Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Endra Menyerah??


__ADS_3

"Baiklah,, pakai bajumu,, aku akan mengantarkan dirimu pulang setelah pagi menjelang, sekarang tidurlah diranjang, aku akan tidur di sofa" jawaban dari Endra membuat Naina terdiam sejenak dan mengurungkan niatnya untuk menginjak lantai dan turun dari ranjang.


Naina tidak menyangka bahwa Endra akan bersikap seperti ini, sedikit berbeda rasanya, tetapi bukankah itu yang dia harapkan, jadi Naina memantapkan hatinya untuk tidak goyah.


Di perjalanan pulang, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya, bahkan saat Naina turun dari mobil Endra, hanya anggukan kepala dari Endra sebagai jawaban terimakasih dari Naina.


"Kenapa ini rasanya sangat aneh, kenapa aku merasakan sakit di hatiku, tidak seharusnya aku seperti ini" gumam Naina saat mobil Endra sudah tidak terlihat lagi bayangannya.


Semenjak hari itu, Endra tidak pernah lagi mendatangi Naina, ada sedikit kekecewaan yang mendalam di hati Naina, tetapi dia terus menutupinya, bahkan saat dia berkunjung ke rumah Rayhan dan tidak sengaja berpapasan dengan Endra, terlihat Endra yang menjaga jarak dan bahkan tidak menyapa Naina.




Waktu terus berlalu, Naina bekerja seperti biasanya dan mulai mencoba untuk melupakan Endra tetapi entah kenapa dia malah terus teringat dengan Endra sehingga membuat pekerjaannya sedikit terganggu, Naina mencoba menenangkan diri dengan menikmati secangkir kopi disebuah cafe.



"Ahahahaha, benarkah?" datang seorang wanita kedalam cafe itu sambil menelepon seseorang, setelah memesan minuman, wanita itu lalu mendekati Naina.



"Naina??, kamu Naina kan?? aku Rania,, masih ingat aku tidak?? aku bertemu denganmu waktu itu diluar negeri"



Naina mencoba mengingat dan mengangguk dengan tersenyum, Rania meminta izin pada Naina untuk duduk disebelahnya, mereka mengobrol ringan sambil minum kopi dan memakan cemilan.



"Bukankah kamu juga mengenal kak Endra kan?" tanya Rania yang membuat Naina membulatkan matanya karena tiba-tiba Rania membicarakan tentang Endra, Naina hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan tersebut.



"Dia adalah kakak sepupuku, aku tidak menyangka dia akan mengenalkan kekasihnya padaku setelah seumur hidup dia tidak pernah memiliki kekasih, itulah kenapa sekarang aku ada di Indonesia"



Ucapan Rania sukses membuat Naina tersedak saat meminum kopinya, setelah menyeka bibirnya dengan tisu, Naina lalu meminta maaf.



"Kamu pasti heran kan,, dia memang pernah menikah tetapi tidak pernah berpacaran atau pernah memiliki kekasih, karena pernikahan nya dengan Intan bukan kehendaknya sendiri, melainkan perjodohan, makanya aku begitu bahagia saat dia mengatakan memiliki kekasih, aku seperti seorang ibu yang mendengar anak lelakinya mempunyai pasangan untuk pertama kalinya, dia mengatakan dengan penuh kegembiraan saat mengatakan telah jatuh cinta pada seseorang"



Naina menggaruk keningnya mendengar penjelasan dari Rania, Naina yang beberapa hari merindukan sosok Endra seperti merasakan hatinya yang tiba-tiba hancur, tetapi dia mencoba menguasai hatinya dan tersenyum didepan Rania.



"Selamat" hanya itu saja yang sanggup diucapkan oleh Naina, sepertinya dia merasa sangat patah hati.


__ADS_1


"Naina, aku duluan ya, Endra sudah menunggu diriku di parkiran, apa kamu mau menyapanya?"



"Tidak Ran,, aku menunggu seseorang" Naina berbohong untuk menutupi perasaannya, dia tidak akan sanggup untuk bertemu lagi dengan Endra, tetapi sebelum Rania keluar, Endra sudah menjemputnya kedalam cafe.



"Apa yang kamu lakukan?" sebuah suara seorang pria yang beberapa hari ini sangat ingin didengar oleh Naina, tetapi akal Naina mengingatkan dirinya untuk tidak terpengaruh suasana hatinya, sebab ini semua terjadi karena dirinya sendiri yang telah menolak Endra.



"Tunggu sebentar, aku tidak sengaja bertemu dengan Naina disini lalu kami mengobrol"



Naina mencoba menguatkan hatinya lalu menoleh ke arah Endra dan mengangguk padanya untuk menyapanya, tetapi pandangan mata Endra tetap dingin seperti beberapa hari terakhir ini, Naina cukup tau diri lalu kembali memalingkan wajahnya.



"Naina sedang menunggu seseorang, lebih baik kita pergi sebelum temannya datang, bukankah kamu mau mengenalkan kekasihmu padaku?" ucap Rania lalu bangkit dari duduknya, tetapi Endra malah duduk di kursi depannya Naina.



