
Naina mendapat undangan untuk menghadiri acara reuni teman SMA nya, dia berdandan rapi sebelum datang ke acara itu, seperti pertemuan dengan teman lama pada umumnya, mereka membicarakan saat indah mereka di sekolah dulu.
"Naina, kamu semakin cantik saja tidak seperti dahulu yang seperti preman disekolah" ucap salah satu teman Naina
"Preman ada juga kok yang cantik" jawab Naina
"Apa kalian semua tau siapa tamu spesial yang akan datang kesini" selalu saja dalam setiap perkumpulan pasti ada yang menjadi sumber informasi
"Siapa?" jawab semua serentak
"Tuan Endra Prasetya dan istrinya yang sangat cantik dan anggun itu, pemilik perusahaan terbesar di kota ini"
"Tuan Endra? yang sangat terkenal di dunia bisnis kecantikan itu?"
"Iya, dia pria sempurna idaman semua wanita, tapi sayang dia sudah menikah, dulunya dia sangat dingin dan tidak pernah terlihat mempunyai pasangan tetapi tiba-tiba langsung ada berita pernikahan nya"
"Mereka sangat serasi, si tampan dan si anggun nan cantik"
Mereka terus membicarakan tamu istimewa yang akan datang sebagai perwakilan sekolah yang sekarang sudah sangat sukses sebagai pembicara di acara itu, Naina tidak tau siapa yang teman-temannya bicarakan, jadi dia hanya diam mendengarkan.
"Dulu ada kabar kalau dia pernah diculik, saat kelas satu SMA dia sangat aktif sebagai anak basket, selalu memenangkan pertandingan karena sangat jago dilapangan, tetapi saat mendekati kenaikan kelas, dia berhenti dari ekskul basket, dia menjadi sangat dingin dan tidak mau berteman dengan siapapun"
"Iya benar, dia dulu dijuluki pangeran kulkas 5 pintu tetapi karena ketampanannya dia tetap menjadi idola semua cewek saat itu"
"Kalian tau tidak, dulu dia diculik tepat didepan sekolah kita?"
"Mungkin itu hanya rumor, lagipula waktu itu kita masih kecil, kita masih SD, walau berita itu memang sangat heboh karena sekolah diliburkan selama 3 hari"
"Naina, kenapa kamu hanya diam saja?" ujar salah satu teman nya karena melihat Naina hanya diam tidak ikut dalam obrolan.
"Aku tidak tau hal itu, jadi tentu saja aku tidak bisa berkata apa-apa" jawab Naina.
Yang mereka bicarakan bukan teman satu angkatan mereka, hanya saja ada dalam satu kompleks sekolah mereka, karena sekolah mereka sekolah Swasta yang ada dari jenjang TK sampai SMA.
Disaat mereka sedang asyik mengobrol, orang yang mereka bicarakan datang ke acara itu, Endra datang dengan menggandeng tangan Intan, mereka sungguh terlihat sangat serasi, Naina terdiam melihat kearah pasangan suami istri itu, dia mencoba menyembunyikan wajahnya agar tidak dikenal oleh Endra dan Intan.
Setelah Endra dan Intan memberikan sambutan, disusul acara hiburan, Endra dan Intan masih terlihat selalu bersama dan mengobrol bersama teman-temannya, Naina harus pulang lebih dulu karena dia mempunyai janji dengan salah satu pelanggan VVIP nya.
Setelah pamit pada teman-temannya Naina langsung bergegas pergi, saat dia akan membuka pintu mobilnya, ada seseorang yang menyapanya
"Nona Naina, apa kabar? tidak menyangka kita akan bertemu disini, apa kamu kesini ingin menemui suamiku?"
"Maaf nyonya yang terhormat, saya juga tamu disini, dan saya tidak ada urusan apapun lagi dengan kalian, sekarang saya mohon undur diri" Naina malas bertemu dengan Intan, dia ingin melupakan kejadian menjijikkan antara mereka bertiga dulu didalam kamar gila.
Intan menahan pintu mobil Naina, lalu dia mulai mengancam Naina,
"Jangan pernah mencoba mendekati suamiku" ucap Intan dan memandang tajam ke arah Naina
"Maaf nyonya yang terhormat, dengan senang hati memang itulah yang selama ini saya lakukan, saya tidak ingin terlibat dengan orang-orang tidak masuk akal seperti kalian" jawab Naina dan membalas pandangan mata Intan dengan tidak gentar.
"Waktu itu kamu hanya beruntung, jadi jangan merasa kamu berbeda, karena suamiku tidak akan pernah berpaling dariku"
"Maksud nyonya apa?" Naina memang tidak tau kalau saat itu dia berhasil membangunkan pedang Endra, Intan terdiam menyadari kalau Naina ternyata tidak menyadari kejadian saat itu.
