Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Atika Sang Maniak


__ADS_3

"Kenapa tidak langsung mengatakannya?" tanya Rania


Endra menelfon Rania untuk meminta bantuan, karena dia berharap Rania bisa membantunya, selama ini Rania selalu mengerti tentang Naina.


"Dia itu pintar, tidak mungkin dia bersembunyi ditempat yang bisa kakak tebak"


Endra menemukan jalan buntu, dia tidak tau lagi dimana harus mencari Naina, hingga tiba-tiba dia mendapatkan pesan dari Yaya.


"Ompa,, mama tadi datang, kenapa ompa tidak datang?"


"Yaya, tahan mamamu disana" Endra bergegas menuju ke asrama anak-anaknya.


Asrama itu adalah asrama khusus wanita, tetapi untuk keluar tentu saja bisa masuk dengan bebas asalkan di jam yang sudah ditentukan dan juga membawa tanda pengenal, karena terburu-buru, Endra tidak membawa tanda pengenal yang dimilikinya saat dia dapatkan waktu membayar biaya sekolah anak-anaknya dengan mengatakan dia sebagai ayah barunya Deva dan Yaya.


Endra lalu kembali menelfon Yaya karena dia tidak bisa masuk kedalam asrama dan meminta pada Yaya dan Deva untuk keluar menemuinya.


"Ompa!!" panggil anak-anak itu dari kejauhan.


"Ayah, aku sekarang adalah ayah kalian, apa kalian melupakan hal itu? bukankah kalian sudah berjanji akan memanggilku seperti itu, kalau aku sudah menikah dengan mama kalian?"


"Eh iya lupa,, hehehe,, ompa,, eh maksudku ayah,, ahahaha,, rasanya aneh karena sekarang aku mempunyai ayah" ucap Yaya dengan ceria, Yaya memang lebih terbuka dibandingkan dengan Deva.


"Mana mama kalian?" tanya Endra tidak sabar ingin mengetahui keberadaan Naina.


"Mama sudah pulang tadi, katanya harus cepat kembali karena ayah mencarinya, lalu kenapa ayah mencari mama? katanya ayah menerima kami sebagai anak ayah, kenapa tidak menjenguk kami?"


"Maaf,, ayah banyak pekerjaan, lalu apa mama kalian tidak mengatakan sesuatu?"


"Tidak, hanya berbicara dan mengobrol seperti biasa, hari ini kan memang jadwal pertemuan dengan orang tua yang dilakukan setiap satu bulan sekali" jawab Yaya.


"Tapi mama memang tidak seperti biasanya, gaya berpakaiannya berbeda, lalu entah kenapa mama memakai selendang yang dijadikan kerudung di kepalanya" ujar Deva ikut berbicara.


Endra akhirnya menyadari, itulah yang membuat pengawalnya yang memantau asrama ini menjadi kecolongan dan tidak mengetahui kedatangan Naina, sepertinya Endra tidak mau menutupi sesuatu dengan anak-anaknya, dan mengatakan tentang masalah mereka walaupun tidak semua dijelaskan.


"Maafkan ayah karena telah berbuat salah, ayah sungguh minta maaf, tapi ayah tidak akan menutupi sesuatu kepada kalian, saat ini mama dan ayah sedang bertengkar, ini masalah orang dewasa, ayah tidak bisa menceritakan detail masalahnya"


"Apa ayah selingkuh, apa ayah menyakiti mama??!" teriak Deva langsung bangkit dari duduknya dan memandang tajam ke arah Endra.


"Tidak sayang, tidak seperti itu, ayah tidak akan berani, sungguh bukan karena itu, ini semua hanya salah paham, jadi maukah kalian membantu ayah untuk menyelesaikan permasalahan ini? ayah mohon"


"Kalau sampai kami tau bahwa ayah menyakiti mama, kami akan menghabisi ayah" ancam Yaya tetapi dengan muka imutnya, tentu saja tidak ada yang akan takut dengan ancamannya, Yaya memang berparas cantik, mirip sekali dengan Naina, berbeda dengan Deva yang lebih mirip ayah kandungnya.


"Iya, ayah tau, ayah tidak mungkin berani melawan kalian, sekarang bisakah kalian membantu ayah?"


"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Deva


Endra lalu meminta kepada Deva dan Yaya untuk menghubungi kembali Naina, Endra mengatakan untuk mencari alasan apa saja, setelah mendengarkan apa yang di inginkan oleh Endra, Deva lalu menelfon nomor telepon namanya, sepertinya nomor telepon Endra diblokir oleh Naina, sehingga Endra tidak bisa menghubunginya.


"Ada apa sayang?" terdengar suara Naina setelah sambungan telepon Deva diangkat.


