Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Perangkap yang Penuh Gairah


__ADS_3

"Aaauuuccchhhh sayang, kenapa kamu begitu nikmat, bisakah aku minta tambah lagi?" Ningsih dengan goyangan pinggulnya terus bergerak di atas Putra, tetapi akhir-akhir ini Ningsih menyadari kalau burung Putra sudah mulai terlihat loyo karena hanya sebentar dia goyang dan sudah muntah.


Ningsih tentu sangat senang, karena sepertinya rencananya secara perlahan akan berhasil, tetapi untuk membuat Putra terus terlena padanya, dia harus selalu memuji Putra.


Putra yang masih saja bernafsu karena terus dicekoki obat supaya dia mandul tetapi secara bersamaan dicampur juga obat perangsang oleh Ningsih, supaya Putra tidak menyadari kalau keperkasaannya sedikit demi sedikit mulai melemah


"Ningsih sayang, kenapa denganmu aku merasa ingin terus melakukan ini, kamu sangat nikmat sayangku" Putra yang sekarang bergoyang di atas tubuh Ningsih walau tidak lama burungnya kembali muntah.


"Sayang, kamu itu sangat jago, aku memang belum pernah melakukan ini dengan orang lain tapi aku yakin kalau tidak ada pria yang lebih perkasa dari dirimu" Ningsih membelai dada Putra yang sekarang dengan lemas nya telah tumbang disebelahnya.


"Sayang, minumlah dulu agar kamu lebih segar, setelah itu kita pulang" Ningsih kembali memberikan minuman hasil racikannya pada Putra, saat Ningsih hendak turun dari ranjang tiba-tiba Putra kembali menariknya ke tengah ranjang karena burung nya sudah kembali bangun, Ningsih pura-pura kaget


"Sayang, kenapa kamu begitu kuat, kenapa sudah bangun lagi, kamu sangat perkasa sayangku, lakukan dengan pelan ya sayang, milikmu sangat kuat dan besar, membuat ku kelabakan, ampuni aku sayang ku setelah ini cukup ya" Ningsih dengan suara manja terus saja membuat Putra mabuk kepayang.


"Kenapa kamu makin pintar sayang? aku sampai lupa dan tidak minat dengan gadis lain" Putra sepertinya kelepasan mengatakan itu, tetapi Ningsih pura-pura tidak mendengar dan hanya terus melenguh keras karena Putra sudah kembali menggoyang nya.


Ningsih sudah tidak peduli apapun lagi, dia hanya ingin agar balas dendam nya cepat selesai, setelah burung Putra kembali muntah, kali ini Ningsih menghentikan aksinya, karena hari semakin sore.


"Sayang, sekarang ini kita setiap hari bertemu, aku harus selalu mencari alasan, aku sudah tidak tau lagi besok beralasan apa lagi" Ningsih mendekap tubuh Putra yang terlihat lemas disisinya, bagaimana tidak lemas, dia terus bergoyang karena efek obat perangsang, tetapi dia tidak menyadari itu.


"Bagaimana kalau besok kita tidak usah bertemu dahulu" ucap Ningsih manja sambil memainkan tangannya di dada Putra, mendengar apa yang dikatakan Ningsih membuat Putra langsung memegang pipi Ningsih dengan kedua tangannya.


"Tidak bisa sayang, kita harus bertemu setiap hari, kamu sangat nikmat" ucap Putra lalu mencium Ningsih

__ADS_1


"Entah kenapa kamu begitu nikmat akhir-akhir ini, dan aku bisa melakukannya berkali-kali denganmu, kalau dengan wanita lain paling banyak hanya 3 ronde, apalagi disini aku bisa nambah sepuasnya dan gratis pula" batin Putra sambil terus menciumi Ningsih


"Tapi aku harus alasan apa lagi? nanti bisa-bisa aku ketahuan" ucap Ningsih dengan wajahnya yang dibuat seolah sedih kalau tidak bertemu Putra


"Bagaimana kalau kamu beralasan bekerja, pasti mereka tidak akan curiga" ujar Putra yang mendapat sorakan dari hati Ningsih karena itulah rencananya


"Tapi sayang, kalau bekerja itu harus dapat gaji, memang nya aku dapat dari mana kalau aku hanya bermain kuda-kudaan dengan mu disini" ujar Ningsih pura-pura bingung


"Aku akan memberi mu uang setiap seminggu sekali, agar mereka tidak curiga" ucapan Putra kembali mendapatkan sorakan dihari Ningsih


"Sungguh sangat gampang sekali, aku wanita gratisan ini sekarang bisa mendapatkan gaji" batin Ningsih senang karena rencananya berjalan mulus walau hatinya sangat getir mengingat Putra yang menyebut dirinya adalah wanita gratisan.


