
Ningsih
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Putra, apa kamu sedang sakit sayangku?" tanya Ningsih terdengar penuh perhatian pada kekasihnya yang sedang dia nikmati tubuhnya, terlihat Putra yang kesulitan untuk kembali membangunkan burung besar kebanggaan nya setelah tadi muntah dan mengairi sawah milik Ningsih.
Ningsih masih berada di atas tubuh Putra dan terus berusaha untuk membangunkan burung besar itu, sementara tubuhnya juga di atas tubuh Putra dengan terbalik, dan bagian intinya ada di mulut Putra, Ningsih yang perutnya semakin membuncit menahan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya, dia menjadi seperti sedang menungging.
Ningsih lalu duduk disebelah Putra yang terlihat terus berusaha untuk membuat burung nya kembali bangun, Ningsih membelai lembut wajah Putra dan mencoba menenangkan nya karena lama-kelamaan Putra menjadi emosi.
"Sayang, jangan memaksakan diri, sepertinya kamu sedang tidak sehat, mari kita istirahat terlebih dahulu" Ningsih lalu bangun dan membuatkan kopi untuk Putra, yang tentu saja tidak lupa setiap minuman yang dia berikan untuk Putra selalu dia masukkan obat perangsang dan obat-obatan yang beresiko membuat kemandulan.
"Sayang, lebih baik kamu minum kopi terlebih dahulu, biar kamu menjadi lebih segar" Ningsih lalu membantu Putra untuk duduk dan memberikan kopi buatan nya, setelah Putra menghabiskan kopinya, tentu saja tidak lama burungnya kembali bangun karena efek dari obat perangsang nya, tetapi Putra tidak menyadarinya karena Ningsih dengan pintarnya selalu di dekat Putra dan selalu memegangi burung Putra, jadi seolah-olah Ningsih lah yang berhasil membangunkan burung itu.
"Benar kan apa yang aku katakan tadi, kamu menjadi lebih segar setelah beristirahat dan minum dulu" bisik Ningsih manja ditelinga Putra setelah burung tidur yang dari tadi dia pegang telah terbangun.
Putra tentu saja sangat kegirangan karena Ningsih sangat lembut padanya dan tidak menghina dirinya yang sekarang tidak perkasa lagi seperti dulu.
"Terimakasih sayang, kamu begitu perhatian padaku" ucap Putra lalu kembali meminta Ningsih menaiki tubuhnya karena perut Ningsih yang semakin membesar membuat nya tidak nyaman ketika terus terlentang, sepertinya saat ini Putra mulai kembali mencintai Ningsih.
Tidak lama Putra kembali menyembur Lahan basah milik Ningsih, mereka lalu berpelukan dan memutuskan menyudahi kegiatan mereka malam ini, Putra membelai lembut rambut Ningsih.
__ADS_1
"Aku masih ingin tinggal disini lebih lama lagi, tidak bisakah kamu mencari alasan supaya bisa lebih lama tinggal disini? rombongan teman kamu akan menjemputmu besok pagi, tapi aku masih ingin kamu menemani ku" ujar Putra lalu mendekap kepada Ningsih.
"Kita sudah disini dua malam, aku tidak bisa mencari alasan lain lagi" jawab Ningsih dengan mengecup dada Putra.
"Pencarian ayahku sudah dihentikan, aku tidak tahu lagi kapan kita bisa menikah karena,,,," Putra tidak melanjutkan ucapannya, dia tidak mungkin mengatakan maksud dan tujuannya mendekati Ningsih lagi karena ingin balas dendam.
Awalnya memang Putra dan mamanya ingin membalas dendam kepada keluarga Ningsih karena Naina telah menggoda Anton ayahnya Putra, itulah yang mereka yakini, padahal kenyataannya Anton lah yang jahat.
Putra diutus mamanya untuk kembali mendekati Ningsih supaya mau dinikahi, tetapi keluarga Ningsih tidak mengizinkan, sambil menunggu waktu akhirnya Putra bermain-main dengan Ningsih tanpa dia sadari kalau ternyata dialah yang menjadi mainan Ningsih, bahkan secara perlahan Ningsih bisa menggerogoti kejantanan Putra.
Sudah sangat terlihat kalau Putra sudah semakin tidak seperkasa dulu lagi, saat ini dengan akting Ningsih yang seolah sangat mencintai dan menerima Putra apa adanya dan bersikap lembut, membuat Putra kembali mencintai Ningsih.
Cinta Putra begitu lemah, mungkin karena dia masih labil, saat mereka pertama bertemu, mereka saling mencintai, bahkan dia sempat rela untuk menikah secara diam-diam dengan Ningsih, tetapi dia juga mudah dipengaruhi oleh kedua orang tuanya yang tidak merestuinya.
