Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Naina Melawan Intan


__ADS_3

Naina kaget begitu sampai dikantornya, dia agak kesiangan datang ke salon kecantikannya karena tadi malam pulang agak larut malam dari kencan pertama nya dengan Endra.


Saat memasuki kantornya dia melihat banyak paper bag layak nya sehabis belanja, tetapi dia tidak tau itu milik siapa, tidak mungkin milik karyawan-karyawan nya karena ada diatas mejanya,


Naina memeriksa isi paper bag itu dan dia seperti familiar dengan isi didalamnya, Naina menemukan kartu ucapan didalam nya, dia tersenyum membacanya.


💌"Terimakasih untuk kencan pertama kita, sungguh malam yang luar biasa, bisa tolong ajak aku untuk berkencan lagi?? ayah pasti akan mengizinkan kalau kamu yang meminta izin, love you Naina💝"


Naina tertawa membacanya, isi dalam paper bag itu adalah tas yang tadi malam dia pegang, memang semua sesuai seleranya, tetapi tidak juga harus dibeli semua, saat membuka paper bag yang terakhir, Naina menemukan sebuah kartu ucapan lagi.


💌"Jangan sampai kamu mencoba untuk mengembalikan nya!!"


Sepertinya semalam Endra membeli semua itu saat dia meminta izin sebentar dengan alasan akan ke kamar mandi, dan memberikan alamat salon nya supaya tas itu langsung diantarkan tanpa perlu repot-repot membawanya.



"Apa ada hal bagus?" tanya Suseno saat dirumah Rayhan untuk menjemput Endra, karena hari ini mereka akan melakukan kerja sama dengan perusahaan lain jadi memilih menggunakan satu mobil yaitu mobil Suseno.



Endra terlihat terus tersenyum dan terlihat sangat riang, tidak seperti beberapa hari ini yang terlihat murung karena berusaha untuk menghindari Naina.



"Semalam untuk pertama kalinya dia pergi berkencan, dia menjadi seperti remaja yang lupa daratan, ayah sampai malu sendiri melihatnya" jawab Rayhan yang juga terus melihat kearah anaknya yang sedang sarapan sebelum berangkat bekerja.



"Bibi,,,!!" panggil Endra dan tidak memperdulikan perkataan ayahnya, bi Yeni lalu datang dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh Endra.



"Bibi bisakah memasak untuk ku seperti masakan Naina? aku tidak tau namanya, tetapi itu daun hijau panjang-panjang, lalu ada ikan tetapi sangat asin sekali saat dimakan begitu saja, tapi saat dimakan bersama nasi hangat dan sambal, terasa sangat nikmat"



"Apa ya tuan muda, saya tidak mengerti,, apa nona Naina masak keasinan karena ingin kawin?" tanya bibi, entah serius atau hanya sekedar bercanda.



"Apa maksud bibi!!" Endra kaget dengan ucapan bi Yeni.



"Mitosnya kalau orang masak keasinan itu karena kebelet kawin, dan bagi yang sudah menikah, masak keasinan diartikan dia ingin anu itu,,," bi Yeni bingung sendiri menyelesaikan ucapannya, sementara Rayhan dan Suseno hanya menahan senyumannya karena Endra menganggap serius candaan dari bi Yeni.



"Tidak mungkin Naina mau itu, karena setelah makan malam itu, dia bahkan menangis saat mau aku kasih" batin Endra lalu menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.



"Bibi hanya bercanda Endra,, mending kamu minta Naina untuk membuatnya lagi untuk mu, kenapa juga meminta pada bibi, kalaupun bibi tau masakan apa yang kamu maksud, tetap saja rasanya tidak akan sama seperti buatannya, karena ayah yakin kalau Naina memasak untuk mu dengan ditaburi bumbu yang hanya dia yang memiliki, yaitu bumbu cinta" ujar Rayhan dengan melankolisnya sambil mengingat kembali masakan istrinya dulu.



"Ayah jadi merindukan sambal buatan mamamu" ujar Rayhan menjadi terlihat sedikit sedih, Endra yang melihatnya menjadi merasa bersalah, karena dia yang awalnya membicarakan tentang masakan.



"Sudahlah, nanti ayah akan menelepon Naina untuk memasak juga untuk ayah, sekarang kamu cepatlah pergi bekerja"



"Ayah,,, masakan Naina hanya untukku"



"Aku ini ayahnya, sementara kamu ini siapanya?"



