Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Keluar Dari Mulut Buaya, Masuk Kedalam Mulut Singa


__ADS_3

"Dasar tidak bermoral!!" Endra berteriak dan melepaskan pegangan tangan Ningsih dan dengan cepat berjalan ke arah pintu lalu dengan cepat keluar dari kamar itu.


"Ada apa Ndra, apa yang terjadi?? apa kamu melihat adiknya Naina? tadi dia izin ke kamar mandi tetapi belum juga kembali" tanya Rayhan melihat kedatangan Endra yang terlihat sangat marah.


"Saya disini tuan,, maaf sedikit lama,,, tadi sekalian membenarkan makeup" Ningsih sudah berada di belakang Endra lagi dan pura-pura tersandung agar bisa menubruk tubuh belakang Endra, tetapi Endra dengan dinginnya langsung maju sehingga Ningsih sedikit terhuyung-huyung.


"Endra, dia wanita hamil, kamu tidak perlu sekasar itu, kamu bisa membantunya" ujar Rayhan karena merasa tidak enak dengan mama Nimah dan papa Yanto yang melihat hal itu.


"Maaf, aku tidak suka ada yang menyentuh tubuhku" jawab Endra lalu kembali duduk untuk menyelesaikan makan malam nya.


"Ini bapak dan ibu, aku kemarin melihat alat pijat elektronik yang bisa digunakan dimana pun, aku membawakan nya, semoga bermanfaat" Endra menyerahkan sebuah paper bag pada mama Nimah.


"Kenapa ayah tidak dibawakan?" tanya Rayhan melihat kearah Endra dengan perasaan kecewa.


"Ada ayah, aku meletakkannya di atas meja dikamar ayah, sepertinya ayah belum membukanya" jawab Endra lalu dengan cepat menyelesaikan makannya, Endra lalu pamit terlebih dahulu karena melupakan sesuatu yang harus dikerjakan malam ini juga.


Rayhan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kearah Endra yang pergi dengan cepatnya, Rayhan ingat bahwa rapat akuisisi hanya tinggal menunggu waktu dan Endra harus bekerja keras karena sempat terhenti karena terus mencari keberadaan Naina.


Rayhan tidak berbasa-basi terkait Endra yang menyukai Naina, pada kesempatan itu juga, Rayhan menyampaikan harapannya pada keluarga Naina.


"Bapak dan ibu, mungkin saya kurang sopan karena seharusnya saya yang datang ke rumah bapak dan ibu, ini terkait masalah anak-anak kita, lebih tepatnya Naina dan Endra, saya selaku ayah Endra ingin melamar Naina"


Ucapan Rayhan yang tiba-tiba membuat mama Nimah dan papa Yanto cukup kaget, mereka tidak menyangka dengan situasi saat ini, tetapi mereka tidak bisa menjawab karena bagi mereka, kehidupan Naina hanya Naina sendiri yang memutuskan, mereka sebagai orang tua tidak berani ikut campur.


"Naina kami sangat mandiri sedari kecil, dia adalah janda,, apakah tuan tau?" papa Yanto merasa harus memberitahu keadaan Naina supaya tidak terjadi masalah dikemudian hari.

__ADS_1


"Tentu saja saya tau, anaknya dua dan tidak kalah cantik dan mandirinya seperti mamanya, bahkan kalau anak-anak itu mau, dengan senang hati saya ingin agar mereka tinggal disini dan tidak perlu tinggal lagi di asrama"


Mama Nimah dan papa Yanto terkejut karena ternyata Rayhan sudah mengetahui segalanya, Ningsih dan kedua orang tuanya lalu berpamitan setelah obrolan dan makan malam mereka selesai.



Naina berencana mendatangi rumah Anton, dia ingin menyelesaikan segala sesuatunya supaya dia tenang saat pergi keluar negeri, karena ada kemungkinan besar kalau dia akan lama berada di luar negeri.



"Ibu Naina, sebenarnya perusahaan kosmetik di luar negeri itu sudah beberapa kali menghubungi untuk melakukan kerja sama pembukaan salon kecantikan disana, tetapi ibu Renata selalu menolaknya, mungkin karena dia tidak berwenang untuk melakukan hal itu" karyawan Naina menjelaskan dengan memberikan sebuah map berisi berkas-berkas pekerjaan yang belum sempat dia laporkan.



Naina merasa ini waktu yang sangat pas, surat perceraian nya sudah dia dapatkan, berarti dia sudah bebas sepenuhnya dari Roni, tetapi dia harus menghindari Endra yang terus saja mencoba mendapatkan nya.




