Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Bukan Wanita Murahan


__ADS_3

"Ibu Naina,, ada telepon dari tuan Endra, beliau menanyakan ibu Naina yang tidak datang ke kantornya"


"Baiklah,, katakan saja sepertinya aku akan sedikit terlambat, terimakasih"


"Sama-sama ibu"


Naina selalu berlaku ramah dan sopan kepada semua karyawannya, dia selalu mengucapkan terima kasih kepada mereka, karena bagi Naina, dia tidak akan bisa seperti sekarang kalau tidak ada para karyawannya yang membantunya selama ini.


Naina berencana untuk datang ke makam Tari, sudah lama dia tidak datang ke sana, Naina membeli satu keranjang bunga, lalu seperti biasanya dia akan bercerita dan berbicara seolah mengobrol bersama Tari saat dulu masih berada di sisinya.


Naina membuka ponselnya setelah kembali ke mobil untuk kembali bekerja setelah selesai curhat di makam Tari, Naina tidak mempunyai sahabat dekat lainnya, untuk teman sebenarnya dia mempunyai banyak, tetapi tidak sedekat dengan Tari, Naina langsung bergegas menuju kantor Endra, karena masih ada yang harus dibicarakan mengenai kerja sama mereka.


Setelah sampai di perusahaan Endra, Naina langsung menuju ke ruangan Endra sesuai instruksi dari sekretaris yang ada di luar ruangan Endra, setelah dipersilahkan untuk masuk tanpa membuang waktu lebih lama, Naina langsung membuka pintu dan masuk kedalam, sejenak kaget karena yang duduk di kursi itu adalah Endra, padahal dia berharap kalau Suseno yang akan membicarakan pekerjaan ini dengannya.


Atas nama profesional kerja, Naina membuang jauh rasa bencinya pada Endra, setelah dipersilahkan untuk duduk Naina langsung membicaran hal yang memang harus dijelaskan.


"Maaf tuan, ini data dari supplier Skincare yang sudah saya rangkum, mohon diperiksa terlebih dahulu, kalau ada yang tidak dimengerti boleh langsung bertanya" Naina kembali berbicara formal pada Endra yang dari tadi hanya sibuk memandangi wajah Naina.

__ADS_1


"Eekkhhmmm,, maaf tuan,, ini yang harus diperiksa" Cahya membuyarkan lamunan Endra dengan mengibaskan tangannya ke kiri dan kanan karena Endra terlihat melamun.


"Naina, ini sudah waktunya makan siang, jadi lebih baik kita membicarakan tentang masalah ini di restoran depan kantor, sekalian kita makan siang" Endra menutup laporan yang Naina bawa lalu bangkit dari duduknya.


"Maaf tuan silahkan anda makan siang terlebih dahulu, saya akan menunggu di ruang tunggu dengan santai, jadi nikmati saja tidak perlu terburu-buru" Cahya juga bangun dari duduknya lalu sedikit membungkuk pada Endra.


"Naina tunggu" ucap Endra yang melihat Naina sudah lebih dulu bergegas dan mencoba untuk membuka pintu ruangan.


Endra dengan cepat menangkap tubuh Naina hingga tidak sengaja menyentuh buah kembar Naina, mereka sama-sama kaget, dan Naina langsung berbalik untuk menghajar Endra.


"Aaakkkhh!! apa kamu preman? kenapa begitu keras memukulku?!" teriak Endra dan memegangi perutnya yang ditonjok oleh Naina.


"Maaf, aku hanya reflek karena menahan dirimu untuk tidak membuka pintu" Endra lalu merapikan bajunya yang kusut.


"Sudahlah, lebih baik kerja sama ini tidak perlu dilanjutkan atau aku hanya mau menemui sekretaris dan asisten mu" Naina kembali mencoba membuka pintu tapi lagi-lagi Endra menariknya dalam pelukan.


"Kenapa selalu seperti ini,,, lepaskan!!,, dasar tidak bermoral" Naina berusaha melawan untuk melepaskan dirinya dari pelukan Devan.

__ADS_1


"Kenapa pria seperti dirimu terus memeluk tubuh ku, aku bukan wanita murahan yang pernah masuk ke kamar itu penuh dengan suka cita, tapi karena keterpaksaan, jadi jangan menganggap bahwa aku bisa terus kamu lecehkan"


Naina berusaha untuk menyikut Endra dengan kuat, tetapi sangat nihil karena Endra mempererat pelukannya dan membisikkan sesuatu.


"Maafkan aku Naina, maafkan aku yang memaksamu masuk kamar gila itu, aku tidak berfikir dengan jernih, tolong maafkan aku"


"Anda meminta maaf tetapi tetap melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, lepaskan aku!" Naina berhasil melepaskan pelukan Endra lalu menghadap ke arah Endra.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan,, eeemmmmmm,, eeeeehhmmmm"


Endra sudah kembali ******* bibir Naina, entah kenapa pikirannya hanya tertuju pada Naina dan selalu ingin menyentuhnya.


"Pria gila ini selalu berbuat sesukanya, mungkin ini sudah sifatnya, jadi aku harus secepatnya menjauh dan berlari darinya" batin Naina lalu dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Endra dan dengan cepat langsung berlari dari sana.


"Apa yang terjadi? kenapa kamu membuatnya selalu lari?"


Suseno memasuki ruangan Endra setelah melihat Naina berlari, sementara itu Endra kembali mendapat terjangan hasratnya yang menggebu dengan ditandai berdirinya pedang kebanggaan nya, Suseno kembali mengelus dadanya melihat sahabatnya itu.

__ADS_1


"Jangan terus seperti ini, atau kamu akan benar-benar kehilangan dia untuk selamanya" ujar Suseno lalu kembali ke luar ruangan.


__ADS_2