Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Dendam Putra


__ADS_3

Ningsih


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Selamat pagi sayang"


Sapa Putra yang sudah bangun terlebih dahulu dan telah menyiapkan sarapan pagi, Putra terlihat sangat bahagia memandangi wajah Ningsih yang baru bangun tidur.


"Kenapa kamu semakin terlihat seksi saat bangun di pagi hari?" Putra merapikan rambut Ningsih yang berantakan, tanpa ragu lalu mencium lembut Ningsih tetapi kali ini Putra ditolak hingga membuat Putra kaget.


"Aku malu sayang, aku bau baru bangun" ucap Ningsih manja lalu berusaha turun dari ranjang, saat dia menginjakkan kakinya di lantai, terlihat tubuh polos Ningsih yang walaupun perutnya membuncit tetapi terlihat sangat seksi dan montok, Ningsih lupa kalau semalam dia tidak memakai pakaian dan langsung tidur jadi dia tidak memegangi selimut yang dari tadi melindungi tubuhnya.


"Aaahhhh" Ningsih kaget dan reflek memegangi bagian sensitifnya yang malah membuat nya ditertawakan oleh Putra.


"Apa yang coba kamu tutupi sayangku? aku sudah paham semuanya, kamu tidak perlu repot-repot menutup nya karena aku sudah sangat paham bentuk bahkan rasanya, sekarang kamu cepatlah mandi, aku akan menunggu untuk sarapan"


Putra menunggu Ningsih selesai mandi dengan membuka ponselnya dan membaca setiap pesan yang masuk, dia tidak memperdulikan pesan dari wanita yang selama ini selalu menemani nya dalam berpetualang ke nirwana yang didalamnya penuh kenikmatan semu.


Setelah membaca pesan dari mamanya membuat Putra langsung memandang ke arah kamar mandi, sekarang ini dia sudah mencintai Ningsih kembali, tetapi dia juga harus membalas dendam untuk ayah nya.


"Yang bersalah adalah kakaknya, jadi aku akan membalas juga kakak nya, Ningsih bahkan tidak bersalah apapun, aku akan mencoba memberi pengertian kepada mama" batin Putra lalu dengan cepat menyimpan kembali ponselnya karena Ningsih sudah selesai mandi.


Deeerrrrtttt deeerrrrtttt deeerrrrtttt

__ADS_1


Ponsel Ningsih menyala walau tanpa suara karena dalam mode silent, untungnya ponsel itu tidak terlalu jauh dari Ningsih jadi dia langsung tau saat ada yang menelponnya.


"Iya ma, siang ini seperti nya aku sudah sampai"


"Ning, cepatlah pulang,, kakakmu kritis dan sedang berada di rumah sakit, cepatlah dan cari pendonor darah dengan golongan darah O"


Ningsih langsung bersiap dengan cepat setelah mendengar berita tentang kakaknya, dia tidak menjelaskan secara rinci pada Putra karena dia terburu-buru, dan hanya mengatakan kalau kakaknya dirumah sakit.


"Aku akan mengantarmu"


"Tidak sayang, nanti orang tuaku bisa melihat dirimu, aku akan mengabari secepatnya kapan kita bisa bertemu lagi" Ningsih mencium Putra sebelum pergi dan menolak tawarannya.


"Ternyata memang alam berpihak kepadaku, aku baru saja berfikir untuk membalas dendam pada nya ternyata dia sudah lebih dulu terluka, sekarang aku harus mengikuti Ningsih supaya tau keberadaan kakaknya, dan aku akan memastikan bahwa Naina tidak akan pernah bangun kembali" batin Putra lalu tersenyum licik sebelum dengan cepat keluar kamar hotel yang selama ini dia tempati dengan Ningsih untuk segera menyusul nya supaya tidak ketinggalan jejak.


"Baik tuan" supir itu tentu saja tidak mau melewatkan rezeki nomplok, dan dengan segera mengikuti keinginan Putra.


Cukup jauh perjalanan menuju rumah sakit, ditambah dengan kemacetan, Ningsih terus berusaha menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan donor darah untuk Naina, tetapi golongan darah O, cukup sulit ditemukan.


"Ma, aku masih diperjalanan tetapi maaf, sejauh ini aku tidak mendapatkan pendonor darah dengan golongan O seperti kakak" Ningsih sangat panik dan khawatir, dia menyadari betapa kakaknya sangat menyayangi nya dibalik sikap nya yang cuek dan galak.


"Sudah ada pendonor darah untuk Naina, tetapi mama takut kalau Naina tidak bisa menerima kenyataan bahwa yang mendonorkan darah untuknya adalah orang itu, tetapi saat ini, mama tidak punya pilihan lain, nyawa kakakmu harus segera diselamatkan"


"Memang siapa ma yang mendonorkan darah untuk kakak?"

__ADS_1


"Dia ,,,,,,,,," jawab mama Nimah sambil terus menangis.


"Sinyalnya buruk ma, aku tidak mendengar suara mama, lebih baik sekarang yang lebih penting adalah menyelamatkan nyawa kakak, sudah dulu ma, sepertinya aku sudah sampai, aku akan segera ke ruangan kakak" Ningsih mematikan panggilan di ponselnya lalu dengan cepat berlari setelah membayar ongkos mobil yang dia tumpangi.


"Kenapa dia ada disini ma?!!" Ningsih berteriak karena dia melihat Roni ada di sana.


"Tenang Ning,,," mama Nimah mencoba menenangkan anak nya yang sangat membenci Roni karena telah menyakiti kakaknya.


Putra juga sudah sampai dan segera mencari Ningsih supaya tau keberadaan Naina agar dengan cepat dia bisa membalas dendam, Putra menyamar sebagai seorang perawat, dia dengan mudah mendapatkan baju perawat dengan memberikan sejumlah uang pada salah satu perawat di sana untuk meminjam nya.


"Aku hanya akan meminjam sebentar, nanti aku akan menyimpannya di pos satpam supaya tidak ada yang melihat kita bertemu lagi" ujar Putra pada perawat itu yang terlihat sedang beristirahat saat tadi Putra mendekati nya.


Dengan cepat Putra lalu menuju ruangan Naina saat seluruh keluarga nya sedang ribut karena Ningsih yang tidak suka dengan keberadaan Roni di sana.


Roni kaget karena ternyata didalam ruangan itu sedang dilakukan transfusi darah, tetapi para perawat yang ada di sana tidak curiga dan malah meminta nya cepat masuk.


"Dari mana saja? apa kamu masih sakit perut? semua sudah selesai tinggal menunggu pasien sadar" ujar salah satu perawat dan hanya melihat Putra sekilas karena sedang sibuk jadi tidak memperhatikan wajahnya, lagipula mereka memakai masker mulut, mungkin perawat itu pikir kalau Putra adalah rekannya.


"Dia sudah mendapatkan transfusi darah, kemungkinan besar dia pasti akan selamat, aku harus cepat melakukan sesuatu" batin Putra melihat ke arah Naina yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


Saat semua sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing, Putra mendekati Naina dan dengan gerakan cepat lalu mencabut jarum penghubung selang darah yang sedang mengalir ke tubuh Naina, tidak lupa dia juga merusak alat bantu pernafasan Naina dengan pura-pura sedang memeriksanya.


Saat semua masih tidak memperhatikannya, Putra langsung bergegas keluar.

__ADS_1


__ADS_2