
"Maaf"
Naina lalu mengatakan yang sebenarnya pada suaminya, bagaimana dia dulu selama beberapa tahun menggunakan suntik KB karena takut hamil, hingga membuat hormonnya tidak stabil.
"Besok kita periksakan ke dokter kandungan, sekalian konsultasi" ajak Endra, dia tidak mungkin memarahi istrinya, karena kejadian itu sudah lama dan Naina juga memiliki alasan kuat kenapa melakukan itu semua.
"Tidak bisakah kita menunggunya saja?"
"Sayang,,, memang kita hanya harus menunggu, tetapi kita bisa sambil berusaha untuk mencari tau kondisimu, apa kamu keberatan?" Endra membelai lembut rambut istrinya.
Naina menghentikan makannya, lalu melihat ke arah Endra, Naina menjadi sedikit mengingat ketakutannya.
"Bagaimana kalau aku tidak seperti yang kamu bayangkan?"
Endra tidak mengerti maksud pertanyaan istrinya, sementara Naina sepertinya masih ragu untuk menceritakan kepahitan hidup nya saat berumah tangga dengan Roni.
"Aku sudah melahirkan, kamu juga tau sendiri bahkan mengenal kedua anakku, bagaimana kalau aku tidak bisa mengandung lagi? kalau aku bisa mengandung dan melahirkan,, lalu bagaimana kalau anak itu tidak sesuai dengan keinginan mu?"
"Sayang,, aku bukan orang yang sama,,, percayalah padaku,, aku hanya berniat,,, baiklah,, kita tidak perlu memeriksa apapun, kita hanya harus terus berusaha, lagipula aku sangat senang saat melakukan usaha itu" Endra mencubit pipi istrinya untuk mencairkan suasana.
Naina mengerti bahwa suaminya pasti menginginkan anak dari darah dagingnya sendiri, walaupun memang Endra menyayangi Deva dan Yaya, bahkan juga sangat bertanggung jawab layaknya seperti anaknya sendiri, tetapi tetap saja tidak akan sama.
Endra sudah masuk di usia kepala empat, dia pasti sudah sangat berharap mempunyai anak, Naina lalu memakan buah-buahan yang ada dihadapannya dengan lahap, dia pikir dia akan cepat menormalkan kembali hormonnya dengan memakan makanan yang sehat.
"Apa mau aku ambilkan lagi? kamu sepertinya kelaparan?" tanya Endra, tetapi Naina menggelengkan kepalanya dengan pipinya yang masih menggembung karena sedang mengunyah buah pir.
"Besok aku mau ke toko bungaku ya sebentar" pinta Naina setelah selesai makan.
"Tidak,, itu milikmu atau kamu kerja disana?"
"Milikku,, aku kan mengambil semua tabunganku, aku pikir kamu tidak akan mencari diriku, jadi ya aku mencari tempat tinggal"
"Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?? kenapa aku tidak mencari mu, kamu itu kan istriku"
"Aku pikir,,"
"Apa?? apa yang kamu pikir?"
Naina diam tidak menjawab apapun lagi, melihat istrinya yang tidak memberikan penjelasan apapun, Endra lalu menggenggam kedua tangan Naina dan memaksa istrinya untuk melihat kearah nya.
"Iya benar aku mempunyai masa lalu yang kelam, itu tidak bisa dipungkiri, tetapi aku hanya ingin kamu tau, tidak ada niatan dihatiku untuk berpaling darimu, entah apapun itu alasannya, aku tidak akan munafik dengan mengatakan ini bukan karena kamu yang bisa membuatku normal, tentu saja hal itu juga menjadi salah satu alasan, tetapi itu bukan alasan utamanya aku selalu menempel padamu dan terus memaksamu, aku menyukaimu tanpa sadar hingga aku membawamu ke kamar gila itu, bahkan saat itu aku tidak menyadari bahwa aku menyukaimu" Endra berhenti sebentar lalu mengecup bibir Naina.