"Aku adalah kekasihnya"


__ADS_1


Suseno menggaruk keningnya melihat tingkah ayah dan anak yang berada didepan nya, tetapi dihatinya dia sangat bahagia, karena kehadiran Naina bisa merubah suasana rumah yang awalnya kaku menjadi lebih berwarna.



Endra dan Suseno lalu berangkat bekerja, dan untuk memberikan kejutan pada Endra supaya lebih bersemangat lagi, Suseno memberi tahukan bahwa akta cerai Endra akan segera keluar, jadi Endra bisa secepatnya menikahi Naina.



Benar saja, Endra menjadi semakin bersemangat untuk bekerja, perusahaan nya memang masih baru karena dia telah merelakan sepenuhnya perusahaan nya yang lama pada pihak keluarga Intan, tetapi Endra tidak terlalu kesulitan untuk mengembangkan dan memajukan perusahaannya karena dia sudah memiliki banyak kolega.



"Endra, perusahaan saingan kita kali ini adalah perusahaan Intan, apa kamu siap?"



"Kita harus mencobanya terlebih dahulu karena kita tidak tau kalau belum mencoba, kalau kita bisa mendapatkan kontrak kerja sama ini, sudah bisa dipastikan perusahaan kita akan semakin terkenal tidak kalah dengan perusahaan lama"



Endra terus melihat berkas pekerjaannya, dia sudah merasa semua nya telah memenuhi kriteria bagi perusahaan yang akan dia ajak untuk bekerja sama.



Endra masuk kedalam ruangan rapat dan didalam ruangan itu sudah duduk Intan dan ibu Romlah, Endra bersikap profesional dengan membungkukkan badannya memberi salam pada semua orang yang berada di dalam ruangan rapat itu.



Perusahaan Endra sebenarnya lebih unggul, tetapi pemimpin rapat itu sepertinya lebih condong ke Intan yang dari awal berusaha menggoda nya, Intan berpakaian rapi dengan jas formal nya tetapi dalaman bajunya sangat rendah hingga hampir memperlihatkan separuh dari dadanya, hingga membuat pimpinan rapat tidak bisa berpaling darinya.



Endra menyadari bahwa dia sepertinya akan kalah karena pimpinan rapat yang hanya focus pada Intan, hingga saat putusan akhir akan ditentukan, datang lah CEO yang sebenarnya dari perusahaan itu dan mengambil alih rapat itu.



Setelah CEO itu melihat semua berkas proposal dari kedua pihak perusahaan yang mengajukan kontrak kerja sama, akhirnya Endra yang bisa mendapatkan nya, CEO itu awalnya menyerahkan segalanya kepada bawahannya, tetapi tanpa sengaja saat CEO perusahaan besar itu akan pergi untuk pekerjaan lain, dia melihat Intan dan bawahannya itu melakukan tindakan kotor didalam kantor, Intan tanpa rasa malu menyerahkan lubang nya untuk dikunjungi burung sang bawahan CEO.




"Endra Prasetya, selamat bergabung dengan perusahaan kami, semoga perusahaan kita bisa saling menguntungkan" CEO itu menyalami Endra, dan saat akan menyalami Intan, terlihat Intan dengan congkaknya menolak dan langsung pergi begitu saja setelah memberikan tatapan sinis pada Endra dan CEO.



Melihat hal itu sang CEO menjadi lega karena dia tidak salah pilih, kalau sampai tadi dia tidak datang, perusahaannya harus bekerja sama dengan Intan yang sangat minim moral dan etika, CEO yang terlihat sudah berumur walau belum setua Rayhan itu lalu mengajak Endra untuk mengobrol sebentar.



"Nak Endra, apa benar nak Endra ini adalah anak dari tuan Rayhan? saya melihat nama panjang nak Endra di kontak dan seperti familiar dengan nama itu"



"Iya tuan, saya adalah anak dari Rayhan Prasetya"



"Bagaimana kabar ayahmu? aku telah lama tinggal diluar negeri, saat itu sepertinya kamu masih SMA, anak pendiam dan dingin yang tidak pernah menyapa orang lain, mungkin kamu melupakan diriku, tetapi aku sering ke rumah mu untuk sekedar meminta saran pada ayahmu yang sangat jago berbisnis"



"Maafkan atas kesalahan-kesalahan saya dimasa lalu" ucap Endra, tetapi CEO itu menepuk pundak Endra.



