Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Sakit Parah


__ADS_3

Naina terdiam duduk diatas sofa menunggu kedatangan suaminya, Endra memang sudah memberitahu tadi pagi padanya bahwa dia akan pulang terlambat.


"Kenapa kamu menungguku disini? nanti kamu kedinginan" ucap Endra begitu sampai didalam rumah, Naina tidak menjawab apapun dan hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu sudah makan malam?" tanya Endra pada istrinya, dan Naina kembali hanya menggeleng.


"Kamu kenapa sayang? jangan membuat ku takut" Endra merasa aneh karena istrinya tidak bersuara dari tadi, Naina kembali menggeleng lalu bangkit dari duduknya dan menuju dapur.


"Sayang, kamu mau apa? ayo kita makan diluar, aku akan memesan tempat" Endra memeluk istrinya dari belakang.


"Aku tidak mau, perut ku sakit"


"Kamu sakit perut, ayo kita periksa" Endra terlihat khawatir, tetapi Naina kembali menggeleng dan mengatakan dia hanya sakit perut biasa.


"Aku akan membaik setelah beristirahat, sekarang ayo makan malam dulu"


"Kamu yakin?" tanya Endra masih terlihat cemas.


Naina mengangguk lalu melayani suaminya makan, mengambilkan nasi, sayur dan lauk pauk, tidak lupa Naina menyiapkan air minum untuk suaminya.


"Aku bisa sendiri, kamu istirahat saja dulu kalau tidak mau ke dokter"


"Tidak sesakit itu kok, cepat selesaikan makan mu" ujar Naina yang tentu saja di turuti oleh Endra, setelah selesai makan, Naina merapikan meja kembali walau sempat dilarang oleh Endra, tetapi Naina mengatakan kalau dia hanya merapikan saja, dan tidak akan mencuci piring.


Endra menemani istrinya, setelah semua selesai mereka lalu masuk kedalam kamar, Endra meminta pada istrinya untuk menemaninya mandi, tetapi Naina menolak dan mengatakan dia sudah mandi.


"Tidak perlu mandi lagi, seperti biasanya saja, kamu duduk diatas wastafel menungguku"


"Tidak sayang, perutku terasa tidak nyaman, besok kalau sudah tidak sakit, aku janji akan terus menemani setiap kamu mandi"


Endra kembali membujuk istrinya untuk memeriksa kan perut nya kalau memang sakit, tetapi Naina terus menolak, akhirnya Endra mandi sendiri dan meminta istrinya untuk menunggunya.


Naina memejamkan matanya karena merasa mengantuk saat menunggu suaminya, hingga dia dikagetkan dengan Endra yang hendak menindih tubuhnya, Naina mendorong tubuh Endra dengan pelan.


"Sayang, perutku sangat tidak nyaman"


"Sudah aku bilang ayo periksa, atau kamu mau aku memanggilkan dokter kemari?" tanya Endra lalu mengelus perut istrinya.


"Tidak perlu, ini hanya tidak nyaman sedikit saja, besok pasti membaik"


"Baiklah, sini aku peluk, ayo tidur" ada nada kecewa di suara Endra, Naina tersenyum simpul, suaminya itu pasti menginginkan jatah malam seperti biasanya, tetapi tidak berani meminta karena dari tadi dia mengeluh sakit perut, Naina lalu masuk kedalam pelukan suaminya.


"Kamu yakin sanggup menahannya?" tanya Naina.


"Menahan apa?" entah Endra tidak mengerti maksud Naina atau hanya pura-pura.


"Bisa lebih dari seminggu kita tidak bisa melakukan ritual malam seperti biasanya itu"


"Apa maksudmu? kenapa?? apa kamu bosan padaku? apa aku kurang memuaskan mu?" Endra mendekap erat tubuh Naina karena takut kalau apa yang dia tanyakan, jawabannya adalah iya.


Naina tersenyum, dia menciumi dada suaminya, tidak mungkin dia tidak puas, setiap malam saja dia dibuat terkapar oleh suaminya.


"Aku datang bulan"


Jawaban Naina mengagetkan Endra, karena tidak percaya dengan pendengarannya, Endra melepaskan ciumannya lalu mensejajarkan wajah mereka, Endra bertanya lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Endra, Naina menggeleng sambil tersenyum, dia lalu mencium pipi suaminya.


