
"Endra, kenapa kamu sudah keluar dari kamar lagi? biarkan saja aku yang mengurus semua ini, nikmati saja waktumu" ucap Suseno tetapi dibalas dengan tatapan tajam dari Endra.
"Kenapa kamu bercanda disaat seperti ini" ujar Rayhan pada Suseno untuk menutupi kecanggungan karena melihat Endra yang terlihat sangat marah.
Endra tidak mengatakan apapun lagi, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Endra langsung pergi entah kemana, dan tidak berpamitan kepada ayahnya ataupun pada Naina.
"Tuan Endra selamat datang,, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang terlihat seperti seorang guru.
"Apa ada yang dibutuhkan anak-anak?" tanya Endra.
"Ini masih beberapa hari semenjak kedatangan tuan kemari, semua perlengkapan anak-anak masih banyak, uang jajan nya juga masih banyak, apa mau bertemu dengan mereka?"
"Tidak perlu, aku tidak mau mengganggu mereka, ini ada tambahan uang saku untuk anak-anak, berikan apapun yang mereka butuhkan" Endra lalu berniat pergi lagi, tetapi ditahan oleh guru itu dengan mengajukan pertanyaan.
"Apa nyonya Naina belum ditemukan? anak-anak terus saja menanyakan tentang mamanya, mereka sepertinya sangat merindukan mamanya yang sudah lama tidak menjenguk mereka, kemarin ayah mereka datang tetapi mereka menolak bertemu"
"Aappa?! kemarin Roni datang kemari?" tanya Endra kaget karena setau dirinya kalau Roni tidak pernah perduli pada anak-anaknya.
__ADS_1
"Iya tuan, tetapi anak-anak tidak mau bertemu, sepertinya mereka masih sangat trauma melihat ayahnya yang pernah mereka pergoki sedang melakukan kekerasan pada mamanya, anak-anak sekarang sangat kritis, mereka cepat memahami situasi"
"Tolong segera hubungi ke nomor kontak ini kalau Roni kembali datang kemari" Endra memberikan kartu namanya lalu segera pergi dari sana.
Selama Naina pergi, Endra yang mengurusi semua tugas Naina, dia juga mengutus seseorang kepercayaannya di bidang salon kecantikan untuk mengurusi salon kecantikan milik Naina, karena pasti akan terjadi kekacauan kalau tidak ada yang menggantikan untuk bertanggung jawab untuk mengurus segala sesuatunya.
Tidak lupa untuk kebutuhan anak-anak Naina yang berada di asrama juga selalu tidak dilupakan oleh Endra, bahkan dia seperti terlalu berlebihan dalam mengurus anak-anak Naina, dia memperkenalkan diri pada anak-anaknya Naina sebagai teman masa muda Naina, dengan memperlihatkan foto saat dulu dirinya dan Naina bermain air dengan riangnya, melihat foto itu membuat anak-anak Naina percaya padanya.
"Maafkan aku,, sepertinya aku ingin menguasai mama kalian untuk diriku sendiri" batin Endra melihat kearah asrama tempat anak-anak Naina tinggal.
"Maaf, ayah makan terlebih dahulu" ucap Rayhan melihat kedatangan Endra.
Endra tidak menjawab apa yang dikatakan oleh ayahnya, dan tidak menoleh sedikitpun pada Naina, lalu langsung menuju kamarnya membuat Rayhan tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya.
"Dia seperti remaja yang sedang galau karena masalah percintaan" batin Rayhan lalu meminta pada bibi untuk membereskan bekas makannya dan meminta Naina yang juga sudah menyelesaikan makan nya untuk beristirahat dan tidak mengizinkannya melakukan sesuatu.
"Tidak perlu Naina, itu tugas bibi,,, sekarang kamu masuk saja ke kamarmu" ujar Rayhan lalu dia juga masuk ke dalam kamarnya, Naina tidak jadi membantu bibi membereskan meja karena dilarang oleh Rayhan dan juga bibi.
"Kenapa kakak begitu membenciku, sebenarnya kesalahan besar apa yang sudah aku lakukan padanya, bukankah seharusnya aku yang marah dengan perlakuannya terhadap diriku" batin Naina sambil memasuki kamarnya, lalu duduk di sofa dan menyetel televisi yang ada didalam kamar.
Cceekklleekkk
__ADS_1
Naina menoleh dengan cepat setelah mendengar bunyi pintu terbuka dan langsung terdengar dikunci, tidak lain dan tidak bukan, sudah pasti itu Endra yang masuk kedalam kamarnya, Naina bangkit dari duduknya dan mengacungkan remot televisi pada Endra yang semakin mendekatinya.
