
"Bi Wulan,, mbak Sumi dimana, biasanya dia selalu ada setiap aku datang ke dapur, apa dia sedang tidak sehat?" tanya Naina pada bi Wulan yang sedang memberikan buku menu pada koki, sementara Naina sedang membuatkan kopi untuk suaminya.
"Anaknya sakit non, jadi tadi dia izin pulang terlebih dahulu untuk menemani anaknya"
"Sepagi ini bi?? dia naik apa?" tanya Naina khawatir.
"Tadi katanya mau pesan ojek online untuk menuju ke stasiun, nona apakah hari ini mau memasak?" tanya bi Wulan.
"Sepertinya tidak bi, hari ini aku mau kerumah ayah Rayhan dan mungkin menginap disana untuk malam ini"
Naina lalu membawa kopi buatan nya kedalam kamar, Endra yang tadi sudah Naina bangunkan, ternyata tidur lagi, sepertinya dia masih mengantuk karena tidur terlalu larut malam, Naina meletakkan kopi diatas meja, lalu kembali membangunkan suaminya.
"Sayang,, ayo bangun,, ini sudah siang,," Naina memainkan pipi suaminya dengan menusuk-nusuk dengan jari telunjuknya.
"Sayang,, aaaakkkhhhh!!" Naina kembali memanggil Endra tapi dia kaget karena Endra langsung menariknya masuk kedalam selimut, Endra menindih tubuh Naina dan merebahkan kepalanya didada sang istri.
"Sayang,, sekali ya" Endra meminta izin tetapi tidak menunggu persetujuan langsung melucuti pakaian istrinya, Naina hanya pasrah, karena kalau sudah seperti ini, Endra tidak mungkin bisa dibantah, yang ada dia akan marah seperti kemarin walaupun kemarahannya hanya sementara.
Setelah pagi yang panas itu, Endra mengantarkan Naina kerumah Rayhan dan segera berangkat ke kantor, didalam perjalanan, Endra mendapatkan kabar bahwa penyusup yang ada dirumahnya telah kabur.
"Pengawal mengikuti salah satu pelayan mu yang keluar saat pagi baru datang dan cuaca masih berkabut, karena mengira kalau pelayan itu ada urusan penting sehingga harus pergi sepagi itu, akhirnya salah satu pengawal mengikutinya untuk memberi penjagaan dan sekalian mengawasinya, ternyata pelayan itu masuk kesebuah hotel dan sampai sekarang belum keluar dari sana, sementara kata bi Wulan, kalau pelayan itu meminta izin pulang kampung karena anaknya sakit, jadi bisa disimpulkan kalau pelayan itu pasti lah yang menyusup selama ini" ujar Suseno memberi penjelasan.
"Apa itu hotel yang sama?"
"Iya" jawab Suseno singkat, karena dia sudah sangat memahami arah pembicaraan Endra.
"Atika baru sampai di kota ini sehari sebelum kontrak kerja sama, dia sepertinya datang terburu-buru karena mendengar kabar tentang pernikahan mu, suaminya sekarang sedang dirawat dirumah sakit luar negeri karena sakit stroke"
"Baiklah aku mengerti" ucap Endra lalu mematikan ponselnya dan segera focus untuk menyetir.
Setelah sampai ke perusahaannya, Endra langsung menuju ke kantornya, dan yang mengagetkan nya adalah sudah ada Atika didalam kantornya dan Suseno yang telah disandera oleh beberapa pria, Suseno menggeleng dan memberi kode supaya Endra cepat pergi karena dia mempunyai kesempatan untuk itu karena dia masih didekat pintu masuk.
Tetapi tidak mungkin Endra melakukan hal itu, disaat sahabatnya yang sekaligus dia anggap sebagai kakak sedang dalam bahaya, Endra menutup pintu secara perlahan dan mengangkat tangannya.
"Tuan Endra tersayang" ujar Atika tanpa rasa malu dan mendekati Endra serta langsung berniat mencium Endra, tetapi Endra langsung mendorong tubuh Atika supaya menjauhi dirinya.
"Menjauh lah!!" teriak Endra
Atika tertawa cekikikan karena mendapatkan penolakan dari Endra, tetapi dia tidak menyerah lalu mendekati Suseno dan langsung ******* habis bibir Suseno, walau Suseno mencoba menolaknya, tetapi kakinya yang terikat kuat serta kedua tangannya yang dipegangi oleh pria yang sepertinya adalah pengawal dari Atika, bahkan kepalanya juga ditahan kuat oleh seseorang, sehingga Suseno tidak sanggup melawan.