Dan ketika Ningsih tau niat jahat Putra, dia membalas dendam dengan cara yang benar-benar tidak pernah diduga oleh Putra karena selain masuk perangkap Ningsih, sekarang juga hatinya telah kembali untuk Ningsih.
"Apa maksudnya dengan kamu tidak tahu kapan kita bisa menikah? bukankah kita harus melakukan nya secepatnya?" tanya Ningsih berpura-pura karena dia tidak akan Sudi untuk menikah dengan pria yang sudah merendahkannya dan mengatakan bahwa dia wanita gratisan.
Dendam Ningsih sudah sangat dalam, dia bahkan sampai sanggup untuk terus melakukan adegan cocok tanam dengan Putra setiap mereka ada waktu, bahkan saat ini dia rela berbohong kepada mama Nimah hanya karena ingin membuat rencananya untuk Putra berjalan dengan lancar dan cepat selesai.
"Tidak sayang, kamu jangan khawatir, karena aku pasti akan menikahi mu dan membangun rumah tangga kita sendiri" Putra membelai rambut Ningsih dan mempererat dekapannya.
__ADS_1
"Maaf ma, aku tidak bisa melanjutkan rencana awal kita yang akan membuat Ningsih menyesal karena membawanya ke rumah, karena aku tidak akan membiarkan mama menyakiti atau menyiksa Ningsih seperti yang pernah mama katakan" batin Putra lalu mencium kening Ningsih.
"Sayang, masih berapa lama lagi sampai kamu melahirkan? bisakah besok kita ke dokter,, aku belum pernah menemani mu untuk kontrol kandungan, aku ingin melihatnya" ucap Putra dengan senyum yang terlihat sangat tulus, sesaat membuat Ningsih terenyuh karena Putra perhatian pada kandungannya, tetapi Ningsih langsung kembali mengingat dendamnya.
"Bulan depan sayang jadwalnya, jadi sepertinya tidak bisa kalau harus mendadak ke dokter" Ningsih mencoba mencari alasan untuk menghindari keinginan Putra.
"Saat jadwalnya nanti, aku akan menemanimu" Putra kembali mencium kening Ningsih lalu bangun dan mengambil dompetnya, Putra mengambil salah satu kartu ATM nya dan memberikan untuk Ningsih.
"Ini pakai untuk segala kebutuhan mu sehari-hari, makanlah dengan benar dan bergizi supaya anak kita tumbuh dengan sehat, maaf baru sekarang aku memberikan nya, aku akan rutin mentransfer setiap bulannya" Putra lalu meletakkan kartu itu ditangan Ningsih karena tidak kunjung diambil.
"Tidak perlu seperti ini" tolak Ningsih dan berusaha mengembalikan kartu ATM itu pada Putra.
"Jangan ditolak sayang, kita akan segera menikah, bahkan kita saat ini sudah seperti suami istri, jadi ini memang sudah seharusnya, terima ya sayang" Putra mencium pipi Ningsih lalu mengajaknya untuk segera tidur karena waktu sudah semakin larut malam.
Saat Putra sudah tidur, Ningsih memandangi wajah lelaki yang sangat dia benci itu, Ningsih sangat puas karena rencananya benar-benar berjalan mulus bahkan melebihi ekspektasi nya.
"Aku wanita gratisan milikmu, saat ini malah kamu beri nafkah bulanan, dan juga harga karena berani meremehkan diriku akan kamu tanggung seumur hidupmu" Batin Ningsih dengan senyuman yang hanya terukir di satu sisi wajahnya.
Ningsih melihat kearah ponsel Putra yang menyala walau tidak bersuara karena dalam mode senyap, ponsel itu memperlihatkan notifikasi terbaru, Ningsih berusaha melihatnya dengan perlahan, Ningsih tidak bisa membuka ponsel itu tetapi dia masih bisa membaca walau tidak full terbaca.
"Sayang, kenapa kamu lama sekali tidak menghangatkan sawah ku,,," tertulis nama pengirimnya adalah,,, kupu-kupu satu, kalimat selanjutnya tidak terbaca karena untuk membacanya harus membuka kode ponsel.
__ADS_1
"Putra, cepat nikahi Ningsih dan kita bisa cepat menyik,,,," pesan dari kontak bernama, Mama,, sudah pasti itu dari mamanya Putra, Ningsih sedikit terkejut membacanya karena, walau tidak bisa melanjutkan membaca kalimat selanjutnya, Ningsih tentu bisa menebaknya, hanya saja Ningsih tidak menyangka kalau mamanya Putra juga mempunyai niat jahat terhadap dirinya.
"Ternyata ini semua sudah kalian rencanakan?? baiklah Putra sayang, mari kita terus bermain" batin Ningsih menahan geram dan semakin memupuk dendam kesumat nya, sembari memandangi wajah Putra yang sedang tidur dengan nyenyak.