"Aku mencintaimu, ini perasaan yang baru buatku, jadi awalnya aku tidak menyadarinya, aku selalu berfikir kalau yang di inginkan wanita hanya sentuhan, karena semua wanita yang selama ini aku ketahui, hanya menginginkan itu dariku, jadi itulah alasan kenapa aku mendekati mu dengan cara itu, karena aku taunya cuma seperti itu, tentang perasaan, aku tidak terlalu paham, tetapi setelah mengenalmu, aku jadi tau segala perasaan" Endra kembali menghentikan penjelasannya dan kali ini dia mencium kedua telapak tangan Naina secara bergantian.
"Aku tau rasanya cinta, aku tau cemburu, aku juga tau ketakutan, iya benar,, aku selalu ketakutan, takut kamu meninggalkan diriku,,, aku benar-benar memohon padamu untuk jangan pernah meninggalkan diriku lagi"
"Aku hanya ingin menenangkan diriku dahulu, setelah aku tenang aku pasti akan menghadapi mu, untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya ingin menguatkan hatiku tentang masalah itu, aku berfikir kalau kamu benar-benar berhianat setelah melihat foto-foto itu, jadi aku tidak mau terlalu meledak diawal, lalu aku memilih pergi, setelah tenang akan dengan mudah membicarakan sesuatu, karena saat hati diliputi kemarahan itu tidak baik untuk membicarakan suatu masalah"
"Kenapa tidak mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu?"
"Aku melihat foto-foto itu, lalu kamu datang dengan baju acak-acakan dan leher penuh tanda merah, kalau aku yang datang dalam keadaan seperti itu, apa yang akan kamu pikirkan saat melihatku?"
"Jangan selalu membalikkan sesuatu hal dengan mencontohkan dirimu sendiri yang mengalami, karena aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu" Endra ketakutan dengan pikirannya sendiri lalu meraih Naina dalam pelukannya.
"Sudah jangan kembali ke toko bunga itu, aku sudah bilang untuk tidak bekerja lagi, kenapa kamu malah membuka bisnis baru,, apa kamu mau menyombongkan dirimu kalau kamu itu pintar dalam segala bidang?"
"Memang aku pintar dalam segala bidang, coba katakan apa yang tidak aku bisa?" Naina sedikit bercanda supaya Endra tidak terlalu serius lagi, sekarang Naina sudah menganggap masalah sudah selesai.
"Iya aku tau, aku sangat beruntung memilikimu, tapi asal kamu tau, ada satu kekurangan dirimu" Endra terlihat serius mengatakannya.
"Apa aku kurang cantik?" tanya Naina yang sudah pasti di jawab gelengan kepala oleh Endra.
"Mengaca lah,, kamu itu wanita tercantik di bumi ini" jawab Endra, tetapi mukanya masih terlihat serius walau sedang menggombal.
"Apa aku tidak bisa memuaskan dirimu?" tanya Naina pelan.
"Naina sayang,,, kenapa kamu berpikiran sempit dengan menanyakan hal itu? apa kamu meledek diriku yang kecanduan oleh tubuhmu, aku terus melakukannya bukan karena tidak puas, tetapi karena aku sangat menyukainya"
__ADS_1
"Lalu apa kekurangan ku,, cepat katakan, biar aku bisa memperbaiki nya" ucap Naina semakin penasaran.
"Kamu tidak pernah mau mendengarkan suamimu, itu kekuranganmu, bukankah seharusnya yang aku tau kalau seorang istri itu harus menurut pada suaminya,, kenapa saat aku melarang mu bekerja, kamu terus saja membantah dengan berbagai macam alasanmu?"
Naina tidak bisa menahan senyuman malunya, apa yang dikatakan oleh Endra sangatlah benar, karena dia memang tidak menurut pada Endra dalam masalah ini, sepertinya saat ini Naina harus menjelaskan semuanya.
"Mungkin hal ini tidak perlu aku ceritakan, tetapi aku harus mengatakannya supaya kamu tau alasan kenapa aku terus ingin bekerja,, aku pernah percaya pada lelaki hingga aku hanya diam dirumah mendengarkan perkataannya, tapi buktinya seiring berjalannya waktu semua berubah,, aku bahkan kebingungan hanya untuk membayar tagihan sekolah anak-anak, aku kebingungan karena tidak mempunyai uang, apalagi ditambah dengan penyelewengan suami, untung saja saat itu aku sudah mempunyai penghasilan karena berhasil membuka salon kecantikan, jadi aku tidak terlalu hancur dan masih bisa bertahan hidup, aku tidak mau hal itu terjadi lagi"
Naina menyudahi penjelasannya dan melihat ke arah Endra yang terlihat serius mendengarkan segala yang dia katakan.
