Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Ningsih Ditemukan


__ADS_3

Suseno berlari mendekati Endra dan melindunginya, para pengawal nya yang sebagian sudah datang langsung menyerang anak buah Anton, para wanita menjerit dan segera menjauh.


"Endra, kuatkan hati mu, kita harus segera mencari Naina" Suseno menyadarkan Endra yang pandangan matanya terlihat sangat kosong, ingatan saat dia harus melayani para penculiknya di dalam sebuah ruangan terus terbayang, cukup lama sampai Endra sadar setelah Suseno terus mengguncangkan tubuhnya, posisi mereka semakin terdesak karena kalah jumlah, sebagian besar dari pengawal Endra belum datang, tapi Endra langsung masuk kedalam villa tidak mendengarkan dan mengikuti rencana Suseno untuk menyerang saat semua sudah berkumpul.


Karena rasa panik membuat Endra tidak bisa berfikir secara jernih, ditambah kondisi didalam ruangan yang membuat nya kembali ingat akan trauma nya.


Endra mencoba bangun dan menguatkan hatinya dan segera bergegas berlari untuk mencari Naina, didalam villa itu terdapat banyak sekali kamar-kamar yang semua tertutup, membuat mereka harus membuka pintu kamar satu-persatu untuk bisa menemukan Naina.


Dari tadi mereka tidak melihat keberadaan Anton, walau terdengar keributan besar di ruang tamu tetapi Anton tidak juga menunjukkan batang hidungnya, membuat Suseno merasa ini hanya jebakan untuk semakin menjauh kan mereka dari Naina, tetapi dia tidak mengatakan apapun kepada Endra karena dia berharap yang dia pikirkan itu salah.


Mereka terus membuka pintu, tetapi tidak juga menemukan keberadaan Naina, hingga mereka tiba disebuah kamar yang terdapat sebuah tubuh manusia berdarah-darah di atas ranjang, Endra membuat kode dengan jari telunjuknya di mulutnya, supaya Suseno diam.


Endra dan Suseno mendobrak pintu secara bersamaan, Ningsih bersiaga dengan pisau belati yang dia pegang dengan tangannya yang gemetaran, Endra merasa familiar melihat Ningsih walau dia tidak ingat dengan jelas.


"Tenang nona, aku bukan bagian dari mereka, aku adalah teman Naina, apa kamu mengenal Naina?" tanya Endra pelan


"Dia adiknya!" ujar Suseno geregetan karena mengingat begitu saja Endra tidak bisa.


"Apa dia Ningsih?" tanya Endra pada Suseno


"Kamu pikir siapa lagi? otakmu kebanyakan memikirkan tentang pekerjaan, untuk mengingat orang kenapa kamu begitu tidak berbakat, anehnya kenapa kamu selalu mengingat Naina" jawab Suseno sewot melihat Endra yang kadang lemot.


"Dimana kakak?!" tanya Ningsih berteriak histeris setelah mendengar nama kakak nya disebut, Ningsih menurunkan pisau belati yang dia pegang dari tadi, tadi malam dia diculik bersama kakak nya, tetapi mereka tidak dibawa dalam satu mobil, jadi tidak tau apa yang terjadi pada kakaknya.


Endra dan Suseno saling berpandangan, Suseno membantu Ningsih berjalan karena terlihat masih gemetaran, bahkan saat melihat ke arah ranjang yang penuh dengan darah dan masih ada orang yang entah masih hidup atau sudah mati masih tergeletak di atas ranjang itu, Ningsih ketakutan lalu menyembunyikan wajahnya di dada Suseno dan mencengkeram erat baju Suseno, seolah mencari perlindungan.


"Apa dia mati? apa aku akan dipenjara karena itu?!" suara Ningsih terdengar bergetar, dialah yang telah melakukan hal itu untuk melindungi dirinya, saat sampai ditempat itu, dia langsung dimasukkan kedalam kamar dan tidak lama pria itu masuk.


__ADS_1


Flashback



🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹



"Kamu cantik walau sedang mengandung, temani aku dahulu sebelum kamu dilahap oleh Anton bangkotan itu, diluar sana aku tidak mendapatkan wanita dan harus mengantri, lebih baik aku bermain saja denganmu" pria itu lalu mendekati Ningsih dan berusaha melecehkannya, Ningsih melawan dengan sekuat tenaga.



Tetapi apa daya, dia hanya wanita biasa ditambah dengan kondisinya yang sedang hamil, membuatnya tidak bisa bebas bergerak, hingga saat tanpa sengaja Ningsih melihat sebuah pisau belati di saku celana pria itu yang telah membuka semua pakaian nya.



