
"Apa?! tidak mungkin!!"
Naina berlari dari kamarnya dan mencari orang yang bisa dia mintai bantuan.
"Ada apa non?" bi Wulan terlihat kaget saat melihat nona nya berlari dan memanggil nya.
"Bibi,, dimana ayah Rayhan atau Rey?"
"Setelah nona tadi ketiduran, tuan Rayhan dan Rey pergi entah kemana,,, memangnya ada apa nona?"
Naina kebingungan dan berusaha menelfon Suseno, karena hanya nomor ponsel Suseno yang dia ketahui, sementara nomor Endra tidak bisa dihubungi, Naina semakin frustasi dan menangis karena tidak bisa menghubungi Suseno yang ternyata nomor ponselnya juga tidak aktif.
"Bi Wulan,, apa bi Yeni ada? boleh tolong panggilkan"
Tanpa menunggu waktu lama, bi Wulan langsung menuju dapur mencari bi Yeni, dengan langkah cepat, kedua bibi yang umurnya sudah semakin berumur itu langsung mendekati Naina.
"Ada apa non? ada yang bisa bibi bantu?"
"Bi Yeni,, tolong telfon kan ke nomor ayah Rayhan, aku tidak terlalu hafal nomornya"
Bi Yeni mendekati telepon rumah yang ada di samping Naina, lalu dengan cepat menekan tombol, setelah tersambung bi Yeni langsung memberikan gagang telepon pada Naina.
"Terimakasih bi" ucap Naina saat menerimanya, dan tidak menunggu lama dia langsung berbicara pada Rayhan.
"Ayah,,, ayah dimana?? apa ayah bersama Rey atau Seno,, tolong ayah,, Ningsih dan Alfin diculik oleh Putra"
"Ayah diperjalanan menuju rumah, kamu tenang dulu Nai, ayah akan segera mengurusnya"
"Rey,, ada yang menculik Ningsih dan putranya, sepertinya yang menculiknya adalah mantan kekasihnya" Rayhan langsung memberi tahu kabar dari Naina pada Reynolds yang sedang menyetir.
"Apppaa??!" sontak saja Reynolds mengerem mendadak karena kaget dengan berita yang dia dengar, untung saja tidak terjadi kecelakaan karena tindakan Reynolds yang tiba-tiba, Reynolds lalu dengan cepat melajukan mobilnya untuk segera mengantarkan Rayhan dahulu sebelum mencari Ningsih.
"Tenang Rey,, kalau kamu terluka, kamu tidak akan mungkin bisa bertemu lagi dengan Ningsih"
Reynolds yang memang menyukai Ningsih tentu saja sangat khawatir mendengar kabar yang menimpa Ningsih, dia baru ingat kalau tidak mungkin Anton kabur sendirian dari penjara.
Setelah Rayhan sampai, tidak menunggu waktu lama bagi Reynold untuk menuju rumah kedua orang tua Ningsih, karena kejadiannya ada disana, Reynolds langsung berlari kedalam rumah mama Nimah yang terbuka dan sudah sangat ramai, polisi sepertinya belum datang.
"Reeyyy,, apa kamu bersama nak Seno, bagaimana ini?!" mama Nimah terlihat sangat panik dan terus memegangi tangan Reynolds.
"Bagaimana kejadiannya nyonya?" tanya Reynolds.
"Pagi tadi Ningsih sedang menjemur Alfin setelah mandi, tiba-tiba terdengar teriakannya meminta tolong, saat kami keluar untuk memeriksa, Ningsih sedang ditarik oleh Putra, dan Alfin sudah menangis di dalam gendongan pria tidak dikenal, kami tidak bisa menolong karena Putra membawa banyak orang yang membantunya"
"Siapa yang namanya Putra itu?" tanya Reynolds yang tidak tau nama mantan kekasih Ningsih.
