
"Tidak Naina, jangan,,, ini tidak benar" batin Naina lalu mendorong tubuh Endra lalu dia turun kelantai dengan sedikit melompat, Naina menyajikan sarapan yang dia buat, dan tanpa banyak bicara, Naina meminta supaya Endra sarapan terlebih dahulu sementara dia akan mandi karena dia akan mandi untuk bersiap-siap ke salonnya.
"Kamu tidak sarapan?" tanya Endra.
"Tidak, aku akan membawanya dan sarapan di salon"
Naina meninggalkan Endra lalu masuk ke dalam kamarnya, Naina dengan cepat mengunci pintu karena takut Endra akan masuk kedalam kamarnya, Naina terdiam beberapa saat lalu memegangi dadanya.
"Jangan Naina,,, ini tidak sesuai rencanamu,, kamu harus ingat dengan Deva dan Yaya, focus mu hanya mereka, jangan pernah tersesat sedikitpun" Naina lalu mandi dan segera bersiap.
"Aku antarkan kamu terlebih dahulu, tidak perlu memesan mobil online" ujar Endra saat melihat Naina membuka ponselnya.
"Tidak perlu, kamu langsung saja ke rumah sakit, ayah Rayhan pasti sudah menunggu, mobil pesanan ku sudah datang, cepatlah keluar, aku mau mengunci pintu rumah"
Endra tidak memaksa Naina, mereka pergi ke tujuan mereka masing-masing, Naina melamun di sepanjang jalan, dia memutuskan untuk berlibur ke pantai, saat hatinya suntuk dan mengalami banyak masalah serta tekanan, dia memang sering berlibur ke pantai, bedanya kali ini dia sendiri, biasanya dia pergi bersama Tari.
Naina merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk dia tinggal berlibur, adiknya sudah aman karena Putra dan Anton sudah dipenjara di Nusa Kambangan, akan susah bagi mereka untuk bisa melarikan diri, lagipula penjagaan untuk mereka semakin diperketat karena mereka adalah penjahat kelas kakap.
Anak-anaknya juga sedang berlibur, sementara salon nya bisa Naina pantau dari jauh, dan juga Rayhan sudah kembali pulang kerumahnya, jadi Naina bisa tenang untuk berlibur ke pantai.
Naina tidak mengatakan apapun kepada orang lain tentang kepergiannya, karena pastinya nanti akan diketahui oleh Endra, Naina hanya mengatakan kepada karyawan kepercayaannya, Naina berangkat siang itu juga dengan tidak membawa banyak barang.
"Aku akan membeli baju disana saja, jadi aku tidak perlu repot-repot" Naina langsung menyewa sebuah mobil untuk memudahkan dirinya berlibur, hal yang tidak dia sadari, ternyata ada sepasang mata yang terus memantaunya.
"Terus ikuti dan segera laporkan tujuannya"
"Ndra,, apa hubungan mu dengan Naina sudah ada kemajuan?" tanya Rayhan saat mereka sudah kembali sampai di rumah, Rayhan memegangi dadanya tanpa sepengetahuan Endra.
"Aku tidak tau" Endra focus pada ponselnya, dia mendapatkan pesan untuk datang ke sidang perceraiannya dengan Intan, tetapi dia sengaja tidak mau datang supaya segalanya segera selesai, dia sudah tidak sabar untuk segera menikahi Naina.
"Aku tidak peduli ada kemajuan atau tidak, yang jelas aku akan menikahi nya secepatnya" ucap Endra.
__ADS_1
"Jangan terlalu memaksakan kehendak dirimu sendiri Ndra, cukup ayah saja yang kemarin melakukan hal itu, ayah kaget melihat wajahnya yang seperti sangat tertekan karena permintaan ayah supaya kalian menikah"
"Ayah, apa ayah benar-benar sudah merasa lebih baik?,, aku ada urusan penting" Endra bangkit dari duduknya dan tidak menjawab apapun perkataan ayahnya.
"Tenang saja, ada Reynolds dan bibi yang menjaga ayah, segera selesaikan secepatnya urusan mu"
Endra bergegas pergi sembari menelpon pengawalnya,
"Apa maksudnya dengan kehilangan jejak!!??"
