
Rania pamit pulang karena dia mendapat telepon kalau suaminya telah datang dari luar negeri, karena sebentar lagi acara pernikahan Endra dan Naina pasti dilaksanakan.
"Aku sudah memilih baju untuk semua undangan, dan kak Endra juga sudah menyiapkan segalanya, jadi kamu hanya perlu menyiapkan dirimu, ingat Nai,, kakakku tidak pernah bermain-main dengan mu, dia sangat serius dan sangat menyayangimu, hilangkan semua keraguan dalam hatimu, aku pulang dulu, semua makanan yang aku bawa, karena kamu tidak boleh memakan nya, berikan saja pada para pelayan, bye Naina,, mungkin kamu tidak tau tapi 3 hari lagi yaitu tepatnya hari minggu, acara pernikahan kamu akan dilaksanakan, jagalah kesehatanmu"
Rania langsung pergi dan tidak menjawab apapun lagi pertanyaan dari Naina, setelah kepergian Rania, akhirnya Naina memberanikan diri untuk menelepon Endra.
"Kamu tidak mengatakan pernikahan kita akan dilaksanakan pada hari minggu ini?? bukankah kita belum mempersiapkan segalanya" ujar Naina setelah telepon dari nya diangkat oleh Endra.
"Semua sudah siap"
"Keluarga ku bahkan belum tau"
"Sudah tau,, aku bilang sudah mempersiapkan segalanya, maaf sayang,, aku sedang rapat, aku akan segera pulang kalau kamu begitu merindukan diriku bahkan sampai menelepon ku"
"Bukan itu maksud aku menelepon mu,,,,"
Tut tut tut.
Panggilan telepon itu terputus secara sepihak oleh Endra, Naina geregetan dan menggigit ponselnya, tiba-tiba dia kaget karena ponselnya bergetar kembali dan terdengar bunyi pesan.
"Jangan gigit ponsel, gigit saja aku saat nanti pulang, bersabarlah sebentar lagi"
"Dasar gila" gumam Naina lalu dengan cepat masuk kedalam kamar karena dia menyadari bahwa diruang tamu itu terpasang kamera CCTV.
Di sebuah ruang rapat, Endra tersenyum simpul melihat kelakuan Naina, dia memang sedang rapat, tetapi dia juga sambil melihat Naina yang sedari tadi berada di ruang tamu bersama Rania, terlihat di layar laptopnya.
"Selain begitu cantik, dia sangat imut juga" gumam Endra membuat para bawahannya yang sedang rapat bersama, menjadi kebingungan.
Endra dengan cepat pulang kerumahnya setelah selesai rapat, dia tidak langsung menuju kamar Naina tetapi ke kamar tamu yang dia tempati karena Naina belum mau satu kamar, Endra membersihkan diri dengan mandi lalu berganti baju sebelum masuk ke dalam kamar Naina.
Naina sendiri sudah mandi dan dengan asyiknya bermain ponselnya dengan mengedit foto-foto dirinya dengan anak-anaknya, Naina tidak mendengar saat Endra masuk kedalam kamar dengan perlahan karena ponselnya bervolume besar dengan lagu-lagu untuk mengedit foto-fotonya.
"Kenapa tidak ada aku??!" tanya Endra karena fotonya tidak dimasukkan dalam editan foto Naina dengan anak-anaknya, Naina kaget karena Endra yang sudah berada di belakang sofa yang dia duduki, Naina langsung menoleh dan dengan gerakan cepat Endra langsung merebut ponsel Naina.
"Kembalikan!" ujar Naina keras.
Endra sibuk dengan ponsel Naina, entah apa yang dia cari dan dia lakukan, dengan tubuh tinggi dan tangan kekarnya, dia bisa menghalau Naina yang ingin merebut kembali ponselnya.
Setelah cukup lama, akhirnya Endra mengembalikan ponsel Naina, dan betapa kagetnya Naina saat melihat ponselnya, dari mulai wallpaper ponsel nya sampai foto profil akun media sosial, semua berganti foto dengan fotonya bersama Endra saat mereka kencan di mall waktu itu.