"Putra adalah ayah dari Alfin, mantan kekasih Ningsih, tetapi bukankah dia dipenjara di pulau terpencil? bagaimana dia bisa kabur?" mama Nimah lalu menelepon polisi, dari tadi karena sangat panik sampai lupa untuk melaporkan kejadian tersebut pada polisi.
Reynolds tidak tau harus mencari kemana, dia lalu keluar dari dalam rumah menuju teras rumah untuk mencari petunjuk, Reynolds terus memeriksa dan melihat ada sebuah CCTV yang terpasang di depan rumah tetangga rumah mama Nimah.
Reynolds lalu meminta pada pemilik rumah untuk memperlihatkan rekaman video CCTV tersebut, dari video itu terlihat Ningsih yang kaget karena kedatangan Putra yang tiba-tiba ada di depannya.
Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi setelah terlihat perdebatan, tidak lama Putra mengambil Alfin yang berada di gendongan Ningsih dan diberikan pada anak buahnya, Putra sendiri langsung menarik tangan Ningsih dan sedikit menyeretnya menuju mobil.
Plat nomor mobil yang dikendarai oleh Putra tidak terlihat di CCTV, Reynolds semakin kebingungan harus mulai dari mana mulai mencari keberadaan Ningsih.
Setiap pagi setelah memandikan Alfin, Ningsih membawa anaknya ke teras untuk berjemur di pagi hari, Ningsih sedang mengajak Alfin bercanda dan berbicara, hingga dia dikagetkan dengan kedatangan mantan kekasihnya.
"Puuttrraa, kenapa kamu bisa ada disini!?" Ningsih kaget melihat pria yang telah menghancurkan hidupnya tersebut.
"Aku merindukanmu sayang, untuk apa lagi aku datang" jawab Putra dengan santai lalu berusaha memeluk tubuh Ningsih.
"Jangan kurang ajar ya,, untuk apa kamu datang kesini?? kamu itu lelaki rendahan yang hanya memanfaatkan wanita, kamu tidak ada bedanya dengan ayahmu, sekarang pergi dari sini!"
"Kakakmu yang merayu ayahku dulu, tapi saat ayahku masuk dalam rayuannya, kakakmu tidak tanggung jawab dan tidak mau melayaninya bahkan sok jual mahal"
"Keluarga mu keluarga busuk yang tidak menyadari akan kesalahan kalian, lalu sekarang dengan seenaknya kamu menyalahkan kakakku, dasar tidak tau diri!"
"Sudah lah jangan banyak berbicara" Putra langsung mengambil Alfin dari gendongan Ningsih secara paksa, Ningsih tidak bisa melawan Putra, hingga saat dia diseret ke dalam mobil, Ningsih baru teriak meminta tolong.
__ADS_1
Ningsih dibawa pergi oleh Putra ke sebuah rumah di tengah hutan, dengan kasar dia meminta pada Ningsih untuk melayaninya.
"Apa kamu giiilaaa??!!" Ningsih berteriak dan terus berusaha mencari keberadaan Alfin.
"Anak kita aman, aku sudah menyewa seorang baby sitter untuk menjaganya, sehingga kita bisa leluasa untuk melepaskan rasa rindu"
"Putra,, kamu harus sadar diri,, aku tidak mau melayani mu, karena kamu bukan siapa-siapa bagiku!"
"Ningsih sayang,, sepertinya kamu lupa begitu liarnya kamu saat dulu kita sering bertemu di hotel, apa kamu tau sayang, aku sekarang sangat frustasi karena tidak bisa membangunkan nya lagi, mungkin hanya kamu yang bisa, mengingat betapa hebatnya kamu bermain"
"Putra sadar lah,, ttiiddaakkkk,, lepaskan!!" Ningsih berteriak karena Putra sudah semakin mendekatinya bahkan memegangi lengannya.
