
"Sekarang buka baju dan celana mu,, pakai saja lingerie seksi ini,, dan berpose dengan sensual,, aku akan memotret mu dan segera melakukan iklan"
"Haruskah seperti itu?" tanya Ningsih yang sebenarnya sangat ketakutan.
"Biar lebih mahal penawaran nya"
Sebelum Ningsih mempunyai alasan untuk bisa menolak, tiba-tiba terdengar suara tangisan Alfin, Ningsih langsung bergegas mendekati anaknya.
"Gantilah dulu bajumu,, supaya kita bisa segera menyelesaikan iklannya, dan segera kita upload ke media sosial khusus para wanita panggilan"
"Sebentar sayang,, Alfin masih menangis, sepertinya tempat ini masih asing baginya, nanti hasilnya akan jelek kalau tidak dalam waktu yang kondusif,, kamu persiapan saja dulu tempat pemotretan nya"
Ningsih semakin bingung, karena dia tidak mempunyai alasan lagi untuk bisa menolak keinginan Putra, dan saat dia masih kebingungan, Ningsih dikagetkan dengan suara keras yang ada diluar rumah.
"Ada apa ini?" tanya Ningsih pada Putra, dan betapa kagetnya Ningsih melihat posisi dari mantan kekasihnya itu.
"Kenapa sangat lama sekali,, aku hampir mati ketakutan,, huuuuaaaa,, hhiikkksss, hiikkksss,, hiikkksss!!" Ningsih yang badannya sebenarnya sangat gemetaran karena takut akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan masih terus menangis, Ningsih akhirnya bisa mengeluarkan perasaannya yang sebenarnya, dia masih terus menangis sambil melihat kearah Suseno yang sedang memegangi kerah baju Putra.
Ada beberapa pria masuk kedalam rumah, mereka juga kebingungan melihat kearah Ningsih yang menangis seperti anak kecil.
"Tenang sayang, tenanglah,, aku sudah ada disini" Suseno mendekati Ningsih dan memeluknya setelah Putra dipegangi oleh para pengawal yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Apa kamu tidak kenapa-kenapa?" Suseno masih memeluk kepala Ningsih untuk menenangkan nya, Ningsih menggeleng dan menghapus air matanya.
Putra kaget melihat adegan di depan matanya, dia langsung meradang dan berusaha melawan para pengawal yang memegangi tangan nya, tapi karena tidak bisa melawan, Putra hanya bisa berteriak.
"Apa maksudmu Ningsih,, kamu bilang selalu menungguku dan berharap kita bisa hidup bahagia disini,, lalu siapa pria itu,, dasar wanita murahan!!" teriak Putra dan terus berusaha melepaskan diri, Ningsih geram mendengar ucapan Putra dan langsung bangkit mendekati Putra.
Ppplllaaakkkkk
Ppplllaaakkkkk
Ppplllaaakkkkk
Ningsih terus memukuli wajah Putra, matanya penuh dengan sorot kebencian kepada pria di depannya itu.
"Kamu telah menghancurkan hidupku,, setelahnya aku masih percaya padamu dan kembali lagi, tapi untungnya aku bisa mengetahui niat busuk mu saat itu, dengan teganya kamu menyebut diriku wanita gratisan,, tapi lihatlah Putra sayang,, wanita gratisan milikmu ini telah berhasil membuat dirimu tidak berguna lagi,,, apa kamu tau apa yang terjadi pada dirimu??,, aku yang membuatmu seperti itu!!!,, kamu pikir aku begitu tergila-gila padamu saat melakukan hubungan itu?? aku sungguh sangat jijik saat melakukannya, bahkan setelannya aku harus terus mandi saat mengingat sentuhan mu,, sepertinya kamu benar-benar mengira kalau aku tergila-gila padamu,, ahahahaha,,, mengacalah hey lelaki biadab!!"
Plaakkkkk
Ppplllaaakkkkk
Ningsih terus memukuli wajah Putra.
"Aku pernah sangat mencintaimu hingga aku serahkan segalanya,, tapi apa yang kamu lakukan terhadap diriku, bahkan sampai akhir,, kamu terus saja menghina diriku,, kalau seandainya membunuh tidak akan dikenai hukuman, saat ini aku ingin menghancurkan tubuhmu!!" Ningsih terus berteriak mengeluarkan segala perasaan nya, Suseno memahami perasaan Ningsih, lalu mendekati wanita yang secara perlahan telah membuka hati dan perasaan nya itu, Suseno memegangi bahu Ningsih.
