Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Terbongkar


__ADS_3

POV Ningsih


"Mama, kenapa kak Naina tidak pernah datang? bahkan dari tadi pagi ponselnya tidak bisa dihubungi, apa aku kerumahnya saja untuk memeriksa?"


"Tidak Ningsih, kamu harus banyak beristirahat, mungkin kakakmu sedang banyak pekerjaan"


"Tapi ma, ini tidak seperti biasanya, aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada kak Naina" ujar Ningsih khawatir karena biasanya kakaknya selalu bisa dihubungi walau memang tidak selalu bisa berkunjung.


Sebenarnya mama Nimah juga merasakan hal yang sama seperti Ningsih, beliau bisa merasakan kalau anaknya sedang dalam masalah.


Tok tok tok


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah mereka, mama Nimah melihat lewat jendela siapa yang datang, beliau membelalakkan matanya melihat siapa yang ada dibalik pintu.


"Siapa ma?" tanya Ningsih


"Putra dan ibunya"


"Mereka mau apa ma? apa mereka sudah menerima keputusan kita dan datang untuk kembali membicarakan masalah pernikahan ku?"


"Tidak tau Ningsih, kita buka pintu atau jangan? papamu belum pulang bekerja dan tidak ada kakakmu, mama takut mereka melakukan sesuatu yang tidak baik nantinya"


Mereka bingung harus berbuat apa, tetapi pintu terus digedor dari luar, mama Nimah tidak mau semua tetangga pada keluar karena mendengar keributan di rumah mereka, akhirnya mama Nimah membukakan pintu.


Putra dan mamanya langsung masuk kedalam rumah tanpa diminta, mereka berteriak memanggil Naina


"Dimana kalian menyembunyikan wanita ****** itu!?" teriak mama Putra, Ningsih dan mama Nimah bingung apa maksud dari ucapan mamanya Putra.


"Ada apa Putra? tanya Ningsih pada kekasihnya itu"


"Kakak mu menjebak papaku disebuah hotel, terlihat dari CCTV hotel yang didatangi mereka, sampai saat ini papaku belum juga pulang kerumah"


"Tidak mungkin, kakak ku tidak mungkin melakukan hal seperti itu, dia wanita baik-baik dan sudah mempunyai suami"

__ADS_1


"Dasar keluarga tidak tau malu semua, yang satu merusak anakku dan yang yang satu mengejar suamiku, sungguh hina cara kalian mencari makan" ujar mama Putra membuat mama Nimah dan Ningsih marah mendengarnya.


"Apa maksud nya, kami bukan seperti itu, Putra,, apa kamu tidak mau membelaku!?" teriak Ningsih melihat kearah Putra, yang dilihat tidak bergeming dan hanya diam, Ningsih tertawa pilu melihat itu, dia tidak menyangka kalau kekasih yang dia percayai dan bahkan sampai dia menyerahkan segalanya ternyata tidak bisa membelanya.


"Aku melakukan itu karena termakan rayuan dirimu, juga janji-janji manis darimu, sekarang setelah aku hancur, kamu bahkan sedikitpun tidak perduli padaku?!" Naina histeris melihat perlakuan Putra padanya.


"Sudahlah diam, tidak perlu berteriak, tidak ada gunanya, mulai sekarang jangan pernah berharap lagi pada Putra, dan kalau sampai sesuatu terjadi pada suamiku, aku akan menyeret kalian semua ke kantor polisi" ucap mama Putra dan langsung pergi dari sana disusul oleh Putra.


Mama Nimah memegangi dadanya dan terjatuh duduk sambil menangis, Ningsih hanya bisa menenangkan dengan mengusap bahu mamanya tetapi dia juga tidak kuat menahan air matanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, dimana sekarang kakak mu" mama Nimah terus mengumamkan nama anak sulungnya


"Naina, Naina, dimana kamu nak" mama Nimah terus menangis terus memanggil nama anaknya


"Ningsih, coba terus hubungi kakakmu" pinta mama Nimah pada anak bungsunya


Ningsih terus mencoba tetapi tidak juga tersambung dengan kakaknya, mereka menjadi semakin panik dan memutuskan mendatangi rumah Naina.


