Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Ngidam?


__ADS_3

Endra mendorong tubuh Naina dan langsung menyambar bibir istrinya itu sesaat setelah mereka masuk kedalam rumah, Endra tidak bisa lagi menahannya, dan ingin segera menumpahkan segala kerinduannya, dia diam dari tadi karena menahan hasratnya yang sudah tidak bisa dibendungnya lagi, sejak tadi mengulum jari Naina, miliknya telah terbangun dan harus segera di tidurkan lagi oleh istrinya.


"Aaakkkhh!" Naina kaget karena Endra menarik bajunya, Naina berusaha menahannya, karena mereka masih berada di ruang tamu, tetapi Endra yang sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya, tidak menceritakan tentang rumah mereka yang sudah tidak ditinggali oleh pelayan, mereka hanya datang disiang hari untuk melakukan segala tugas mereka, kamar utama juga hanya bi Wulan yang boleh masuk, atau kalau ada seseorang yang harus masuk untuk membantu, harus selalu dalam pengawasan bi Wulan.


Endra yang sudah sangat kelaparan dan kehausan akan tubuh molek istrinya, langsung mendorong tubuh Naina dan melucuti semua pakaiannya.


"Sayang, jangan seperti ini" Naina mendorong tubuh Endra yang terus menciuminya.


"Disini hanya ada kita berdua, kita bebas melakukan dimana pun, sekarang tolong diam sayang,,, aku sangat kehausan" ujar Endra langsung melahap gunung kembar istrinya.


Naina masih menempel di tembok saat bibir Endra telah memasuki bagian terdalam nya, Naina terus merintih dan mencari pegangan. Seperti biasanya, Endra akan membuat Naina kejang terlebih dahulu sebelum dia beraksi lebih.


"Apa kamu merindukan diriku?" tanya Endra sebelum mengangkat satu kaki Naina supaya bagian bawahnya mudah untuk dia masuki.


"Aaagggghhhh,, Eeeehhhhmmmmm!!" secara perlahan namun pasti, pedang Endra telah memasuki istrinya dengan sempurna.


"Sayyanng,,, aaaahhhhh,, iiyaa,, aku merindukanmu" rintih Naina saat Endra terus menggoyangnya, Endra tersenyum senang mendengarnya lalu mengangkat tubuh Naina, dalam gendongan Endra, Naina terus meremas rambut suaminya karena suaminya itu terus menghentakkan miliknya sehingga lubang sempit nya terus berkedut nikmat, mereka sampai didepan kamar, dengan mudah Endra membuka pintu dengan lengannya, karena tangannya harus terus memegangi tubuh Naina yang berada di gendongannya.


Endra menuntaskan hasratnya yang sudah terpendam beberapa hari ini saat hanya bisa melihat Naina dari kejauhan, seperti biasanya, Naina pasti dibuat lemas tak berdaya oleh Endra.


"Jangan pernah meninggalkan diriku lagi, aku mohon" bisik Endra saat dia menyembur istrinya, nafasnya terdengar berat dan penuh kelegaan, karena akhirnya dia bisa kembali mendapatkan pelepasan setelah berhari-hari ditahan.


"Itu tergantung dirimu,,, apa aku tidak boleh pergi saat tau suamiku seperti itu?,, kalau aku tidak marah itu malah akan sangat aneh sekali melihat suamiku dicumbu oleh orang lain, aku marah dan menenangkan diri karena aku begitu mencintaimu" jawab Naina sambil terus mengatur nafasnya.


"Maafkan aku, sungguh maafkan aku karena tidak bisa menjaga diriku, kedepannya aku berjanji kalau hal seperti itu tidak akan pernah terjadi, lagipula sayang,, milikku hanya berfungsi padamu"


"Jadi maksudmu kalau milikmu berfungsi dengan baik pada semua orang, kamu akan melakukannya pada semua wanita?!" Naina mendorong tubuh suaminya yang masih mendekapnya setelah pelepasan mereka tadi.


"Bukan seperti itu maksud ku,,, maksudku adalah kamu sangat istimewa bagiku, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun tentang hal itu"


"Bagaimana aku tidak khawatir, jelas-jelas aku melihat perempuan lain mencumbui suamiku, bahkan tanda merahnya begitu terlihat jelas di lehermu waktu itu,, coba bayangkan kalau itu terjadi padaku, apa kamu tidak akan marah dan kecewa??!"