"Aku sangat frustasi sayang, aku mengingat rasa nikmat saat melakukan hubungan itu, tetapi aku tidak bisa melakukannya, sepertinya aku hanya bisa melakukannya denganmu"
"Jangan kamu pikir aku tidak tau apa yang kamu rencanakan dengan mamamu?!,, aku juga tau kamu yang sering bermain gila dengan wanita, kamu bahkan menganggap bahwa aku adalah wanita gratisan!!" Ningsih berteriak dan menangis mengingat semua kelakuan Putra padanya.
"Kamu salah paham sayang, itu tidak seperti yang kamu duga, aku benar-benar sangat mencintaimu" Putra lalu menarik Ningsih dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Jangan gila, cepat lepaskan aku!!" Ningsih berteriak dan berusaha menendang Putra yang terus mendekatinya.
Ningsih lalu ingat dengan dendamnya dulu pada Putra, tiba-tiba dia lalu terdiam dan seolah pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Putra.
"Putra,, aku mau diatas seperti dulu,, aku menyukai posisi itu, lagipula sudah lama aku tidak pernah bertemu dengan kesayangan ku, boleh aku bermain dengannya?" ucap Ningsih sensual dengan memegangi burung Putra.
"Kamu berakting menolak ya ternyata tadi" Putra senang dengan perubahan Ningsih yang tiba-tiba, tentu saja dia langsung terlentang membiarkan Ningsih yang memberinya kepuasan.
"Sayang,, kenapa dia terlihat lemah?? dimana burung besar kesayangan ku itu?" tanya Ningsih dengan terus berusaha membangunkan burung Putra yang terus saja tertidur.
"Aku juga tidak mengerti, mungkin karena lama tidak digunakan" jawab Putra santai sambil memainkan buah dada Ningsih.
"Sungguh sangat menjijikkan, tapi aku harus menahannya dulu, aku benar-benar harus memastikan bahwa dia benar-benar sudah impoten secara permanen karena obat-obatan yang dulu aku berikan" batin Ningsih dengan terus berusaha dengan berbagai macam cara untuk membangunkan burung itu.
Ningsih rasanya ingin berteriak dengan riang gembira karena Putra benar-benar telah kehilangan keperkasaannya.
"Bagaimana ini sayang, aku sudah sangat merindukannya, tetapi aku sudah capek membujuk nya untuk bangun, tapi dia tetap tertidur" Ningsih pura-pura merengek manja.
"Sabar sayang, sekarang aku yang akan memuaskan mu saja" Putra sudah bangun dan membuka baju Ningsih.
"Kamu sangat kasian,, jangan lakukan ini sayang, kamu akan semakin frustasi karena nantinya tidak bisa menuntaskan hasratmu, itu pasti menyakitkan,, bagaimana kalau kita memeriksa kondisimu pada dokter? saat kamu sembuh, kita bisa melakukannya lagi dengan baik dan benar"
"Kamu sangat perhatian, aku pikir tadi kamu benar-benar menolak ku?" ujar Putra lalu membenarkan kancing baju Ningsih.
__ADS_1
"Aku harus berakting didepan mama tadi pagi, dan barusan aku hanya berniat memberimu kejutan, sekarang ayo kita temui anak kita, biar kamu sadar betapa perkasanya kamu dulu sehingga Alfin bisa ada di dunia ini" ucap Ningsih masih terus bersandiwara, Ningsih sebenarnya terus mencari dan memikirkan cara untuk bisa kabur dari tempat sekarang ini dia berada.
"Kamu sudah tau kabar tentang ayahku?" tanya Putra saat mereka hendak keluar dari kamar, Ningsih tentu saja tau karena persidangan kasus Endra disiarkan secara live.
"Tentu saja, kan itu disiarkan secara langsung, tetapi aku tidak diberi tahu langsung oleh kakak, bahkan saat ini aku tidak tau dimana keberadaan kakakku" Ningsih lalu memegangi lengan Putra karena dia melihat seorang wanita menggendong Alfin.