Saat itu hampir saja Endra hendak berbicara, tetapi Deva memberikan kode untuk menutup mulutnya, setelah pembicaraan ditelepon dimatikan, Endra lalu menanyakan tentang rencana mereka, karena tidak terdengar oleh Endra kalau Deva meminta mamanya untuk datang.


"Ayah ini apa tidak berfikir? mama akan curiga kalau kita terlalu terburu-buru, lagipula tidak ada alasan bagi mama untuk datang"


"Lalu ayah harus bagaimana menemukan mama kalian?? ayah sudah sangat merindukannya" ucap Endra dengan jujur dan terkulai lemas meletakkan kepalanya di atas meja, Endra berubah menjadi lelaki yang melow saat berurusan dengan Naina.


"Jangan seperti Rizwan saja, aku sangat geli melihatnya" ujar Yaya bergidik melihat tingkah Endra.


"Siapa Rizwan?" tanya Endra lalu kembali mengangkat kepalanya.


"Pacar kak Dev,,,," Yaya tidak melanjutkan ucapannya karena mulutnya telah dibekap oleh Deva.


"Kalian ini masih kecil kenapa punya pacar segala? belajarlah yang rajin, jangan memikirkan tentang pacaran, atau ayah akan memotong kaki pacar kalian"


"Jangan berlebihan, seperti ayah tidak pernah muda saja" ucap Deva sewot.


Endra tidak mungkin menceritakan tentang masa mudanya kepada Deva ataupun Yaya, sungguh itu adalah cerita yang tidak perlu diingat apalagi untuk diceritakan kembali, Endra hanya merasa dia bertanggung jawab atas segalanya tentang Naina dan tentu saja anak-anaknya, jadi Endra harus menjaga ekstra pada anak-anaknya yang memasuki masa puber.


"Pokoknya kalian jangan pacaran, kalau aku mengetahui siapa pacar kalian, detik itu juga pacar kalian akan kehilangan kakinya"

__ADS_1


"Ayah jangan terlalu berlebihan, lagipula mama juga mengetahuinya, dan bersikap normal, kenapa ayah terlalu berlebihan"


Endra tidak mengerti, bagaimana bisa Naina membiarkan anak-anaknya berpacaran, bukankah itu sangat beresiko, Yaya lalu memutarkan rekaman suara Naina saat melakukan pesan suara, pada awalnya terdengar suara Yaya yang mengadukan kepada mamanya tentang Deva yang memiliki pacar.


"Mama, kakak mempunyai pacar, dia menjadi semakin melupakan diriku dan jarang mengajakku untuk bermain bersama" terdengar keluh kesah dari Yaya pada mama tersayangnya.


"Yaya sayang, cobalah untuk memahami kakak ya,, nanti juga Yaya akan mengalaminya sendiri kok, tetapi Yaya tenang saja ya, karena nanti mama akan memberitahu pada kakak kalau tidak boleh mengabaikan Yaya"


"Mama tidak marah? kakak punya pacar ma!"


"Cinta pertama, cinta monyet, dan cinta masa muda itu tidak salah sayang, itu adalah masa yang indah dan pasti akan kalian lalui, tetapi ingat pesan mama, jangan pernah melebihi batas, dan jangan pernah mengganggu waktu belajar kalian, yang akan merasakan kerugian adalah kalian sendiri kalau kalian tidak mengikuti aturan"


Yaya lalu kembali menyimpan ponselnya setelah memutar rekaman pesan suara dari Naina.


"Baiklah, ayah akan mengikuti mama kalian, tapi saat kalian berada diluar jalur, maka kalian akan tau akibatnya"


"Ayah berlagak sok seram, sekarang saja hanya ditinggal pergi oleh mama saja sudah galau" ledek Yaya.


"Ini masalah yang berbeda Yaya" ujar Endra membela diri.


Mereka lalu membuat rencana, kebetulan minggu depan, akan ada acara pertemuan wali murid yang akan segera lulus, jadi ada yang harus dirapatkan, pasti saat itu Naina akan datang.


"Tapi ayah harus ingat untuk tidak membuat keributan"


Endra lalu kembali setelah selesai meminta bantuan kepada anak-anaknya, dia akhirnya bisa sedikit lega karena mempunyai secercah harapan untuk bisa menemukan Naina.



Endra dipanggil oleh tuan Arga untuk membicarakan sesuatu, Endra sudah yakin bahwa ini pasti ada sangkut pautnya dengan Atika, Endra meminta Reynolds untuk menemaninya karena Suseno sedang melakukan meeting bersama para bawahannya.