"Salon kecantikan milikku sudah ada dalam kendali mu, bahkan kamu menempatkan Renata disana, aku seperti bukan pemiliknya"
"Tidak seperti itu maksudku menempatkan Renata disana, bukan karena aku ingin mengendalikan salon mu, aku hanya tidak mau kamu bekerja lagi, lagipula kamu tau sendiri, aku tidak mengambil sedikitpun keuntungan dari salon itu"
"Aku ingin membuka bisnis baru, lagipula disalonku sudah ada Renata"
"Kenapa kamu masih tidak mengerti maksudku? aku tidak mau kamu bekerja lagi" Endra geregetan karena istrinya masih saja tidak mau menuruti keinginannya dalam masalah ini.
"Rumah ini milikmu, mobil milikmu juga ada walau sama sekali belum pernah kamu pakai, besok aku akan mengatas namakan mobilku menjadi namamu, begitu juga dengan perusahaan ku, semua akan aku ubah menjadi namamu yang berarti itu semua menjadi milikmu, supaya kamu tidak berfikir kalau aku akan bersikap sama seperti seseorang, yang pasti dan harus kamu lakukan adalah, mengikuti semua perkataanku, jangan pernah membantah untuk apapun lagi yang aku katakan,,, apa itu sepadan? atau kamu masih menginginkan lebih?? cepat katakan dan aku akan berusaha untuk memenuhinya"
Naina menelan ludah mendengar segala yang dikatakan suaminya, dia tidak mengharapkan itu semua, dia hanya ingin bekerja karena dia sudah biasa melakukannya, mungkin memang ada alasan dibaliknya, tetapi alasan terbiasa dengan bekerja juga benar, sepertinya sangat aneh bagi Naina yang terbiasa bekerja, sekarang harus terus diam dirumah
Tok tok tok tok tok
Bi Wulan datang membawakan sayur bening bayam untuk Naina, karena saat tadi Endra mengambil makanan, sayur itu belum matang.
"Terimakasih bibi" ucap Endra yang mengambilnya, bi Wulan mengedarkan pandangannya ke dalam kamar dan melihat Naina duduk di atas sofa, Naina tersenyum pada bi Wulan dan mengucapkan terimakasih pada bi Wulan dari kejauhan, Naina belum terlalu bisa lancar berjalan, takutnya dia menjadi bahan tertawaan orang yang melihatnya.
Endra benar-benar menghabisinya dari saat dia baru memasuki rumah kembali, sekarang semangkok sayur bayam untuk Naina telah ada diatas meja.
"Kenapa aku merasa, aku diperlakukan seperti orang sakit?" gumam Naina.
Endra mencium kening Naina dan memintanya untuk segera makan, setelah Naina menghabiskan makannya, Endra kembali berbicara masalah Naina yang tidak boleh bekerja.
"Toko itu baru saja dibuka, tetapi sekarang juga sudah hancur berantakan, lalu apakah akan dibiarkan begitu saja? sangat disayangkan sekali" ujar Naina.
"Sama saja itu menjadi milikmu"
"Nai,, sayang,, kenapa cara berfikir mu sangat aneh, kita ini suami istri, milikmu adalah milikku dan begitu sebaliknya, semua milikku adalah milikmu, tapi karena kamu merasa takut akan sesuatu, aku akan memberikan rasa nyaman padamu dengan mengatas namakan semua aset atas nama dirimu, aku adalah gembel yang menumpang padamu, aku hanya ingin kamu focus padaku, aku tidak mau lagi membicarakan tentang masalah ini, sudah cukup"
Sang suami telah memberikan sebuah keputusan yang sepertinya tidak akan bisa lagi bagi Naina untuk membantah, Endra menggendong Naina menuju ke ranjang.
"Sudah,, ini masih,,. aaaakkkhhhh" Naina tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Endra sudah mendorong tubuhnya dan langsung melucuti pakaiannya.