"Berarti kamu sudah normal, sudah sehat kembali?" Endra terus meyakinkan dirinya sendiri, Naina juga tidak kuasa menahan kebahagiaannya, Endra langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Tidurlah sayang, istirahat lah, apa kamu ingin sesuatu? coklat atau apa misalnya?" Endra terlihat sangat senang, tidak ada raut kecewa diwajahnya karena tidak mendapatkan jatah malam nya, bahkan mungkin untuk beberapa hari kedepan, Naina senang melihatnya, karena itu berarti bukan itu satu-satunya yang diinginkan oleh suaminya dari dirinya.


"Aku hanya ingin tidur di pelukanmu, rasanya hangat dan menenangkan" jawaban Naina sukses membuat Endra tersipu malu, dengan cepat dia memeluk istrinya, malam ini adalah malam pertama yang terdengar sepi ditengah malam, karena biasanya akan terdengar jeritan dan rintihan, tetapi walau begitu, atmosfer kebahagiaan sungguh sangat terasa.


Endra tidak bisa tidur, hatinya terus berdebar kencang, Naina sudah tidur didalam pelukannya, Endra terus memandangi wajah istrinya, dia sangat terharu dan dengan pelan terus menciumi kening istrinya yang terus ada dalam pelukannya.


"Terimakasih sayang, kamu telah berusaha selama ini, aku sungguh tidak sabar akan kedatangannya" batin Endra terus diliputi kebahagiaan.


Pagi harinya, Naina dikejutkan dengan banyaknya makanan yang ada di meja sebelah ranjang nya, Endra yang terus tersenyum dan sudah terlihat rapih duduk ditepi ranjang.


"Maaf aku kesiangan, apa sudah siap berangkat bekerja? aku akan siapkan kopi dulu sebentar" ujar Naina langsung berniat untuk turun dari ranjangnya.


"Tidak perlu sayang, kamu istirahatlah, aku bisa membuatnya sendiri, katakan padaku, apa yang bisa membuat dirimu nyaman, aku pasti akan mencarikan nya" Endra menahan Naina dan meminta istrinya tersebut untuk diam ditempatnya.


"Aku tidak sakit seperti itu, aku masih bisa kalau hanya membuat kopi, lagipula ini sudah sedikit membaik"


"Sayangku, istirahatlah,, aku akan berangkat bekerja, mulai hari ini aku berjanji untuk lebih cepat pulang, jangan lakukan apapun, diamlah dikamar dan terus beristirahat" Endra mencium kening Naina lalu segera bergegas pergi ke kantornya.

__ADS_1


Endra yang diliputi oleh kebahagiaan, terus tersenyum sesampainya di kantor, hingga membuat semua orang menjadi heran, bagi siapa saja yang mengenalnya dari dulu, itu pasti suatu keanehan, karena dulunya dia sangat cuek dan tidak memperdulikan sekitar, bahkan tidak terlihat mempunyai perasaan.


Endra yang terus bersiul masuk kedalam ruangan nya, Suseno terbengong-bengong melihat atasannya yang juga sahabatnya itu, Suseno yang sedang minum kopi tiba-tiba tersedak saat Endra membuka layar laptopnya dan membuka sebuah marketplace, dan melihat-lihat barang-barang ibu hamil dan bayi.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Suseno.


"Aku mau berbelanja"


"Apa kamu tidak salah membuka toko?"


"Tidak, ini sudah sangat benar"


"Apa kamu yakin?"


"Sangat yakin sekali, aku tidak sabar dengan kedatangan nya"


"Berapa bulan sekarang?"


"Apa maksudmu berapa bulan? dia belum lahir"


"Iya aku tau, berapa bulan usia kandungan Naina? kenapa kamu sudah heboh mau belanja, terakhir aku melihat nya, dia masih seperti biasanya, tidak seperti wanita yang sedang hamil"


"Memang dia belum hamil" jawab Endra santai, sambil terus melihat kearah layar laptopnya yang memperlihatkan baju-baju bayi yang lucu.


"Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya Suseno heran.


"Naina sudah datang bulan, jadi pasti tidak lama lagi dia akan mengandung, bersiap lah menjadi paman, aku yakin dia akan menyukaimu, karena kamu adalah lelaki yang cool seperti kata Naina" ujar Endra masih menyimpan rasa kecemburuan saat Naina memuji Suseno.


"Apa maksudmu?" Suseno kembali dibuat heran oleh tingkah Endra, tetapi lelaki dewasa itu tidak lagi memperdulikan nya dan terus asyik berbelanja barang yang sebenarnya belum dibutuhkan itu.