"Hancurkan saja dia kalau itu membuat mu lebih baik" ucap Suseno tersenyum menyeringai lebar ke arah Putra.
"Bolehkah?" tanya Ningsih pelan lalu menoleh ke arah Suseno.
"Tentu saja,, disini ditengah hutan,, tidak ada siapapun,, kita bisa membuang jasadnya, dan pasti akan segera dimakan binatang buas dan liar disekitar sini" Suseno lalu mengambil sebuah pisau lipat dari saku celananya dan memberikan nya pada Ningsih.
"Lakukanlah sesuka hatimu, aku akan menjaga Alfin, sepertinya dia mulai rewel karena ketakutan mendengar teriakkan mu" Suseno lalu mundur, sepertinya dia sedang mengetes apa yang akan dilakukan Ningsih selanjutnya.
"Sayang sadarlah,, ingat dengan kenangan indah kita" Putra berusaha untuk merayu Ningsih.
"Kenangan indah?? yang mana?? adakah kenangan indah kita berdua?? coba ceritakan padaku,, aku pasti akan mengingat nya saat kembali mendengar nya" Ningsih membuka pisau lipat itu dan dia arahkan pada burung Putra.
"Saat kamu merenggut masa depanku? atau saat kamu kembali lagi merayuku dan bodohnya aku percaya lagi padamu?,, atau saat kamu berniat menjadikan diriku wanita panggilan,, coba katakan bagian mana dari kenangan indah yang kamu berikan untuk ku" pisau yang dipegang Ningsih kini telah membelai wajah Putra yang sudah pasti terlihat sangat ketakutan.
"Sudahlah Putra,, melihat mu seperti ini membuat ku sudah sangat puas" Ningsih tersenyum puas lalu menepuk-nepuk pipi Putra, pisau yang dia pegang, dilipatnya kembali.
Saat menoleh dia kaget melihat Suseno yang tersenyum lebar padanya, Ningsih ikut tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Suseno lalu mengembalikan pisau lipat yang dia pegang.
"Terima kasih" ucap Ningsih,, saat dia akan berjalan melewati Suseno untuk masuk kedalam kamar dimana Alfin berada, Suseno menarik tangan Ningsih dan saat Ningsih menoleh kembali ke arah Suseno.
"Hheeemmmpppp"
__ADS_1
Suseno melahap bibir Ningsih,, para pengawal langsung menundukkan kepalanya, sementara Putra geram tetapi karena tidak berdaya dia lalu menitikkan air matanya, dia lalu mengingat dengan apa yang telah dia lakukan untuk Ningsih.
"Ucapkan terima kasih dengan benar" ucap Suseno setelah melepaskan ciumannya, mereka berpandangan, Ningsih menitikkan air matanya, dia menjadi bingung dengan perasaannya.
Reynolds melihat adegan itu, dia baru datang begitu mendapatkan kabar tentang keberadaan Ningsih, Suseno melihat kearah Reynolds dan memanggilnya.
"Kamu sudah datang Rey,, Terima kasih atas bantuannya,, tolong bawa Putra ke penjara lagi" ujar Suseno, Ningsih yang berdiri membelakangi keberadaan Reynolds merasakan sakit di dadanya.
"Apa dia melihatnya??" batin Ningsih, tetapi dia tidak berani menoleh ke arah Reynolds.
"Ada apa sayang?? kenapa kamu terlihat sangat terkejut? itu hanya Rey,, yang datang untuk membantu kita,, ayo segera pergi dari sini, ambillah dulu Alfin, sepertinya dia sedang bermain dengan salah satu pengawal" ujar Suseno membuyarkan lamunan Ningsih yang kaget karena kedatangan Reynolds, Ningsih hanya mengangguk dan belum berani menoleh sedikitpun kearah Reynolds.
Didalam perjalanan, Ningsih bersama Suseno di sebuah mobil kursi belakang, sedangkan Reynolds harus membawa Putra kembali ke penjara, Ningsih masih terus terdiam, Alfin tidur didalam pelukan seorang pengawal yang duduk di kursi depan, Alfin sepertinya merindukan sosok ayah, anak itu gampang sekali nempel pada pria dewasa.