Endra terkaget melihat adegan didepan matanya dan berniat menolong Suseno, tetapi pengawal Atika cukup banyak, sehingga dia harus melawan beberapa pengawal Atika yang menghalanginya, Endra sanggup menghadapinya tetapi nafasnya terdengar ngos-ngosan karena banyaknya pengawal Atika yang dia lawan.
Atika semakin bernafsu melihat Endra yang bercucuran keringat dan berniat memberi nya minum, tetapi Endra langsung menangkisnya dan segera menuju Suseno, ruangan kantornya kedap suara, jadi tidak ada yang mendengarkan perkelahian mereka.
Suseno berteriak saat Atika hendak mendekati Endra dengan sebuah suntikan dari dalam tasnya, tetapi terlambat karena Endra tidak mampu menghindar.
Tidak lama Endra lalu tersungkur pingsan karena sepertinya isi dari suntikan itu adalah obat bius, Endra diangkat oleh para pengawal Atika keatas sebuah sofa yang ada dipojok ruangan itu.
"Apa kamu tidak merasa jijik dengan kelakuanmu ini?!" teriak Suseno, tetapi Atika tidak mendengarkan dan membuka baju Endra.
"Apa kamu mau bergabung?" tanya Atika pada Suseno, sementara para pengawal Atika, semuanya telah berbalik badan kecuali satu yang memegang sebuah ponsel, Atika tiduran disebelah Endra dan memposisikan dirinya seolah berada dalam pelukan Endra.
__ADS_1
Sudah sangat mudah ditebak, tentu saja hal itu langsung di potret, Atika sepertinya makin tidak bisa mengendalikan dirinya, Atika menciumi wajah Endra yang masih pingsan.
"Kamu sangat tampan sayang" gumam Atika yang sekarang telah menindih tubuh Endra, Suseno tidak sanggup melihatnya, dia terus berteriak memanggil Endra supaya sadar tetapi hal itu tidak berguna, karena Endra masih terus terpejam.
"Sumpal mulutnya, sungguh sangat berisik!" teriak Atika.
Setelah puas menciumi wajah Endra, Atika semakin turun kebawah dan membuat banyak tanda merah di lehernya, Naina yang belum mahir dalam urusan bercinta tidak pernah melakukan hal itu.
Atika terus menelusuri setiap jengkal tubuh Endra, hingga sampai pada titik paling sensitifnya, Atika sangat percaya diri dan membuka celana Endra, pedang Endra tidak juga terbangun bahkan setelah Atika terus merabanya, hingga akhirnya Endra sadar karena sentuhan dari Atika.
Endra langsung mendorong tubuh Atika, tetapi tubuhnya masih lemah dan terjatuh lagi terlentang dengan memegangi kepalanya, saat mulut Endra terbuka karena mengaduh, dengan gerakan cepat, Atika memasukkan sebuah pil kedalam mulut Endra dan memaksanya untuk menelannya dan memberikan Endra minum secara paksa dengan dibantu oleh pengawalnya.
Endra yang masih lemah karena efek obat bius, tidak bisa banyak melawan, hingga obat itu tertelan, setelah beberapa saat Endra mengeram menahan sesuatu tetapi hanya sebentar saja, Atika yang masih terus berharap supaya Endra cepat terbangkitkan birahinya, terus meremas pedang milik Endra tetapi tetap tidak kunjung terbangun.
Endra yang merasa jijik karena Atika masih berada diatas tubuhnya terus berusaha untuk mendorong tubuh Atika, hingga dengan sekuat tenaga walau dia masih lemah, Endra menendang tubuh Atika hingga terjengkang ke pojok sofa.
"Nyonya, lebih baik kali ini sudahi saja dahulu, kita sudah terlalu lama, pasti akan timbul kecurigaan" ujar salah satu pengawal Atika yang masih menundukkan kepalanya karena Endra telah polos tanpa sehelai benangpun.
Atika sedikit kecewa, apalagi melihat pedang Endra yang tidak terbangun, dia berfikir kalau untuk Endra, pasti membutuhkan dosis yang lebih tinggi, Atika lalu mengikuti saran dari pengawalnya dan segera merapikan baju dan barang-barangnya.
"Aku pulang dulu sayang, tapi jangan bersedih dan khawatir, karena aku berjanji bahwa kita akan segera bertemu kembali"
Endra tidak menjawab apapun dan mengambil baju serta celananya, Endra berteriak marah dan menghancurkan semua yang ada didepannya, Seno tidak kuasa melihat Endra yang kembali hancur karena harus mengalami lagi hal seperti ini, apalagi kejadiannya terjadi didepan matanya, Suseno dari tadi terus berusaha menolong Endra, hingga kursi yang didudukinya terjatuh, sudah pasti Suseno juga ikut terjatuh karena kakinya terikat pada kursi itu, bahkan kepalanya sedikit terbentur lantai saat terjatuh.