"Aku berjanji pelan-pelan" bisik Endra.
Naina hanya bisa pasrah, sepertinya suaminya sedang menghukum dirinya karena beberapa hari meninggalkan nya dan tidak memberikan jatah.
Pagi menjelang, Naina sudah pasti semakin tidak bisa turun dari ranjang, Endra menggendongnya ke dalam kamar mandi, setelah mandi bersama, atau lebih tepatnya Endra yang memandikan Naina dengan terus mengambil kesempatan.
"Hari ini beristirahatlah, aku harus bekerja karena ada pekerjaan penting, aku akan meminta bi Wulan untuk memenuhi segala kebutuhan mu" ujar Endra saat mereka telah selesai mandi, dan sedang memakai baju mereka masing-masing.
Endra membawakan sarapan kedalam kamar, setelah sarapan bersama, Endra lalu segera bergegas untuk segera pergi ke perusahaan dan berjanji pada istrinya untuk segera kembali begitu semua pekerjaannya selesai.
Naina tiduran di kamarnya, ponselnya entah ada dimana, karena saat itu tertinggal di toko bunganya, Naina yakin Endra tau dimana ponselnya karena Reynolds yang telah membersihkan tokonya pasti menemukan ponselnya dan menyimpannya.
__ADS_1
Tetapi Naina lalu berjalan pelan karena pinggang dan bagian bawahnya sungguh sangat sakit dan linu karena dikerjai oleh Endra terus menerus.
Naina menelfon seorang kenalannya yang seorang dokter kandungan, mereka pernah bekerja sama saat memberikan suatu seminar tentang skincare yang aman untuk ibu hamil.
"Apa akan memakan waktu yang lama untuk bisa normal kembali setelah berhenti memakai KB suntik tiga bulan?" tanya Naina tanpa basa-basi.
"Setiap orangnya berbeda, dan sebenarnya bisa dipengaruhi usia juga, tetapi cobalah hidup sehat, makan makanan sehat dan rajin olahraga, bisa juga ditambah dengan rajin mengkonsumsi vitamin prenatal"
"Seperti apa saja contohnya?" tanya Naina.
"Konsumsilah 400 mg vitamin C dan Adam folat setiap harinya, hindari junk food, dan ingat yang paling penting adalah makanan yang di konsumsi harus sehat dan seimbang serta tidak lupa olahraga teratur"
"Baik terimakasih banyak atas informasinya" ucap Naina.
Mereka lalu berbasa-basi terlebih dahulu sebelum menutup panggilan telepon.
Naina lalu menelfon kerumah orang tuanya untuk menelfon Ningsih sekalian menanyakan kabar keluarganya, Ningsih sangat lega mengetahui kakaknya benar-benar telah kembali, dia hanya mendengar dari Reynolds kalau kakaknya sudah ditemukan, tetapi Reynolds masih terus melarangnya untuk menemui kakaknya itu.
"Dari Rey?? iya memang benar saat itu Rey dan Endra yang datang, tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain dari ucapanmu,, apa aku banyak melewatkan berita penting?" tanya Naina penuh selidik.
"Jangan kepo, urus dulu masalah kakak,, eh tapi kak,, aku mau curhat, hari ini aku datang ya kerumah kakak"
"Jangan hari ini, bagaimana kalau besok?" Naina tidak mau adiknya melihat kondisinya, bisa habis dia ditertawakan nantinya.
Naina lalu meminta pada adiknya untuk datang besok saat Endra sedang bekerja, dan meminta pada adiknya untuk membelikan dan membawakan vitamin prenatal untuknya.
"Apa kakak hamil?" tanya Ningsih antusias.
"Tidak, aku tidak tau aku bisa hamil lagi atau tidak, ini semua kesalahan ku" Naina sedih dengan kondisinya.
"Apa yang terjadi kak?? aku kesana sekarang ya"
"Tidakkkk,,, jangan,, aku bilang besok ya besok!" teriak Naina panik, diseberang sana Ningsih heran dengan kakaknya, tetapi hanya bisa menurutinya dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.
__ADS_1
"Apa kakak di siksa oleh suaminya?" gumam Ningsih asal menebak.