"Sayang tenang,,, sungguh bukan seperti itu maksudku,, maafkan aku atas apa yang terjadi padaku, tetapi sungguh aku tidak berniat melakukan hal itu dengan orang lain kecuali dirimu"


"Tentu saja,, karena,,," Naina tidak melanjutkan ucapannya karena dia masih bisa berfikir, perkataan yang akan dia lontarkan masih bisa dia tahan karena dia tau kalau hal itu bisa menyinggung perasaan Endra.


"Aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuhmu walau hanya seujung rambut atau seujung kuku, begitu juga sebaliknya, aku telah dan akan menghukum orang yang berani menyentuhku,, dan iya benar sayang ku,, aku tidak punya kemampuan untuk melakukan hal itu dengan orang lain, tetapi aku hanya ingin kamu tau, tidak pernah terbersit di benakku untuk melakukan hal itu dengan orang lain, aku mencintaimu dengan tulus,, bukan hanya karena cuma kamu yang bisa membuat diriku normal, tetapi aku sangat mencintai semua yang ada pada dirimu dan apapun kondisinya,,, terimakasih sayang dan maafkan atas semua kekuranganku"


Melihat suaminya yang menunjukkan wajah sedihnya, Naina menjadi ikut bersedih, dengan gerakan cepat Naina lalu masuk ke dalam pelukan Endra.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu" ucap Naina, Endra tersenyum dan membelai lembut rambut istrinya.


"Bukan salahmu sayang,,, ini semua karena aku yang tidak bisa menjaga diri, kedepannya aku akan lebih berhati-hati, sekarang bolehkah sekali lagi?"


Endra langsung kembali menindih tubuh Naina walau istrinya itu menggeleng tidak mau melakukannya lagi, sekali saja bisa sangat lama, dan dia sudah lelah, tetapi apa dayanya karena tidak mungkin bisa menolak keinginan suaminya, lagipula dia juga sangat merindukan suaminya, waktu sudah lewat tengah malam saat Endra menyelesaikan urusannya dengan tubuh Naina, sementara istrinya telah terbang ke alam mimpi.


Endra gemas melihat wajah polos istrinya, dan terus menciuminya, Endra berhenti karena melihat Naina yang menggeliat merasa terganggu dengan ulahnya.

__ADS_1


"Maaf sayang,, dan terimakasih atas kerja kerasmu" gumam Endra lalu membenarkan selimut Naina, Endra menuju kulkas mini yang ada didalam kamarnya dan mengambil air minum untuk menyegarkan dirinya yang terkuras karena baru saja bekerja keras.


"Mungkin aku semakin tua" gumam Endra, padahal bukan karena tua, tetapi siapa yang tidak akan kelelahan kalau ber jam-jam terus melakukan aktifitas fisik tanpa doping apapun.


Endra memeriksa ponselnya dan mencari kabar tentang pelarian Atika kepada Suseno.


"Dia sepertinya kembali ke negara yang selama ini ditinggali nya, suaminya adalah orang berpengaruh di negara itu, jadi disana dia terlindungi hukum, tetapi kamu tenang saja, karena dia tidak akan kembali ke Indonesia, nama baiknya telah tercoreng, dia juga dipecat sebagai CEO di perusahaannya"


"Kenapa tidak kamu bunuh saja wanita menjijikkan itu saat kemarin ada kesempatan? kalau seperti ini, dia bisa kembali kapan saja"


"Kamu juga tau sendiri, polisi datang lebih cepat dari yang kita duga"


Endra menyudahi berkirim pesan dengan Suseno lalu kembali berbaring di sebelah Naina untuk beristirahat, dia sangat lega karena istrinya telah kembali padanya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain kembali menyakitimu sayang" bisik Endra lalu mencium kening istrinya.



