Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Lamaran Penuh Gairah


__ADS_3

"Apakah dia masih tidak bisa ditemukan? tambah penjagaan untuk anak-anak, aku takut dia akan menggunakan anak-anak untuk mengancam Naina karena telah gagal dalam rencana kali ini, aku sempat melukai perutnya jadi untuk sementara dia pasti akan mengobati luka itu terlebih dahulu" entah dengan siapa Endra berbicara, dan siapa yang dia maksudkan, Naina yang semakin frustasi karena tidak juga bisa menggerakkan tubuhnya.


Endra mendekati Naina dan menghapuskan air matanya, Endra tau kalau Naina tidak tidur lalu Endra tiduran disebelahnya, memeluk tubuh Naina dan membelai rambutnya.


"Jangan takut, aku ada disini, aku akan selalu menjaga dirimu" bisik Endra lalu dia memejamkan matanya.


"Ini aneh, dia tidak melakukan apapun, aku pikir dia akan mengambil kesempatan dari kondisiku saat ini, lalu kenapa dia melakukan hal ini padaku, apa yang dia inginkan?" Naina mencoba tidur tapi dia tidak bisa, Naina terus berusaha menggerakkan tubuhnya hingga akhirnya tangganya bisa dia gerakkan, Naina mendorong tubuh Endra hingga membuat Endra kaget dan terbangun.


"Naina, ada apa?"


Plaakkkk


Naina menampar Endra dan dia berusaha bangun tetapi tubuhnya masih belum stabil, akhirnya dia terjatuh dari ranjang, Naina terus berusaha untuk kabur dari Endra, dia tidak mengerti apa yang terjadi tetapi pada kenyataannya dia disini bersama dengan Endra jadi dia tetap saja berpikiran buruk tentang Endra.


"Naina,,, tenang sayang"


"Kenapa dia terus memanggilku seperti itu, sungguh menggelikan, dia ini tidak hanya gila dan mesum, dia ini pasti maniak" batin Naina sambil terus saja mengesot untuk bisa keluar dari kamar itu, Endra menggendong tubuh Naina dan kembali melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Naina tenang, aku tidak akan menyakitimu, kamu sudah aman disini, mulai sekarang aku selalu menjagamu, kenapa aku harus jatuh cinta padamu,, wanita mempesona sehingga begitu banyak yang menginginkan dirimu, tetapi kamu hanya milikku" Endra memeluk erat tubuh Naina supaya dia tidak mencoba untuk kabur lagi.


"Aku,,,, kenapa?" dengan terbata-bata, akhirnya Naina bisa mengeluarkan suaranya, Endra membelai lembut rambut Naina dan menceritakan tentang yang terjadi pada Naina.



Flashback



Endra masih kebingungan mencari keberadaan Naina, dia terus memberi perintah kepada para pengawalnya untuk mendatangi tempat-tempat dimana yang sering dikunjungi oleh Naina.



Naina tidak terlalu sering bepergian jadi mudah bagi pengawalan Endra untuk mencari Naina, tetapi hampir saja hal besar terjadi pada Naina, pengawal Endra datang ke makam Tari disaat Naina sedang dibius oleh dua orang lelaki yang salah satunya adalah Roni, sudah pasti pengawal itu langsung mencoba menyelamatkan Naina dan sebelumnya memberitahu lokasi nya pada Endra.



Pengawal itu dapat dikalahkan oleh Roni dan temannya, Naina digendong dan dibawa kesebuah mobil, sementara Endra belum terlihat sampai diarea pemakaman itu, saat Roni sampai di dekat mobilnya dan berniat memasukkan Naina kedalam mobil, lewatlah serombongan penduduk setempat yang pulang dari ladang, mereka menyadari bahwa itu adalah penculikan karena melihat Naina yang tidak sadarkan diri.



Para penduduk setempat itu mencoba menyelamatkan Naina, tetapi mereka juga tidak lama bisa dikalahkan karena Roni dan temannya membawa senjata tajam, saat para penduduk semakin terpojok, untung saja Endra sampai ketempat itu dan langsung menyerang Roni karena melihat Naina yang tergeletak disamping mobil belum sempat dimasukkan ke dalam mobil, karena saat akan memasukkan Naina ke dalam mobil keburu dipergoki oleh para penduduk.


__ADS_1


Endra bisa mengalahkan Roni dengan pisau yang dibawa Roni sendiri, Endra bisa menangkis tangan Roni yang ingin melukai dadanya, saat pisau itu terjatuh dengan cepat di ambil oleh Endra dan dia tusukkan pada Roni, tetapi perhatian Endra teralihkan saat teman Roni mencoba memasukkan Naina kedalam mobil, Endra langsung berlari untuk menyelamatkan Naina, Endra menggendong Naina dan membiarkan Roni dan temannya kabur.



