Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

"Kamu dari mana saja, sepertinya kamu sangat senang?" tanya Naina melihat adiknya yang bernyanyi dan memainkan ponselnya.


"Tidak kak, aku hanya ingin menikmati hidup saja, masa iya aku harus selalu bersedih" jawab Ningsih


"Baguslah" ucap Naina tidak merasa curiga


"Kak, kalau aku menikah dengan Putra tanpa mengikuti kepercayaan mereka tetap bisa kan kak?"


"Ningsih, akan sangat susah dan berat kalau dalam satu rumah menganut kepercayaan yang berbeda, mungkin ada yang bisa dan berhasil tetapi tidak semua, masalah akan mulai muncul saat anak sudah mulai besar, dia bisa saja mengalami kebingungan dalam memilih, dia akan bingung antara memilih apakah akan mengikuti kepercayaan ayahnya atau ibunya" jawab Naina.


"Kak, pokoknya aku harus menikah dengan Putra, bayi dalam kandungan ku harus mempunyai ayah"


"Ningsih, sekarang pun bayi kamu mempunyai ayah dan selalu punya karena bagaimanapun Putra tetap ayahnya, tetapi keadaan kalian berbeda, kalian tidak bisa memaksakan untuk bersama karena dari awal memang sebenarnya kalian tidak akan bisa bersama"


"Kakak jangan seperti itu, ini hidupku kak, kenapa kakak terlalu mengaturnya?"


"Ningsih, kamu dalam bahaya kalau bersama nya" Naina terus berusaha membujuk adiknya, tetapi Naina tidak bisa mengatakan tentang ucapan Anton yang akan melecehkan adiknya, Naina tidak sanggup mengatakan nya atau bahkan hanya untuk membayangkan nya.


Naina keluar dari kamar adiknya dan akan pulang ke rumah barunya, tadi dia datang kesana mengantarkan kedua orang tuanya dan saat dia akan pulang kembali, dia melihat adiknya yang baru pulang dengan wajah ceria nya.


Naina langsung menuju rumah nya, hari ini dia tidak akan ke salon kecantikan nya karena dia tidak mempunyai janji dengan siapapun, jadi semua bisa ditangani oleh para karyawannya.




POV Endra



Malam itu Endra dan Intan kedatangan ibu Romlah mamanya Intan yang datang berkunjung


"Kenapa sudah begitu lama tetapi kalian tidak juga dikaruniai keturunan, apa kondisi mu tidak kunjung membaik?" tanya ibu Romlah pada Endra


"Tidak ma, tidak ada perubahan sama sekali, aku sepertinya sudah bosan seperti ini terus, dia memang sangat tampan dan juga pintar dalam berbisnis tetapi dia tidak bisa diandalkan diatas ranjang" ujar Intan yang menjawab tanpa malu dan tidak memperdulikan perasaan Endra.


"Tutup mulutmu Intan" teriak ibu Romlah



Endra hanya diam menahan penghinaan terhadap dirinya, walau sepertinya hal itu sudah biasa baginya, Endra lalu pamit ke kamar mandi sebentar, dan saat itu ibu Romlah langsung menampar Intan.

__ADS_1


"Jaga ucapan mu, kita harus menguasai seluruh perusahaan nya baru bisa membuangnya, kita perah dulu tenaganya, untuk urusan ranjang tidak perlu berpura-pura, mama juga tau kalau kamu sering mencari diluar" ucap mamanya yang sudah mengetahui apa yang diperbuat anaknya selama ini.



"Apa cara yang mama anjurkan dengan menggunakan wanita lain untuk merangsang nya juga tidak ada yang berhasil?" tanya ibu Romlah


"Pernah satu berhasil, dan itu sangat mengagetkan sekali, miliknya begitu indah, besar dan panjang, tetapi tidak tahan lama dan langsung lemas lagi saat memasuki milikku bahkan sebelum muntah" jawab Intan secara blak-blakan, sepertinya Intan dan mamanya sudah biasa membicarakan hal semacam itu.


"Panggil lagi wanita itu?" saran mamanya


"Apa mama gila, nantinya yang hamil bukannya Intan tapi malah perempuan itu, kita sekarang harus waspada dengan wanita itu karena dia bisa merebut Endra dariku" ujar Intan menjelaskan, ibu Romlah lalu manggut-manggut mengerti maksud dari ucapan anaknya.