"Ini pasti akan menjadi keributan, kenapa kamu sembrono sekali??!" Naina kesal lalu berniat untuk kembali mengganti foto-foto itu lagi, tetapi Endra tidak mungkin membiarkannya, Endra lalu menggendong tubuh Naina dan melemparkan tubuhnya ke ranjang, tidak memberi kesempatan kepada Naina untuk bermain ponsel, dengan cepat Endra langsung menindih tubuh Naina yang terlentang, tidak membiarkan kekasihnya itu untuk bangkit kembali.
Endra langsung ******* habis bibir Naina, dia menahan kuat kedua tangan Naina diatas kepala dengan menggunakan satu tangannya, Naina tidak bisa melawan dan menerima perlakuan Endra, tidak lama dia juga membalas ciuman kekasihnya.
Karena Naina membalasnya, Endra melepaskan cengkeraman tangannya, Naina meremas lembut rambut Endra saat Endra menelusuri dadanya, Naina mencoba untuk memberanikan diri menerima apapun yang akan dilakukan oleh Endra, dia ingat ucapan Rania bahwa Endra pasti menderita selama ini.
__ADS_1
Naina sadar ini adalah kebutuhan Endra, dia ingat Endra yang selalu berjuang sendiri selama ini didalam kamar mandi.
"Aaaauuuuwwww aaakkkkkhhhh!!" Naina mencengkeram erat kepala Endra, saat bibir Endra telah sampai di area terdalam nya, badannya bergetar, dia sempat mengingat sekelebat bayangan Roni, tapi dia mencoba untuk menepisnya.
"Aaaaahhhhh!!" rintihan lolos dari bibir Naina, dia mencengkeram erat seprai saat merasakan terjangan kenikmatan yang diberikan oleh lidah Endra yang sedari tadi bermain di area terdalam miliknya.
Nafas Naina terdengar memburu dan matanya terpejam, dia masih menikmati sisa kenikmatan itu, Endra merangkak naik keatas tubuh Naina kembali.
"Kamu menginginkan diriku?" tanya Endra saat Naina membuka matanya, entah sejak kapan, Endra sudah tidak memakai celananya, Naina merasakan benda tumpul tapi keras itu menggesek pahanya, Naina menggelinjang kegelian, tetapi saat Endra mendekatkan benda itu ke miliknya, Naina mendorong tubuh Endra dan kembali histeris, Naina menangis dengan terus menggelengkan kepalanya.
Endra kembali kecewa dan harus kembali berjuang menjinakkan pedangnya sendirian didalam kamar mandi, dia tidak mungkin tega untuk memaksa kekasih hatinya, Naina kembali membenarkan rambut dan juga memakai roknya yang berada dilantai.
Cukup lama Naina menunggu ditepi ranjang, hingga akhirnya Endra keluar dari kamar mandi, Naina meminta maaf kepada Endra, dengan menundukkan wajahnya karena merasa bersalah, Naina memegangi lengan kanan Endra.
"Tidak apa-apa, ayo kita makan malam" ajak Endra dengan melepaskan pegangan tangan Naina dan bergegas keluar dari kamar.
Makan malam itu terasa mencekam karena mereka saling diam, Naina tidak berani mengatakan apapun karena sadar kalau kekasihnya itu sedang kecewa terhadap dirinya, setelah makan malam mereka selesai, Endra menyuruh Naina untuk segera pergi tidur, Endra sendiri masuk kedalam kamarnya.
Naina tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa dia bisa seperti ini, bukankah dia wanita kuat, tetapi kenapa dia harus merasa trauma dengan perlakuan Roni dahulu, Naina terus menguatkan hatinya bahwa Endra berbeda dengan Roni.
Pagi hari nya, Naina bangun dan berniat membuat sarapan pagi untuk Endra, tetapi bi Wulan memberi tahu bahwa Endra sudah berangkat untuk bekerja, dan meminta kepada Naina untuk nanti malam tidak menunggunya, karena Endra akan bekerja keluar kota dan menginap.
"Den Endra akan menginap, hari ini juga keluarga nona akan datang kemari dan menginap disini sampai acara pernikahan, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan oleh den Endra, tetapi sehari sebelum pernikahan, den Endra berjanji akan kembali"
"Kenapa tidak membangunkan diriku" batin Naina, lalu mengucapkan terima kasih kepada bi Wulan atas informasinya, Naina berniat menelepon Endra, tetapi dia ingat dengan kekecewaan Endra padanya tadi malam.