"Tempat ini cukup nyaman, aku akan minum secangkir kopi terlebih dahulu" ucap Endra membuat Naina tidak nyaman karena akan ketahuan kalau dia tidak menunggu siapapun.




"Apa tidak apa-apa Nai?? kami berjanji akan pergi setelah temanmu datang" Rania meminta izin pada Naina yang terlihat semakin gelisah tetapi tidak ada alasan untuk dia menolak, akhirnya Naina hanya bisa mengangguk.



Naina membuka ponselnya, dia mencoba mencari nomor kontak di ponselnya untuk meminta bantuan supaya pura-pura datang sebagai teman yang dia tunggu, Naina tidak punya banyak teman, akhirnya Naina mengirimkan pesan pada salah satu temannya saat SMA, dia mencari acak di grup alumni sekolah.



Naina kembali meminum kopinya untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka, Naina berharap temannya segera datang.



"Naina!!" panggil seorang pria, Naina sebenarnya kaget kalau yang datang adalah seorang pria, dia sungguh tidak mengenal nama-nama dikontak grup alumni sekolah nya, Naina hanya mengirimkan pesan di grup meminta temannya yang free untuk menjemputnya lalu ada beberapa yang mengirim pesan japri, temannya yang datang inilah yang dia balas pesannya.



"Apa sudah lama menunggu? aku pikir kamu sendirian" teman Naina lalu menyapa Endra dan Rania, teman Naina lalu duduk di samping Endra, karena di meja itu, kursi kosong hanya ada disana.



"Rania maaf, aku pergi dulu" Naina pamit dan ingin segera pergi dari tempat yang terasa sesak baginya.


__ADS_1


"Diam di tempatmu!!" Endra menatap tajam kearah Naina hingga membuat Naina kaget dan Rania memegangi kepalanya merasa frustasi dengan apa yang dilakukan oleh Endra.



"Maaf Nai, maksudnya kak Endra, akulah yang harus diam, sekarang kamu bisa pergi, hati-hati di jalan Naina"


Saat Naina akan pergi bersama dengan temannya, Endra menarik tangannya dan langsung menciumnya ditempat itu, tidak memperdulikan menjadi tontonan pengunjung cafe.



Naina mencoba berontak karena dia malu menjadi pusat perhatian semua orang, temannya menarik tangan Naina dari cengkeraman tangan Endra, yang tentu saja membuat Endra marah, mereka adu jotos dan bahkan Endra juga terluka, tetapi Naina harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kekhawatiran nya pada Endra.



Naina mendekati temannya yang berdarah dan menanyakan keadaannya, Naina bahkan tidak tau nama temannya itu, karena dia tidak memberi nama pada nomor kontaknya, dia sudah lupa karena lama tidak bertemu dengan temannya itu, saat reuni biasanya Naina hanya bergabung dengan teman sesama wanita, Naina memapah temannya keluar dari cafe sementara Rania menahan Endra supaya tidak mengejar Naina.



Naina meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada temannya atas semua yang terjadi, Naina lalu mengambil beberapa lembar uang dari dalam tasnya untuk biaya berobat temannya.



"Apa kamu pikir ini cukup, untuk semua yang aku terima" ucap teman Naina.



"Lalu kamu mau apa dan berapa? ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati lukamu, lagipula dari awal aku hanya meminta bantuan untuk menjemput diriku, jadi sudah selesai"


Naina mengambil lagi uang dari dalam tasnya tetapi temannya itu tiba-tiba berniat mencium Naina, untung saja Naina dapat menghindar dan dengan refleks memukul temannya yang tidak sopan itu.



"Kurang ajar, apa yang coba kamu lakukan?!!" teriak Naina marah.



"Jangan munafik, aku tau kamu sudah lama menjanda, dari dulu aku sangat menyukai dirimu, aku yakin kamu pasti membutuhkan belaian, jadi lebih baik uang ini kita gunakan untuk menyewa kamar hotel"


Mendengar ucapan dari temannya membuat Naina semakin marah, lalu dengan geram dia menghajar temannya itu, dari awal perasaan Naina sudah tidak menentu, dia cemburu dan marah karena mendengar Endra yang telah memiliki kekasih, tetapi dia kembali bingung karena Endra yang tiba-tiba menciumnya, dan sekarang ditambah dengan kelakuan temannya yang membuat nya tidak bisa lagi menahan perasaannya.



"Dasar pria tidak tau diri!" teriak Naina dengan membabi-buta memukuli dan menendang temannya, setelah temannya terjatuh, Naina mengambil semua uang di dompet nya dan hanya menyisakan sejumlah uang untuk ongkos dia pulang.


"Ini sangat lebih dari cukup untuk mengobati semuanya!!" Naina meletakkan uang itu didepan temannya yang tengah merintih kesakitan memegangi perut dan bagian intimnya karena mendapatkan tendangan maut dari Naina.



"Jangan pernah bertemu lagi!!" teriak Naina lalu segera pergi dari sana, sementara dari kejauhan Endra dan Rania tersenyum melihat pemandangan itu.



"Dia tetap Naina milikmu, biarkan dia menyadari perasaannya terlebih dahulu, baru kamu bisa kembali bersamanya" ucap Rania lalu mengusap bahu Endra.

__ADS_1


__ADS_2