Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Pemakaman Tari


__ADS_3

Naina sudah sadar, hal pertama yang dia tanyakan adalah Tari, dia kembali menangis saat menyadari bahwa Tari sudah pergi untuk selamanya.


"Nona Naina, jasad nona Tari harus segera dimakamkan, tidak ada sanak saudara atau keluarga yang mengambilnya, apa pihak rumah sakit yang harus melakukan pemakaman?" tanya salah satu perawat pada Naina.


"Tidak, biarkan aku yang mengurus pemakamannya" jawab Naina mencoba tegar.


"Naina? memang siapa Tari itu?" tanya mama Nimah


"Dia sahabat sekaligus seperti seorang kakak yang selalu menjagaku, aku akan membuat persembahan terakhir untuknya dengan pemakaman yang layak" Naina lalu turun dari ranjangnya,


"Naina, kamu belum sepenuhnya pulih, istirahat dulu saja nak" ucap mama Nimah


"Tidak ma, aku sudah kuat, kasian Tari"


Naina mengatur semua pemakaman Naina, dia mencoba tegar dan tidak terus menangis agar sahabatnya itu bisa pergi dengan tenang.


"Tari, tenanglah disana, sekarang rasa sakit hatimu, dan rasa kesepian yang kamu rasakan, semua sudah hilang yang tersisa hanya kebahagiaan, jangan menghawatirkan diriku, aku adalah adiknya Tari yang kuat, aku pasti bisa melalui semua masalah hidupku kedepannya, selamat tinggal kakak" sekuat tenaga Naina menahan air matanya diatas pusara sahabat baiknya itu, dia lalu pergi dari sana dan berjanji untuk sering berkunjung.


Naina pulang kerumah orang tuanya karena dia sudah tidak mau lagi pulang kerumah suaminya, mungkin dalam waktu dekat dia akan membeli rumah sendiri.


"Naina, apa kamu tidak mau mengambil barang-barang mu yang ada disana?" tanya mama Nimah


"Tidak perlu ma, aku sudah membuang dan mengikhlaskan semuanya, aku tidak mau membawa satu barang pun kenangan dari orang itu" jawab Naina


"Kamu masih berhak atas harta gono-gini Naina"


"Tidak ma, aku tidak butuh apapun darinya, kalau dia mau membiayai anak-anak itu terserah dia tapi untuk diriku, aku tidak akan meminta apapun" tegas Naina


"Mobil yang masih kamu pakai itu juga akan kamu kembalikan?"


"Itu mobilku ma, aku membeli dengan uang pribadiku, maaf karena selama ini aku berbohong mengatakan kalau itu dibelikan Roni"


"Kamu mempunyai uang dari mana?" mama Nimah sedikit kaget dan ingat dengan tuduhan mamanya Putra.


"Naina, kamu tidak melakukan hal diluar batas kan?" tanya mama Nimah

__ADS_1


"Diluar batas bagaimana maksud nya ma?"


"Kenapa kamu bisa membeli mobil, mama tau harga mobil itu sangat mahal!" mama Nimah mulai berteriak, beliau tidak akan sanggup kalau benar Naina melakukan pekerjaan kotor.


"Mama tenang, mama kenapa, apa yang mama pikirkan?" tanya Naina kaget dengan reaksi mamanya saat tau mobilnya adalah mobil yang dia beli sendiri.


Mendengar teriakan mama Nimah, Ningsih lalu mendekat dan menenangkan mamanya, Ningsih kemudian menceritakan semua kejadian saat Putra dan mamanya datang kerumah, Naina marah mendengarnya karena kejadian yang sebenarnya adalah kebalikan dari yang mereka tuduhkan tapi percuma karena dia tidak punya bukti.


"Tuan misterius" gumam Naina


Naina ingat kalau Endra lah yang memegang kamera yang bisa menjadi bukti kejahatan Anton, dia harus mendapatkan kamera itu untuk membersihkan nama baiknya.


"Mama, apa mama ingat salon kecantikan tempat yang aku bilang bahwa aku bekerja disana? aku tidak bekerja disana tapi salon kecantikan itu milikku ma" jelas Naina pada mamanya.


"Apa?" tanya Ningsih dan mama Nimah berbarengan


"Itu adalah milikku, aku lah owner nya, aku membangun bisnis itu saat kehamilan anak keduaku, saat itu Roni dalam masa sulit karena perusahaan ayahnya mengalami penurunan pendapatan, aku membangun itu dengan biaya yang diberikan oleh Tari" Naina terdiam sejenak dalam menjelaskan karena dia kembali mengingat Tari.


"Aku tidak melakukan pekerjaan kotor ma, ini hasil jerih payahku sendiri, untuk masalah Anton yang memfitnah diriku, aku tidak akan tinggal diam, akan aku buktikan kalau aku tidak bersalah" pungkas Naina.