Setelah hari yang membosankan bagi Naina karena dia tidak bisa melakukan apapun dirumah, akhirnya sore telah tiba dan keluarganya serta keluarga Rayhan telah datang, mereka semua berkumpul untuk hari bahagia anak-anak mereka.
"Deva dan Yaya akan datang di hari H, karena saat ini mereka tidak bisa libur" ujar mama Nimah.
"Kakak, rumah mu sangat besar, kak Endra berkata pada mama bahwa ini dibeli dengan uang kalian berdua, tetapi untuk rumah sebesar dan semewah ini, untuk dibeli patungan berdua juga tetap saja seorangnya harus mempunyai banyak uang, kakak ternyata banyak sekali uang" seloroh Ningsih.
"Tidak, aku mana mungkin punya uang sebanyak itu, ini murni rumah Endra" bantah Naina.
"Sudahlah, untuk saat ini jangan membicarakan tentang masalah itu, bagaimanapun juga ini adalah rumah Naina" ujar Rania yang datang dari dapur setelah menyerahkan berbagai belanjanya pada para pelayan untuk disimpan di kulkas.
"Naina, ayo kita perawatan di kamar, aku tau kalau kamu sudah sangat cantik, tapi tidak ada salahnya untuk sekedar maskeran bersama, apa Ningsih mau ikut?" ujar Rania melihat bergantian kearah Naina dan Ningsih.
"Tidak,,, aku harus mengasuh Alfin karena mama harus mempersiapkan baju-baju untuk para keluarga sebagai pager ayu" jawab Ningsih yang terlihat sangat letih karena harus mengasuh bayinya, dia ibu muda yang belum banyak pengalaman dalam mengasuh anak, jadi dia merasa sedikit kewalahan.
Naina melihat kedatangan Suseno dan juga Reynolds, dengan cepat Naina mendekati Suseno dan menanyakan keberadaan Endra.
"Endra sedang konsultasi ke dokter karena,, aaauuuuwwww!!!" Suseno berteriak karena kakinya di injak oleh Reynolds.
"Maaf nona, maksud Seno adalah,, tuan Endra berada di kantor di luar kota karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditunda dan tidak bisa diwakilkan, tuan Endra sedang konsultasi mengenai sesuatu atau lebih tepatnya negosiasi dengan klien penting, sepertinya Seno tadi salah ucap,, itulah kenapa kami ada disini untuk mempersiapkan segalanya, sebenarnya pernikahan sudah di serahkan semuanya kepada para WO di hotel, tetapi dirumah ini juga harus melakukan persiapan, nona lebih baik banyak beristirahat, aku khawatir nona tidak akan bisa tidur nyenyak lagi setelah hari pernikahan nona" Reynolds menjelaskan dengan sedikit candaan di akhir kalimat nya.
__ADS_1
Naina tidak terlalu menanggapi candaan dari Reynolds karena dia sangat galau, Naina sangat sadar kalau Endra sedang sangat kecewa padanya, Rania melihat kesedihan di wajah Naina, lalu dengan cepat menarik tangan Naina untuk menuju kedalam kamar.
"Naina, mungkin ini sangat pribadi, tetapi,,"
"Apa Endra juga menceritakan tentang masalah itu padamu??" tanya Naina kaget, dia menyadari apa yang akan ditanyakan oleh Rania.
"Tentu saja tidak, aku mendengar dari dokter pribadinya, kebetulan dokter itu adalah sahabatku semasa aku kuliah dulu, kamu pasti tau tentang kondisi kak Endra dahulu, kasarnya memang dia dulu adalah pria impoten, jadi dia terus berkonsultasi dengan dokter untuk menangani masalah nya, dia selalu merasa menjadi lelaki yang tidak berguna, berbagai macam cara telah dilakukan nya bahkan harus melenceng dari norma sosial, dia terus melakukan apa yang diminta oleh mantan istri nya yang gila itu"
"Kenapa Endra tidak melawan dan mengikuti keinginan dan rencana Intan kalau memang dia tidak ingin?" tanya Naina heran.