"Itu baby sitter Alfin yang aku ceritakan"
"Baby sitter sekarang pakaian nya sungguh berbeda" sindir Ningsih, karena wanita itu hanya memakai daster rumahan minim, padahal diluar rumah terlihat banyak lelaki yang sepertinya itu adalah para anak buahnya dan Anton.
"Apa kamu cemburu?" goda Putra
"Kenapa aku cemburu, bukankah dia hanya baby sitter?"
Mereka tertawa bersama, entah apa yang dipikirkan oleh Putra, karena dia merasa aneh dengan sikap Ningsih, dia pikir Ningsih akan benci padanya karena pernah berniat jahat pada kakak nya.
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan Ningsih? kenapa aku merasa kamu sangat mencurigakan" batin Putra.
"Sayang,, aku sangat merindukanmu,, sudah lama kita terpisah, kamu jangan berfikir yang bukan-bukan, aku dan kakakku adalah dua orang yang berbeda, dari dulu di selalu saja beruntung, sementara aku harus seperti ini, aku sedikit membencinya, jadi saat ini aku tidak berusaha mencari keberadaan nya walau dia dalam masa sulit karena suaminya dipenjara"
Ningsih menyadari Putra yang curiga padanya, dia harus mencari cara supaya Putra percaya padanya.
"Apa kamu mempunyai kenalan seorang dokter yang bisa dibawa ketempat ini?, aku khawatir orang lain akan bisa melihat mu kalau berada ditempat umum, bukankah kamu adalah buron, aku tidak mau kamu ditangkap lagi" Ningsih yang sedang memangku Alfin, memasang wajah sedihnya.
Putra sedikit bimbang dengan sikap yang Ningsih tunjukkan, dan masih tidak percaya, tetapi Ningsih sungguh sangat lah aktris yang berpengalaman, dia sangat pintar dalam berakting.
"Bagaimana kalau kita tinggal disini selamanya,, tapi tentu saja aku tidak mau ada perempuan lain" sindir Ningsih pada wanita yang dikatakan Putra adalah baby sitter.
Wanita itu dari tadi tidak juga pergi dari hadapan Putra dan Ningsih, tapi setelah mendengar ucapan Ningsih, wanita itu sepertinya kesal.
"Kalau bukan karena uang, aku juga tidak mau disini, burungnya saja mati tidak bisa bangun" gumam wanita itu, tetapi Ningsih puas dengan reaksi dari wanita tersebut.
Ningsih sudah memiliki rencana untuk bisa kabur dari tempat itu, walaupun mungkin membutuhkan waktu yang lama, karena kalau dia tidak berusaha dan hanya terus berharap diselamatkan oleh seseorang, sepertinya sedikit mustahil ada yang mengetahui keberadaannya, karena dia ada didalam hutan yang bahkan sinyal saja tidak ada.
"Kita bisa hidup layaknya suami istri ditempat yang terpencil ini, jadi tidak ada yang bisa mengganggu kebahagiaan kita lagi"
"Kamu beneran mau melakukan hal itu?" tanya Putra yang masih saja curiga dengan tingkah Ningsih.
Saat ini Putra sudah tidak memiliki siapapun, ayahnya sudah mati, dan mamanya masih dipenjara, adiknya diurus oleh pamannya yang sekarang tinggal di pelosok kota.
"Aku ini memang sangat bodoh dan sangat mencintaimu, sehingga aku menjadi budak cinta, terbukti dengan kamu yang terus menyakiti dan meninggalkan ku dari dulu, tapi aku tetap saja terus kembali padamu sayang" Ningsih lalu mencium pipi Putra untuk meyakinkan aktingnya.
"Baiklah, segera aku akan usir wanita itu dan hanya ada beberapa penjaga di sekitar rumah ini" jawab Putra, yang walaupun sebenarnya dia belum yakin sepenuhnya pada Ningsih, tetapi saat ini Putra mengikuti keinginan dari Ningsih.
__ADS_1