Endra meminta pada Suseno untuk mengatur kan cuti untuknya minggu depan, kalau ada pekerjaan penting, lebih baik dimajukan saja, minggu ini selama Naina sedang datang bulan, Endra akan bekerja lebih keras, sehingga melupakan hasratnya pada istri cantiknya yang sedang tidak bisa dia sentuh itu.


Endra bertekad untuk menyelesaikan pekerjaan sebanyak-banyaknya supaya dia bisa libur panjang nantinya, Suseno yang melihatnya ikut bahagia, dia tidak menyangka kalau Endra akan mengalami hari seperti sekarang ini, Endra yang tidak pernah menunjukkan perasaannya, dan hanya selalu bekerja dan selalu menjadi budak Intan, sekarang telah hidup bebas dan berbahagia.


Endra bekerja sambil terus melihat layar laptopnya, saat ini dia sudah tidak berbelanja lagi, tetapi dia terus melihat suasana rumahnya, hingga dia melihat Naina yang keluar dari dalam kamar, Endra langsung menelepon dan meminta Naina untuk kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Aku bosan di dalam kamar terus, aku akan mencari udara segar di kebun belakang, lagipula aku ini bukan pasien yang sedang sakit parah, kenapa aku harus terus berdiam didalam kamar?" Naina kesal karena suaminya terlalu berlebihan.


"Baiklah, tapi sebentar saja, dan jangan lupa minta pada bi Wulan untuk menemani dirimu, sudah dulu ya sayang, aku akan kembali bekerja, ingat perkataan ku, jangan melakukan apapun, dan segera kembali ke dalam kamar, oke?"


Naina mengiyakan perkataan suaminya supaya cepat, setelah menutup teleponnya, Naina lalu menuju ke kebun belakang, dimana disana sedang bermekaran bunga anggrek dan bunga kesukaannya.


"Kamu masih sangat mempesona, tunggulah aku sebentar lagi sayang, aku akan datang menjemputmu"




Ningsih mendapatkan kejutan dari Suseno, lelaki yang super sibuk dan cuek itu mengirimkan banyak kado untuk Ningsih dan Alfin, bahkan mama Nimah sampai bingung dengan banyaknya kado yang menumpuk di teras rumahnya.



"Ini seperti acara sesuatu, apa ini hari ulang tahunmu, atau ulang tahun Alfin? tapi seingat mama bukan" ujar mama Nimah, Ningsih tidak menjawab apapun, hanya membuka kado itu satu persatu.



Mama Nimah yang penasaran, ikut membuka salah satu kado sambil memangku Alfin, mama Nimah heboh karena kado yang dia buka adalah tas dengan merk mahal, dan itu sudah pasti adalah barang asli.



"Kamu sangat beruntung Ning, tidak kalah beruntung dari kakakmu, mama sangat bahagia dan lega sekarang, karena anak-anak mama menemukan jodoh yang bisa membahagiakan kalian, mama sangat setuju kamu menikah dengan nak Seno, mama berharap kalau kamu tidak akan pernah mengecewakan nak Seno, lihatlah ini semua, ini adalah tanda perhatian nya padamu dan Alfin" ujar mama Nimah sambil memperhatikan Alfin yang begitu senang mendapatkan banyak mainan.



Ningsih tidak menjawab apapun, ada rasa yang sedikit tidak enak dihatinya, rasa yang sepertinya tidak terlalu menyukai hal ini, entah rasa apa itu, tetapi dia tidak begitu bahagia mendapatkan ini semua.



Setelah semua kado terbuka, Ningsih merapikan semuanya, saat ada pesan di ponsel nya, Ningsih segera melihatnya, ternyata itu dari Reynolds, Ningsih berniat ingin segera membuka nya, tetapi diurungkan niatnya, karena dia mengingat bagaimana mama Nimah sangat menyukai Suseno.



"Jangan seperti anak remaja lagi Ning, kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu tidak perduli apa itu cinta, kamu hanya perlu lelaki yang bisa menjadi sosok ayah untuk Alfin, dan sekarang kamu sudah mendapatkan nya" batin Ningsih lalu kembali menyimpan ponselnya.



Ningsih menggendong anaknya lalu berniat untuk mengajaknya bermain ke rumah Naina, mama Nimah yang sedang tidak sibuk juga akan ikut, karena sudah lama dia tidak berjumpa dengan anak sulungnya itu.