"Itu karena orang tuanya, atau lebih tepatnya mamanya, kak Endra menyembunyikan kondisinya pada kedua orang tuanya jadi dia terus melakukan keinginan Intan karena takut Intan mengatakan kondisi nya pada orang tuanya,,, ahh sudahlah,,, hal sedih tidak perlu diceritakan kembali" ucap Rania lalu memegangi kedua lengan Naina, seperti seorang kakak memberikan penjelasan kepada adiknya supaya adiknya cepat mengerti.
"Kakak begitu bahagia saat menyadari ternyata kakak bisa normal kembali, tetapi tadi aku mendengar dari sahabat ku yang merupakan dokter pribadi kakak dulu, sahabatku itu mengatakan apa yang terjadi padamu, sebenarnya ada apa Naina?" tanya Rania pelan, dia tidak mau mengintimidasi Naina.
Akhirnya Naina menceritakan apa yang dia rasakan, dia begitu ketakutan saat Endra akan melakukan hal itu karena Naina terus mengingat saat mantan suaminya melakukan kekerasan terhadap dirinya dahulu.
"Entah kenapa, wajah menyeramkan nya, dan perlakuan kasar nya terus terbayang saat Endra akan,,,, hiikkksss" Naina tidak kuasa menahan air matanya dan tidak sanggup melanjutkan penjelasannya, Rania sadar dan akhirnya mengerti dengan apa yang terjadi pada Naina, dengan lembut lalu Rania memeluk Naina untuk menenangkan nya.
"Sudah jangan diteruskan, dan maafkan aku karena menanyakan tentang masalah ini, sekarang aku sudah mengerti, sudah lah tenang Naina, matamu akan membengkak nantinya, kamu tidak mau kalau sampai matamu membengkak kan pastinya, nanti kamu akan dikira pengantin yang dipaksa menikah oleh tuan jahat dan kejam atau orang akan mengira bahwa kamu dijual oleh keluargamu untuk menebus hutang"
Rania menghapus air mata Naina dan mengajaknya bercanda, Naina sangat senang, dia seolah melihat Tari didalam diri Rania, mereka lalu maskeran bersama dan bercerita ringan layaknya seorang sahabat atau adik kakak saat bersama.
"Setelah pernikahan kalian, aku akan langsung kembali ke luar negeri, sudah terlalu lama aku berada disini, kalian hiduplah bahagia dan jangan lupa sering mengunjungi ku" ujar Rania membuat Naina kembali bersedih karena merasa ditinggalkan oleh orang yang memahaminya.
"Ini supaya kamu bisa sering menjengukku kesana, nanti disana aku akan mengajakmu bermain, kita bisa melakukan hal ini lagi secepatnya" Rania mengusap lembut bahu Naina, mereka menyelesaikan urusan mereka lalu bersiap untuk makan malam.
Endra sudah kembali tepat sehari sebelum pernikahannya tetapi dia masih menjaga jarak dengan Naina, melihat kekasihnya yang masih seperti itu, Naina menyadari Endra yang masih kecewa padanya.
Acara pernikahan Endra dan Naina akan segera dilaksanakan tetapi bahkan Naina belum ada kesempatan untuk berbicara dengan Endra, saat Naina memasuki ruangan tempat pernikahan nya, semua takjub melihat kearah Naina yang bagaikan seorang bidadari, terlihat sangat cantik dan anggun dengan baju pengantin berwarna putih yang dia kenakan.
Tidak terkecuali dengan Endra yang sangat bahagia melihat calon istrinya tersebut, mereka saling berpandangan dan tersenyum, hati Naina merasa tenang karena lelaki yang beberapa saat lagi akan sah menjadi suaminya itu telah kembali tersenyum penuh cinta padanya.
Acara pernikahan berjalan dengan lancar, Endra dan Naina sekarang sudah sah sebagai suami istri, mereka tidak langsung pulang karena akan menginap di hotel tempat pernikahan mereka.
Setelah meminta izin kepada para keluarga yang akan segera pulang, Endra dan Naina memasuki sebuah kamar hotel yang sudah disulap sebagai kamar pengantin yang sangat mewah.
__ADS_1
Naina dan Endra membersihkan diri secara bergantian, mereka lalu duduk berdampingan di sebuah sofa, Naina merasa canggung lalu dia membuat alasan untuk melihat apakah keluarganya sudah pulang semua atau belum, Naina dengan cepat berjalan ke arah pintu keluar.