"Naina, bangun,,, Naina!!" Endra panik dan terus berusaha membangunkan Naina, pengawalnya yang sudah siuman setelah pingsan karena pukulan dari Roni langsung mendekati Endra dengan memegangi kepalanya.



"Sepertinya nona dibius, hingga tidak sadarkan diri"


"Aappa??!!!" Endra berteriak kaget lalu segera membawa Naina kesebuah rumah sakit terdekat supaya Naina segera mendapatkan pertolongan, dokter mengatakan bahwa Naina dibius dengan obat yang sangat kuat.



"Mungkin butuh waktu lama untuk pasien bisa bangun"


Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Endra tidak terlalu khawatir, tetapi mengingat Naina yang kembali mencoba kabur lagi darinya hingga hal ini harus terjadi, Endra lalu membawa Naina ketempat sekarang ini Naina berada, supaya dia tidak kecolongan lagi dengan apa yang bisa dilakukan lagi oleh Naina.



Flashback End


"Jangan takut, sekarang kamu sudah aman" Endra terus menenangkan Naina.


"Jangan pernah berfikir untuk pergi lagi dariku, jangan pernah lagi kamu mencoba untuk kabur dariku, karena kamu selalu saja dalam masalah kalau melakukan hal itu, coba katakan padaku, apa yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa menerima sepenuhnya perasaanku, aku tidak mengerti,, sungguh tidak tau harus bagaimana supaya kamu bisa tau bahwa aku tidak main-main denganmu, aku ingin kamu menjadi milikku sepenuhnya" Endra mencoba melepaskan pelukannya tetapi Naina tidak mau dan terus memeluk erat tubuh Endra dan menyembunyikan wajahnya di dada Endra.


"Jangan seperti ini, aku takut kalau aku sampai jatuh cinta padamu, aku akan menjadi lemah, aku tidak akan menjadi diriku sendiri, aku tidak bisa focus pada anak-anak, aku tidak boleh egois, sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak" batin Naina lalu melepaskan pelukan Endra.


Dengan tubuhnya yang masih terasa lemas dan kepala nya yang terasa pusing, Naina mencoba untuk bangun.


"Mau kemana?" tanya Endra yang juga ikut bangun, tetapi Naina tidak menjawab dan berjalan pelan kearah jendela, Naina membuka jendela itu dan hembusan angin malam menyeruak masuk kedalam ruangan, ternyata waktu telah menunjukkan bahwa siang telah berganti malam.


Naina mengingat saat dia beranjak dari makam Tari, dia ingat kalau itu siang hari, berarti sudah berjam-jam dia tidak sadarkan diri, Endra memeluk erat tubuh Naina dari belakang dan menciumi pucuk kepala Naina.


"Bukankah kamu ingin berlibur ke pantai? lalu kenapa kamu kembali dan datang ke makam?"


"Aku merindukan sahabatku, dulu aku selalu bersamanya saat berlibur ke pantai, saat kemarin aku tiba di pantai aku merasa ada yang kurang, jadi aku kembali untuk mengunjungi Tari, sudah lama aku tidak mengunjunginya"


"Kamu bisa mengatakan padaku kalau ingin berlibur atau sekedar bermain ke pantai, mulai sekarang aku yang akan menemanimu"


Naina terdiam mendengar ucapan dari Endra, dia sempat tersentuh, tetapi dia kembali mengingat tentang anak-anaknya, Naina berfikir kalau Endra tidak akan mungkin bisa menerima anak-anaknya dengan tulus.


"Tolong lepaskan aku sebelum aku mencintaimu, aku tidak bisa melakukan hubungan ini, terimakasih karena kembali menyelamatkan diriku, kita tidak bisa bersama, tolong mengerti keadaanku" Naina melepaskan pelukan Endra.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa menerima diriku?!!!" Endra yang terus menerus ditolak oleh Naina tidak bisa lagi menahan kekesalan dan kekecewaannya.


"Aku tidak bisa merubah masa laluku, aku juga sungguh meminta maaf atas semua kesalahanku padamu, tapi Naina, tolonglah untuk tidak terus menolak diriku" Endra menggenggam kedua tangan Naina berharap bisa sedikit membuka hati Naina.


"Aku sudah memaafkan kesalahanmu, aku yang harus berterima kasih kepadamu karena selalu menyelamatkan diriku, kita tidak akan bisa bersama, jadi sudahi saja sampai disini, aku mau pulang" Naina melepaskan tangannya dari genggaman tangan Endra.


"Sudah cukup!!" Endra berteriak dan langsung menutup kembali jendela dan menguncinya, Naina hanya diam tidak mengatakan apapun tetapi dia berusaha mencari tas dan ponselnya, sebelum Naina menemukan apa yang dia cari, Endra telah mengunci pintu dan menyimpan kuncinya bersama kunci-kunci yang lain yang berada di atas meja, sudah pasti hal itu akan membuat Naina kesulitan untuk mengambil kunci dari kamar itu.


