Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Ningsih Dijadikan Wanita Panggilan


__ADS_3

"Apa yang terjadi?" tanya Naina yang masih berada dalam pelukan Endra karena suaminya itu dari tadi tidak mau melepaskannya.


"Aku tau ada yang berniat jahat, tetapi tidak tau siapa, Seno meminta pada kantor kepolisian diluar wilayah ini, tetapi mereka tidak percaya, jadi kami mengajak untuk merencanakan ini untuk menjebak penjahat nya"


"Lalu kenapa aku tidak boleh datang, bukankah wanita itu tidak akan masuk perangkap kalau aku tidak datang?" Naina menengadahkan kepalanya untuk bisa melihat suaminya yang masih mendekapnya.


"Apa kamu tidak takut berhadapan dengan begitu banyak penjahat, aku ingin membunuh mereka semua yang bahkan berani nya memandang mu, aku terus menahan diri dari awal kedatangannya mu, tetapi aku harus terus diam, dipaksa oleh Seno lewat Headset yang ada di telingaku, karena ingin merekam kejahatan wanita itu,, aku tau wanita gila itu tetap akan masuk keruangan ini walau kamu tidak datang, karena dia itu tidak terlalu sabaran"


"Apa kamu sengaja menunggunya sendiri?!" Naina tiba-tiba menjadi kesal dengan wajah cemberut.


"Apa maksudmu?" Endra tidak mengerti.


"Kamu mau membiarkan nya menyentuh mu lagi?!!"


"Bukan seperti itu sayang,, aku bahkan tidak tau kalau penjahatnya adalah dia,,, lagipula kalau hanya dia, itu sangat mudah untuk menangkap nya,, dia hanya akan terus mengoceh begitu masuk kedalam ruangan ini, karena rencananya tidak sesuai,, dan saat dia berani menyentuhku lagi, aku pasti akan bangun"


"Bohong!!" Naina tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Endra, karena dia mengingat saat Endra kembali setelah di cumbu oleh Atika, banyak sekali tanda merah dileher Endra saat itu.


"Kamu merindukan sentuhannya kan?!" ujar Naina lalu berusaha mendorong tubuh Endra, tetapi suaminya itu tersenyum melihat kecemburuannya, Endra lalu melihat ke arah depan, saat itu ada polisi yang hendak mendekat, tapi dia memberikan isyarat untuk mereka pergi dulu, Suseno mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Endra, lalu membawa para polisi itu keluar terlebih dahulu.


"Apa kamu cemburu?" tanya Endra pada istrinya yang masih manyun.


"Iya!!"


Endra tertawa sambil menahan rasa sakit kepalanya, karena dia sebenarnya belum terlalu pulih, racun yang diberikan oleh Atika memang tidak mematikan, tetapi sangat menyakitkan, apalagi kemarin dia sempat kritis.


"Apa yang harus aku rindukan dari wanita gila itu? dia tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan dirimu sayang, bahkan tidak ada sedikitpun keinginan ku untuk menyentuhnya, atau mau disentuh olehnya"


"Tidak mungkin,,, sekarang lepaskan aku, apa kamu tidak malu pada para polisi?"


"Kenapa aku harus malu, yang aku peluk adalah istriku sendiri, sekarang katakan padaku, apa yang membuatmu cemburu pada wanita itu?"


"Tidak mau!!" Naina berusaha untuk kembali mendorong tubuh Endra, Naina malu untuk mengatakan apa yang dia pikirkan.


"Diamlah sebentar lagi sayang,,, aku masih sangat merindukan mu, sebentar lagi aku harus kembali ke Lapas" Endra membawa kepala Naina kedalam pelukannya lagi.


"Aappaa?!!,, kenapa kamu harus kembali kesana, bukankah sudah jelas kalau kamu melakukannya karena membela diri dan mencoba melindungi ku,, lalu komplotan nya yang membantu mengeluarkan nya dari penjara juga sudah tertangkap"


"Semua ada proses hukumnya sayang, aku belum diputuskan tidak bersalah karena keburu minum racun itu, saat ini bukti semakin kuat, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, satu persidangan lagi pasti ada putusan pengadilan, aku akan segera pulang,,, ingat pesanku untuk tidak pergi kemanapun"


"Aku ingin menghadiri sidang nya,, kapan akan dilakukan?"


"Tidak Naina!!,, aku mohon sayang, dengarkan apa yang aku katakan, jangan pernah membantah lagi, lama-lama aku akan memberi kamu julukan, Istri kesayanganku pembangkang"


Naina tertawa mendengarnya, sepertinya sudah tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk melepaskan rindu, karena Endra harus segera kembali ke Lapas, dengan berat hati mereka harus terpisah lagi untuk sementara.


"Antarkan Naina pulang dulu" Endra memberi perintah pada Suseno sebelum dia kembali berjalan mengikuti dan di ikuti oleh para polisi.


Naina kembali bersedih dan hanya bisa terus memandangi kepergian suaminya, didalam mobil Naina masih terdiam, lalu dia mengingat kembali tentang hilangnya Ningsih.


"Apa kamu sudah tau tentang Ningsih?" tanya Naina.