"Kamu kenapa sayang??" tanya Suseno lalu menggenggam tangan Ningsih, karena kaget tanpa sengaja Ningsih menepis tangan Suseno.
"Maafkan aku,, aku tidak sengaja" ucap Ningsih merasa tidak enak, dia juga baru menyadari bahwa Suseno terus memanggil sayang padanya.
"Sejak kapan lelaki dingin ini menjadi begitu hangat dan perhatian?" batin Ningsih melihat ke arah Suseno.
"Apa ada yang ingin kamu katakan? kenapa dari tadi kamu terus terdiam? apa kamu marah padaku karena aku mencium mu tadi?" tanya Suseno dan semakin merapatkan tubuhnya pada Ningsih.
"Aku akan mengembalikannya kalau kamu marah" ujar Suseno dan langsung memandang intens kearah Ningsih, sementara Ningsih yang bingung dengan perkataan Suseno juga langsung memandang ke arah pria yang telah menyelamatkannya itu.
"Mengembalikannya?? bagaimana cara nya??,, hheeemmmpppp" Ningsih memejamkan matanya karena kaget dengan gerakan Suseno yang dengan tiba-tiba kembali melahap habis bibirnya, Suseno bahkan tidak malu dilihat para pengawal yang ada di kursi depan, dengan gerakan cepat, tangan Suseno menutup gorden yang menjadi sekat antara jok depan dan belakang.
Ningsih tidak membalas ciuman Suseno walau dia tidak juga menolak nya, saat Suseno menggigit bibir nya pelan, baru Ningsih sadar dan mendorong tubuh Suseno.
"Kenapa? bukankah kita akan segera menikah?" tanya Suseno lalu semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Ningsih terus meringsek mundur.
"Apa kamu mengingat Rey?? apa kamu mencintainya?" tanya Suseno sambil memainkan rambut Ningsih.
"Kenapa kamu menanyakan tentang hal itu, tetapi kamu juga mencium ku? apa kamu mengolok-olok diriku?" tanya Ningsih yang kali ini memajukan badannya menghadapi Suseno.
"Aku tidak yakin kamu beneran mencintaiku,, aku berfikir kalau kamu pasti hanya ingin melakukannya karena ayah Rayhan,, tapi kamu tetap tidak akan rugi menerima perjodohan itu, karena kamu bisa puas memakai tubuhku,,, apa itu yang kamu pikirkan??" tanya Ningsih yang kali ini menantang Suseno.
Suseno menahan tubuh Ningsih dan memegangi kedua lengan wanita itu dengan tangannya, mereka berpandangan, hingga dengan gerakan cepat, Suseno menarik tubuh Ningsih kedalam pelukannya.
Dari awal Reynolds dengan tegas menolak perjodohan dan Suseno menerima hanya demi Rayhan, Suseno juga telah melakukan penyelidikan terkait dengan masa lalu Ningsih, dan dia merasa tidak masalah dengan hal itu, karena dia pikir semua telah berlalu, Suseno telah menganggap bahwa Ningsih adalah benar-benar calon istrinya, walau karena perjodohan, jadi saat mengetahui Reynolds menyukai Ningsih, Suseno merasa terganggu dengan hal itu.
"Kita masih bingung dengan perasaan kita sendiri,, cobalah untuk mengetahui perasaan kita sendiri" ucap Suseno sambil terus membelai lembut rambut Ningsih.
Sampai di rumah, Ningsih langsung disambut oleh mama Nimah dan papa Yanto, mama Nimah mengajak Suseno untuk masuk rumah terlebih dahulu, tetapi Suseno menolak nya dengan alasan masih ada sesuatu yang harus dilakukan.
Ningsih mengantarkan Suseno ke mobil, Ningsih lalu memegangi ujung baju pria itu, Suseno menoleh lalu menggenggam tangan Ningsih.
"Jangan terbebani dengan apapun,, kalau memang yang kamu cintai adalah Rey,, aku pasti akan rela,, karena aku sangat yakin kalau Rey bisa membahagiakan dirimu, pikirkan dulu baik-baik, dan yang lebih penting untuk saat ini adalah,, banyak-banyaklah beristirahat, aku pergi dulu" Suseno melepaskan tangannya lalu masuk ke dalam mobil.
