Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Trauma Naina


__ADS_3

Naina membantu mamanya dengan menjauhkan mamanya dari amukan ibu Romlah tetapi Naina terkena pukulan dari ibu Retno, Endra mendekati Naina dan berniat membalaskan pukulan yang diterima oleh Naina, tetapi ditahan oleh Naina.


"Jangan pernah sakiti mama saya, anda boleh berurusan dengan saya tapi tidak dengan mama saya" ucap Naina.


"Jadi kamu wanita yang berani merebut suami anak saya?!" teriak ibu Romlah.


"Asal kamu tau saja, pria itu tidak berguna, jadi sudah sepantasnya kalau anak saya mencari pria lain, aku yakin kamu juga hanya akan jadi pajangannya saja yang tidak pernah tersentuh, jadi nikmatilah derita mu, Intan ayo cepat pergi dari sini" teriak ibu Romlah.


"Dasar wanita murahan dan tidak tau diri!!" Intan berteriak dan mendekati Naina lalu langsung menampar pipi Naina, tidak ada balasan apapun dari Naina tetapi Endra langsung mendorong tubuh Intan sampai terjengkang.


"Apa sangat sakit?" Endra memegangi pipi Naina dan mengusapnya, Intan telah bangkit kembali dan langsung memukuli punggung Endra yang sedang memeriksa pipi Naina.


"Dasar lelaki tidak berguna, kalau bukan karena kamu yang tidak berguna, aku tidak akan mungkin menjadi seperti ini" Intan histeris, saat Endra berbalik Naina langsung menahannya.


"Jangan seperti ini, bagaimanapun dia adalah seorang wanita" ucap Naina lalu dia maju menghadapi Intan.


"Masalahmu adalah dengan ku, jadi hadapilah aku dan tidak yang lainnya, maafkan aku kalau aku bersalah padamu tetapi,,,"


Pppllaakkkk


Naina kembali menerima tamparan keras dari Intan, Naina mencoba untuk tidak membalas karena dia memang bersalah, karena bagaimanapun Endra masih sah suami Intan, entah apapun masalah mereka, Endra tidak bisa menahan diri lagi dan kembali mendorong tubuh Intan supaya menjauhi Naina, tetapi Naina kembali menarik tangan Endra supaya tidak lebih menyakiti Intan.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, bukankah memang aku telah bersalah karena mencintaimu yang masih suaminya, terlepas dari apapun masalah kalian, jadi sangat jelas aku memang bersalah, sekarang selesaikan masalah kalian terlebih dahulu" Naina lalu pergi setelah sebelumnya membungkukkan badannya pada Intan dan ibunya serta kepada Rayhan dan Rania.


"Yang tidak tau malu itu adalah kamu, kalau sampai terjadi apa-apa pada Naina, aku tidak akan mengampuni dirimu!!" teriak Endra pada Intan, lalu berlari menyusul Naina tetapi wanita yang di cintai nya itu telah masuk kedalam sebuah taksi.


"Naina tunggu!!" Endra berusaha mencegah tetapi Naina tidak perduli dan meminta kepada pengemudi taksi untuk segera bergegas pergi dari sana.


Endra berteriak frustasi dengan kejadian yang terjadi secara tiba-tiba disaat dia pikir semua sudah seperti yang dia inginkan, Endra berusaha mengejar Naina, tetapi dia kehilangan jejak.




Sudah dua hari sejak kejadian itu, dan Naina masih tidak mau menemui Endra, dia mengunci pintu rumah nya dan tidak membiarkan Endra masuk, bahkan saat Endra terus menggedor pintu rumah nya, tetapi Naina tidak memperdulikannya.



Bbbrrraakkk



Terdengar suara pintu terbuka secara paksa, Naina yang sedang membuat makan malam kaget apalagi saat melihat kearah pelakunya.



"Apa kamu begitu sibuk sehingga tidak sempat membukakan pintu untukku" tanya Endra dan langsung berjalan cepat menuju ke arah Naina.



"Kenapa membuat diriku khawatir!!" Endra berteriak saat Naina mencoba menghindari dirinya lagi dan kembali tidak mau disentuh bahkan dua hari ini terus bersembunyi darinya.



