamulah yang harus mengandung anakku" perkataan Endra sudah seperti petir di musim kemarau, Naina semakin kuat mendorong tubuh Endra, dia semakin takut karena dia menganggap pria didepannya sudah semakin tidak waras.
"Kamu benar-benar sudah gila, kamu terlalu merendahkan diriku, kamu pikir aku perempuan seperti apa?!!" semakin Naina mencoba untuk lepas dari dekapan Endra, semakin kuat pula Endra mendekap tubuhnya.
__ADS_1
"Itu adalah permintaan ku, bantuan yang aku minta darimu, bukankah kamu bilang akan membantuku saat aku butuh sesuatu? mari pulang dan menikah,, supaya kamu bisa cepat mengandung anakku"
"Aku tidak mau, cepat lepasskkaan!!" Naina tidak punya pilihan lain selain menggunakan dengkulnya untuk mendorong bagian inti tubuh Endra, karena hanya bagian itu yang bisa membuat Endra melepaskan dekapannya.
"Aaaakkkhhhh!!" benar saja, Endra langsung berteriak kesakitan dan memegangi bagian bawahnya, Naina langsung berlari dan mencoba untuk keluar kamar, tetapi Endra dengan menahan rasa sakitnya menarik tubuh Naina dan mengunci pintu kamar, Endra mendekap erat tubuh Naina lalu dengan cepat membawanya ke ranjang lalu mendorong tubuhnya ke ranjang.
"Aaaaahhhhh!!" Naina berteriak kaget dan berusaha bangkit kembali.
"Diam,,,!!" Endra yang sebenarnya masih merasa sangat kesakitan langsung tiduran di samping tubuh Naina dan menarik tubuh Naina kedalam pelukannya, Endra menahan rasa sakitnya dengan semakin mempererat pelukannya pada Naina.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Endra, dia hanya terus mendekap erat tubuh Naina dan sesekali membelai lembut rambutnya, Naina tidak melawan lagi, tangannya sakit karena dari tadi terus melawan Endra.
"Aku tidak bisa melakukan hal itu, kamu minta saja pada wanita lain dan lebih bagus lagi seharusnya istrimu yang seharusnya mengandung anakmu, tolong lepaskan aku, kamu bisa meminta ku melakukan hal lain, tapi tidak untuk hal itu" Naina kembali berusaha mendorong tubuh Endra karena dia rasa Endra sudah tenang, lagipula dia harus bersiap untuk bekerja.
"Tolong lepaskan aku, sebentar lagi waktunya aku harus bekerja" Naina yang sudah hampir bisa lepas dari pelukan Endra tiba-tiba dikagetkan dengan gerakan cepat Endra yang menindihnya.
"Jangan bekerja lagi, ayo kita cepat kembali ke Indonesia" Endra mengatakan hal itu dengan terus memperhatikan dada Naina, akhirnya dia tidak kuat melihat dada Naina yang naik turun seirama dengan nafasnya yang sepertinya kaget karena gerakannya yang tiba-tiba menindih tubuh Naina.
"Aaakkkkkhhhh!" Naina berteriak dan mencoba mendorong kepala Endra karena bibir Endra sudah berlabuh pada dadanya yang sedikit terbuka, Endra mencengkeram erat tangan Naina, sementara bibirnya semakin jauh berusaha mencari pusat dari buah kembar Naina.
"Aaahhhh" Naina merintih karena Endra membuat tanda merah di dadanya, Endra tidak menemukan pusat dari buah ranum itu, karena dia hanya menggunakan bibirnya untuk menelusurinya, Endra juga tidak mau menggunakan kekerasan pada wanita yang sangat dia cintai itu, Naina semakin kuat berontak, Endra menghentikan gerakannya karena ponsel dalam sakunya tiba-tiba bergetar.
Endra ingat bahwa dia hanya mengaktifkan panggilan dari nomor yang dia anggap penting, jadi dia sadar kalau panggilan itu pasti penting, Naina berusaha melepaskan diri dari kungkungan tubuh Endra, tetapi walaupun Endra sedang focus dengan ponselnya, dia masih kuat menindih tubuh Naina, hanya saja dia harus merasakan sakit karena tangan Naina yang terlepas dari cengkeraman nya kini telah memukulinya.
"Apa? ayah masuk rumah sakit?!!"
Mendengar perkataan Endra membuat Naina terdiam, Endra bangun dan menarik tubuh Naina untuk bangun juga, Endra lalu membenarkan bajunya.
"Apa yang terjadi??" tanya Naina.
"Ayah masuk rumah sakit, penyakit jantung nya kembali kambuh, ayo kita cepat kembali" Endra mencium kening Naina lalu dia lebih dulu turun dari ranjang.
"Ak,, aku masih ada pekerjaan" jawab Naina gugup, dia tidak mau kembali bersama Endra walau dia juga khawatir dengan kondisi Rayhan, Naina merapikan bajunya lalu dia juga turun dari ranjang, Endra kecewa dengan Naina, dia pikir Naina tidak khawatir dengan kondisi ayahnya, padahal ayahnya telah menganggap bahwa Naina juga anaknya.
__ADS_1
Endra yang kecewa lalu pergi dari sana dan segera bergegas kembali ke Indonesia, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya.