Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Penyusup


__ADS_3

Seorang pria membawa buket bunga besar menutupi wajahnya mengetuk pintu kamar sebuah hotel, sang wanita yang tak lain adalah Atika, sangat senang melihatnya.


"Aku yakin kamu pasti akan datang" ujarnya ceria dan langsung menarik tangan pria itu untuk segera memasuki kamar.


Ccceeekkkllleekkkk


Lampu kamar dimatikan dengan mudah karena saklar lampu nya berada di dekat pintu masuk, Atika tidak takut dan malah semakin senang dengan situasi saat ini.


"Ini untukmu" suara itu semakin membuat Atika kegirangan karena suara itu adalah suara Endra, pujaan hatinya, Atika mengambil bunga itu dan langsung memeluk tubuh pria yang ada di hadapannya.


"Aku menunggu ini sudah sangat lama sekali, untung saja kamu datang"



Flashback



Atika adalah sahabatnya Intan, pada saat malam Intan melihat Endra dan menyukainya, sebenarnya Intan datang juga bersama Atika, sebenarnya Atika yang melihat Endra terlebih dahulu, tetapi Intan yang menikungnya dan langsung meminta kepada kedua orang tuanya untuk melakukan perjodohan.



Atika sangat marah waktu itu, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak karena saat itu dia sedang mendapatkan hukuman dari kedua orang tuanya karena boros, jadi dia tidak akan mungkin di dengarkan kalau dia juga menginginkan Endra pada saat itu.



Kekayaan keluarga Atika lebih besar dibanding kekayaan keluarga Intan, tetapi waktu tidak berpihak pada Atika, sehingga dia hanya bisa mengamati Endra dari jauh, Atika juga mengetahui segalanya karena selalu ada orang suruhannya yang selalu berada di dekat Endra.



Flashback End



💜💙💜💙💜💙💜💙💜💙💜💙💜



"Kenapa kamu melakukan ini, apakah kamu menginginkan tubuhku?"



"Sayangku Endra,, kamu terlalu To the points, tetapi tidak dipungkiri,, tentu saja sayangku,,,, kita semua sudah dewasa, apalagi kebutuhan kita kalau bukan uang dan hal itu?" Atika sudah sangat bernafsu mendengar suara Endra, Atika menggesekkan dadanya.



"Aku mendengar cerita Intan tentang milikmu yang begitu indah hanya saja layu, sekarang aku yakin aku bisa membuatnya terbangun sempurna"



"Apa kamu tau kondisiku?"



"Tentu saja sayang, tapi aku juga tau kalau kamu sudah sembuh, sudahlah sayangku,, jangan terlalu banyak berbicara, ayo kita mulai" Atika membuka jubah mandinya, terlihat samar-samar kalau Atika memakai baju lingerie seksi, tiba-tiba lampu kembali menyala.



"Hhhaaahhh?? appaaa,, apa yang terjadi? siapa kamu?!!" teriak Atika kaget begitu melihat pria yang berada di hadapannya.



Terlihatlah Reynolds dengan memakai setelan milik Endra berdiri dengan gagahnya di depan Atika, Reynolds menganggukkan kepalanya.



"Apa nyonya masih berharap akan sentuhan ku?" tanya Reynolds dengan senyum seringainya karena berhasil dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh Endra.



Ternyata Endra bertukar baju dengan Reynolds dan merencanakan ini semua, postur tubuh mereka hampir sama hanya saja sebenarnya Reynolds lebih tinggi, tetapi sepertinya Atika tidak menyadarinya karena dia hanya focus pada baju Endra yang sudah di infokan oleh mata-matanya yang selalu berada di dekat Endra.



Atika sangat yakin karena pakaian yang dipakai Reynolds sangat sesuai seperti yang dikatakan oleh mata-matanya, apalagi wajah Reynolds yang tertutupi buket bunga besar sehingga Atika tidak bisa melihatnya, Reynolds tidak berbicara sama sekali, suara yang tadi terdengar seperti suara Endra memang benar adalah suara Endra, tetapi suara itu adalah rekaman.



"Siapa kamu??!!" Atika kembali berteriak.



"Aku adalah pria yang baru saja nyonya peluk, apakah nyonya sudah lupa?"



"Dasar kurang ajar, cepat pergi atau aku panggilkan satpam"



"Dengan senang hati, saya akan segera undur diri" Reynolds langsung keluar dari kamar itu dan memegangi dadanya merasa sangat lega, karena kali ini, tugas yang diberikan untuknya tidak harus melibatkan tubuh nya secara lebih dalam, tidak seperti saat harus bertugas menjebak Intan.