"Selesaikan dulu semua urusanmu,,, eeekkkkmmmmm" jawab Naina yang sudah tertahan oleh Endra yang \*\*\*\*\*\*\* bibirnya, serta tangan nya yang telah berada dalam cengkeraman tangan Endra.


Endra tidak mau terlalu banyak berbicara, dia merindukan Naina, dan tidak membiarkan Naina menolak dirinya, saat terasa tangan Naina yang mulai melemah, Endra melepaskan cengkeraman tangannya tapi tidak dengan ciumannya, Naina memegangi baju Endra dengan erat, seolah dia takut akan sesuatu.



"Jangan pernah menghindari ku lagi" Endra sudah melepaskan ciumannya dan memegangi kedua pipi Naina dengan kedua tangannya, Endra mengusap lembut pipi Naina dan bertanya apakah masih sakit karena dia mendapatkan beberapa kali tamparan oleh Intan waktu di restoran, Naina hanya menggeleng tapi air matanya mengalir.



"Kenapa? apa sangat sakit?" tanya Endra khawatir dan terus mengusap lembut pipi Naina.



"Tolong selesaikan semua urusanmu terlebih dahulu, aku merasa menjadi wanita hina yang merebut suami orang, itulah alasanku kenapa kemarin tidak membalasnya, karena aku sadar kesalahanku, pernikahanku juga hancur karena wanita semacam itu, walau bukan hanya itu masalahnya, tetapi itulah yang membuat semuanya selesai dan hancur"



"Naina,, aku dan dia sudah berpisah, bahkan dari awal pernikahan kami dia sudah,,,, sudahlah itu tidak berguna untuk dibicarakan,,,, yang pasti aku bertahan hanya untuk keluargaku, tetapi ayah sudah mengetahui masalah rumah tanggaku jadi aku menyerah dengannya dan mengakhirinya, apa kamu pikir tidak ada alasan nya kenapa ayah memintamu menikahi ku??,,, semua hanya formalitas belaka Naina, dari awal aku dan dia bukan layaknya suami istri,,,, akta perceraian itu akan segera selesai, kamu jangan khawatir, lagi pula bukan kamu yang menggodaku, tapi aku yang terus-menerus menempel padamu, maafkan aku karena terlalu mencintaimu, terlalu bergantung padamu, maafkan aku karena membebani mu, seandainya cintaku tidak sebesar ini, mungkin aku tidak akan terlalu menyusahkan dirimu" Endra menempelkan keningnya di kening Naina yang sekarang sudah dia dudukkan di atas meja.



"Coba katakan lagi kalau kamu mencintaiku" pinta Endra pada Naina karena wanita cantik yang ada di hadapannya itu hanya terdiam saat dia menjelaskan semuanya, Naina salah tingkah karena tidak menyangka Endra mengingat ucapannya.

__ADS_1



"Ap,, apa maksud mu?" tanya Naina dan reflek meremas rambut Endra karena bibir lelaki itu menuju lehernya.



"Sejak kapan?" Endra kembali bertanya dengan bibirnya yang telah mengecup leher Naina.



"Tiddaakkk, mungkin kamu salah dengar" Naina menjawab dengan sedikit rintihan karena Endra sedang membuat tanda merah di leher nya, Endra tersenyum mendengarnya dan membuat lagi tanda merah itu sampai leher Naina seperti habis kena pukul.



"Aku tidak akan berhenti, dan mungkin sekujur tubuh mu akan seperti ini kalau kamu tidak mengatakannya lagi saat ini" Endra berhenti dan mendekatkan bibirnya pada bibir Naina.



"Kamu tidak berharap aku membawa video CCTV di restoran kan supaya kamu tidak mengelak lagi?" Endra mengecup bibir Naina sekilas lalu memandangi wajah Naina, sementara yang dipandang masih diam, tapi saat tangan Endra terasa mulai memasuki bajunya, Naina menahan tangan Endra terlebih dahulu lalu mulai berbicara.



"Aku akan mengatakannya nanti, sekarang sudah sangat malam, kamu pulanglah dulu" Naina mengecup bibir Endra hingga membuat Endra membelalakkan matanya.



"Aku akan menghabisi mu" ujar Endra lalu mencium Naina dengan cepat dan dalam, Endra sangat senang dan bahagia karena Naina mau menyentuhnya lebih dulu, dia sekarang merasa kalau Naina telah membuka hati untuk nya.