"Kurang ajar kamu Naina, awas saja,, aku akan terus berusaha melenyapkan dirimu, kalau aku tidak bisa memiliki Endra, kamu pun tidak,,, hhhaaahhh!!" Atika berteriak marah didalam kamarnya, dia lalu menangis histeris karena harus kembali ke rumah yang bagi dia adalah suatu penjara tetapi tidak ada tempat lain yang bisa dia tuju, karena bahkan keluarga nya dan keluarga Arga telah mengusirnya karena malu dengan tingkah dan kelakuannya.



Tetapi selain karena masalah itu, keluarganya mengusir Atika dari Indonesia, karena tidak tega kalau melihat Atika dipenjara, jadi lebih baik mengusirnya.




"Kalau bukan karena hartamu, aku tidak akan berada disini lelaki tua" ujar Atika melihat foto suaminya.



Atika dulu menggoda suaminya yang sebenarnya telah beristri, dia melakukan hal itu karena supaya bisa mendapatkan hartanya, terbukti dengan mudahnya dia mempunyai perusahaan besar karena suaminya yang memberikan sokongan dana yang sangat fantastis.



Atika tidak lama mereguk manisnya pernikahan dengan suaminya itu, karena sejak setahun yang lalu, suaminya itu terkena stroke berat dan harus terus dirumah sakit karena tidak ada yang mau merawatnya di rumah, kedua istrinya tidak bersedia merawat suami mereka dan membiarkannya di rumah sakit.



"Aku harus mencari cara untuk bisa kembali ke Indonesia, karena aku harus menuntaskan dendam ku pada Naina dan Endra, aku harus bersabar sedikit lagi, sebentar lagi si tua bangka itu pasti mati, setelah aku mendapatkan hartanya, aku akan langsung membuat perhitungan dengan kalian" ujar Atika lalu tersenyum menyeringai dengan seramnya karena maskara di wajahnya luntur.



Naina terlihat bermalas-malasan dan tidak juga bangun padahal hari sudah sangat siang, hari ini Endra yang masih sangat merindukan Naina juga tidak berangkat bekerja, Endra tersenyum merasa lucu saat melihat Naina menggeliat.


"Bangun sayang, aku tidak tau kalau kamu begitu pemalas sekarang" ucap Endra lalu memberikan morning kiss pada istrinya, Naina menerimanya dan membalas ciuman Endra, karena dia juga masih sangat merindukan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu tidak bekerja?" tanya Naina saat Endra sudah melepaskan ciumannya dan mereka saling berpandangan.


"Tentu saja aku harus bekerja, sekarang juga aku akan bekerja nyonya, aku begitu merindukan mu" ucap Endra langsung menindih tubuh Naina, bekerja yang dia maksud adalah mengerjai tubuh istrinya, Naina tidak menolak karena dia bisa merasakan rindu yang begitu dalam yang dirasakan oleh suaminya terhadap dirinya.


"Aku juga merindukanmu, aaaakkkhhhh!!" Naina meremas bantal yang dia pakai karena lidah Endra telah menjelajahi lubang sempitnya, setelah siang menjelang, Endra baru selesai memuaskan hasratnya, sementara diluar sudah terdengar bunyi para pekerja yang sedang merapikan dan membersihkan rumah, untung saja bi Wulan yang datang terlebih dahulu, jadi baju-baju yang berserakan di ruang tamu bisa langsung dia rapihkan dan amankan.


"Syukurlah,, sepertinya nona telah kembali" ucap bi Wulan gembira, dia juga sangat menghawatirkan Naina yang selama ini menghilang.


Endra menggendong tubuh lemas istrinya kedalam kamar mandi, mereka berendam dalam air hangat dan membersihkan diri secara bersamaan, Endra tidak mengizinkan Naina keluar kamar karena istrinya terlihat kesusahan berjalan.


"Jangan keluar dahulu, aku akan mengambilkan makanan untuk mu, kita hari ini makan dikamar saja, lihatlah kondisi mu, orang yang melihat akan mengira aku melakukan kekerasan padamu"


"Bukankah memang benar, ini semua karena dirimu yang terus menerus,,, eeeeehhmmmm" Naina tidak melanjutkan ucapannya karena mulutnya telah dibungkam oleh mulut Endra.


"Tapi nikmat kan?" tanya Endra setelah melepaskan ciumannya.