"Katakan saja pada tuan pemilik rumah ini, kalau Naina mencarinya" ucap Naina, penjaga itu sedikit kaget mendengar nama yang dia dengar.


Lama Naina menunggu tapi tidak kunjung dibukakan pagar, dia kembali memencet bel, dan tepat saat Intan akan membuka pagar itu, Naina ditarik oleh seseorang dan membawanya bersembunyi dibalik pilar besar, Naina mencoba berontak dan melawan, tetapi orang yang menariknya, memegang dan menahan tubuhnya dengan kuat dan juga menutup mulutnya.


"Siapa yang iseng dari tadi pak satpam?" terdengar suara Intan dibalik pagar, sepertinya intan tidak jadi membuka pagar karena dihalangi oleh satpam agar Intan tidak melihat mobil Naina.


"Yang minta sumbangan nyonya, tadi saya memintanya untuk menunggu karena saya akan mengambil uang, tapi sepertinya dia tidak sabaran" jawab satpam itu, untungnya Intan tidak curiga dan langsung kembali masuk kedalam rumah.


Naina terus melihat wajah orang yang membekap mulutnya, itu adalah tuan misterius, Naina menggigit tangan yang menutup mulutnya


"Apa yang tuan lakukan!?" teriak Naina, Endra kaget dengan suara Naina yang keras, takut terdengar oleh Intan, dengan reflek Endra kembali menutup mulut Naina, tapi kali ini dia menutupnya menggunakan mulutnya.


Naina melotot kaget, tetapi Endra terus menahan tubuh Naina kuat, dan memegangi kedua tangan Naina, Naina terus melawan dan menggigit kuat bibir Endra, setelah ciuman itu terlepas, Naina langsung menampar Endra dengan kuat dan langsung pergi dari sana, Naina menangis sambil mengendarai mobilnya, dia tidak mendapatkan hasil tapi malah kembali mendapat pelecehan.


Naina dibuntuti sebuah mobil lalu mobil itu menghalangi jalan nya, Naina waspada dan mengunci pintu mobilnya.

__ADS_1


"Nona, jangan takut,, aku utusan dari tuan Endra, bisa tolong buka jendelanya sedikit agar aku bisa mendengar suara nona" ucap Suseno


Lama tidak ada reaksi dari Naina, tetapi lalu membuka sedikit kaca jendela mobil nya agar suaranya terdengar


"Nona, apa yang nona inginkan dengan mencari tuan Endra?" tanya Suseno


"Aku menginginkan kamera yang merekam kejahatan Anton" jawab Naina masih tetap waspada


"Baik nona, tunggu sebentar akan saya sampaikan" ucap Suseno lalu kembali menuju mobilnya.


Suseno melihat Endra yang wajahnya merah padam dan menggigit botol minumnya, Suseno kaget melihatnya


"Tuan kenapa?" tanya Suseno, yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Endra


"Apa yang dia mau?" tanya Endra sambil terus mengatur nafasnya.


"Dia menginginkan kamera Anton"


"Aduuhhh, ada di kantor! bilang padanya untuk menunggu di salon nya"


"Baik tuan, apa perlu saya membawa nona Naina kemari tuan? sepertinya anda membutuhkan nya sekarang" ledek Suseno yang langsung mendapat timpukan dari botol yang dipegang Endra.


Suseno berlari kearah mobil Naina dan menyampaikan pesan dari tuannya, Naina bingung kenapa Endra bisa tau kalau dia punya salon


"Dasar lelaki penguntit cabul" gumam Naina lalu langsung berlalu meninggalkan mobil Endra yang masih terparkir disisi jalan.


"Tuan yakin bisa mengatasinya?" tanya Suseno yang melihat Endra masih menahan sesuatu yang sudah berdiri dari tadi setelah mencium Naina.


"Memang apa yang bisa kamu lakukan, kamu mau!?" teriak Endra


"Iddiihh najis, amit-amit" jawab Suseno langsung melengos membelakangi Endra


Setelah bersusah payah menahan dan berhasil kembali menidurkan pedangnya, Endra langsung memberi perintah pada sopirnya untuk menuju kantor, tadi dia sudah berangkat ke kantor nya tapi saat ditengah jalan dia mendapat telefon dari satpamnya kalau Naina datang, dia langsung putar arah untuk kembali.


Endra sudah melakukan antisipasi kalau hal ini terjadi, karena akan berbahaya untuk Naina kalau sampai dia bertemu Intan, untungnya tadi dia datang tepat waktu.

__ADS_1


"Lebih baik aku saja yang nanti mengantarkan kameranya, akan sulit bagimu untuk menahan kalau-kalau pedangmu bangun lagi" ujar Suseno yang terus meledek Endra.


__ADS_2