Endra belum bisa menguasai amarahnya dan terus berteriak sampai tangannya terluka karena terus menghancurkan apa yang ada didepannya dan juga menghancurkan meja kaca didepannya, Endra lalu melihat ke arah tembok dimana foto pernikahan nya dengan Naina terpasang.
"Naina" Endra mengingat istrinya dan berniat hendak pulang, tetapi dia akhirnya mendengar suara Suseno, dan dengan cepat langsung menolong Suseno.
"Naina pasti salah paham, tapi kamu bisa menjelaskannya" ujar Endra yang terlihat panik.
"Ndra, apa itu masuk akal? apa Naina akan percaya?"
"Aku tidak bisa kehilangan dirinya" Endra langsung bergegas untuk menemui Naina dirumah ayahnya, tetapi betapa kagetnya dia karena Naina dan Rayhan tengah melihat foto-foto dirinya yang sedang dicumbu oleh Atika.
Naina terdiam masih mencerna yang telah terjadi, dia sangat ingat siapa wanita itu, sangat jelas kalau ini kejadian baru, karena wanita itu baru kembali dari luar negeri, secara kebetulan Endra yang datang dengan bajunya yang berantakan membuat Naina semakin kacau pikirannya.
Kalau itu masa lalu, Naina pasti bisa memaafkan, tetapi tidak untuk saat ini, Naina menatap nanar kearah Endra, dan menjatuhkan foto-foto yang dia pegang, Endra langsung mendekati Naina dan mencoba untuk menjelaskan.
"Sayang, itu tidak seperti yang kamu lihat, mungkin perkataan ini terdengar klise, tetapi aku,,," Endra tidak melanjutkan ucapannya karena pada kenyataannya memang dia habis dicumbu oleh Atika.
Naina menahan air matanya tetapi akhirnya tangisannya keluar juga saat melihat leher Endra yang penuh tanda merah, Naina tidak mengucapkan apapun dan terus menggelengkan kepalanya, Rayhan tidak mengerti yang terjadi, dia sangat yakin kalau anaknya tidak mungkin sejahat itu, tetapi apa yang bisa dia jelaskan, foto-foto itu sangat nyata.
Naina hendak pergi dari rumah Rayhan tetapi ditahan oleh Endra dan menarik tangan Naina.
"Lepaskan,, jangan menyentuhku!!" Naina berteriak, sekarang dia sudah tidak menangis lagi tetapi pandangannya menunjukkan kemarahan yang sangat besar.
"Jangan pernah menyentuhku lagi!!" Naina berteriak histeris lalu menghempaskan tangan Endra dengan kasar.
Naina pergi dari rumah Rayhan, Endra yang berniat untuk menahannya ditahan oleh Rayhan.
"Biarkan dahulu dia tenang, jaga dia dari jauh" ujar Rayhan lalu berteriak memanggil Reynolds supaya mengantarkan Naina.
__ADS_1
"Antarkan nona Naina ke rumahnya, dan terus awasi dari jauh, bawa beberapa pengawal juga, jangan sampai lengah menjaganya"
"Siapa yang menjebak mu kali ini? kenapa bisa kamu sampai harus terjebak?" tanya Rayhan kecewa pada anaknya.
"Maaf ayah, itu karena aku" Suseno juga telah tiba di rumah Rayhan, mendengar apa yang dikatakan oleh Suseno, membuat Rayhan marah dan langsung mendekati Suseno.
"Apa yang kamu katakan?"
Suseno lalu menceritakan segalanya, Endra geram mendengarnya karena dia benar-benar telah sangat dihina oleh Atika, dengan dendam yang membara, Endra masuk kedalam kamarnya dan membersihkan diri.
Endra terus meninju tembok saat berada dibawah shower, dia terus kepikiran dengan istrinya, Endra tidak sanggup mengingat tangisan dan kemarahan Naina.
"Tenang sayang,, aku akan menghancurkan siapapun yang menyakitimu" ucap Endra geram lalu menggosok seluruh tubuhnya dengan keras, dia sangat jijik mengingat Atika yang telah mencumbunya.
Setelah sanggup menguasai amarahnya, Endra lalu keluar dari kamar mandi lalu memakai baju dan membalut luka di tangannya dengan perban walau tidak mengobatinya terlebih dahulu, saat Endra keluar dari dalam kamar, dia mendengar suara Reynolds yang sedang memberikan informasi mengenai keberadaan Naina, Endra bisa mendengarnya karena suara telepon itu cukup keras.