Setelah sampai di perusahaan Arga, Endra sudah tidak kaget lagi dengan keberadaan Atika disana, Endra sudah mengetahui dan menyadari bahwa akan ada sandiwara yang terjadi.




"Apa maksud tuan?"



"Tidak usah berbasa-basi, apa yang telah kamu lakukan terhadap Atika? kenapa kamu mempermalukan nya di sebuah hotel dan bahkan di dalam kantormu?!!"



"Saya masih tidak mengerti"



"Bukankah kamu berani menggoda dirinya bahkan berniat melecehkannya?!!,, jangan berpura-pura lagi!!" teriak Arga dan hendak menampar Endra, tetapi dengan tegas dan penuh percaya diri, tanpa takut kehilangan kontrak kerja samanya dengan perusahaan Arga, Endra berani melawan dan membela diri dengan menahan tangan Arga.



"Yang harus melaporkan wanita gila itu adalah saya, dialah yang telah melecehkan bahkan menghina saya sebagai seorang pria"



"Bohong,, itu semua bohong, aku mempunyai foto-foto sebagai bukti kebejatan dirimu, lalu kamu bisa memberikan bukti apa?!" teriak Atika.



Endra tidak menjawab apapun dan hanya bertukar senyum dengan Reynolds, lalu Endra menganggukkan kepalanya.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Flashback

__ADS_1


"Jangan gegabah, kita harus menangkapnya diwaktu yang tepat" ucap Suseno saat Endra ingin segera menangkap Atika.


Hari ini ada rapat dengan beberapa perusahaan, Endra tidak menghentikan pencariannya terhadap Naina, walau dia sudah memiliki rencana dengan anak-anaknya, karena bagi dia Naina tetap prioritas utama.


"Hari ini ada rapat dengan perusahaan YM, disebuah restoran di hotel NM, sepertinya hari ini ada banyak sekali jadwal rapat, apakah mau kita batalkan salah satunya?" tanya Suseno melihat jadwal Endra hari ini.


"Tidak perlu, lakukan semuanya hari ini, aku ingin minggu depan semua pekerjaan sudah selesai saat Naina kembali pulang"


Suseno mengikuti keinginan Endra, hari ini semuanya rapat penting yang hanya bisa Endra sendiri yang harus melakukannya dan tidak bisa diwakilkan bahkan oleh Suseno.


Disela-sela kesibukan nya, Endra selalu menyempatkan diri untuk bertanya pada para pengawal nya yang mencari keberadaan Naina, untuk mendapatkan informasi terbaru tentang istrinya.


"Biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu, wanita mana yang kuat melihat suaminya dalam kondisi seperti itu" ujar Suseno menasehati Endra.


"Aku tidak bisa tidur tanpanya"


"Ternyata hanya itu yang kamu pikirkan" Suseno lalu melengos malas meladeni obrolan dengan Endra.


"Bukan seperti itu maksudnya, aku sangat merindukannya dan begitu menghawatirkan dirinya, hingga aku tidak bisa tidur, lagipula tidak ada salahnya aku merindukan tentang hal lain dalam diri istri ku sendiri"


Suseno tidak menjawab apapun lagi, karena mereka sudah sampai ditempat tujuan rapat mereka untuk yang terakhir dihari ini, Endra dan Suseno memasuki hotel NM dan langsung menuju ke restoran nya, tetapi betapa terkejutnya mereka, karena orang yang rapat dengan mereka adalah Atika.


Endra berniat untuk membuat perhitungan, tetapi Suseno langsung menahan tangannya dan membisikkan sesuatu.


"Tahan Ndra, kita harus membuat rencana yang matang, kita harus membuat dirinya merasakan hukuman berat, sekarang kita ikuti saja rencananya terlebih dahulu, kita hanya harus lebih waspada dan berhati-hati"


Kedua pria itu lalu semakin mendekati dimana Atika duduk, sudah tentu mereka sangat muak sebenarnya melihat wanita maniak itu ada didepan mereka, tetapi untuk melakukan sesuatu yang besar, Endra dan Suseno harus menahan perasaan mereka.


"Endra,,, Endra,, apalagi yang sebenarnya kamu kejar? uangmu sudah pasti sangat banyak, tetapi terus saja melakukan hal ini, apa istrimu adalah orang cerewet yang mengharuskan suaminya untuk terus bekerja,, ooooppppsssss,,, aku lupa, saat ini kan istrimu kabur meninggalkan dirimu,, apa itu yang membuat dirimu kembali mendatangiku?" ujar Atika dengan gaya sensualnya dengan membusungkan dadanya.


"Apa maumu?" tanya Endra malas.


"Tidak,, aku tidak mau apapun, yang aku mau hanya tubuhmu" jawab Atika blak-blakan tanpa rasa malu.