Atika marah dan menghancurkan apa saja yang bisa diraihnya, dia terus mengutuk Endra.



"Lihat saja sayang, aku tidak akan berhenti sampai disini, kalau aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain juga tidak!!" gumam Atika sambil terus melihat kearah wallpaper ponselnya yang ternyata adalah foto Endra.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹



Naina kaget karena Endra datang membawa hampers sayuran yang menutupi wajahnya.



![](contribute/fiction/5874418/markdown/10009663/1673472883251.jpg)



"Sepertinya aku salah, harusnya aku membawa bunga bukan malah sayuran" ujar Endra kecewa melihat reaksi kaget istrinya.


__ADS_1


"Sayang, kamu imut sekali, aku sampai tidak bisa berkata-kata" Naina tersenyum lalu mengambil hampers keranjang berisi sayuran yang dibawa oleh Endra.



"Kamu dapat ide dari mana? lucu banget" Naina terus saja memandangi sayuran yang di pegang dengan kedua tangannya karena berat.



"Tadinya aku mencari sayur kungkung, seperti yang waktu itu kamu masak, tetapi karena sudah malam jadi sudah habis"



"Kangkung, bukan kungkung"



"Iya itulah, apa kamu suka sayur yang ini? aku hanya memilih acak saja"



"Semua sayuran aku suka, tapi dibandingkan dengan semua sayuran, atau apapun di dunia ini, aku lebih menyukaimu" Naina malu dengan ucapannya lalu berbalik badan, Endra tersenyum malu-malu mendengarnya dan langsung memeluk Naina dari belakang.



"Hampir saja aku salah arah sayang,, kalau aku tidak pulang, aku mungkin akan kehilangan senyuman manismu untuk selamanya, aku rela kehilangan segalanya tapi tidak dengan mu" batin Endra dan terus mempererat pelukannya dan menciumi kepala istrinya yang berada dalam pelukannya.



"Katakan lagi" pinta Endra.



"Aku akan mengatakannya nanti, ayo sekarang kita makan dulu, aku sangat lapar"



Endra tidak menyangka kalau Naina akan menunggunya, padahal dia sudah meminta Naina untuk makan terlebih dahulu, Endra semakin bahagia karena sadar kalau istrinya menghargai dan menghormatinya.



"Sayang,, apa pekerjaan mu sudah selesai? tumben sekali Seno menyuruh mu datang diwaktu seperti ini, apa itu sangat penting?"



"Tidak sayang, itu tidak penting,, dan kamu tenang saja karena semuanya sudah selesai, ini apa sayang?" tanya Endra melihat kesebuah piring.



"Itu tumis tempe dan kacang panjang"



Endra memakan nya dan sedikit kaget dengan rasanya yang gurih dan manis, tanpa terasa Endra menghabiskan nya tanpa menyisakan untuk Naina.



"Maaf sayang, ini masih ada satu suap,, aaaaaa" Endra berniat menyuapi Naina tetapi istrinya itu menolak.




"Makan yang banyak, kamu harus kuat untuk menghadapi ku"



Naina hanya tersenyum menjawab godaan dari suaminya, dia sungguh sangat bahagia, tadi dia sempat berfikiran buruk dengan kepergian Endra, sebagai seorang istri yang berhati tulus kepada suaminya, dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tetapi dia mencoba menutupi nya dengan tetap memasak dengan ceria.



Naina masih memandangi wajah Endra yang menghabiskan makanannya, hingga dia menjadi sedikit melamun, Endra sampai harus memanggil beberapa kali supaya istrinya kembali focus.



"Sayang,,, sayang,, Nai,,"



Naina kaget dan langsung mengambil air minum yang ada di depannya, dia sudah sangat berfikiran buruk tadi, tetapi untung saja itu semua hanya khayalannya, dia sudah berfikir bagaimana Endra yang malam ini tidak akan pulang dan dia menunggu nya lama di sofa ruang tamu.



"Ada apa sayang? kenapa kamu melamun?" tanya Endra khawatir lalu mendekati Naina dan memegangi pipi dan keningnya, karena takut istrinya itu sakit.



"Tidak,,, ayo sekarang kita tidur, sepertinya aku mengantuk"



"Jangan,, aku mohon jangan mengantuk"



Naina tertawa kecil mendengarnya dan menuju dapur untuk menyimpan hampers sayuran dari Endra.