"Sudah,, mana mungkin aku tidak tau"


"Kenapa kamu terlihat tenan?"


"Apa aku harus marah seperti suamimu saat kamu menghilang??"


"Bukan seperti itu juga,, apa kamu tidak mempunyai perasaan terhadap dirinya?"


"Aku menyukainya,, aku sampai bingung harus dengan apa menjelaskan nya, tapi saat ini aku sadar dengan apa prioritas utama,, aku juga sudah mengerahkan seluruh kemampuan ku mencarinya, melalui daring dan juga para pengawal yang aku kerahkan di seluruh kota ini dan kota sekitar"


"Apa tidak ada jejak sama sekali?"


"Belum ada"


Naina mengingat sesuatu lalu meminjam ponsel Suseno untuk menelepon mama Nimah.


"Ma,, apa Alfin memakai jam tangan yang aku berikan?"


"Mama tidak tau, sebentar akan mama periksa, memang dia sangat menyukai jam itu"


"Ya sudah ma, tolong periksa terlebih dahulu, nanti kabari aku lagi" Naina lalu mematikan panggilan telepon itu dan mengembalikan nya pada Suseno, Naina lalu menanyakan tentang keberadaan ponselnya.


"Ada dikantor disimpan di brankas oleh Endra"


"Coba pake itu untuk mencari keberadaan Ningsih dan anaknya, aku membelikan jam tangan yang bisa tersambung dengan GPS yang aku sambungkan ke ponselku"


"Kenapa tidak bilang dari tad kemarin?!"

__ADS_1


"Bukannya bilang terima kasih malah ngegas" Naina sewot.


Suseno mengantarkan Naina terlebih dahulu, setelahnya baru dia akan ke kantor untuk mengambil ponsel Naina, yang sengaja di simpan oleh Endra.




"Alfin sangat mirip denganmu,, apa yang mirip denganku?? sepertinya tidak ada?" tanya Putra saat memperhatikan anaknya yang sedang disuapi oleh Ningsih.



"Bagaimana bisa dia mirip denganmu,, saat hamil aku saja kamu pergi entah kemana,, dia tidak mengenalmu sama sekali" jawab Ningsih asal-asalan.



"Sayang,, setelah Alfi tidur kita coba lagi ya?" bisik Putra.



"Namanya Alfin, bukan Alfi,, dan tentu saja, nanti kita coba, aku juga sudah merindukan nya"



Ningsih sebenarnya sangat cemas dan juga takut, saat dulu dia terus berhubungan dengan Putra untuk balas dendam, dia sudah dalam keadaan hamil, jadi tidak khawatir akan apapun, Ningsih takut dengan kemungkinan dia bisa hamil lagi kalau sampai burung Putra bisa bangun nantinya.



Ningsih sedang berusaha mencari akal supaya bisa menghindari kehamilan, seandainya Putra nantinya masih bisa menyembur rahimnya.



Setelah Alfin tidur, Ningsih lalu mendekati Putra yang sudah tiduran di sebuah ranjang, Ningsih merangkak naik keatas tubuh Putra dengan perlahan.



"Kamu mengagetkan diriku sayang" ucap Putra, Ningsih langsung mencium bibir Putra, dan tangannya terus berusaha untuk membuka resleting celana pria yang berada dibawahnya itu, tau akan keinginan Ningsih, Putra membantu membuka nya.



"Apa kamu memiliki sebuah \*\*\*\*\*\*?" tanya Ningsih




Burung besar itu masih saja terkulai lemah, ingin rasanya Ningsih bersorak gembira melihatnya, tetapi dia menahannya dan pura-pura bersimpati pada Putra.



"Ini benar-benar harus dengan bantuan dokter,, tenang saja sayang,, aku akan selalu menemani mu" Ningsih tiduran disebelah Putra lalu membelai lembut dadanya.



"Sejak kapan kondisimu seperti ini? dulu kamu sangat perkasa hingga membuat ku kewalahan" tanya Ningsih lalu membenarkan bajunya yang sudah sedikit terbuka.



"Aku menyadarinya saat melihat ayah melakukan hal itu dengan seorang wanita didalam penjara,, aku juga ingin karena begitu merindukan mu, tetapi saat aku berniat melakukannya pada wanita panggilan itu,, ternyata milikku tidak berfungsi"



"Yang sabar ya sayang,, sekarang lebih baik kamu mencari dokter terbaik di bidang ini supaya kamu cepat sembuh"



"Wajah ku sudah jelas terpampang di semua kota ini sebagai buronan, bagaimana bisa aku menemui dokter"



"Apa yang tidak bisa dilakukan oleh uang di zaman sekarang ini, dengan uang, segalanya bisa dilakukan"



"Uang peninggalan ayahku hanya tinggal sedikit lagi, aku bingung harus bagaimana lagi, tidak mungkin bagiku untuk mempunyai pekerjaan"



"Lalu bagaimana dengan aku dan Alfin,, disini kita butuh biaya, apalagi masa depan Alfin masih panjang,, haruskah aku yang bekerja?? aku tidak masalah,, yang terpenting bisa selalu bersama dirimu,, dari sekarang kita harus memikirkan nya" Ningsih mencoba merayu Putra supaya penjagaan semakin berkurang kalau banyak anak buahnya yang diberhentikan.