"Tidak apa-apa, saat itu kamu masih sangat muda, baiklah nak Endra, bekerja keraslah" CEO itu lalu keluar ruangan terlebih dahulu, Endra menghembuskan nafas lega, dia lalu high five dengan Suseno, mereka lega karena dengan ini, perusahaan mereka pasti akan cepat maju.



Naina bersiap untuk melakukan perawatan kepada pelanggannya yang meminta hanya dia yang melayaninya, padahal hari sudah memasuki malam dan dia awalnya ingin pulang lebih cepat, tetapi karena pelanggan itu pelanggan VVIP baru yang harus dia kasih pelayanan terbaik supaya tidak pindah ke salon lain, akhirnya Naina mengurungkan niatnya untuk pulang.


Naina masuk kedalam ruangan dengan senyuman ramah, tetapi betapa kagetnya dia karena yang telah menunggunya adalah Intan yang ternyata menggunakan nama orang lain.


"Apa kamu bangga karena bisa merebut suami orang? sungguh hina sekali dirimu, awalnya saja sok menolak tetapi pada akhirnya kamu menempel juga padanya, apa kamu tidak jijik padanya karena dia telah bercumbu dengan ratusan wanita panggilan yang masuk ke dalam kamar gila itu?" Intan langsung menghina dan memprovokasi Naina begitu melihat Naina masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Lalu nyonya sendiri, ah maaf, anda bukan nyonya lagi karena aku tau bahwa kalian sudah bercerai, kamu sendiri kenapa membiarkan nya bersama wanita lain, bahkan sepertinya kamu yang selalu membawa para wanita itu? apa karena kamu tidak mampu? kamu bilang kalau Endra itu lelaki tidak berguna, apa maksudmu dengan tidak berguna? apakah karena dia seperti katamu dulu, lelaki impoten?"


"Memang dia seperti itu"


"Tidak benar,,, karena miliknya berfungsi dengan sempurna saat bersamaku"


Intan kesal karena Naina sudah mengetahui hal itu, dan lebih kesal karena ternyata hal itu bukan hanya sementara waktu itu saja, tadinya Intan pikir saat itu Naina hanya sedang beruntung, tetapi sampai sekarang ternyata Endra tetap bisa menjadi pria normal saat bersama Naina.


Intan lalu mendekati Naina dan menamparnya, walaupun itu tamparan keras yang Naina terima untuk yang kesekian kalinya dari Intan, tapi dia masih berusaha untuk tidak membalas.


"Wanita lemah seperti dirimu tidak pantas untuk Endra, hanya aku yang pantas untuknya!!" Intan histeris dan hendak memukul Naina kembali, tetapi kali ini Naina membalas dengan menahan tangan Intan dan menghempaskan tubuh Intan hingga tersungkur, pintu dibuka secara paksa karena terdengar jeritan dari luar dan masuklah Endra dengan wajah paniknya.


"lihatlah wanita kasar ini Endra, kamu tidak pantas untuknya, untung saja aku bisa mengetahuinya dari awal" Intan berteriak dan memegangi kakinya, Endra mendekati Intan dan melewati Naina lalu berjongkok di depan Intan.


"Apa dia menyakitimu? apa dia sangat kasar padamu?" tanya Endra, Intan mengangguk lalu memeganginya tangan Endra, tetapi dengan cepat Endra menarik tangannya dan menghempaskan tubuh Intan, hingga Intan yang awalnya telah berlutut untuk memegang tangan Endra, kembali terhempas ke belakang, Endra langsung bangkit dan berjalan mendekati Naina lalu memeriksa wanita yang dicintainya itu.


"Apa dia menyakitimu lagi, apa aku perlu membalasnya untukmu?" Endra terus memeriksa waja Naina.


"Tidak perlu, ini urusan wanita, lagipula aku bisa mengurusnya sendiri seperti yang kamu lihat"


"Cepat enyahlah dari sini dan jangan pernah kembali lagi, lalu jangan pula kamu berani menunjukkan batang hidungmu didepan kami lagi!!" teriak Endra pada Intan, dan dengan marah Intan pergi dari sana, setelah kepergian Intan, Endra kembali memeriksa kondisi Naina.


"Yakin kamu tidak apa-apa?"


"Sangat yakin, kalau kamu tidak masuk, mungkin dia tidak bisa berjalan sendiri keluar dari sini" jawab Naina tersenyum lalu mengecup bibir Endra sekilas.