Ningsih lalu masuk kedalam rumah, kedua orang tuanya tidak banyak berbicara atau bertanya dengan apa yang terjadi, bagi mama Nimah dan papa Yanto, yang terpenting anaknya sudah kembali pulang.
Bbbuuuuggggghhhhh
Reynolds meninju wajah Suseno, dia marah karena tau kalau Suseno sengaja mencium Ningsih didepannya, Suseno tidak membalas pukulan Reynolds karena tuduhan Reynolds memang benar, setelah mengelap darah yang ada di ujung bibirnya, Suseno lalu tertawa yang membuat Reynolds kembali marah.
"Kurang ajar!!" Reynolds berniat untuk kembali memukul Suseno, tetapi kali ini Suseno menahannya, mereka saling berpandangan dengan tangan saling menahan dan mendorong.
"Apa maumu sebenarnya?!" teriak Reynolds.
__ADS_1
"Apa salah aku mencium calon istri ku sendiri?"
"Kita sudah sepakat untuk menerima apapun keputusan dari Ningsih,, dan aku tau dengan pasti kalau Ningsih belum memutuskan apapun!" Reynolds yang sudah diliputi kemarahan, dengan kekuatan penuh mendorong tubuh Suseno dengan keras hingga terpental.
"Sepertinya persaingan ini sudah tidak akan sehat lagi,, kamu sendiri yang memulainya,, tadinya aku tidak menerima perjodohan itu karena aku menyadari masa lalu ku yang kotor, sehingga aku merasa tidak pantas untuk nya,, aku pikir kamu yang bisa membahagiakan nya, tetapi sikapmu yang seperti ini membuat ku muak,, aku pastikan kalau Ningsih pasti akan menjadi milikku!!" Reynolds lalu segera pergi dari tempat dimana tadi dia mencegat Suseno yang baru mengantarkan Ningsih.
Putra sudah digiring kembali ke penjara dan kali ini sudah pasti pengamanan untuk nya semakin di perketat.
Suseno memegangi dadanya yang terasa sakit, entah fisiknya yang sakit karena dorongan dari Reynolds, atau mungkin perasaannya yang sakit mendengar ucapan dari saudara angkatnya itu.
Suseno termenung didalam mobilnya, dia berfikir dan terus berfikir, tetapi dia masuk dalam kesimpulan kalau dia memang saat ini menyukai Ningsih.
"Apakah rasa suka ku, atau rasa cintaku,, tidak lebih besar dari Reynolds?" batin Suseno lalu mengambil ponselnya dan memandangi wajah Ningsih.
"Kalau yang kamu pilih adalah Reynolds,, apa yang harus aku lakukan Ning,," gumam Suseno lalu mencium foto Ningsih.
Sementara itu, Reynolds sedang berusaha untuk menelepon Ningsih, cukup lama sampai Ningsih mengangkat panggilan telepon nya, sepertinya Ningsih masih sedikit canggung untuk berbicara dengan Reynolds setelah kejadian tadi.
"Apa kamu sudah tidur?? kenapa sangat lama mengangkat teleponnya?" tanya Reynolds ketika mendengar suara Ningsih.
"Aku baru saja selesai membersihkan diri"
"Apa kamu benar tidak terluka?"
"Tidak Rey,, aku baik-baik saja,, mantanku itu mudah aku hadapi, dia tidak berani melakukan apapun, atau lebih tepatnya dia tidak sanggup"
"Akhir minggu ini setelah tuan Endra keluar dari penjara, maukah kamu berlibur bersama ku?? bukankah saat itu kamu ingin ke pantai saat melihat foto ku yang berada di sebuah hamparan pasir,, aku akan membawamu kesana,, kita bisa menyewa baby sitter untuk menjaga Alfin"
"Rey,, aku,,," Ningsih terdiam tidak tau harus bagaimana berbicara pada Reynolds.
"Jangan menolak diriku,, aku akan meminta izin pada kedua orang tuamu"
"Reyy,, sepertinya aku sudah memutuskan"
__ADS_1
"Tidak Ning,, kamu belum memutuskan,, kamu bahkan belum tau kesungguhan hati ku, kamu bahkan belum mengenal diriku, jangan katakan kalau kamu sudah memutuskan tanpa tau pasti apa yang kamu putuskan,, aku akan datang ke rumah mu hari minggu pagi" tanpa mendengar jawaban dari Ningsih, Reynolds langsung mematikan panggilan teleponnya.