Endra sedang melakukan rapat akuisisi perusahaan dan berhadapan dengan keluarga Intan, saat tiba-tiba salah satu pengawal nya menerobos masuk dan memberikan informasi mengenai keberadaan Naina.



"Endra, jangan lakukan itu, ini kesempatan yang tidak akan bisa terulang kembali, aku yakin Naina sudah memikirkan hal itu dengan baik, pasti dia mempunyai rencananya sendiri, jadi kamu tenang saja, karena para pengawalnya juga selalu menjaga dan memantaunya" bisik Suseno berusaha menenangkan Endra, tetapi tentu saja itu tidak didengar oleh Endra yang langsung bergegas pergi untuk menyusul Naina karena tidak mau hal yang buruk menimpa Naina.

__ADS_1



Naina menemui istri Anton dan mengancamnya untuk tidak bermain-main dengan Ningsih, karena yang dituduhkan terhadapnya semua tidak benar, Naina lalu memperlihatkan bukti video saat Anton melecehkan Tari dan juga berusaha melecehkannya.


"Sudah jelas bahwa suami andalah yang bersalah, jadi kalau sampai aku melihat kalian kembali mengganggu Ningsih, maka aku akan menyebarkan video ini" ucap Naina lalu bangun dari duduknya dan berniat untuk pergi dari sana, tetapi dia salah perhitungan, karena ternyata dia sudah masuk dalam jebakan Anton.


Selama ini Anton sudah keluar dari penjara dengan diam-diam, dengan koneksinya dia mudah melakukan hal itu, dan yang ada didalam kantor polisi bukan dirinya, tetapi ada yang menggantikannya saat Endra datang menemuinya, Anton mempunyai saudara yang sangat mirip dengannya, sebenarnya hal itu juga diketahui oleh pihak polisi tetapi karena keluarga Anton yang berpengaruh dan berkuasa tentu saja mereka membantu apapun yang dilakukan oleh Anton.


Pintu rumah sudah tertutup semuanya, lalu keluarlah Anton beserta para pengikutnya, tidak ketinggalan juga Putra yang berada dibarisan itu.


"Nona Naina,, aku tidak menyangka rasa sayangmu pada adikmu membuat ku begitu mudah mendapatkan dirimu" Anton mendekati istrinya lalu menciumnya.


"Terimakasih sayang, sekarang kamu pilih saja lelaki mana saja yang kamu mau untuk menemanimu kali ini"


Naina tidak mengerti maksudnya, dan betapa kagetnya dia saat melihat istri Anton menarik dua lelaki masuk dalam sebuah kamar, dia sungguh tidak menyangka bahwa keluarga Anton yang terlihat sangat terhormat dan berwibawa menyimpan begitu banyak rahasia kotor dan kelam, Naina pikir awalnya hanya Anton yang bermasalah, tetapi semua anggota keluarga mereka bermasalah.


"Tidak perlu terburu-buru nona Naina sayang, aku memang sudah lama mengharapkan agar hal ini segera terjadi, tetapi sesuatu yang terburu-buru selalu saja berakhir dengan masalah, tetapi tidak kali ini, karena tidak ada lagi pangeran yang akan membantumu"


Naina tersenyum getir, dia tidak menyangka bahwa semua akan menjadi seperti ini, dia yang sangat menyayangi adiknya bahkan rela melakukan apapun untuknya, dia yang awalnya berfikir untuk membalaskan dendam adiknya akhirnya bisa bernafas lega karena tidak perlu melakukan hal itu lagi sebab Ningsih yang sudah putus hubungan dengan Putra.


Tapi Naina tidak menyadari Ningsih yang kembali bermain api dengan Putra, Naina tentu saja tidak mau hal buruk terjadi pada adiknya, hingga dia melakukan hal ini tetapi dia tidak menyangka kalau dia akan berada dalam situasi yang sangat tidak dia harapkan.


Anton memberikan perintah supaya dengan cepat menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen yang sangat dia tunggu-tunggu, momen dimana dia bisa mencicipi tubuh Naina.


Naina mengambil sesuatu didalam saku baju yang dikenakannya, dengan senyuman yang tidak bisa diartikan apapun oleh Anton yang melihat apa yang dilakukan oleh Naina, dan terlihat Naina yang tersenyum dan mengunyah sesuatu yang dia ambil dari sakunya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian tiba-tiba Naina kejang dan muntah dan langsung pingsan, berbarengan dengan pintu rumah Anton yang terbuka secara paksa.


__ADS_2