"Apa kekasih ku ini begitu menyeramkan dan mampu melakukan hal itu?" tanya Endra lalu mengangkat tubuh Naina keatas meja, Endra membelai lembut rambut Naina.


"Tentu saja, aku ini kan preman, bukankah kamu pernah melihat seorang gadis kecil menyelamatkan seorang pria, kalau saat kecil saja dia seberani itu, lalu kamu pikir bagaimana sekarang?? apa kamu akan kabur setelah mengetahuinya?"


Endra tertawa lalu mengecup bibir Naina,


"Coba tunjukkan seberapa menyeramkan nya dirimu padaku? sungguh aku tidak sabar melihatnya" Endra menggoda Naina.


"Kamu yakin??" tanya Naina yang langsung menyambar bibir Endra dan melingkarkan tangannya pada belakang leher Endra, setelah beberapa lama, Endra melepaskan ciuman itu membuat Naina bingung, karena biasanya Endra tidak mau lepas dari ciumannya kalau belum puas dan itu bisa sangat lama.


"Kamu memang sangat menyeramkan, jadi aku harus segera berlari menyiapkan pernikahan kita, sayang,,, akta perceraian ku sudah muncul dan hanya tinggal menunggu versi cetaknya, jadi kita bisa menyiapkan pernikahan dari sekarang, aku tidak mau mendengar alasan kamu belum siap atau apapun itu, karena pernikahan harus segera dilaksanakan"


"Kenapa harus buru-buru?"


"Itu karena kamu sangat menyeramkan, kamu selalu membuatku bergairah dan memicu hasrat ku, lalu kamu juga selalu berhasil membangunkan milikku saat kita bersentuhan, tetapi begitu menyeramkan nya hal itu karena kamu tidak mau bertanggung jawab" batin Endra lalu menurunkan Naina dari meja.


"Pokoknya kita akan menikah secepatnya, kamu tidak perlu menyiapkan apapun, cukup persiapkan dirimu" bisik Endra membuat Naina geli karena Endra melakukan hal itu tepat ditelinga nya, Naina mengingat pemberian tas dari Endra yang sangat banyak itu.


"Bisakah kita kembalikan sebagian, itu sungguh terlalu banyak"


"Tidak, pakai saja semua secara bergantian, atau aku akan membelikan tokonya untuk mu!"


"Apakah tuan Endra Prasetya yang terhormat ini selalu menggunakan kekayaannya untuk mendekati wanita"


"Aku tidak pernah mendekati wanita sebelum nya, apakah kamu keberatan?"


"Tentu tidak, aku malah merasa sangat terhormat, terimakasih tuan Endra, aku berjanji akan mencintaimu seumur hidupku" Naina menarik kerah kemeja Endra lalu mengecupnya, Naina malu lalu bersembunyi di dada Endra dan memeluk erat pria yang telah membuatnya jatuh cinta itu.


"Ulangi lagi perkataan mu tadi?"


"Aku mencintaimu"


"Lagi"


"Aku sangat mencintaimu"


"Lagi"


Naina tersenyum lalu memeluk tubuh Endra dengan semakin erat, dia tidak pernah menyangka dia akan begitu bucin pada Endra.


"Kamu telah banyak menderita, mulai sekarang aku akan berusaha membuat mu bahagia" batin Naina


Tadi Naina kedatangan Rania, setelah kejadian direstoran, baru kali ini mereka bertemu kembali, Rania menceritakan semua tentang Intan, bagaimana Intan telah begitu menyakiti Endra bahkan dari awal pernikahan mereka, Naina juga tau bahwa hanya dia yang dibawa Endra kedalam kamar gila itu, karena yang lainnya adalah pilihan Intan, dan dari awal Intan yang mempunyai ide itu, sementara Endra membawa Naina kesana karena begitu penasaran dengan Naina dan belum menyadari perasaannya pada Naina.


Naina terus mendekap erat tubuh Endra hingga tiba-tiba saja Endra melepaskan pelukan nya supaya bisa memandangi wajah Naina.


"Lagi, sekali lagi untuk saat ini" pinta Endra dan memegangi kedua pipi Naina dan mendekatkan wajahnya ke wajah Naina, supaya Endra bisa memandangi wajah Naina dengan lebih dekat.


"Aku,, Naina,,, sangatlah mencintai tuan Endra Prasetya, selalu dan selamanya!!" Endra tersenyum lebar mendengar nya lalu menciumi wajah Naina dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2