Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Tuan Misterius part 2


__ADS_3

Naina langsung menuju rumah sakit dimana adiknya dirawat, dan untungnya bayi dalam kandungan Ningsih masih bisa diselamatkan.


"Kakak, kenapa sangat lama?" Ningsih menangis melihat kakaknya, dia pikir kakaknya sudah tidak perduli kepadanya.


"Aku sedang berlibur jadi membutuhkan waktu yang lama untuk sampai disini" jawab Naina.


"Ibu Nimah, ada yang akan disampaikan dokter pada ibu pasien" seorang suster memanggil, ibu Nimah langsung mengikuti suster itu, dan meminta Naina menemani Ningsih.


"Kakak, kenapa tidak mengajakku berlibur bersamamu? aku juga ingin berlibur" ucap Ningsih


"Nanti kapan-kapan lagi, kamu masih diawal kehamilan dan itu sangat rawan, kamu harus banyak beristirahat" jawab Naina.


Naina membuka ponselnya, dia menerima pesan dari seorang artis untuk melakukan perawatan di salon kecantikan nya tetapi minta Naina langsung yang melayani nya, Naina menyanggupi setelah mencari waktu kosongnya.


Ada juga pesan dari suaminya yang memintanya untuk segera kembali, Naina tidak memperdulikannya dan bahkan tidak membalasnya, Naina menemani Ningsih sampai mamanya kembali.


"Naina, mama berbicara sebentar, Ningsih kamu tunggu dulu sebentar" ujar mama mereka


"Ada apa ma?"


"Naina, mama tau kamu sedang dalam masalah, kalau butuh tempat bercerita, katakanlah kepada mama, kamu masih mempunyai keluarga, kamu harus ingat itu, dan kamu jangan selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu dari pada dirimu sendiri, walau itu adik kamu sendiri, jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan" mama Nimah memberi nasehat pada anaknya, beliau sangat paham sifat anaknya.


Mama Nimah takut kalau Naina akan melakukan sesuatu untuk adiknya, mama Nimah tidak mau anak sulungnya mendapat masalah.


Naluri seorang ibu sangat kuat, mama Nimah seolah tahu rencana anaknya, tetapi nasi sudah menjadi bubur, Naina sudah merencanakan segalanya dengan baik, pada awalnya dia melakukan ini untuk adiknya tetapi sekarang dia melakukan hal itu untuk membalas dendam pada suaminya.


Naina tidak menjawab apapun, mama Nimah lalu memegang pundak Naina, lalu kembali kedalam ruangan Ningsih, Naina tidak segera menyusul dan duduk di kursi diluar ruangan itu.


"Naina, angkat telepon nya!" bunyi voice note dari suaminya, mau tidak mau Naina mengangkat telepon dari suaminya.


"Sayang, tolong aku,, cepatlah pulang" Roni sepertinya mendapat masalah


"Ada apa?" tanya Naina santai tanpa merasakan panik sedikitpun.


"Aku pikir didalam kartu ATM itu masih ada sisa, ternyata sudah habis sama sekali, aku tidak bisa keluar dari restoran, mereka menahan ku"

__ADS_1


"Kenapa kamu kesana?"


"Aku butuh hiburan sayang, kamu pergi jadi aku merasa kesepian, lagipula aku butuh makan"


Perkataan suaminya membuat Naina merasa ingin muntah, Naina tau pasti kalau suaminya pergi bersama selingkuhannya, tetapi karena malas berbicara terlalu lama, Naina akhirnya menyanggupi dan akan segera datang.


Naina berpamitan pada mamanya dan Ningsih, dan berjanji akan segera datang kembali setelah urusannya selesai, Naina langsung menuju alamat restoran yang diberikan oleh suaminya.


"Sayang, kamu cepat sekali? bukankah kamu sedang di pantai?"


"Berapa kekurangannya?" tanya Naina malas berbasa-basi dengan suaminya, Naina tidak memperdulikan seorang gadis yang sedang bersama suaminya.


"Sayang kenalkan, ini adalah teman kerja aku" ujar Roni, Naina hanya mengangguk sekilas pada gadis itu, Gadis yang terlihat masih sangat muda, Naina menahan rasa marahnya karena tidak mau membuat keributan ditempat itu.


"Sayang, bolehkah aku mengantarkan temanku dulu?" tanya Roni, kali ini Naina sedikit marah, hatinya semakin terluka karena suaminya lebih memilih pulang bersama selingkuhannya, walau Naina sudah tidak mempunyai perasaan terhadap suaminya terapi dia tetap mempunyai harga diri didepan suami dan selingkuhan nya itu.