"Tuan, tadi nona Naina bersikeras tidak mau saya antarkan, jadi saya hanya bisa mengikutinya, nona mendatangi sebuah makam, dan dari tadi terlihat tidak bergerak dari sana, apa yang harus saya lakukan tuan, hari sudah menjelang malam"
"Terus awasi saja terlebih dahulu, takutnya dia histeris saat kamu dekati"
Naina terus memandangi makam Tari, dia sadar kalau dia sedang diawasi, lalu Naina melihat kesekitar dan akhirnya sadar kalau hari sudah semakin gelap, Naina dengan langkah gontai nya pergi dari sana dengan menaiki sebuah angkutan umum yang kebetulan lewat.
Naina pulang kerumahnya dulu, tetapi semua sudah dirapikan dah bahkan ditutupi dengan kain-kain supaya tidak kena debu, dirumah itu tinggal satu penjaga yang menempati kamar anak-anaknya.
"Nyonya, apa yang nyonya butuhkan?" penjaga rumah nya seperti nya mengenali Naina.
Karena pikirannya yang masih kalut, Naina tidak menjawab apapun dan hanya meminta kunci kamarnya, Naina merenung sejenak sebelum mandi dan berendam air hangat untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.
Dari awal Naina sudah sangat takut kalau hal ini akan terjadi, karena memang hal inilah yang sempat dia takutkan dan tidak serta merta menerima Endra yang terus berusaha mendekatinya.
"Akhirnya harus seperti ini lagi Nai,, tetapi sudahlah,, bukankah ini pilihanmu" gumam Naina, dia benar-benar sudah menguasai perasaannya, wajahnya datar tanpa ekspresi apapun, setelah mandi Naina lalu berganti baju dan kembali keluar dari rumah.
Naina menuju rumah kedua orang tuanya dan meminta kepada Ningsih untuk sementara bertanggung jawab atas salon kecantikannya.
"Kakak mau kemana?"
"Aku mau berbulan madu yang kesekian kalinya" ujar Naina dengan senyuman manisnya yang penuh kepalsuan, setelah pergi dari rumah kedua orang tuanya, Naina mengambil semua uang yang ada di tabungannya dan membuang kartu ATM nya.
Dengan uang tabungannya, Naina berniat pergi jauh dari sana, dia tau kalau ini akan terdeteksi oleh Endra makanya dia membuang kartu itu untuk menghilangkan jejak dan tidak akan pernah memakainya lagi walau dalam keadaan terpepet.
Dilain tempat, Endra terlihat tenang karena mengetahui bahwa Naina sedang berada di rumah kedua orang tuanya yang terdeteksi dari cincin pernikahannya, hingga saat dia berniat akan kembali ke kantornya untuk mengecek CCTV sebagai bukti kejadian yang sebenarnya, CCTV resmi yang dia pasang dengan Suseno, telah dilumpuhkan oleh Atika dan pengawalnya, tetapi tanpa sepengetahuan orang lain, Endra memasang CCTV kecil yang susah ditemukan oleh orang lain, Endra ingin memeriksanya karena hanya tersambung di komputer miliknya yang berada di perusahaan, dan hanya dia yang tau kode penyimpanan file itu, Endra ingin menyalinnya, dan akan dia tunjukkan pada Naina.
"Tuan,, kami kehilangan jejak nona Naina yang berbaur dengan banyaknya pengunjung mall, kami sudah mencari ke setiap sudut, tetapi nona Naina menghilang"
Endra kaget dan menghentikan langkahnya yang sudah sampai didepan pintu keluar, saat mendengar laporan dari Reynolds yang terdengar panik.
Endra kaget karena sangat jelas terlihat di GPS yang tersambung ke ponselnya kalau Naina berada di rumah kedua orang tuanya, Endra lalu mendapatkan rekaman CCTV saat Naina di sebuah Bank,, setelah diperbesar ternyata Naina tidak memakai cincin nya.
"Sepertinya Naina mengetahui bahwa cincin yang dia pakai terpasang alat pelacak" ujar Rayhan
Setelah pulang dari rumah kedua orang tuanya, dan mengambil semua uang tabungannya di sebuah Bank, Naina lalu memasuki sebuah mall, hanya karena ingin mengecoh para pengawal yang terus mengikutinya.
__ADS_1
Endra kembali berteriak frustasi karena panik, sungguh sangat besar cinta Endra pada Naina, sehingga dia kehilangan arah dan tidak terkendali saat tidak mengetahui keberadaan Naina.