Ningsih berusaha tenang supaya pria itu lengah, saat pria itu menciumi pahanya dan berusaha membuka celananya, dengan perlahan namun pasti dia bergeser sedikit demi sedikit mendekati pisau itu dengan pura-pura mencari posisi yang nyaman untuk bercinta dan mengeluarkan suara \*\*\*\*\*\*\* palsu.




Melihat pria itu yang tidak bergerak membuat Ningsih ketakutan, lalu dengan cepat dia berlari ke kamar mandi untuk bersembunyi.



Flashback End


__ADS_1


Naina tidak ditemukan disemua kamar dan ruangan yang ada di villa itu, anak buah Anton juga sudah semua diringkus dan dilumpuhkan karena para pengawal Endra datang semua disaat teman-temannya terpojok.


Endra menodong kan senjata api kearah anak buah Anton yang semua sudah diikat, Endra menanyakan keberadaan Anton dan juga Naina, tetapi tidak ada yang menjawab nya, hingga terdengar bunyi tembakan dan sebuah teriakan keras, ternyata kemarahan Endra sudah sangat memuncak, dia tidak bisa membuang-buang waktu lebih lama lagi.


"Cepat katakan, atau bukan kaki mu yang aku habisi,, melainkan nyawa kalian semua!!" teriak Endra


Ningsih ketakutan dan masih terus menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Suseno, entah kenapa Suseno pun tidak menolaknya dan malah memeluknya seolah menenangkan Ningsih.


"Kami tidak tau, karena kami berbeda tujuan, memang seperti itu rencananya, kami tidak tahu dimana keberadaannya saat ini" jawab salah seorang dari mereka, mendengar jawaban itu membuat amarah Endra semakin berkobar dan dengan membabi buta menembaki kaki para anak buah Anton, Suseno membawa Ningsih untuk berlindung dibalik pilar lalu dengan cepat dia berlari ke arah Endra dan mengambil senjata api yang dipegang oleh sahabat sekaligus atasannya itu.


"Endra sadar, dan tenangkan dirimu,, kamu pasti tidak mau menjadi pembunuh dan menghabiskan seluruh hidupmu dipenjara!!"


Suseno lalu meminta para pengawal nya untuk memanggil medis dan polisi, mereka tidak boleh membiarkan dan meninggalkan orang yang terluka walaupun itu pantas untuk mereka.


Mereka lalu pergi dari sana untuk terus mencari keberadaan Naina, Ningsih bersikeras untuk ikut dalam mencari keberadaan kakaknya, tetapi Suseno melarang nya karena itu sangat berbahaya, mereka mengantarkan Ningsih ke rumah sakit dimana papa Yanto dan mama Nimah berada.


"Nona akan baik-baik saja disini dan jangan khawatir karena kami akan terus mencari keberadaan Naina, sekarang cepat keruangan orang tua nona" Suseno lalu mengantarkan Ningsih sampai depan pintu masuk rumah sakit, dan meminta salah satu pengawal untuk menjaga Ningsih.


Endra mengamuk di dalam mobilnya, dia merasa sangat frustasi karena Naina belum juga ditemukan sementara hari sudah semakin sore dan menjelang malam.


Suseno masuk ke dalam mobil dan melihat Endra yang masih saja mengamuk dengan meninju kursi jok didepan nya, Suseno hanya bisa menghela nafas, dia sudah sangat lama tidak melihat Endra semarah ini, Suseno hanya ingat saat mereka baru bertemu, Endra mengamuk melihat kucing peliharaannya mati karena tanpa sengaja tertabrak mobil ayahnya saat akan berangkat bekerja, kesalahan bukan pada Rayhan karena dia juga tidak menyadari adanya kucing dibawah mobilnya.


Suseno ingat, saat itu Endra hampir seminggu marah pada ayahnya, tetapi semenjak tragedi penculikan terhadapnya, Endra tidak lagi menunjukkan ekspresi apapun, dia hanya selalu menurut dan menutup diri, dia sangat dingin dan seperti robot tanpa perasaan.


Ada rasa bahagia melihat Endra yang terus-menerus mulai membuka hatinya dan berperilaku layaknya manusia biasa, tetapi melihat kondisinya sekarang, membuat Suseno sangat prihatin melihat sahabatnya itu, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Endra kalau sampai terjadi sesuatu pada Naina.


Ddeeerrrrtttt ddeeerrrrtttt


Ponsel Suseno bergetar, dengan cepat dia mengangkat panggilan telepon itu,

__ADS_1


"Aaappaaa??!!"


__ADS_2