Sesampai dirumah Naina, suasana terlihat sepi hingga keluar seorang wanita memakai baju Naina karena Ningsih paham dengan baju itu karena dia yang membelikan saat ulang tahun kakaknya.


"Siapa sayang?" tanya Roni dari dalam rumah, belum mengetahui kalau yang datang adalah mertua dan adik iparnya.


"Mama?" ucap Roni panik karena dia sudah ketahuan


"Ada apa ini Roni, siapa wanita ini, kamu tidak mempunyai saudara perempuan kan?" tanya mama Nimah pada Roni


"Aku adalah istri barunya, istri tuanya sudah lama tidak pulang" jawab wanita itu dengan santainya.


"Apa?!" teriak Ningsih dan mama Nimah berbarengan, mereka tidak menyangka dengan semua ini, Roni meminta selingkuhan nya untuk masuk kedalam rumah terlebih dahulu.


"Roni jelaskan, apa maksud mu dengan semua ini, dan sekarang katakan dimana Naina?" tanya mama Nimah


"Naina tidak bisa melahirkan anak laki-laki untukku, jadi aku menikah lagi, ini semua salahnya karena ketidakmampuan nya" ucap Roni

__ADS_1


"Astaga Roni, apa yang kamu lakukan pada anakku?!" teriak mama Nimah lalu memukuli Roni tetapi Roni menahannya.


"Aku tidak akan menceraikan Naina, kalian tenang saja, sekarang Naina dimana aku juga tidak tau, aku juga sedang berusaha mencarinya" ujar Roni tanpa merasa bersalah sedikitpun, dia berfikir yang dia lakukan benar, Roni dan keluarganya hanya menginginkan anak laki-laki, tetapi Roni tetap tidak mau melepaskan Naina atas dasar cinta semu yang dia rasakan, cinta diatas penderitaan untuk Naina.


"Dasar tidak punya hati nurani!" teriak Ningsih


"Aku sangat mencintai Naina, aku hanya menikah lagi untuk mendapatkan anak laki-laki, itu saja" ujar Roni, selingkuhan nya tentu mendengar hal itu, walau dia tau akan hal itu, karena dari awal Roni sudah menceritakan hal itu tapi tetap saja dia geram, wanita itu tetap ingin memiliki Roni seutuhnya.


"Lihat saja Naina, aku akan merebut semua milikmu" batin wanita itu.


"Ini sudah terjadi, Ningsih ayo pergi dari sini, kita cari kakakmu" ucap mama Nimah lalu pergi dari sana.


Diluar pagar rumah, mama Nimah kembali terduduk lemah dijalan sambil menangis, belia tidak kuat lagi menahan perasaannya.


"Naina sayang, Naina anakku sayang, apa yang selama ini kamu alami nak, kenapa kamu pendam sendiri, kenapa?!" mama Nimah histeris dan terus memukuli dadanya, rasanya sangat sesak di dadanya, Ningsih memeluk mamanya dan ikut menangis, dia juga masih syok dengan semua yang telah terjadi.


"Mama, sekarang kita pulang dulu, takut nya papa bingung mencari kita, tadi karena terburu-buru, aku lupa membawa ponselku"


Ningsih membantu mama Nimah bangun dan memapahnya, mereka mencegat Taxi lalu segera pulang kerumah.


"Papa, bantu aku" panggil Ningsih pada papanya yang duduk diteras menunggu kedatangan mereka, Ningsih meminta bantuan papanya untuk memapah mama Nimah karena dia akan membayar Taxi lebih dulu.


"Ada apa ini, apa yang terjadi padamu?"


Baik Ningsih maupun mama Nimah tidak ada yang menjawab, mereka masih sama-sama syok dengan kejadian buruk yang datang bertubi-tubi hari ini.


Tok tok tok


Ningsih membukakan pintu, terlihat ada seseorang yang tidak dia kenal berdiri disana,


"Apakah ada bapak Yanto?" tanyanya pada Ningsih


"Sebentar saya panggilkan" Ningsih lalu kembali masuk kedalam rumah

__ADS_1


"Pa, ada yang mencari papa diluar tapi aku tidak tau siapa" ucap Ningsih


__ADS_2