
"Sarapan dulu, aku buatkan sandwich sama kopi"
"Aku tidak mau" jawab Endra dingin, dan terus memakai dasi, Naina sadar kalau kekasihnya itu sedang merajuk karena tadi malam dia tidak mau tidur bersama, Naina mengikuti cara Endra dahulu yang pura-pura keluar dari kamar dengan menutup pintu.
Ceeeekkklleekkkk
Endra menghentikan kegiatannya dan memegangi dadanya, dari pantulan di cermin tadi, Naina terlihat sangat imut dengan daster rumah nya, dia sangat ingin mendekapnya.
Bbbbrruuggghhhh
Naina menubruk tubuh Endra dari belakang lalu memeluknya, Endra kaget dan memegangi kedua tangan Naina yang melingkar di pinggangnya, Naina akan meminta izin untuk pergi ke salon kecantikannya, kalau Endra sedang ngambek seperti ini pasti akan susah, jadi Naina mencoba merayunya.
Endra melepaskan tangan Naina dari pinggang nya lalu meminta nya untuk segera keluar dari kamar nya karena dia akan segera berangkat bekerja.
"Aku mau kesalon, sebentar saja" Naina mulai mengatakan apa yang dia inginkan, Endra yang sejak awal sudah bersuasana hati yang tidak baik, mendengar ucapan Naina menjadi bertambah kesal.
"Apa lagi yang kamu butuhkan? apa semua yang aku berikan belum cukup untukmu?" tanya Endra yang sudah berbalik badan dan sedikit memundurkan tubuhnya dari Naina.
"Bukan seperti itu, tetapi,,," Naina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Endra sudah berjalan keluar, dan enggan menanggapi Naina, sepertinya dia juga sudah terlambat, tetapi dia meminum sedikit kopi buatan Naina dan mengambil sandwich nya, yang sedari tadi nampannya diletakkan di atas meja oleh Naina saat Endra menolak nya.
"Diam dirumah" ucap Endra singkat lalu keluar dari kamar.
Naina tidak melakukan apapun ataupun mengejar Endra, karena tau itu akan percuma, setelah membawa kembali ke dapur untuk menyimpan nampan dan gelas bekas kopi, Naina lalu ke taman belakang rumah, dia menyirami bunga-bunga yang bermekaran di taman kecil itu.
Naina menghela nafasnya, dia merasa terpenjara, Endra memang memberikan segalanya tetapi bukan seperti ini yang dia harapkan, dia biasa hidup mandiri, jadi dia merasa tidak nyaman dengan apa yang diinginkan oleh Endra.
"Nona,, ini ada telepon dari nyonya Rania" bi Wulan datang membawa telepon ditangannya.
"Iya, ini aku"
"Apa kamu bosan? aku akan datang menemanimu, apa ada yang ingin aku bawakan?,, misalnya mie ayam kesukaanmu"
"Darimana tau itu kesukaan ku?"
__ADS_1
"Aku punya mata batin,, hehehe,,, tunggu ya,, aku akan datang nanti siang"
Naina menyerahkan kembali telepon itu pada bi Wulan setelah panggilan telepon terputus, Naina lalu kembali meneruskan lamunannya.
"Aku hanya tidak mau terlena, karena aku tidak tau kapan Endra akan bosan padaku, semua bisa saja berubah, dan aku tidak mau terlalu sakit saat dia berubah" batin Naina lalu mencium salah satu bunga mawar yang berada di depannya, Naina lalu masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan berganti baju, karena Rania akan datang.
Naina yang memakai baju rumahan dengan setelah santai, tetapi tetap terlihat sangat cantik dan anggun dengan polesan make up tipis, Naina yang selalu mendapatkan laporan tentang salon kecantikannya, lalu duduk diruang tamu sembari memeriksa semua laporan.
Tidak ada perbedaan saat dia datang kesalon atau tidak, karena Renata selaku orang suruhan Endra untuk bertanggung jawab atas salon kecantikan bekerja dengan sangat baik, dan juga anehnya walau Renata bekerja di sana, tetapi tidak ada laporan gaji untuknya, sepertinya Endra yang membayar gaji Renata, jadi keuntungan yang diperoleh dari hasil salon kecantikannya tidak berkurang sedikitpun dan malah semakin bertambah.
Naina semakin bingung, karena kalau dia memberikan uang pada Endra, pasti kekasih nya itu akan melakukan hal yang lebih aneh lagi, saat dulu dia memberikan uang nya pada Endra bahkan sampai harus menjual mobil, tetapi malah dibelikan mobil yang lebih bagus.
"Naina,,!!"
Rania datang membawa banyak sekali kantong makanan dan juga tote bag, sepertinya dia pulang dari belanja, dengan suaranya yang riang, dia mendekati Naina lalu memberikan semua barang yang dia bawa.
"Naina lihatlah, aku melihat banyak sekali baju sesuai dengan style dirimu, aku sangat gemas melihatnya, dan aku membayangkan kalau kamu yang memakai, pasti akan sangat cocok, jangan lupa dipakai ya, atau kalau kamu tidak suka, kita beli lagi sambil jalan-jalan ke mall,, aku tidak punya teman wanita di kota ini, tidak ada yang bisa menemaniku untuk shopping"
"Bi Wulan cannttiikk, tolong mangkok sama alat makan, aku sama Naina mau makan mie ayam"
"Maaf nona, den Endra sudah berpesan bahwa nona Naina tidak boleh makan sembarangan" jawaban bi Wulan membuat Rania tertawa terkekeh-kekeh, Rania tentu saja sangat mengenal bi Wulan, karena bi Wulan sudah mengabdi kepada keluarga Rayhan sejak dahulu.
