Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Endra Meminta Bantuan


__ADS_3

"Naina, kamu yakin sudah mau pulang? kamu masih lemah"


"Aku akan semakin melemah kalau aku terus berada di sini ma, aku mau pulang, lagipula Ningsih juga sudah pulang, apa mama tidak kasian padanya yang harus mengurusi bayinya sendirian,, aku bisa mengurus diriku sendiri, lebih baik mama bantu Ningsih untuk menjaga bayinya, pokoknya aku mau pulang sekarang"


"Sebaiknya kita tunggu dulu nak Endra ya sayang"


"Kenapa harus menunggu dia sih ma?? dia itu bukan siapa-siapanya keluarga kita, oh iya ma,,, apa mama melihat ponselku?" sepertinya Naina lupa kalau ponselnya ada pada Endra.


"Tidak lihat, memang kamu simpan dimana?"


Kkrriiieettt


Pintu terbuka dan Naina menunjukkan wajah masamnya melihat siapa yang datang, Naina lalu kembali sibuk mencari ponselnya di ranjang bahkan ke kolongnya.


"Nak Endra sudah datang? bukankah katanya sibuk dengan perusahaan barunya?"


"Sudah ada Suseno bu yang mengurus semuanya, aku hanya menandatangani surat kuasa" Endra lalu mendekati Naina yang terlihat sibuk mencari sesuatu, tetapi saat ditanya oleh Endra, Naina tidak menjawab apapun.


"Nai,, mama keluar sebentar untuk meminta izin pada dokter kalau kamu mau pulang sekarang"


"Aku ikut ma!" Naina berbalik badan dan ingin mengikuti mamanya, tapi Endra menghalangi jalannya, bahkan dengan dorongan sekuat tenaga dari Naina, tetap saja tubuh Endra tidak bergerak sedikitpun, Naina malas untuk berdebat, akhirnya dia hanya bisa kembali mencari ponselnya.


Terdengar bunyi ponsel yang nada dering nya sangat familiar bagi Naina, karena itu nada dering ponselnya, saat Naina berpaling ke arah Endra, suaranya terdengar jelas dari sana, Naina ingat dan sadar kalau ponselnya ada pada Endra.


"Kembalikan ponselku, kenapa kamu mengambil barang milik orang lain tanpa izin!!?"


Endra melihat siapa yang menelfon Naina lalu menyerahkan nya, Naina menerima panggilan telepon nya yang ternyata dari karyawan nya di salon.


"Iya jadi, aku akan berangkat Minggu depan,, aaaakkkhhhh,, Eekkkkkhhhh" Endra merebut ponsel Naina lagi dan menutup mulut Naina dengan mulutnya, dia tidak mau kalau sampai Naina pergi dari sisinya, Naina mencoba berontak tetapi Endra semakin erat mendekapnya dan semakin dalam menciumnya, posisi mulut Naina sedang terbuka karena tadi dia sedang berbicara dengan karyawannya, jadi dengan mudah Endra memasukkan lidahnya pada mulut Naina.


"Naina,, ayah mau,,,,," Rayhan yang baru masuk kedalam ruangan itu menjadi canggung melihat adegan di depan matanya, tetapi walaupun mendengar suara ayahnya, Endra tidak melepaskan ciumannya pada Naina, Rayhan cukup tau diri dan kembali ke luar ruangan dengan senyuman terukir di wajahnya.


Naina memukuli punggung Endra, lalu saat Endra melepaskan ciumannya, Naina langsung mendorong tubuh Endra tetapi Endra tidak tinggal diam, dia kembali mencium Naina, dan kejadian terus terulang, hingga Naina tidak berani mendorong Endra lagi.


"Kenapa diam?? cepat dorong lagi" tantang Endra pada Naina yang terlihat mengepalkan tangannya.


Mama Nimah dan Rayhan memasuki ruangan, Naina dengan cepat membenarkan rambut dan bajunya, sementara Endra mendekati mama Nimah dan menanyakan keputusan dokter.


Naina merasa senang karena dia diperbolehkan untuk pulang walau masih harus sering kontrol dan rawat jalan, supaya ginjalnya benar-benar bersih dari efek racun yang masuk kedalam tubuhnya.

__ADS_1


"Naina, kamu pulang ke rumah ayah terlebih dahulu ya sayang,, ibu Nimah pasti sibuk mengurus dan merawat adikmu serta bayinya, ayah takut tidak ada yang menjagamu, di rumah ayah kan ada perawat dan bibi"


"Tidak ayah Rayhan, aku mau pulang kerumah ku sendiri, lagipula aku bisa menjaga diriku sendiri"


"Nai,, sayangnya mama,, dengarkan apa kata tuan Rayhan,, ini semua demi kebaikan kamu, setelah kamu tidak perlu rawat jalan lagi, baru kamu boleh pulang kerumah mu sendiri"


"Tidak mama, aku tidak mau,,, aku,,,!!" Naina tidak melanjutkan ucapannya karena Endra sudah memotongnya.


