Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Tuan Misterius


__ADS_3

"Hari ini aku akan pergi bersama sahabatku, untuk menghadiri acara pernikahan temanku di pantai Parangtritis, apa kamu mau ikut?" ujar Naina berpamitan pada suaminya, dia sengaja pura-pura mengajaknya karena tau pasti akan ditolak.


Naina sudah tau perselingkuhan suaminya jadi suami nya pasti malah akan sangat senang kalau dia bepergian, entah Roni akan membawa selingkuhan nya kerumah atau apapun itu, Naina sudah tidak perduli.


Sakit hatinya begitu dalam, dia yang selalu dikasari, dan ditekan untuk melahirkan anak lelaki, lalu sekarang suaminya berselingkuh, dia benar-benar sudah tidak ada perasaan apapun pada suaminya selain rasa benci dan dendam, dia hanya bermain cantik dan menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan suaminya.


"Untuk apa aku ikut acara tidak penting seperti itu, lebih baik aku bekerja, uang belanja kamu bulan ini masih ada tidak? aku akan memakainya dulu untuk bisnis ku"


"Sudah aku habiskan semua, aku juga kemarin meminta gajiku dibayar diawal untuk ongkos sekarang aku berangkat ke pantai" jawab Naina berbohong.


Roni tidak pernah tau kalau dia mempunyai salon dan mempunyai penghasilan yang banyak, dia hanya bilang pada suaminya kalau dia hanya bekerja sampingan di salon itu.


"Dasar istri tidak berguna, uang sebanyak itu kamu habiskan!" teriak Roni


"Baiklah, mulai bulan depan jangan memberiku uang lagi, kamu cukup mentransfer uang untuk anak-anak kita di asrama, bayar semua kebutuhan mereka, dan untuk kebutuhan rumah ini kamu siapkan sendiri, ini aku kembalikan kartu mu yang isinya selalu tidak seberapa" ujar Naina meletakkan kartu ATM itu di meja, kartu yang diberikan suaminya untuk keperluan sehari-hari.


"Baiklah, dan lihat saja, kamu tidak akan bisa secantik sekarang karena tidak bisa mengkorupsi uang bulanan" ujar Roni, dia tidak tau kalau uang yang dia berikan selalu tidak mencukupi kebutuhan kalau tidak dibantu oleh Naina.


Naina hanya tersenyum simpul mendengar ucapan suaminya, dia lalu mempersiapkan koper nya, karena siang hari dia dan Tari akan berangkat ke pantai Parangtritis.


"Apa kamu menggunakan mobil perginya?" tanya Roni


"Tentu saja, kamu pikir aku akan terbang" jawab Naina sekenanya

__ADS_1


"Tidak bisakah kamu naik kendaraan umum saja, aku akan meminjam mobilmu" ucap Roni tanpa rasa malu.


"Maaf ya, itu mobil pribadiku pemberian dari papaku, jadi kamu tidak berhak, untuk meminjam barang seseorang kamu harus tau aturan, kamu tau aku akan memakainya, kalau aku tidak memakainya juga kamu sering pakai, tolong mengerti lah" jawab Naina.


Roni tidak bisa memaksa lagi, karena pada kenyataannya memang itu mobil pribadi Naina, jadi surat-surat kendaraannya juga atas nama Naina.


Roni tidak tau kalau sebenarnya mobil itu dibeli Naina dari hasil salon kecantikan nya, orang tua nya tidak mungkin mampu membelikan nya mobil, lalu orang tua Naina taunya mobil itu dibelikan suaminya.


Naina berangkat, dia merasa sangat bebas karena bisa meninggalkan suaminya walau hanya sebentar, Naina menjemput Tari terlebih dahulu, diperjalanan itu mereka sangat senang, mereka melepaskan masalah masing-masing.


Sesampainya di pantai mereka menggunakan baju pantai, Naina sangat sopan berpakaian tetapi aura kecantikannya tetap terpancar, Sari menggunakan baju yang sangat sexy, sudah pasti mereka menjadi perhatian banyak orang, apalagi mata om om kesepian.


