
"Naina, sepertinya dirimu membuat banyak lelakiku menginginkan dirimu, baiklah sayang-sayangku, hancurkan tempat ini dan kalian boleh bergiliran mencicipinya" ucap Atika yang membuat Naina semakin waspada dan mengacungkan vas pecah yang dia pegang.
Endra kaget melihatnya dari kaca, toko itu terbuat dari kaca bagian depannya, jadi mudah dilihat dari depan, Endra langsung segera berlari menuju istrinya, dia memarkirkan mobilnya agak jauh dari toko bunga istrinya sehingga butuh sedikit waktu untuk bisa mendekati toko itu, apalagi dia harus menyeberang jalan yang tiba-tiba entah kenapa menjadi begitu ramai.
Anak kecil dalam gendongan Naina menangis ketakutan, karena akhirnya dia menyadari suatu bahaya, apalagi para pria itu semakin mendekati mereka yang terhalang oleh meja kasir.
Pprraanggggg ppyyarrrr
Pintu dan jendela dari kaca itu pecah, Endra dan para pengawalnya telah sampai, tapi mereka harus menghancurkan pintunya karena terkunci dari dalam, sontak semua menoleh, Naina sebenarnya belum mau bertemu dengan Endra, tetapi saat ini, Naina sangat lega dan bahkan hampir menangis, Naina memang bisa membela diri, tapi kalau lawannya begitu banyak lelaki, dia pasti akan kalah.
Terjadi pertarungan sengit, toko bunga itu telah berantakan, Atika mendekati Naina dan hendak menyakitinya, Naina menurunkan anak dalam gendongannya dan memintanya untuk bersembunyi di kolong meja, sementara mama dari anak itu terlihat ketakutan di pojok toko itu.
Saat Atika semakin mendekat dan mencoba memukulnya, Naina menendang perut wanita liar itu, Atika berteriak karena kesal melihat Naina sanggup melawannya, Atika kembali lagi hendak melukai Naina, bahkan kali ini ditangannya memegang sebuah pisau belati.
Atika berjalan cepat dengan menghunuskan pisau belati yang dia pegang, Naina mengambil sebuah kursi dan menjadikannya senjata, Endra belum bisa menggapai Naina karena dia harus melawan para pengawal Atika, sementara pengawalnya yang berada di lokasi itu hanya beberapa ditambah dengan Reynolds.
Atika hampir saja melukai Naina, tetapi dengan lincah Naina menghindar dan dengan cepat memukulkan kursi yang dia pegang hingga membuat pisau belati yang dipegang oleh Atika terlepas, dengan cepat Naina melepaskan bando yang dia pakai, kali ini dia memakai bando kain jadi bisa dia gunakan untuk mengikat tangan Atika.
Anak kecil yang tadi bersembunyi di kolong meja, bisa melihat apa yang dilakukan oleh Naina, karena posisi Atika yang ada di lantai saat Naina mengikat tangannya, tiba-tiba anak kecil itu menangis ketakutan.
Setelah mengikat tangan Atika, Naina lalu mendekati kembali anak kecil itu untuk menenangkannya, berbarengan dengan datangnya para polisi dan pengawal Endra yang lain.
Atika dan para pengawalnya dibekuk polisi dan langsung digiring untuk mendapatkan hukumannya, anak kecil yang tadi menangis juga sudah tenang dalam pelukan Naina, sementara mamanya yang juga tadi panik dan ketakutan juga sudah tenang.
__ADS_1
"Mamaku tidak sekuat kakak cantik, itulah kenapa aku harus kuat untuk menjaganya, tetapi tadi aku malah menangis" anak itu bercerita sembari melihat kearah mamanya yang sedang ditenangkan oleh seorang polisi.
"Kamu juga sangat kuat, kamu sangat pemberani, tidak salah kok untuk menangis saat takut, apa kamu tau, dulu aku bisa saja pingsan kalau sedang ketakutan, jadi kamu lebih hebat daripada aku, kamu hanya harus makan yang banyak dan belajar yang rajin, ikuti selalu kata mamamu, pasti saat besar nanti kamu menjadi anak yang kuat dan hebat" ucap Naina lalu mencium pipi anak kecil itu sebelum memberikannya kembali kepada mamanya karena mama dari anak itu sudah terlihat semakin tenang.
Endra yang sedang memberikan kesaksian kepada polisi melihat saat Naina mencium anak itu, dia kesal lalu menyudahi penjelasannya pada polisi dan meminta pada Reynolds untuk melanjutkannya.