Endra mengangkat tubuh Naina dan menggendongnya tanpa melepaskan ciumannya, kaki Naina melingkar di pinggang Endra sementara tangannya memegangi kepala Endra dan jarinya meremas rambut Endra, saat Endra menuju kamar, Naina berontak.



"Tidak, jangan seperti ini, kita lakukan sesuai urutan yang benar"



"Apa maksudmu?" tanya Endra tidak mengerti, lalu membawa Naina ke sofa tapi masih tidak melepaskan tubuh Naina dan sekarang Naina berada di pangkuannya, Naina merasakan pedang Endra yang telah sangat mengeras, dia terpejam untuk sementara karena gesekan itu, walau mereka masih berpakaian lengkap, tubuhnya tidak bisa menolak perasaan itu, tetapi Naina harus sadar kalau ini belum waktunya.




"Nyonya Endra Prasetya, aku akan selalu patuh padamu dan menuruti semua keinginan nyonya" Endra tersenyum setelah mengucapkannya lalu kembali mencium Naina dengan lembut.



"Apa yang kamu buat untuk makan malam? aku juga belum makan,, bolehkah aku menumpang makan disini?" Endra sudah melepaskan ciumannya walau bibirnya masih menempel di bibir Naina.



"Hanya makanan sederhana biasa, aku tidak tau kalau tuan Endra terhormat akan mampir ke gubuk saya, lebih tepatnya menerobos masuk tanpa permisi"



"Tidak masalah aku harus menghancurkan pintu, karena setelah ini aku akan menghancurkan semua yang menghalangiku untuk bisa bersamamu"



Mereka saling tersenyum, Naina lalu bangkit dari pangkuan Endra, dan menuju dapur untuk menyelesaikan membuat makan malam, Endra mengikutinya dan berniat memeluk tubuh Naina dari belakang, tetapi Naina yang menyadarinya tiba-tiba menoleh sebelum Endra sampai dan mengacungkan garpu, seperti mengancam Endra untuk tidak mendekat.



"Kamu menyeramkan sekali" ucap Endra pura-pura takut.



"Tunggulah di sana, aku yakin ini tidak akan selesai kalau kamu mendekat, aku sudah lapar" ucap Naina memelas, Endra memanyunkan bibirnya lalu menggaruk kepalanya dan mengikuti kemauan Naina untuk duduk menunggu.



Mereka makan malam bersama, Endra makan dengan lahapnya, sepertinya ini pertama kali dia makan masakan rumahan setelah sekian lama, karena Intan tidak pernah memasak untuknya dan asisten yang bekerja dirumahnya semuanya chef profesional jadi rasanya seperti di restoran, memang makanan restoran enak, tetapi makanan rumahan yang dimasak dengan cinta rasanya sangat berbeda.



"Bisakah kamu memasak lagi untukku setiap hari?"

__ADS_1



"Kenapa?? apa harus?"



"Tidak, tidak harus,,, hanya saat kamu mau, karena aku tidak akan membiarkan dirimu kecapean karena aku, dan setelah kita menikah, kamu tidak perlu bekerja lagi"



"Aku harus bekerja, lagipula aku sekarang berhutang banyak ke seseorang" Naina menyuapkan makanan ke mulutnya dengan malas.



"Hutang? kamu hutang sama siapa? dan berapa banyak??!! satu miliar atau satu triliun?" Endra kaget mendengar Naina mempunyai hutang.



"Tidak usah berlebihan, aku tidak pernah berhutang selama ini, karena aku hidup sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanku, tetapi ada seseorang yang entah apa maksudnya, membayar lunas semua biaya sekolah anak-anakku, entah apa maksudnya orang itu melakukannya, mungkin itu pancingan agar induk ikan terkena jeratannya, atau mungkin orang itu hanya ingin memamerkan kekayaannya"



Endra tersenyum mendengarnya, dia sudah kaget mendengar Naina mempunyai hutang, sebenarnya dia bisa saja membayarnya tetapi dia tau semua tentang Naina jadi dia kaget mendengarnya, karena tidak pernah tau masalah ini.