Endra tidur di ranjang dan tidak memperdulikan Naina yang menatap tidak mengerti dengan tindakannya, tetapi Naina tidak bertanya apapun dan mengambil semua kunci yang ada dimeja dan mencobanya satu persatu, Endra kesal melihatnya dan langsung mendekati Naina.


"Apa kamu ingin aku menggunakan kekerasan?" bisik Endra yang sudah berada dibelakang Naina, tidak ada jawaban apapun karena Naina tidak mengerti arah pembicaraan Endra.


"Aaagggghhhh" Naina yang sebenarnya masih sedikit pusing akibat obat bius yang dia hirup merasakan kaget karena Endra telah mengangkat dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, Naina meringsek maju ke pojok ranjang karena Endra terus mendekatinya, dengan sedikit kasar Endra menarik tubuh Naina dan mereka terjatuh bersama dengan tubuh Endra tertindih oleh Naina.


Saat Naina mencoba untuk bangun, dengan gerakan cepat Endra berguling hingga sekarang tubuh Naina tengkurap dengan tubuh Endra di atasnya, Endra menyibak rambut Naina yang menutupi lehernya dan langsung mengendus leher Naina.


"Aaaaaahhhh" Naina mendesah.


Walau sekuat tenaga Naina menahan dirinya untuk tidak terpengaruh oleh sentuhan Endra tetapi tubuhnya menghianati nya dan menerima setiap sentuhan Endra.


"Ttiiddaakkkk,, lepasskkaan!!" Naina bertahan saat Endra mencoba membalik tubuhnya yang tengkurap agar terlentang, tapi tenaga Naina tidak ada seujung kukunya dengan tenaga Endra, karena tidak lama Naina sudah terlentang dibawah kungkungan tubuh Endra, tanpa banyak kata, Endra melucuti pakaiannya dan juga pakaian Naina.


Sangat memalukan, itulah yang dipikirkan oleh Naina, dia sudah tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya, sementara tangan nya yang berada dalam cengkeraman tangan Endra, tidak bisa berbuat banyak untuk hanya sekedar menutupi bagian-bagian tubuh tertentu nya yang sensitif.


Pandangan mata Endra sudah begitu sayu menatap indahnya tubuh Naina yang polos dan berada dalam kungkungannya, Endra langsung menyerbu gunung kembar Naina yang terlihat terus menggodanya.


"Aaaaaaahhhhhhh" Naina menggeliat merasakan kenikmatan oleh lidah Endra yang memainkan pucuk gunungnya secara bergantian.


"Apa kamu mau menikah denganku?" bisik Endra ditelinga Naina setelah dia melihat Naina yang lemas karena sentuhan lidah Endra yang terus menerus menyedot dan ******* gunung kembarnya cukup lama, Naina terpejam masih merasakan kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan, walau dia pernah menikah tetapi Roni tidak pernah melakukan ini padanya, nafas Naina terdengar masih tersengal-sengal karena terjangan kenikmatan yang dia rasakan.


"Jawab atau aku akan terus melakukan lebih dari ini" Endra membelai lembut bibir Naina, dan tangannya terus bergerak ke bawah, walau sempat berlama-lama berhenti di gunung kembar Naina, lalu meremasnya membuat Naina merem melek, tangan Endra sekarang sudah sampai di pusar Naina, sementara itu Naina masih terus mengumpulkan kembali akal sehat nya yang dari tadi melayang karena perbuatan Endra.


Saat tangan Endra hampir sampai di pusat inti dari tubuh Naina,


"Jjjaaannggaaannn!!" Naina berteriak, tetapi bukan jawaban itu yang diharapkan oleh Endra, dengan gerakan cepat Endra meremas bagian inti Naina, bagian terdalam dari tubuh Naina yang sangat ingin dikunjungi oleh Endra sejak lama.


Naina menangis histeris karena dia tiba-tiba mengingat kembali perlakuan Roni terhadap dirinya, Endra yang sedikit kaget melepaskan tangannya, Naina langsung mendorong tubuh Endra dan dia miring membelakangi Endra.


"Sayang maafkan aku,, apa aku menyakitimu?" Endra memeluk tubuh Naina dari belakang, Naina terlihat gemetaran karena dia masih ketakutan karena ingatannya tentang kasarnya Roni saat melakukan hubungan badan kembali teringat, Endra lalu menyelimuti tubuh Naina kemudian memeluknya.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku" Endra memeluk tubuh Naina dengan erat dan terus meminta maaf.


Setelah sekian lama akhirnya Naina tenang dan tiba-tiba menghadap ke arah Endra, Naina membelai lembut wajah Endra, tentu saja hal itu mengagetkan bagi Endra tetapi dia juga senang.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, maafkan aku" Naina lalu bangun dan berniat untuk turun dari ranjang setelah memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.


__ADS_2