Endra bukan tidak tau apa yang direncanakan keluarga Intan, hanya saja saat ini saham keluarga Intan lebih besar jadi dia harus berhati-hati dalam bertindak kalau tidak kerja kerasnya selama ini akan hilang dirampas oleh keluarga Intan.



"Bagaimana dengan obat perangsang?" tanya ibu Romlah


"Tidak ada gunanya ma, tidak berpengaruh terhadap tubuhnya, dokter bilang karena dia sudah kebal dengan obat itu saat dulu dia diculik" jawab Intan mulai malas membicarakan masalah itu terus dari tadi.



Endra datang sesaat setelah Intan memasukkan obat yang diberikan oleh ibu Romlah.



Mereka terus mengobrol membicarakan bisnis sambil terus makan, hingga terdengar suara piring pecah yang membuat mereka semua menoleh ke sumber suara


"Suseno, berhati-hatilah piring itu sangat mahal, itu harus diganti dari uang gaji mu bulan depan!" teriak Intan



Setelah melihat Endra menghabiskan minuman nya, ibu romlah pamit pergi karena sebenarnya dia sudah sangat terlambat menghadiri acara pernikahan koleganya.


Ibu Romlah cipika cipiki pada anaknya sambil berbisik,


"Bersiaplah memakan burung besar itu" Intan tersenyum sinis mendengarnya karena dia tidak yakin ini akan berhasil karena dia sudah sering melakukan cara ini.


Intan tidak mengantar mamanya kedepan dan langsung melanjutkan makan nya, tidak lupa ditutup dengan minum, tetapi tidak lama badan nya terasa panas, matanya berkunang-kunang lalu tanpa malu membuka bajunya, Intan langsung menerkam Endra tetapi sudah pasti Endra menolak, membuat kepala Intan semakin berdenyut.

__ADS_1



Suseno tercengang melihat kearah Intan yang sudah tidak memakai baju, Endra lalu menarik tangan Intan kedalam kamar, bagaimanapun juga Intan perempuan, Endra tidak tega melihat perempuan yang merupakan istrinya itu menjadi tontonan para asisten rumah tangganya.



Didalam kamar, terlihat Intan yang terus mencari mainan nya, saat ditemukan dia langsung memakainya,


"Aaahhhh, aahhhhhhh, aahhhhhhh" rintih Intan merasakan mainan nya yang bergetar didalam miliknya.



Endra jijik melihat nya dia lalu keluar dari kamar dan menuju kamar tamu, Endra tidur di sana sambil memeluk guling dan mengingat pujaan hatinya


"Naina, bisakah suatu hari nanti,, " ucap Endra melamun, Endra lalu tersadar dan melemparkan guling yang sedang dia peluk, dia sadar kalau Naina pasti dalam bahaya jika dia terus menemui nya, Endra lalu terus mengatakan pada hatinya untuk menjauhi dan melupakan perasaannya pada Naina.



Tetapi bagaimana cara Endra bisa menjauhi Naina apalagi harus melupakan nya, Endra benar-benar galau memikirkan nya, Endra sudah seperti remaja yang bingung akan kisah cinta nya.



Endra bangun lalu membuka laptopnya untuk kembali memeriksa pekerjaan nya, daripada dia tidak bisa tidur, lebih baik dia bekerja.



Brraaakkkk



Pintu terbuka dan masuklah Intan yang sudah berganti baju, dia marah pada Endra karena menukar gelas mereka


"Memang ada apa didalam gelas itu sampai tidak boleh tertukar? kita suami istri jadi minum dalam satu gelas juga sebenarnya sangat wajar" jawab Endra santai membuat Intan geram lalu menampar Endra.


"Ini semua karena kamu tidak berguna!" teriak Intan lalu pergi lagi menuju kamarnya.


Endra memegangi pipinya yang bekas ditampar Intan, dia mengepalkan tangannya mencoba menahan amarahnya.


Endra lalu menelfon ayahnya untuk sekedar menanyakan kabar, ayahnya sudah semakin parah penyakit jantung nya jadi Endra harus berhati-hati dalam bertindak karena kalau sampai ayahnya tau masalah rumah tangganya, sudah pasti akan sangat berbahaya untuk ayahnya.


__ADS_1


Dulu Intan dengan lemah lembutnya mengatakan menerima kondisi Endra saat mengetahui hal itu, tapi semua itu palsu karena Intan hanya berakting disuruh oleh kedua orang tuanya untuk mempertahankan bisnis keluarga.


__ADS_2