"Pantas saja saat rapat dengan ibu Rara, Endra mengambil mie ayam milikku, mungkin dia tidak mau aku memakannya" batin Naina yang juga baru tau kalau Endra berpesan hal seperti itu pada bi Wulan.
"Naina, kamu sangat dijaga ketat, mohon bersabar ya,, tapi mie ayam ini sungguh sangat enak, bahkan wanginya tercium sangat menggugah selera, kalau kamu mau, coba telepon kak Endra untuk minta izin" ujar Rania memberi saran.
"Tidak bisa, dia sedang marah padaku" jawab Naina lalu memegangi ponselnya, mendengar penjelasan dari Naina membuat Rania kembali tertawa terbahak.
"Dia tidak mungkin marah padamu, dia itu sangat bucin padamu, dia pasti hanya merajuk karena ingin kamu membujuknya, dia menjadi seperti anak kecil saat berhadapan dengan mu, kakak yang dulu sangat kaku dan dingin, sekarang sudah seperti manusia normal, terimakasih Naina" ucap Rania yang tiba-tiba menjadi melow dan menggenggam tangan Naina.
"Tolong jaga kakakku, dia segalanya untukku, setelah suamiku tentunya, walau kami bukan adik kakak kandung, tetapi dia sudah selayaknya kakak kandung bagiku, tolong jangan sakiti dia, maafkan atas cintanya yang begitu besar untuk mu, mungkin kamu sedikit merasa sesak karenanya, tetapi aku mohon bertahanlah"
Naina tidak menjawab apapun karena dia sangat tidak menyangka dengan penjelasan dari Rania, Naina masih tidak percaya begitu besarnya cinta Endra untuk nya.
__ADS_1
"Jangan menerima kakakku hanya karena rasa bersalah, mungkin dia memang kehilangan perusahaannya karena mu, tetapi itu tidak berarti untuk nya, dia itu lebih mengejutkan dari apa yang kamu pikirkan, dia mempunyai banyak saham perusahaan di kota ini dan bahkan di kota lain juga, ini rahasia ya" bisik Rania.
"Sekarang aku akan menelepon kakak untuk meminta izin, supaya kamu diperbolehkan untuk makan ini semua, lagipula ini tidak setiap hari" saat Naina mencoba mencegahnya, panggilan telepon Rania telah tersambung.
"Jangan coba-coba meracuninya!!" teriak Endra bahkan Rania belum mengatakan apapun, hal itu reflek membuat Naina dan Rania melihat ke sekitar mereka.
"Apa dirumah ini ada CCTV?" bisik Rania pada Naina hanya di jawab gelengan karena Naina juga tidak tau, hanya saja untuk di kamar, Endra sudah membantahnya.
"Ini bukan racun kak, biarkan Naina makan sedikit saja, jajanan itu membuat mood naik, kalau Naina senang kan itu hal yang baik" Rania masih mencoba membujuk kakaknya.
"Aku akan meminta bi Wulan untuk membuat kan versi sehatnya, yang kamu bawa, makan saja kamu sendiri, sudah,,, aku sedang sibuk"
"Baiklah Naina, sepertinya aku tidak boleh memakan ini semua,, oh iya, leher kamu sudah membaik?"
"Sudah mengering jadi hampir sembuh, memang ini cuma goresan saja" ujar Naina dan terus melihat kearah mie ayam yang dibawa oleh Rania.
"Makan saja, kalau kakak marah, sangat mudah bagimu untuk membujuk nya, berikan saja dia malam yang panas, dia akan langsung melupakan kemarahannya" bisik Rania, tetapi ekspresi wajah Naina membuat Rania heran.
"Jangan bilang kalian belum pernah,, hahhhhh?!!" Rania menutup mulutnya dan membelalakkan matanya tidak percaya.
"Kasian sekali kak Endra, dia pasti tersiksa, apa lagi aku tau kalau hanya kamu yang bisa membuatnya,, ahahaha" lagi-lagi Rania tertawa terbahak-bahak dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Kita semua sudah dewasa, dan ditempat kita hal itu sudah lumrah dan normal, banyak dikota ini yang tinggal bersama selama bertahun-tahun tanpa ikatan apapun, tetapi sepertinya kamu berpikiran kolot ya?" tanya Rania pada Naina yang wajahnya masih saja bersemu merah.
"Kamu sangat imut Naina, pantas saja kak Endra begitu tergila-gila padamu, aku saja gemas melihatmu" Rania lalu mencubit kedua pipi Naina dengan gemas sampai Naina sedikit kesakitan.
Deeerrrrtttt deeerrrrtttt deeerrrrtttt
"Iya kak?" tanya Rania setelah mengangkat panggilan telepon nya, sudah pasti itu dari Endra.
"Kenapa kamu menyakitinya?? enyahlah kamu dari sana, jangan mengganggunya!!"
"Idiihhh posesif amat,,,!" sewot Rania lalu mematikan panggilan telepon nya.
__ADS_1