__ADS_1



"Kakakmu sepertinya melupakan mama" ucap mama Nimah saat mereka diperjalanan.



"Tidak ma, kakak tidak mungkin seperti itu, kakak hanya sedang menyesuaikan diri dengan keluarga barunya, bukankah dulu lebih parah lagi saat kakak menikah dengan lelaki brengsek itu? kakak malah sering tanpa ada kabar, kalau saat ini, setiap minggu juga kakak mengirimkan sesuatu untuk mama dan papa" jawab Ningsih menenangkan mamanya, Ningsih tau kalau kakaknya sedang mempunyai permasalahan, walau kakaknya tidak bercerita, tetapi Ningsih bisa merasakannya.



Saat sampai dirumah Naina, mereka dikagetkan dengan perkataan pelayan yang mengatakan bahwa Naina sedang sakit dan berada di dalam kamar, mama Nimah tentu saja sangat khawatir dan berniat menerobos kamar anaknya, tetapi dihalangi oleh seorang pelayan.



"Maaf nyonya, tapi kami diminta untuk menjaga nona dengan baik, tidak membiarkan nona kecapean sedikitpun" ujar pelayan itu sambil terus menjaga pintu kamar.



"Naina sakit apa?, kenapa harus sampai seperti ini!?" mama Nimah tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir nya dan sedikit berteriak karena tidak bisa menemui anaknya, Ningsih juga tidak bisa melakukan apapun, dan hanya bisa menenangkan mama Nimah.



Saat mama Nimah dan Ningsih hendak pulang, Naina keluar dari dalam kamar karena dia mendengar keributan yang samar-samar, tadi dia sedang menonton televisi didalam kamarnya, jadi tidak terlalu mendengar suara mamanya.



"Mama,,, Ningsih,, kapan kalian datang?" tanya Naina dengan riang gembira dan langsung mendekati mama dan adiknya, pelayan yang menjaga pintunya tidak bisa banyak berbuat apa-apa, karena dia hanya diminta untuk menjaga pintu oleh bi Wulan, dan membiarkan Naina kalau keluar sendiri, asalkan terus dipantau untuk tidak melakukan apapun.



"Sayang, kamu sakit apa nak?" mama Nimah tidak kuasa menahan air matanya dan langsung memeriksa anaknya, dari depan ke belakang, dan terus memegangi pipi anak sulungnya itu.



"Apa yang sakit nak? katakan pada mama"



Naina bingung dengan situasi ini, karena dia tidak sakit apa-apa, dia benar-benar sangat sehat, Naina lalu menggendong Alfin, tapi tidak lama pelayan yang tadi menjaga pintu kamarnya mendekati Naina.



"Nona tidak boleh menggendong bayi, bi Wulan berpesan sebelum tadi berangkat untuk berbelanja bulanan, meminta pada saya untuk tidak membiarkan nona melakukan kegiatan apapun"



"Aku hanya mau menggendong keponakan ku saja, ini tidak berat, lihat saja badannya yang masih kecil ini" jawab Naina heran, dia sendiri juga tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.



"Kakak sebenarnya sakit apa? kenapa sampai seperti ini? apa itu sangat parah?" Ningsih mengambil kembali Alfin dari gendongan Naina, sementara mama Nimah semakin mengeraskan tangisannya karena sudah berfikir yang bukan-bukan.



"Aku tidak sakit, sebenarnya ada apa ini? siapa yang mengatakan aku sakit?" Naina kebingungan, dia juga menjadi sedikit panik melihat mamanya yang terus menangis memegangi lengannya.



"Kakak jangan menyembunyikan apapun lagi dariku, kakak sudah lama terlihat aneh, dari waktu itu aku tidak boleh datang, lalu kakak meminta vitamin, sebenarnya apa yang sedang terjadi kak? apa penyakit kakak separah itu?" tanya Ningsih.



"Aku tidak sakit, aku benar-benar dalam kondisi yang sangat baik" elak Naina.



Kring kring kring kring



Telfon rumah berbunyi, ada pelayan yang langsung mengangkatnya, dan tidak lama memberikan telefon itu pada Naina.



"Iya sayang?" jawab Naina, sepertinya yang menelfon adalah Endra.


__ADS_1


"Aaapppaa? jadi kamu?!" teriak Naina.


__ADS_2