"Apa kamu takut padaku??!"


Naina tidak menjawab karena memang itu alasannya, saat kemarin dia amnesia, Naina tidak bisa melawan Endra, karena dia tidak tau hubungannya dengan Endra hubungan yang seperti apa,, tapi saat ini walau dia sudah mengingat kembali semuanya, tetap saja dirumah Rayhan dia tidak akan bisa melawan Endra, karena bahkan Rayhan terlihat mendukung anaknya, terbukti dengan tadi Rayhan tidak marah saat melihat dia berciuman dengan Endra.


"Apa benar Naina?? kamu takut sama nak Endra?" tanya mama Nimah mencoba memprovokasi Naina.


"Aku punya rumah sendiri ma, untuk apa aku merepotkan orang lain,, ayah Rayhan,, terimakasih atas niat baiknya, tetapi aku mau pulang kerumah ku sendiri, tolong maafkan aku, bukan maksudku menyinggung perasaan ayah, tetapi ini sudah menjadi keputusanku" Naina lalu kembali mengecek ponselnya dan dia mendapatkan pesan dari nomor kontak yang tidak dia kenal.


"Tolong selamatkan anakku" Naina mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa maksud dari pesan itu, Naina lalu menelfon nomor itu karena merasa penasaran.


"Sebentar ya semuanya, aku mau menelfon dulu" Naina heran karena nomor itu tidak bisa dihubungi, tetapi pesan baru kembali masuk


"Aku tidak tau, harus meminta tolong kepada siapa lagi, aku tidak bisa mengangkat panggilan telepon, aku sedang berada dipenjara dan ini aku meminjam ponsel teman satu sel ku, aku sudah melahirkan, tetapi bayi itu dibawa oleh keluarga Roni, aku tidak mau kalau sampai aku kehilangan jejaknya,, aku Sindi"


"Bayimu aman bersama keluarga Roni, bukankah bayi itu yang mereka inginkan?"


"Bayi itu perempuan, aku tidak mau bayi itu dibuang selayaknya anak-anakmu"


Endra yang melihat Naina begitu serius dengan ponselnya merasa curiga, tetapi dengan cepat Naina menyimpannya kedalam saku bajunya sebelum kembali diambil oleh Endra.


"Aku tidak tau harus kasihan atau aku harus merasa puas dengan kondisi ini, wanita itu kenapa harus meminta bantuan kepada diriku, apa dia segitu tidak berdayanya, atau tidak ada orang lain yang bisa dia mintai tolong?" batin Naina, dia tidak mau terlalu memikirkan tentang masalah itu, Sindi telah merebut suaminya, walaupun itu tidak sepenuhnya menjadi kesalahannya Sindi, tetapi wanita itu juga telah melukai nya hingga terluka parah.


"Aku tidak perlu repot-repot membalas dendam kepadanya, karena karma sudah menghampiri wanita itu dengan sendirinya, tetapi bayi itu tetap saja tidak bersalah,, aaahhhhh, kenapa juga aku harus memikirkannya" Naina terus berusaha untuk tidak memperdulikan hal itu dan kembali bersiap untuk segera pulang.


"Nai,,, dengarkan kata mama untuk kali ini saja"


"Mama,,, kapan aku tidak mendengarkan mama dan papa? aku selalu menurutinya, untuk saat ini biarkan aku mengambil keputusanku sendiri ma,, aku berjanji tidak akan merepotkan siapapun lagi" Naina melirik ke arah Endra, sebenarnya dia merasa tidak enak hati karena belum mengucapkan terima kasih padanya yang telah kembali menyelamatkannya.


"Naina, kamu masih lemah, dan ingat untuk tidak melakukan hal bodoh lagi" ujar Endra, dan ucapan itu sukses membuat Naina membulatkan matanya, dan dengan segera menoleh ke arah Endra.


"Apa lihat-lihat?" ujar Endra mencoba menggoda Naina.

__ADS_1


Naina tidak menjawab apapun lalu berjalan, dia merasa aneh dengan apa yang tadi dikatakan oleh Endra, tetapi dia mencoba untuk tidak memperdulikan nya, Naina menolak saat disuruh untuk memakai kursi roda, dia memang masih pusing dan merasa sesak di dadanya, tetapi dia menahannya karena tidak mau berlama-lama berada di rumah sakit, Naina merasa trauma tinggal di rumah sakit, kejadian saat diculik Anton dikala dia sedang tidak berdaya kembali teringat saat berada di rumah sakit.