Intan berniat pergi tapi Endra datang, dia kaget melihat Naina bersama Intan, Endra takut Naina terluka atau disakiti oleh Intan, Endra mempercepat langkahnya mendekati Naina bahkan melewati Intan
"Naina, kenapa kamu ada disini?" Endra mendekati Naina dan memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki Naina, karena takut Naina kenapa-kenapa
"Endra sayang, aku istrimu dan kamu didepan mataku mendekati perempuan lain, apa aku perlu berteriak disini dan mengatakan pada semua orang kalau Naina adalah pelakor" ujar Intan kesal melihat suaminya yang begitu perhatian pada Naina
"Maksud nyonya apa?" tanya Naina merasa tidak suka dengan perkataan Intan
"Endra sayang, kenapa kamu harus perhatian pada wanita panggilan seperti dia, wanita murahan yang sok-sokan tidak mau mengambil bayarannya"
__ADS_1
"Nyonya, anda sudah keterlaluan!" teriak Naina
"Jangan menyangkal, semua wanita yang pernah masuk kedalam kamar itu pasti wanita panggilan" ujar Intan
"Apa saat itu aku terlihat mau melakukan nya, bukankah kalian yang memaksaku, aku bisa saja melaporkan kalian dengan kasus pelecehan, tapi aku tidak melakukannya karena menghargai hubungan kalian, dan tuan,,!" Naina menunjuk ke arah Endra
Naina tiba-tiba menampar Endra,
"Tuan yang membawa saya kesana, melecehkan saya dan bahkan saat ini saya yang dihina, jelaskan sejelas-jelasnya pada istri tuan dimana tuan menemukan saya, ini jelas perbuatan tidak menyenangkan, sekarang kalian minggir dan jangan pernah berjumpa lagi, kalau kita sampai bertemu, berpura-pura lah tidak saling mengenal"
Intan menarik rambut Naina saat Naina mencoba membuka pintu mobil, Naina membalas dan mendorong Intan membuat Intan berteriak kesal, teriakan Intan memicu banyak perhatian karena banyak yang penasaran mendengarnya.
Endra melihat situasi yang mulai tidak terkendali, dia lalu menyuruh Naina cepat pergi dan menahan Intan
"Jangan pernah ganggu Naina atau bahkan berani menyakitinya walau hanya seujung kuku" bisik Endra pada Intan
"Aku tau semua rahasia menjijikkan dirimu, aku bisa membukanya kapan pun saat kamu berani mengganggu Naina" tambah Endra lalu memeluk Intan untuk sekedar pencitraan karena saat itu sudah ada beberapa orang mendekat kearah mereka.
"Apa kalian mendengar teriakan?" tanya Endra pada beberapa orang yang telah melihat kearahnya saat ini
"Maaf ya semuanya, aku tidak bisa menahan diri, melihat istriku ini sangat cantik, jadi aku membuatnya menjerit dimanapun, maafkan atas ketidak nyamanan nya" ujar Endra sambil tersenyum membuat orang-orang yang datang bersorak melihat pasangan yang mereka anggap serasi dan romantis itu.
"Maaf teman-teman semua, sepertinya saya harus mencari hotel terdekat, kami pamit dulu" ucap Endra lalu menarik tangan Intan menuju mobil mereka.
"Ingin sekali menjadi nyonya Intan, suaminya sudah tampan dan juga sangat bergairah,,. aahhhh" ujar salah satu wanita dengan memegangi dadanya karena meleyot melihat adegan itu, adegan yang tanpa diketahui nya hanya acting belaka dari Endra.
Intan melihat kearah Endra saat diperjalanan, dia takut karena ternyata kelakuan nya selama ini sudah diketahui oleh Endra.
"Sejak kapan kamu tau?" tanya Intan
"Sejak malam pertama kita, saat itu kamu kecewa setelah tau kondisiku dan langsung pergi, aku awalnya khawatir padamu lalu aku mengikuti mu, aku takut kamu menangis sendirian meratapi nasibmu yang mempunyai suami tidak berguna seperti diriku, tetapi yang tidak aku sangka kamu pergi kesebuah hotel dengan dua pria sekaligus, aku awalnya berfikir positif mungkin itu saudaramu, tetapi saat aku menyamar sebagai petugas hotel pengantar makanan, tanpa malu kamu sedang duduk dipangkuan salah satu pria itu dan kalian berciuman" suara Endra terdengar seperti menahan rasa sakit yang teramat dalam.
"Apa? itu tidak mungkin" ucap Intan terlihat menggigit bibir bawahnya, dia ingat betul kejadian malam pertama nya, dia memang meminta kepuasan pada kedua temannya karena tidak mendapat dari suaminya, saat itu dia sudah sangat ingin mendapat kepuasan jadi dia nekad melakukan itu, Intan bahkan ketagihan melakukannya bersama teman-temannya dan rutin melakukan hal itu.