"Apa tidak apa-apa sayang?" tanya Ningsih yang masih terus melakukan dramanya


"Aku hanya harus terus disini dan mulai saat ini aku tidak perlu wanita lain untuk memuaskan hasrat ku atau aku hanya perlu sesekali untuk selingan, karena tidak ku sangka, wanita gratisan ini semakin liar, panas dan menggairahkan" batin Putra dan kembali mengulum buah kembar Ningsih


"Apapun yang kamu pikirkan aku tidak peduli lagi Putra sayangku, yang jelas, neraka mu akan segera datang" Naina tersenyum bahagia dengan pikirannya yang diartikan senyuman puas oleh Putra yang sudah kembali duduk di atas tubuhnya.


Ningsih lupa tidak menyingkirkan minuman itu sehingga barusan Putra sudah kembali meminumnya bahkan menghabiskan nya, Ningsih mau tidak mau harus kembali menerima sentuhan Putra, walau dia sudah tidak ada rasa cinta terhadap Putra, tetapi dia harus terus menahannya, ini semua demi sebuah tujuan balas dendam yang begitu membara dihatinya, lagipula Putra tidak akan lama bergoyang, pasti burungnya akan cepat muntah kembali.


Mereka membersihkan diri sebelum pulang kerumahnya mereka masing-masing,


"Kenapa kamu setiap hari keluyuran Ningsih?" mama Nimah sudah menunggu nya diruang tamu saat dia pulang

__ADS_1


"Aku mencoba mencari pekerjaan ma, dan aku akan mulai bekerja besok, kerjaannya tidak berat, aku hanya menjadi admin sebuah perusahaan kecil tapi lumayan dari pada bosan dirumah terus-menerus"


"Ningsih, jangan paksakan dirimu, nanti terjadi apa-apa pada kandungan mu"


"Tidak ma, tidak perlu khawatir, aku akan berhati-hati dan selalu menjaganya, aku mandi dulu ya ma" Ningsih lalu masuk ke dalam kamar nya, dia ingin berendam air hangat, karena bagaimanapun badan nya terasa agak lelah setelah bergoyang dan menerima goyangan dari Putra.


Saat berendam dengan rileks, Ningsih ingat untuk selalu mengirimkan pesan-pesan penuh rayuan maut dan segala kata-kata pujian untuk Putra, supaya Putra terlena dan terus mengingatnya


"Sayang, hari ini kamu semakin hebat, aku sampai kewalahan dan tidak bisa menghitung berapa kali burung mu yang sangat nikmat itu berhasil membuat diriku mabuk dan masuk dalam jurang kenikmatan, aku bahkan baru sampai rumah tetapi aku sudah merindukan burung besar kesayangan ku" pesan Ningsih terkirim pada Putra ditambahi dengan emoticon hati.


"Kamu juga semakin liar sayang, kita besok bertemu lebih awal supaya bisa bermain lebih lama" Putra membalas pesan Ningsih sambil merasakan nikmatnya burungnya dihisap oleh seorang wanita.


Wanita itu merengek karena burung Putra tidak kunjung bangun, dan saat bangun hanya sebentar dan langsung muntah


"Menjijikkan sekali, aku lama membangunkan nya tapi saat bangun hanya seperti ini" ucapan wanita itu membuat Putra menjadi emosi dan mencekik wanita itu,


"Kurang ajar sekali kamu, milikmu yang sudah sangat longgar itu juga tidak enak sama sekali, sekarang lakukan lagi kalau tidak aku tidak akan membayar mu!" teriak Putra lalu menarik wajah wanita itu dan langsung menyodorkan burungnya untuk terus dihisap.


Putra dengan terus merasakan kenikmatan, kembali mengirim pesan untuk Ningsih,


"Besok jangan sampai terlambat sayangku"


Ningsih tersenyum puas membacanya, karena sepertinya Putra sudah mulai terjatuh dan terus masuk dalam perangkap yang dia buat, perangkap yang penuh gairah membara.

__ADS_1


__ADS_2