__ADS_1



"Kita tetap memerlukan mobil untuk kendaraan keluar masuk, tetapi kita harus menekan pengeluaran" Ningsih kembali berbicara karena Putra masih terdiam.



"Pekerjaan apa yang akan kamu lakukan? bagaimana kalau kamu menjadi wanita panggilan saja,, uangnya pasti akan cepat terkumpul, kamu ini kan seksi, pasti banyak yang menginginkan dirimu"



Mendengar perkataan Putra, darah Ningsih mendidih, tidak cukup dengan apa yang dilakukan Putra selama ini padanya, sekarang Putra malah semakin menghina dirinya dengan menyuruhnya melakukan pekerjaan kotor, tetapi Ningsih harus menahan perasaan nya untuk bisa terus mengelabui Putra.



"Kok kamu jahat banget sih sayang?,, apa kamu tidak sayang padaku?? kok kamu tega melihat ku menjajakan tubuhku untuk pria lain" Ningsih pura-pura ngambek, padahal sebenarnya dia sangat marah.



"Hehehe,,, hanya itu jalan tercepat sayang,, lagipula kamu itu kan sangat mencintai ku, apa kamu tidak mau melakukan apapun untuk ku?"



"Karena aku mencintaimu Putra sayang ku,, aku tidak bisa melakukan hal itu,, tubuh dan hatiku hanya untukmu" Ningsih sedikit cemas karena terlihat Putra yang serius dengan ucapannya.



"Disaat seperti ini, cinta tidak perlu di penting kan, lagipula kalau kita cepat dapat banyak uang, aku bisa segera mendapatkan pengobatan dan bisa segera membuat mu kelabakan lagi dengan burung kesayangan mu ini" Putra lalu menciumi pipi Ningsih, tapi Ningsih harus menerima nya kali ini, dan berusaha mencari cara supaya apa yang dikatakan oleh Putra, tidak dilakukan segera, karena Ningsih bahkan belum mempunyai ide untuk melarikan diri.



"Putra sayanggg,, aku mempunyai ide!!" Ningsih terlihat sangat gembira dan bangun, sebenarnya dia berusaha menjauh dari sentuhan Putra.



"Apa??" tanya Putra penasaran.



"Kamu tau tidak dengan salon kecantikan milik kakak ku?"



"Tidak, untuk apa aku mengetahui hal itu?"



"Asal kamu tau saja,, salon kecantikan itu sangat besar dan sangat maju,, aku diminta kakak untuk menjadi penerusnya, karena setelah menikah, kakak tidak di izinkan bekerja oleh suaminya,, tetapi aku kesal pada suaminya, karena dia hanya menyuruhku bekerja sebagai karyawan biasa ditempat itu, padahal salon itu bukan miliknya, tapi milik kakakku"



"Jangan terlalu banyak berbicara, apa intinya?!" tanya Putra tidak sabaran.



"Aku akan menjualnya, aku tau dimana kakakku menyembunyikan surat-surat penting dari salon itu, harganya pasti akan cukup untuk kita hidup selama beberapa tahun, setelah nya kita bisa mencari cara lain untuk hidup"



"Bagaimana caramu kesana? mereka tau kalau aku menculik mu" Putra tidak mengerti, dan kelihatan kalau Putra ini tidak sepintar ayahnya, sepertinya dia jahat hanya karena salah asuhan dan terus melihat kejahatan orang tuanya.



"Aku akan pura-pura pulang dengan kesedihan karena kamu menculik diriku"



"Kamu bukan pura-pura,, kamu pasti akan kabur beneran"



"Sayangku,, Alfin ada disini bersamamu, kalau kamu tidak percaya padaku, aku akan meninggalkan nya saat aku melaksanakan rencanaku itu,,, tidak mungkin aku meninggalkan anakku tanpa kembali lagi, kamu juga bisa saja meminta salah satu anak buahmu untuk terus memantau ku,, dan aku punya ide yang sangat cemerlang,, dengan uang penjualan salon kecantikan itu, kamu lakukan dulu operasi plastik, dan gantilah identitas,, setelah nya kita bisa hidup bahagia"



"Aku merasa ini adalah alasan konyol supaya kamu bisa kabur dariku" ucap Putra memandangi wajah Ningsih.



Tentu saja Ningsih kaget karena Putra yang dia pikir tidak pintar, bisa menyadari rencananya, tapi Ningsih berusaha untuk tidak panik.

__ADS_1



"Sudahlah,, jangan terlalu banyak berfikir,, lebih baik kamu menjadi wanita panggilan saja,, tempat ini sangat pas untuk melakukannya,, aku akan segera mencarikan pelanggan untuk mu sayang, bersiaplah" ucapan Putra sudah seperti pisau yang menancap di dada Ningsih, dia ketakutan dan tidak tau harus bagaimana lagi untuk bisa segera pergi dari tempat itu.


__ADS_2