"Jangan bilang itu anak-anakmu, tapi anak-anak kita, mereka sudah menerima lamaran ku untuk menjadikan aku ayah mereka, jadi sudah kewajiban ku untuk mencukupi semua kebutuhan mereka, jadi nantinya kamu tidak perlu bekerja lagi"



"Aku tetap harus bekerja, salon itu aku yang merintis dari bawah, aku masih ingin bekerja, lagipula masih banyak yang membutuhkan ku, sudahlah jangan terlalu serius, cepat habiskan makanan mu lalu cepat pulang" Naina tidak mau membahas hal yang sensitif tentang keuangan.



"Ini sudah malam Nai,, aku takut gelap dijalan,, biarkan aku menginap"



Naina tertawa mendengarnya begitu juga Endra yang tersenyum geli dengan ucapannya sendiri, Naina membereskan meja lalu ingin mencuci piring tapi ditahan oleh Endra.



"Biarkan aku yang melakukannya, kamu sudah capek memasak" Endra meminta Naina untuk duduk saja, Naina melihat Endra yang sedang mencuci piring dan semua alat masak, sekarang memang Naina tidak memperkerjakan asisten karena dia ingin menekan pengeluaran supaya uangnya cepat terkumpul untuk membayar kembali uang Endra.



"Apakah ini benar? apakah tidak apa-apa aku seperti ini, lalu akan bertahan berapa lama sampai Endra menunjukkan sisi lainnya, kenapa aku tidak bisa lepas darinya??" Naina memang menyadari bahwa dia juga mencintai Endra tetapi dia ingat dengan perubahan Roni seiring berjalannya usia pernikahan mereka dulu.



"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Endra yang tanpa Naina sadari sudah berada di sampingnya, Naina hanya menggeleng lalu dia bangkit dan berniat untuk tidur karena malam sudah semakin larut.



Endra mengikuti Naina walau Naina terus melarangnya dan meminta tidur dikamar lain, tetapi tidak mungkin sanggup bagi Naina untuk melawan atau menolak Endra, untuk lelaki lain yang ingin bertindak tidak sopan padanya, Naina pasti akan menunjukkan kegarangannya, begitu juga saat awal-awal Endra sering menciumnya, Naina pasti akan menamparnya tetapi lama kelamaan karena Naina mempunyai perasaan terhadap Endra, dia akhirnya menerima setiap sentuhan Endra, hanya saja dia masih selalu menahan Endra untuk melakukan puncak dari hubungan yang seharusnya hanya dilakukan oleh suami istri.



Saat ini Endra dan Naina telah berada diatas ranjang, dengan Naina yang berada dalam pelukan Endra serta bibir mereka yang sepertinya telah terkena lem dengan sihir cinta hingga membuat kedua bibir itu tidak terlepas, tangan Endra tidak mungkin tinggal diam, tangan itu menelusuri setiap bagian tubuh Naina.



"Aaakkkkkhhhh" Naina merintih tertahan karena bibirnya masih berada dalam sesapan bibir Endra, Naina menggeliat dan terus merintih karena Endra meremas gunung kembarnya, Endra lebih berani dan menurunkan bibirnya yang dari tadi menyesap bibir Naina, sekarang telah menyesap dan menjilati pucuk gunung kembar Naina.



Tubuh Naina bergetar dan dengan erat dia memeluk kepala Endra, terdengar rintihan dari bibir Naina yang membuat Endra semakin ingin lebih, bibirnya makin turun kebawah, Naina masih terus menerima setiap sentuhan Endra, hingga celananya telah terlempar ke atas lantai.



"Aaaaahhhhh ttiiddaakkkk!!!" Naina menjerit saat bibir dan tangan Endra mulai menyentuh area bawahnya, Naina bangun dan langsung mendorong Endra, Naina menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dia menangis dan terus mengatakan maaf pada Endra.



Endra yang sebenarnya benar-benar sudah sangat ingin dan matanya yang sayu, kaget dengan reaksi Naina, tetapi dia lalu menyadari bahwa Naina sepertinya masih belum siap, Endra mengalah karena melihat tangisan Naina, lalu seperti biasa, dia langsung menuju ke kamar mandi.


__ADS_1


"Bayangan kekerasan Roni selalu datang saat Endra menyentuh bagian itu, membuatku takut dan mengingat rasa sakitnya, sebenarnya apa yang terjadi padaku??" gumam Naina dan terus melihat ke arah pintu kamar mandi, didalam sana Endra pasti sedang berjuang menjinakkan pedangnya.


__ADS_2