"Bibi, tolong simpankan ini ya,, terimakasih untuk makan malamnya bibi" Naina selalu ramah kepada para pelayan yang berada dirumah itu, membuat para pelayan sangat menyukai dan menghormati Naina, kecuali satu orang yang terlihat memegang ponselnya sedang memotret Naina secara diam-diam.



Naina langsung menuju ke kamarnya karena Endra telah menunggunya di pintu masuk kamar dengan tidak sabar, Naina mengatakan malam ini akan tidur lebih awal karena besok akan mengunjungi Rayhan.



"Kasian ayah, kita harus sering menengok nya" ucap Naina sedikit menjahili suaminya, lalu segera masuk kedalam kamar yang sudah pasti langsung diikuti oleh Endra.



"Baiklah, aku akan mengantarkan mu sebelum berangkat bekerja, tetapi sebelum itu sekarang aku harus menengok anakku lebih dahulu?"



"Anak??" Naina bingung dan langsung berbalik lagi untuk menghadap ke arah Endra, terlihat Endra yang sedang berusaha melepaskan ikat pinggangnya, dan pintu sudah tertutup rapat, sementara Naina sendiri masih bingung dan hanya bengong melihat tingkah suaminya.


__ADS_1


"Bukankah, ini belum awal bulan? Deva dan Yaya belum waktunya ditengok, kalau keseringan kan dilarang sama pengurus asrama" ujar Naina menahan dengan tangannya pada bibir Endra yang sudah semakin mendekati bibirnya, Naina menginginkan jawaban terlebih dahulu.



Tetapi dengan kekuatannya, Endra langsung menggendong Naina menuju kamar mandi untuk sikat gigi sebelum tidur, Naina tidak bisa berontak karena Endra langsung \*\*\*\*\*\*\* bibirnya, setelah sampai kamar mandi, barulah Endra menurunkan Naina lalu mereka sikat gigi dan cuci muka secara bersamaan.



Endra kembali menggendong istrinya untuk keluar dari kamar mandi dan langsung membawa Naina ke atas ranjang mereka, Endra masih belum juga menjawab pertanyaan Naina hingga Naina kesal dan menggigit lengan Endra yang jari-jarinya tengah membelai wajahnya.



"Aawwwww,, kenapa kamu sekarang suka menggigit?"



"Karena kamu nyebelin" ujar Naina lalu menutupi wajahnya dengan bantal.



"Aaaiiihhh, imutnya" Endra gemas melihat istrinya yang sedang ngambek, Endra tidak membuka bantal yang menutupi wajah Naina tetapi langsung membuka baju Naina dan langsung meminta minum pada istrinya itu.



"Aaagggghhhh,,, aaaauuuuccchhhh" Naina merintih merasakan bibir dan lidah suaminya yang memainkan gunung kembarnya, langsung saja Naina meremas bantal yang dia pegang.



Setelah melihat istrinya mengejang, Endra mengambil bantal yang dipegang erat oleh Naina, Endra menciumi seluruh wajah Naina tidak terkecuali matanya yang sedang terpejam.



Tangan Endra membelai lembut perut Naina, dan bibirnya telah sampai ditelinga istri tercintanya, dengan gerakan lembut, Endra juga \*\*\*\*\*\*\* daun telinga Naina yang membuat Naina menggelinjang kegelian.



"Aku ingin menengok bayi kita, aku sangat yakin dia sedang bertumbuh di dalam sini, aku harus selalu menyemangati nya untuk terus tumbuh dengan sehat dengan terus mengunjunginya" Endra tersenyum dengan bahagianya begitu juga dengan Naina.



"Hai ibu dari anak-anakku, terimakasih sayang" Endra memandangi Naina yang berada dibawah kungkungannya, mereka tersenyum sebelum saling memberikan kepuasan.



Malam semakin larut saat seperti biasanya Endra baru menyelesaikan urusannya dengan tubuh istri cantiknya, sementara Naina selalu terlelap lebih dahulu setelah sesaat mereka mencapai puncaknya, Endra selalu bisa membuat Naina lemas dan tidur dengan nyenyak nya.



"Terimakasih sayang" Endra mencium kedua pipi Naina dan tidak lupa keningnya, setelah menyelimuti tubuh polos istrinya, Endra lalu memakai bajunya dan duduk di sofa.



"Apa yang terjadi tadi?" Endra mengirimkan pesan pada Reynolds.