"Saya melihatnya memasuki sebuah resort di kepulauan seribu tetapi ternyata nona tidak ada dalam daftar nama penyewa salah satu resort itu, dan setelah beberapa lama saya tidak melihat keberadaannya"
"Kamu mau bermain-main lagi denganku rupanya? baiklah sayang,, mulai sekarang aku tidak akan segan-segan lagi"
Endra mengerahkan seluruh pengawal nya untuk mencari keberadaan Naina, sementara itu yang sedang dicari berada di makam sahabatnya, sudah lama Naina tidak mengunjungi makam sahabatnya.
"Tari, maafkan aku karena sudah lama tidak datang kesini, aku sangat kesepian,, tidak bisakah kamu hadir dalam mimpiku dan memberi tahu padaku apa yang sebaiknya aku lakukan?" Naina menaburi makam sahabatnya dengan bunga yang dia bawa setelah sebelumnya mencabuti rumput liar nya.
"Aku semakin lemah karena sentuhannya, entah kenapa hatiku terasa,,,, aahhhh entahlah,, yang pasti aku tidak mau ini terus berlarut-larut, karena aku tidak mau semakin berat untuk melepaskan dirinya suatu saat nanti, aku yakin dia hanya penasaran saja denganku, setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, dia tidak akan ada bedanya dengan pria lain,, aku tidak mau lagi terlibat dengan seseorang, aku tidak mau anak-anakku menjadi korban lagi, kalau ayah kandungnya saja tidak mengharapkan mereka dan sanggup menyakiti mereka,,, apalagi orang lain" Naina curhat sembari terus menaburkan bunga di atas makan sahabatnya.
__ADS_1
"Tadinya aku ingin berlibur ke pantai, bahkan aku sudah sampai kesana, tetapi entah kenapa tiba-tiba aku mengingat dirimu, biasanya aku ke pantai bersama dirimu, jadi terasa aneh saat kesana sendirian"
Naina terus berbicara tanpa menyadari kedatangan seseorang dibelakang nya, dengan gerakan cepat orang itu membiusnya hingga membuat Naina pingsan.
Naina terbangun disebuah kamar yang sangat mewah, anehnya badannya tidak bisa digerakkan walau dia sudah sadar, Naina terus menggerakkan matanya untuk melihat kondisi disekitarnya, dia semakin takut karena tangannya tidak juga bisa dia gerakkan.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Naina mengenali suara itu, bola matanya bergerak mencari orang yang mengajaknya berbicara, Endra duduk diujung kamar itu.
"Kamu ingin bermain petak umpet denganku kan, mulai sekarang kita akan bermain bersama, kita akan bersembunyi di sini selama yang kamu inginkan"
Naina tidak menyangka bahwa Endra melakukan hal ini padanya, biasanya juga Endra menggunakan tenaganya sendiri untuk melakukan apapun padanya sesuka hati, lalu kenapa saat ini Endra begitu pengecut, tetapi Naina masih belum bisa mengucapkan sepatah katapun.
Endra sepertinya khawatir melihat kondisi Naina, dia lalu keluar kamar dan masuk kembali dengan seseorang yang tidak Naina kenal, seorang wanita setengah baya yang membawa peralatan dokter, wanita itu lalu memeriksa kondisi Naina.
"Obat biusnya sangat kuat dosisnya, semoga saja itu tidak mempengaruhi organ tubuhnya terlalu parah, dia akan berangsur membaik, kamu jangan terlalu khawatir" wanita itu lalu keluar dari kamar diantarkan oleh Endra, saat Endra masuk kedalam kamar, dia melihat Naina yang kembali terpejam, Endra pikir Naina kembali tidur karena obat bius yang dia hirup terlalu banyak.
"Dasar lelaki pengecut!! bisa-bisanya dia melakukan hal rendahan seperti ini" Endra bergumam lalu mencium kening Naina, tidak lama Endra lalu keluar dari kamar.
Naina membuka matanya, karena memang sebenarnya dari tadi dia tidak tidur, dia merasa heran dengan apa yang diucapkan oleh Endra, perkataan Endra menyiratkan seolah-olah ini bukan perbuatannya, Naina bingung dan tidak mengerti.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" batin Naina dan terus berusaha untuk bergerak walau dia tetap tidak sanggup.
__ADS_1