Endra mendekati Naina dan langsung memegang tangannya, tetapi Naina yang masih marah pada Endra langsung menepis tangan suaminya itu.
"Kenapa kamu mencium lelaki lain?" tanya Endra, lalu melihat dengan tatapan tidak suka pada anak kecil yang tadi digendong oleh Naina.
Naina tidak menjawab apapun, lalu mengantarkan kepergian anak itu dan mamanya, tidak lupa Naina mengucapkan permohonan maaf atas apa yang terjadi di tokonya.
"Tidak nona, ini bukan salah nona, terimakasih telah menjaga anak saya"
Endra masih berusaha untuk terus mendekati Naina dan menjelaskan tentang semua yang terjadi, tetapi Naina masih tidak memperdulikan Endra, setelah semua polisi pergi, Naina mulai membersihkan tokonya.
"Sayang, nanti tanganmu terluka, biarkan saja Reynolds dan yang lain untuk membereskan semua ini, ayo sekarang kita pulang"
"Reynolds,, jangan melakukan apapun selain pergi dari sini, bawa semua teman-teman mu dan juga orang ini" ujar Naina yang masih saja tidak memperdulikan bahkan menoleh sedikitpun kearah Endra.
"Semuanya keluar dari sini!!" teriak Endra yang sudah pasti langsung dituruti oleh Reynolds dan pengawalnya yang lain, Endra memandangi istrinya yang sibuk menyapukan pecahan-pecahan beling yang berserakan.
"Aaaaaaaahhhhh, sakit!!" Endra berteriak, Naina kaget lalu langsung menoleh kearah suaminya, Naina langsung berlari mendekati suaminya yang tengah memegangi tangannya, tetapi setelah Naina periksa, ternyata tidak ada apapun yang terjadi pada tangan Endra, Naina sadar Endra sedang mengerjainya.
__ADS_1
"Sayang,, dengarkan penjelasanku dulu" ucap Endra memegangi tangan Naina.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, terimakasih atas bantuannya hari ini" Naina berusaha melepaskan pegangan tangan Endra.
Endra tidak bisa lagi menahan perasaannya, dia sangat merindukan Naina, dengan kekuatannya walaupun membuat Naina sedikit sakit dan kaget, Endra menarik kuat tangan Naina dan langsung memeluk tubuh Naina dengan erat.
"Lepaskan!!" teriakan Naina tidak dipedulikan oleh Endra dan malah semakin mempererat pelukannya, Endra tidak melepaskan pelukannya sebelum Naina tenang.
"Aku dijebak sayang, aku tidak serendah itu, aku mohon percayalah padaku"
Naina masih terdiam didalam pelukan Endra, dia tidak tau harus bereaksi apa, Endra melepaskan pelukannya lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
"Lihatlah sendiri" ucap Endra.
Naina tetap saja kesal melihat video itu karena tetap saja kalau Atika telah mencumbu suaminya, tetapi Naina mencoba menguatkan hatinya, dia harusnya bersyukur karena suaminya tidak bersalah, suaminya itu juga pasti merasa sangat terhina dengan kejadian yang menimpanya.
Naina menyerahkan kembali ponsel Endra, tetapi dia masih tidak mengucapkan sepatah katapun, dan hanya kembali melakukan pekerjaannya yang sempat terhenti, Endra tidak tau lagi harus bagaimana menjelaskan.
Endra mengirimkan pesan pada Reynolds memberitahunya untuk memarkirkan mobil tepat di depan toko bunga Naina, setelah terlihat mobilnya berada didepan pintu toko, Endra memberi kode pada Reynolds supaya keluar dari mobilnya, Endra pasti akan menggunakan jurus terakhirnya dalam membujuk istrinya.
Jurus jitu yang dari dulu dia pakai, yaitu jurus pemaksaan,, Endra melihat Naina yang sedang berdiri merapikan bunga-bunga, dengan cepat Endra membopongnya dan segera memasukkan Naina kedalam mobilnya.
"Turunkan aku!!" teriak Naina sambil memukuli punggung Endra, saat Endra memanggul tubuhnya.
__ADS_1
"Rapikan tempat ini seperti semula" perintah Endra pada Reynolds dan para pengawalnya, sementara Naina tidak bisa melawan Endra lagi karena telah dimasukkan ke dalam mobil, dan langsung dikunci pintunya oleh Endra.