Endra mengepalkan tangannya mendengar apa yang dikatakan oleh Atika, tetapi dia mengingat akan nasehat Suseno.


"Minumlah saja untuk hari ini, aku tidak akan melakukan hal yang lain, tolong jangan kecewa" ucap Atika penuh kebohongan, dan Endra tentu saja menyadarinya.


Endra sangat tau kalau ini pasti akan menjadi masalah lagi, tetapi dia mencoba untuk mengikuti permainan Atika, Endra tau dengan pasti bahwa minuman yang diberikan oleh Atika mengandung obat perangsang, karena dia sudah paham dengan baunya walaupun disamarkan dengan minuman lain.


Dari saat dia diculik, bahkan oleh Intan, dia sering sekali meminum nya, jadi dia pasti langsung mengetahuinya, Endra meminum nya, karena dia sangat yakin dengan minuman itu walau dia sebenarnya masih sedikit ragu.


"Aku harap ini benar-benar obat laknat itu tanpa obat tidur sedikitpun" batin Endra, karena kalau obat tidur, dia bisa menjadi tidak sadarkan diri


Setelah beberapa saat, terlihat wajah Endra yang merah padam, bahkan dia sedikit mengeram, Endra lalu bangun dari duduknya lalu mendekati Atika.


"Bantulah aku" ujar Endra lalu berjalan cepat ke bagian pemesanan hotel, setelah mendapatkan sebuah kamar, Endra dengan cepat menuju kesana dan memberikan kode pada Suseno untuk menunggu saja dan tidak mengikutinya.


Sebuah pintu kamar hotel terbuka, dengan cepat Atika langsung mendorong tubuh Endra ke tembok dan dengan cepat langsung melucuti pakaiannya, setelah semua pakaiannya terbuka, Atika lalu melucuti juga pakaian Endra.


"Lihatlah baik-baik,, wanita seperti dirimu tidak pantas untukku, kamu tidak akan mampu, dalam hidupku,, aku sudah menemui begitu banyak wanita murahan sepertimu, apa kamu pikir aku tidak jijik pada kalian semua??!! aku selalu merasa ingin muntah setiap mengingat wanita seperti kalian, saat ini aku hanya ingin memberimu paham, bahwa selain aku tidak minat sedikitpun padamu, aku juga cuma ingin kamu sadar, bahwa rencana licik mu seperti ini tidak mempan untukku" ujar Endra lalu kembali memakai pakaiannya.


Atika menjerit tidak jelas, dia sangat shock melihat milik Endra yang tidak seperti kebanyakan orang yang selama ini ditemui oleh Atika, biasanya tidak ada yang bisa tahan dengan kuatnya dosis obat perangsang yang dia berikan.


Atika sangat jelas mendengar dari ranjang Endra dan Naina, saat dia masih mendengarkan dari alat perekam dan alat pelacak yang dipasang oleh Sumi, di bawah ranjang pasangan itu, saat itu sering terdengar jelas kalau Endra dan Naina selalu melakukan hubungan, bahkan Atika semakin terobsesi dengan Endra karena mendengar teriakan manja, desisan kenikmatan, serta rintihan yang terdengar dari mulut Naina karena Endra, hingga membuat Atika semakin penasaran dengan Endra.


Awalnya Atika memang sangat menyukai Endra, tetapi saat itu Endra menikah dengan Intan, Atika lalu mengalah karena tidak mau mencari masalah dengan Intan yang saat itu keluarga nya lebih berpengaruh.


Karena ambisinya, Atika lalu menikahi pengusaha kaya walaupun harus menjadi istri kedua, hingga saat dia tidak mendapatkan kepuasan dari suaminya, dia kembali mengingat Endra, selama mencari cara untuk bertemu dengan Endra, dia sering bermain dengan para pengawal yang disiapkan oleh suaminya untuk selalu menjaganya, tetapi selain menjaga, para pengawal itu harus menjadi budak nafsu seorang Atika.


"Kenapa?? bukankah kamu sudah sembuh?!!" teriak Atika dengan tidak tau malunya.


"Aku tidak pernah sembuh dan tidak mungkin sembuh" ucap Endra yang sudah paham dengan kondisi tubuhnya, maksud Endra dari tidak akan sembuh adalah, tubuhnya sudah sangat kebal dengan obat perangsang, jadi dia tidak akan sembuh dengan hal itu, Endra menyadari bahwa dia begitu mencintai Naina, sehingga itu yang membuat dirinya menjadi normal, Endra tidak memperdulikan lagi Atika dan segera meninggalkan kamar hotel itu.


Flashback End


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


__ADS_1


__ADS_2