Mereka menaiki sebuah lift dan Naina yang sebenarnya memang masih sakit kepala membuatnya tiba-tiba oleng dan menubruk sudut lift, untung saja dengan sigap Endra menahan tubuhnya.


"Naina, kenapa kamu memaksakan diri, ayo kita kembali lagi ke ruangan rawat kamu sebelum ditempati oleh orang lain" mama Nimah mendekati Naina dan berganti memegangi Naina karena anaknya itu terlihat berusaha mendorong Endra.


"Tidak ma, aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu,, aku mau pulang"


Setelah keluar dari lift, Naina memijat kepalanya dan bersandar ditembok, dengan gerakan cepat, Endra menggendong tubuh Naina membuat Naina terkejut.


"Jangan bergerak atau kita berdua akan terjatuh" ucap Endra,,, Naina yang malu karena menjadi pusat perhatian lalu menyembunyikan wajahnya di samping kepala Endra dengan tangannya dia lingkarkan di leher Endra.


Karena kaget dan panik dengan tindakan tiba-tiba Endra, serta kepalanya yang masih sakit, Naina bahkan tidak menyadari kalau dia dimasukkan ke dalam mobil Endra.


"Tolonglah, aku sedang tidak mau berdebat, aku ingin pulang ke rumahku sendiri" Naina mencoba membuka pintu mobil dengan satu tangannya, karena yang satu lagi masih terus dia gunakan untuk memegangi kepalanya.


"Iya, aku akan mengantarkan dirimu, jangan terlalu banyak berfikir" ucap Endra membuat Naina malu karena dia sudah salah paham.


Naina merasa heran dengan Endra yang tidak menanyakan alamatnya tetapi tau arah tempat tinggalnya, mereka hanya berdua, mama Nimah harus langsung pulang karena Ningsih membutuhkan bantuannya, dan Rayhan cukup tau diri untuk membiarkan anaknya berduaan dengan wanita yang dicintainya.


"Aku bisa sendiri" Naina menolak saat Endra berusaha menggendong lagi, tetapi Naina yang masih lemah, kembali oleng dan hampir terjatuh.


"Diamlah, kamu tidak mau memakai kursi roda supaya aku bisa menggendong dirimu kan?" Endra mencium Naina sekilas yang membuat Naina berontak dan membuat mereka terjatuh, dengan sigap Endra menahan kepala Naina supaya tidak membentur jalan yang berkerikil.


Endra sebenarnya merasa tangannya sakit, karena terbentur banyak kerikil saat menahan kepala Naina, tapi dia tidak memperdulikan rasa sakitnya dan membantu Naina untuk bangun, asisten rumah tangga Naina keluar dan membantu Naina untuk memasuki rumah.


Endra ikut masuk, dan masih tidak memperdulikan tangannya yang mengeluarkan darah, Naina duduk di sofa dan meminum air putih, saat menoleh ke arah Endra yang ingin duduk disebelah nya, awalnya Naina ingin mengusirnya tetapi dia melihat tangan Endra yang terluka dan berdarah.


"Tanganmu kenapa? apa karena barusan?"


Naina lalu meminta kotak PPPK pada asisten rumah tangganya untuk membersihkan tangan Endra dan melakukan pertolongan pertama pada tangan Endra.


"Tolong jangan membuat ku berhutang padamu terlalu banyak, aku tidak akan sanggup membalasnya, terimakasih atas semua kebaikanmu selama ini, setelah ini jangan pedulikan aku lagi, kalau kamu membutuhkan bantuanku katakan saja, tapi selain itu,, cobalah untuk tidak saling bertemu kembali, sekarang pergilah kerumah sakit dan obati tanganmu dengan benar, maafkan aku dan terimakasih atas segalanya" Naina menitikkan air matanya lalu berpaling dan segera bangkit dari duduknya untuk menghindari Endra.


Endra tidak akan pernah melepaskan Naina lagi, saat Naina sampai didepan pintu kamar nya, Endra menangkapnya dan memeluknya erat dari belakang.


"Ada sesuatu yang aku harus meminta bantuan darimu, sekarang aku akan pergi dari sini, istirahatlah dan jangan memikirkan atau melakukan apapun yang berbahaya sampai kamu pulih, saat kamu sudah benar-benar sehat, aku akan mengatakan kepadamu bantuan apa yang aku butuhkan darimu" Endra bergegas pergi setelah mengatakan hal itu, permohonan Endra mengingatkan dirinya akan kondisi Endra, dan keinginan Rayhan untuk segera menimang cucu.


"Apa ini,, apa yang dia inginkan dariku?? bagaimana kalau dia meminta kepadaku untuk memasuki kamar gila itu lagi, tidaakk,, tidak bisa,, aku tidak akan sanggup melakukan hal itu,," Naina ketakutan dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2