Naina mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu meletakkan nya di atas meja,


"Antarkan dia dan berikan upah sesuai dengan servis yang dia berikan padamu, aku tidak mau berhutang kepada orang lain" ujar Naina


Roni dan gadis itu kaget, mereka tidak menyangka Naina sudah tau yang sebenarnya, Roni mengejar Naina dan berusaha membujuk Naina.


"Sayang, kamu salah paham" ujar Roni mencoba memeluk Naina, tapi dengan sekali gerakan Naina bisa melepaskan pelukan suaminya.


Naina menunjukkan foto saat Roni dan gadis itu berpelukan di restoran sebelumnya, Roni sudah tidak punya alasan lagi, Naina langsung pergi karena dari tadi mereka menjadi tontonan pelanggan lain yang ada disana, tetapi Roni menarik tangan Naina dan ingin memeluknya.


Roni mencintai Naina, tetapi tekanan dari orang tua nya yang menginginkan anak lelaki membuatnya frustasi dan berubah sikap.


"Lepaskan!" teriak Naina


"Nai, kalau seandainya kamu melahirkan anak lelaki untukku, tidak mungkin aku seperti ini" Roni mencoba membela diri.


"Kamu pikir aku siapa? bukan aku yang mengatur aku melahirkan anak perempuan ataupun laki-laki" balas Naina, dia mendorong Roni tapi Roni seperti kalap, dia tidak mau ditinggalkan Naina.


Buuggghhhhh

__ADS_1


Naina kaget dengan kejadian yang begitu tiba-tiba, Roni dipukul oleh seorang pria yang tidak tahu siapa karena saat ini pria itu membelakangi Naina dan terus memukuli Roni.


Pria itu menoleh dan membuat Naina kaget dan mundur perlahan, saat Naina mencoba berbalik dan berlari, dia kembali dikagetkan dengan seseorang yang ada dibelakangnya.


"Nona, tidakkah kamu mau mengucapkan sepatah kata, seperti misalnya kata maaf?" ucap pria itu, Naina diam ditempat, dia tidak bisa melarikan diri lagi.


"Maafkan saya tuan" ucap Naina sedikit menunduk, pria itu mendekat ke Naina, dia membuka perutnya yang kemarin dipukul Naina.


"lihatlah, lukaku terbuka karena perbuatan mu, bertanggung jawab lah atas kesalahanmu" ucap pria itu.


"Maaf tuan, saya tidak tau kalau tuan sedang terluka, tolong maafkan saya, tunggu sebentar" ujar Naina lalu membuka tasnya dan mengambil uang didalam dompetnya lalu memberikan pada pria itu.


"Ini tuan, sepertinya ini cukup untuk berobat ke rumah sakit"


"Apa aku terlihat kekurangan uang seperti seseorang?" jawab pria itu seperti menyindir Roni, yang disindir bereaksi dan ingin mendekati Naina tetapi ditahan oleh pria yang sepertinya bodyguard dari pria yang kemarin dipukul Naina.


"Naina, siapa pria itu!" teriak Roni


Naina tidak bisa menjawab karena dia memang tidak tau siapa yang ada dihadapannya itu, Naina lalu menanyakan keinginan dari pria tersebut.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Naina


"Rawatlah lukaku sampai sembuh"


Naina tertawa tidak percaya mendengarnya, dia tidak mengerti dengan keinginan pria tersebut, lagipula Naina bukan dokter atau perawat jadi tidak bisa merawat luka seseorang.


Pria itu semakin mendekati Naina dan memberikan sebuah map, didalam map itu terdapat sebuah surat yang menyatakan akan melaporkan Naina atas tindakan kekerasan kalau Naina tidak mau menuruti kemauan pria itu.


"Nai,,!" panggil Roni sedikit berteriak, sepertinya dia khawatir kalau Naina mengalami masalah, tapi selingkuhan Roni tiba-tiba ikut bersuara.


"Sayang, ayo kita memeriksakan kehamilanku"


Naina tersenyum getir mendengarnya, dia menyerahkan map itu kepada pria yang meminta pertanggung jawaban darinya.


"Ayo pergi dari sini, aku akan mengobati mu" ujar Naina lalu berjalan keluar, tidak memperdulikan panggilan Roni.

__ADS_1


__ADS_2