"Endra sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku, aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi" ujar Intan sambil memegangi tangan Endra.
"Tidak perlu memohon" Ucap Endra lalu melepaskan pegangan tangan Intan
"Sepertinya kamu sudah membuat janji dengan teman-teman mu, pergi saja bersenang-senang seperti biasa, aku sadar kamu butuh itu, aku juga masih banyak pekerjaan lain" ucap Endra lalu berhenti didepan sebuah hotel
"Tidak sayang, aku tidak akan melakukan itu lagi, ampuni aku, maafkan aku sekali ini saja" Intan terus memegangi tangan Endra
"Keluar dari sini sekarang juga!" teriak Endra, membuat Intan kaget karena selama ini Endra tidak pernah memarahinya, melihat Intan yang masih terus diam lalu Endra keluar dan membuka pintu mobil tempat Intan duduk dan langsung menariknya keluar, lalu Endra langsung pergi.
"Ini semua karena Naina" gumam Intan geram lalu berjalan memasuki sebuah kamar hotel karena partner bercintanya sudah menunggu.
"Ada apa sayang, kenapa kamu marah-marah" ucap salah satu teman bercinta Intan yang sudah menggoyang Intan dari tadi, teman prianya itu lalu mengejang bahkan sebelum Intan mendapat pelepasannya, Intan kembali marah,
"Turun dari tubuhku, cepat Alek kamu naik!" teriak Intan pada temannya yang lain yang dari tadi memainkan gunung kembarnya, Intan sepertinya mengidap hiperseks.
POV Endra
Endra tidak fokus dikantornya, dia terus teringat pada Naina, tetapi dia harus menahan diri untuk tidak menemui Naina karena akan semakin membuat Naina dalam bahaya, Endra yakin pasti Intan akan kembali melakukan sesuatu.
"Perketat penjagaan dari jauh terhadap Naina, jangan lengah sedikitpun" perintah Endra pada pengawalnya
__ADS_1
"Tuan" panggil Suseno pada tuannya yang sedang menelepon, Endra lalu menoleh dan mematikan telepon nya.
"Ada apa?"
"Nyonya Romlah datang, dan menunggu tuan diluar, anda akan menemuinya atau tidak?"
"Suruh saja masuk" ujar Endra, Suseno langsung keluar ruangan dan kembali dengan ibu Romlah.
"Nak Endra, apa kabar?"
"Baik ma, seperti yang terlihat"
"Mama tidak bisa menghubungi Intan dan kebetulan mama lewat di depan perusahaan mu ini, jadi mama mampir"
"Terimakasih ma sudah sudi mampir" jawab Endra, dia yakin ibu Romlah akan membicarakan tentang Intan tetapi dia pura-pura tidak tau.
"Endra, kita sudah dewasa, kita mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi,, kamu pasti paham maksud mama"
"Sangat paham ma, itulah kenapa aku membiarkan Intan melakukannya selama ini" jawab Devan langsung pada intinya, ibu Romlah sedikit terkejut tetapi langsung bisa mengatasi keterkejutan nya karena sebenarnya Intan juga sudah melapor, hanya saja ibu Romlah tidak menyangka kalau Endra akan langsung to the point.
"Mama tidak perlu khawatir, tidak akan ada perbedaan atau perubahan apapun dengan hubungan ku dan Intan hanya karena masalah ini" ujar Endra dengan tenang.
"Mama lega mendengarnya, kamu sangat berbesar hati, karena Intan juga tidak akan melakukan hal itu kalau saja tidak ada kekurangan darimu" ujar ibu Romlah yang pada akhirnya tetap saja menyalahkan hal ini pada Endra.
Setelah kepergian ibu Romlah, Endra kembali pada pekerjaan nya, dia selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya supaya rasa sakit hati akan keadaan hidupnya bisa sedikit dia lupakan.
"Tuan, anda harus istirahat dulu atau setidaknya anda harus makan" ucap Suseno khawatir dengan kondisi tuannya yang juga sahabat dekatnya, Endra diam tidak menjawab apapun dan terus saja melanjutkan pekerjaannya.
Sore harinya Endra pulang kerumahnya seperti biasa, dia pun bersikap seperti biasanya pada Intan, seolah tidak ada yang terjadi.
"Endra sayang, kita mencoba lagi ya?" pinta Intan sambil menggoda Endra dengan langsung memegang pedang Endra.
Endra tidak bereaksi untuk sesaat, lalu memegang tangan Intan di bagian intinya dan menghempaskan nya
"Tidakkah kamu puas dengan teman-teman mu tadi?!" teriak Endra lalu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Intan geram melihatnya, karena Endra tidak pernah bersikap seperti itu, biasanya Endra sangat penurut,
"Awas saja kamu Naina, lihat saja pembalasanku karena berani membuat Endra berubah sikap padaku" gumam Intan tanpa menyadari kesalahannya.
__ADS_1