"Hello cantik, godain kita dong" ujar sekumpulan pemuda, Tari meladeni mereka tidak seperti Naina yang cuek dan hanya menikmati angin pantai, saat ada salah satu pemuda yang ingin mengajaknya berbicara, dengan cepat Naina berbicara


Ucapan Naina membuat pemuda itu ciut nyalinya dan langsung berlalu dari sana, Naina tersenyum melihat Tari yang menikmati dikerubuti oleh para lalat, Tari sudah lama menjanda, suaminya direbut adik kandungnya sendiri.


Dua wanita yang mengalami nasib tragis dalam kehidupan mereka, mereka berbagi kesedihan dan saling menguatkan, usia mereka tidak terlalu jauh, tahun ini Tari memasuki usia 40 tahun dan Naina lebih muda, saat ini dia memasuki usia 35 tahun.


Naina menikah muda, setelah lulus SMA dia langsung menikah, sekarang dia sudah memiliki dua anak yang semuanya sudah sekolah SMP, kedua anaknya ditempatkan di asrama olehnya, karena Naina tidak mau kalau anak-anaknya sampai tau perlakuan papa mereka pada mamanya, lagipula Roni sepertinya tidak menyukai darah dagingnya sendiri karena mereka tidak sesuai keinginan Roni karena Roni hanya menginginkan anak laki-laki.


"Naina!!" teriak Tari membuyarkan lamunan Naina


"Ayo kita makan malam" ajak Tari, Naina mengangguk lalu mereka kembali kedalam penginapan untuk berganti baju.

__ADS_1


Mereka makan dengan tenang sambil menyelami perasaan masing-masing, perasaan mereka menjadi mellow ditempat itu, Naina bangun untuk ke kamar mandi, dia melihat seorang gadis menangis di kamar mandi itu, gadis itu terlihat ketakutan, Naina mendekatinya tapi gadis itu hanya bilang untuk membantunya mengambilkan ponselnya dikamar nomor 18.


Naina ingat Ningsih saat melihat gadis itu, dia lalu mengikuti kemauan gadis itu dan pergi ke kamar yang disebutkan gadis itu.


Saat itu didepan kamar nomor 18 terlihat seorang pria rapi menggunakan setelan jas, Naina dengan gerakan cepat memegang kerah baju pria itu dan memojokkan nya ditembok.


"Kembalikan ponsel gadis itu, atau aku akan melaporkan mu pada polisi!"


Pria itu mencoba melepaskan tangan Naina tapi entah kenapa Naina sangat kuat padahal dia adalah wanita, Naina lalu meninju perut pria itu hingga membuatnya bertekuk lutut dan memegangi perutnya.


"Nona, anda salah orang, aku bisa jelaskan?" tanya pria itu pada Naina.


Naina berlutut agar sejajar dengan wajah pria itu, Naina kembali mencengkram erat kerah baju pria itu, wajah mereka berdekatan.


"Dasar pria tidak tau malu, beraninya dengan gadis kecil, sekarang cepat kembalikan ponselnya!" teriak Naina, tapi pria itu malah bengong memandangi wajah Naina yang tepat didepan mata nya.


Pintu terbuka dan keluarlah pria dengan hanya memakai celana pendek yang kedua tangannya diikat, dan didorong oleh beberapa pria, Naina bingung melihatnya.


"Tuan, apa yang terjadi? heiii lepaskan tangan kotor mu dari tuan kami!" teriak salah satu pria yang keluar dari kamar itu pada Naina.


Naina reflek bangun dan mengangkat tangannya, dia sadar sepertinya dia salah orang, Naina langsung menarik tangan pria itu dan membantu nya bangun, lalu Naina membenarkan dasi dan kerah baju pria itu.


Para pria lain yang sepertinya adalah bawahan pria itu berniat mendekat untuk menjauhkan Naina dari tuan mereka tapi pria itu memberi isyarat untuk mereka diam ditempat.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan" ujar Naina lalu membungkuk dan langsung berlari dari sana karena sangat malu.


__ADS_2