"Berhenti,, sebenarnya apa kesalahan ku sampai kakak seperti ini padaku!!" Naina berteriak, dia sangat paham apa yang akan dilakukan oleh Endra, apalagi saat ini Endra memakai baju rumahan, dan benar saja,, Endra langsung menangkap Naina dan merebut serta melemparkan remot televisi yang sedang dipegang oleh Naina.
Endra mencium Naina dengan penuh nafsu membara dan mendorongnya ke ranjang, sepertinya Endra sudah kehilangan akal, dia melupakan niat awalnya yang melakukan hal itu hanya untuk mencoba membuat Naina mengingatnya, tetapi dia kalah dengan naluri lelaki yang ada didalam tubuhnya.
Endra melihat Naina yang terus menangis, setelah membuat tanda merah di leher Naina, Endra langsung turun dari tubuh Naina dan berlari ke kamar mandi, Naina langsung menutupi tubuh nya dengan selimut.
Endra menyalakan shower dan berdiri dibawahnya, merasakan air dingin yang mengguyur tubuhnya untuk mencoba menenangkan burungnya yang terbangun, cukup lama Endra berada didalam kamar mandi, setelah menggigil dia baru keluar, saat melihat kearah ranjang, dia melihat Naina yang bersembunyi di balik selimut sehingga tidak terlihat tubuhnya.
Endra kembali mendekati Naina dan ikut masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuhnya, tentu saja Naina kaget karena dia pikir Endra sudah selesai dengan urusannya.
"Ambil saja selimutnya, sepertinya kakak sangat kedinginan, aku akan tidur di sofa" ujar Naina lalu bangun dan mencoba turun dari ranjang, tetapi sebelum kakinya bisa menginjak lantai, Endra menariknya hingga jatuh ke pelukannya lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut.
Tidak ada kata-kata yang keluar, Endra hanya terus mendekap erat tubuh Naina, mencoba mencari kehangatan, Naina yang awalnya berontak dan berusaha untuk melepaskan diri akhirnya hanya bisa pasrah, Endra tidak melakukan apapun dan hanya mendekap tubuh Naina, dia mencoba memejamkan matanya dan membelai lembut rambut Naina.
Setelah cukup lama akhirnya Endra ketiduran dengan terus memeluk tubuh Naina, melihat Endra yang sudah tidur, membuat Naina merasa lega dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Endra, tetapi Endra kembali terbangun karena pergerakan dari Naina.
"Tidurlah, aku tidak akan melakukan nya disaat kamu tidak sadar atau tidur, aku akan melakukan nya saat kamu sadar" Endra kembali mempererat pelukannya, setelah lewat tengah malam, mereka baru bisa tertidur bersama karena dari tadi sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Aku tau kalau kamu akan semakin membenciku saat mengingat segalanya suatu saat nanti, tetapi aku benar-benar tidak sanggup untuk tidak mendekatimu, aku tidak perduli apa yang terjadi nanti, aku hanya perduli saat ini, aku akan memanfaatkan waktu denganmu sebanyak mungkin sebelum kamu pergi" batin Endra lalu menutup matanya dengan tidak melepaskan pelukannya pada Naina.
"Kakak,,,, sebenarnya apa hubungan kita, kenapa kakak seperti ini padaku, anehnya kenapa sekarang aku merasa tenang dan tidak terlalu takut lagi, aku pikir kakak sangat membenci diriku, tetapi tadi kakak tidak memaksaku walau sanggup melakukan nya" Naina juga memejamkan matanya.
Pagi telah tiba tetapi baik Endra ataupun Naina belum ada yang bangun, perawat merasa panik saat tidak bisa membuka pintu kamar Naina, karena biasanya pintu terkunci dari luar, tetapi saat ini pintu terkunci dari dalam, perawat itu langsung melaporkannya kepada Rayhan.
"Reynolds, coba bangunkan Endra" perintah Rayhan pada Reynolds setelah mendapat laporan dari perawat Naina, setelah mengetahui bahwa Endra tidak berada di dalam kamarnya, Rayhan tersenyum gembira dan sadar kalau Endra pasti tidur bersama dengan Naina.
"Kalian kerjakan saja dulu yang lain, atau istirahat dulu sebentar" perintah Rayhan pada para pekerjanya.
Rayhan tersenyum gembira, karena dia yakin tidak lama lagi dia akan mempunyai cucu.
__ADS_1