Reynolds mengirimkan rekaman suara Atika, jadi tadi selain memegang alat rekam suara yang telah tersimpan rekaman suara Endra, Reynolds juga memegang rekaman suara lain untuk merekam apa yang dikatakan oleh Atika.



Sekarang Endra tau kalau Atika adalah temannya Intan, tetapi ini masih janggal bagi Endra, karena Atika bisa mengetahui kondisi nya yang sudah sembuh, karena tidak mungkin itu diketahui oleh Atika dari Intan, karena Intan berada dalam penjara.



Endra melihat ke sekeliling dan dengan instingnya dia memeriksa ke bawah ranjangnya secara perlahan, karena takut membangunkan istrinya yang sudah tertidur pulas, betapa kagetnya dia karena melihat alat perekam suara yang ditempelkan di ranjangnya.



Endra langsung memeriksa semua dan mendapatkan tiga alat perekam suara, dengan cepat Endra langsung menghancurkannya, sekarang Endra sadar kalau pasti dirumah nya ada penyusup, Endra tidak memasang CCTV didalam kamar, jadi tidak bisa memastikan siapa yang menjadi pelakunya karena para pelayannya bergantian dalam membersihkan kamarnya.



"Selidiki semua pelayan yang ada di rumahku" Endra memberi pesan pada Suseno.



"Apa yang terjadi? kenapa kamu tidak menceritakan padaku tentang rencanamu?? apa bagimu aku sudah tidak berarti?"



"Seno,, aku tau beban berat yang kamu pikul, apalagi sekarang pekerjaanmu lebih banyak karena aku yang mulai tidak kompeten dan hanya datang saat rapat saja, aku tidak mau mengecewakan dirimu, untuk kerja sama dengan perusahaan wanita itu, aku tidak bisa menjamin apapun, karena aku lebih baik kehilangannya dari pada kehilangan istriku, untuk kerja sama dengan tuan Arga, aku akan memastikan kalau itu tidak akan putus ditengah jalan"



Endra memang tidak memberi tahu pada Suseno tentang rencananya dengan Reynolds karena dia tau kalau itu tidak terlalu penting untuk diceritakan, karena hasil akhir lah yang paling penting.



"Wanita itu pasti akan terus mengganggu ku dan Naina, segera cari tau siapa penyusup yang ada dirumahku" Endra mengirimkan pesan dan menutup ponsel dan laptop nya karena melihat Naina bergerak-gerak, Endra lalu dengan pelan tidur disamping Naina dan membawa kepala Naina kedalam pelukannya.



"Tidak akan aku biarkan siapapun mengganggu kita, dan akan aku hancurkan siapapun yang berani menyakitimu" batin Endra lalu membelai lembut rambut Naina.



Didalam sebuah garasi yang gelap, ada seseorang yang sedang bermain ponsel dan sepertinya sedang berbalas pesan.


"Sepertinya keberadaan mu sudah diketahui, kamu harus bisa jaga diri dan secepatnya pergi dari sana, ingat untuk tidak mengatakan apapun tentangku, atau anakmu akan aku habisi"


"Jangan nyonya, saya mohon jangan sakiti anak saya"


"Kalau kamu tertangkap, jangan pernah sebut namaku"


"Baik nyonya, saya berjanji"


Tiba-tiba lampu menyala hingga membuat seseorang itu terlonjak kaget bahkan ponselnya juga terjatuh, terlihat tangan dan seluruh badannya gemetaran.


"Sumi,, apa yang kamu lakukan disini, ditengah malam seperti ini?" tanya bi Wulan.


"Ti,, tidak,, saya mendapatkan kabar dari kampung halaman saya kalau anak saya sakit parah, jadi saya harus segera pulang"


"Ini tengah malam, sangat tidak aman kalau sampai seorang wanita di luaran, kamu bisa berangkat pagi-pagi sekali, sekarang tidurlah lebih dulu, aku akan menyiapkan uang gajimu bulan ini" Bi Wulan langsung berlalu dari sana dan tidak curiga sedikitpun.


Bi Wulan adalah kepala pelayan dirumah itu, jadi semua urusan sudah diserahkan kepadanya, begitu juga masalah gaji tiap bulannya, Sumi terlihat lega karena tadi dia sempat berfikiran bahwa dia sudah ketahuan.


"Untung saja nenek tua itu tidak curiga sedikitpun" batin Sumi lalu mengambil ponselnya yang terjatuh, dengan cepat dia lalu menuju kamarnya untuk bersiap-siap segera kabur darisana.

__ADS_1


__ADS_2