"Tentu saja" jawab Naina tanpa malu karena sudah tidak perlu malu lagi di depan suaminya, mereka bahkan saling mengisi dan melihat tubuh satu sama lain saat sedang polos, lalu apa lagi yang harus membuat mereka saling malu, saat mereka saling memberi dan menerima kepuasan, bukankah tidak ada rasa malu, jadi bagi Naina, lebih baik saling terbuka, Endra tersenyum senang dan memapah istrinya menuju sofa.


"Tunggu sebentar ya,, apa ada yang mau kamu makan?" tanya Endra.


"Aku mau buah-buahan segar"


Endra mengangguk dan segera keluar dari kamar, di dapur Endra membuka kulkas dan mengambil beberapa buah-buahan untuk istrinya, tidak lupa membawa makan untuk mereka berdua, makan siang sekaligus sarapan, karena saking asyiknya melakukan kegiatan fisik, mereka sampai melupakan sarapan.


"Nona Naina tidak terluka kan den? kenapa tidak keluar seperti biasanya?" tanya bi Wulan khawatir, karena nona nya biasanya selalu bangun pagi dan tidak lupa membuatkan kopi untuk suaminya setiap pagi.


"Tidak bi, dia sehat,, hanya butuh banyak istirahat,, oh iya bi,, kenapa Naina menginginkan buah-buahan? apa bibi saat hamil seperti ini juga, aku sangat yakin kalau Naina sedang hamil" ujar Endra antusias, dia sangat dekat dengan bi Wulan serta bi Yeni karena kedua wanita itu yang sekarang umurnya sudah memasuki usia senja, telah bekerja pada keluarga Rayhan sejak Endra kecil.


"Semoga saja den, tapi orang hamil tidak bisa main tebak-tebakan, lebih baik segera periksakan supaya cepat mendapatkan saran dari dokter mengenai apapun keadaan nona, kalau hamil nantinya tuan harus bagaimana, begitu juga sebaliknya, kalau belum waktunya, nanti dokter juga akan memberikan saran bagaimana baiknya"


Endra manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari bi Wulan, dan dengan segera membawa makanan yang sudah dia siapkan menggunakan sebuah nampan besar, Endra tidak mau saat akan dibantu, sepertinya Endra ingin merawat sendiri istrinya yang sedang sakit karena ulahnya.


"Sayang makanlah yang banyak, apa perlu aku buatkan susu juga?" tanya Endra dengan mata berbinar-binar.


"Tidak,, aku tidak suka susu" tolak Naina lalu dia mencomot buah anggur yang Endra bawa, Naina terlihat lahap memakannya karena memang dia sangat kelaparan, Naina lalu menawarkan pada Endra tetapi Endra menggeleng.


Endra lalu duduk disebelah Naina, dia juga lapar jadi ingin makan, dia makan dengan masakan bi Wulan yang sebenarnya sangat membosankan baginya, tetapi saat ini tidak mungkin dia meminta Naina untuk memasak.


"Sayang,," panggil Naina pada suaminya, Endra langsung menoleh, dengan gerakan cepat Naina menyuapi anggur pada suaminya tetapi lewat mulutnya, tentu saja Endra tidak mungkin menolak, bahkan setelah anggurnya masuk kedalam mulutnya, Endra tidak melepaskan Naina, hingga Naina mencubit perutnya.


"Kamu yang memancingku duluan" Endra ngambek lalu kembali makan.


Naina tersenyum lucu melihatnya, Naina lalu meminta Endra untuk menyuapinya, kali ini juga tentu saja Endra tidak menolak, mereka makan sepiring berdua, Endra sangat senang karena Naina menunjukkan sisi manjanya.


"Sayang, bukankah setiap wanita itu mengalami masa halangan setiap bulannya, tetapi aku tidak pernah melihatmu berhalangan selama ini, mungkinkah sekarang kamu mengandung?" tanya Endra pelan.


Naina ingat kalau dia memang sudah lama tidak halangan, saat masih menjadi istri Roni, dia memakai alat kontrasepsi suntik tiga bulan sekali, sepertinya hormonnya masih belum stabil, walau dia sudah tidak pernah suntik lagi setelah bercerai dengan Roni kurang lebih setahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2