Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Cinta Intan Pada Endra Yang Begitu Besar


__ADS_3

Naina menenangkan diri dengan menikmati makan malam disebuah restoran yang berada di sebuah hotel, karena dia tidak punya teman dia sendirian di sana, Naina mengingat kembali kenangan saat Tari masih hidup, mereka sering makan di tempat itu tiap malam Minggu.


Naina menghapus air matanya, dia tidak punya lagi tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya, tidak ada lagi teman untuk sekedar curhat dan bercerita.


"Tari, aku merindukanmu, seandainya saja kamu masih ada disini, mungkin aku tidak akan terlalu kesepian" Naina kembali menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir.


"Maafkan aku Tari,,, jangan terlalu memikirkan tentang hal ini, aku pasti bisa melalui semuanya,, kamu tenanglah di sana"


Naina lalu membuka ponselnya, dia belum sempat memeriksa semua pesan masuk, betapa kagetnya dia saat mengetahui bahwa Ningsih kabur dari rumah, Naina memegang keningnya,, dia merasa sangat lelah dengan sikap adiknya yang selalu tidak bisa diberi nasihat, untuk menyusul atau mencari tentu sangat mustahil, karena dia tidak tau alamat lengkap tempat yang dituju oleh Ningsih.


Naina menelepon ibu Nimah untuk menenangkan mamanya yang sudah pasti sangat khawatir dengan Ningsih, tidak lupa dia juga meminta maaf karena baru sempat menghubungi kembali setelah tadi siang mamanya menghubungi nya.


"Bisakah kita duduk disini?" dua orang pria datang mendekat ke arah Naina, sepertinya mereka mempunyai niat jahat terhadap Naina, karena mereka tanpa diberi izin sudah langsung duduk disebelah kanan dan kiri Naina.


Naina waspada dan mulai merapikan barang-barang nya dan berniat segera pergi dari sana, tetapi saat Naina bangun,, salah satu pria itu memegangi tangan Naina, membuat Naina yang sudah kesal dari siang karena ulah Endra langsung berontak dan memukuli pria itu dengan keras, bahkan kedua pria itu terlihat sangat kewalahan menghadapi Naina yang sepertinya sedang melampiaskan kemarahannya.


Naina baru berhenti setelah dipisahkan oleh security dan pengunjung lainnya, Naina merapihkan baju dan tidak lupa mengambil tasnya yang jatuh karena melawan dua pria tadi.


"Lihat saja CCTV, kedua pria ini mencoba menggangguku terlebih dahulu, aku hanya mencoba membela diri, sekarang saya permisi dulu dan maaf atas keributan dan ketidak nyamanan nya" Naina lalu pergi dari sana setelah membayar bill makan malamnya.


Naina tidak langsung kembali kerumahnya, malam ini dia berencana untuk tidur dan menginap di rumah orang tuanya, lagipula Ningsih sedang tidak berada dirumah, jadi sekalian menemani kedua orang tuanya.



POV Endra



"Apa? apa dia terluka?!" teriak Endra langsung berlari keluar dari kamarnya, dia masih tidur di rumah ayahnya dan entah kapan akan kembali kerumahnya bersama Intan.



"Tidak terluka sedikitpun tuan,, tetapi para berandalan itu yang terkena batunya, mereka babak belur oleh nona Naina"



"Maksudnya?" Endra masih bingung saat mulai menyetir mobil nya dan bahkan tidak mendengar suara ayahnya dari depan pintu rumah karena khawatir dengan anaknya yang tiba-tiba berlari dari kamarnya.



"Nona Naina menghajar mereka tanpa ampun, bahkan saya tidak berkesempatan untuk membantunya, tetapi sepertinya mereka adalah suruhan seseorang karena tidak mempunyai identitas, saat ini nona Naina sedang berada dirumah kedua orang tuanya"



Setelah mendapat laporan dari pengawalnya yang dia minta untuk selalu menjaga Naina dari jauh, Endra lalu dengan cepat menuju tempat kejadian perkara dan menelepon Suseno.

__ADS_1



"Seno, datang ke hotel di seberang jalan Kenangan, aku menunggu di sana"



Endra sampai ke tempat dimana tadi Naina makan malam, dia melihat CCTV dan tersenyum melihat Naina yang terlihat sangat geram melawan para pria yang mencoba mengganggunya.



"Ada baiknya juga aku membuatnya marah tadi siang, itu membuat dia melampiaskan kemarahannya pada para pria itu, sungguh malang nasibmu wahai para berandalan" gumam Endra sembari melihat video itu.



"Endra, para penjahat itu sudah ada yang menebus dan sudah bebas kembali" Suseno melaporkan dengan memberikan identitas dua pria yang mengganggu Naina tadi, pada awalnya mereka tidak mau mengaku dan memang tidak membawa identitas, tetapi dengan kemampuan Suseno dalam mencari informasi, hal seperti ini sangat mudah dilakukan dan dengan cepat mengetahui identitas kedua pria tersebut.



"Apa maksudnya ini? bukankah mereka adalah simpanan Intan?" Endra kaget setelah melihat identitas mereka karena dalam video CCTV, wajah kedua pria itu tidak terlihat secara jelas.



Endra sadar kalau Naina benar-benar sedang dalam bahaya, Intan pasti akan terus mengganggunya walau kali ini gagal, Endra lalu menambah pengawal untuk menjaga Naina.




Intan seolah tau kalau Endra pasti akan datang, dia sudah menunggu di atas sofa dengan pose seksi nya yang sebenarnya membuat Endra merasa jijik dan geli.



"Aku tidak akan berbasa-basi denganmu lagi, sudah tidak ada yang bisa diselamatkan dari hubungan kita, rumah ini aku berikan untukmu sebagai harta gono-gini walau sebenarnya bagiku sepertinya kamu tidak pantas mendapatkan nya kalau mengingat semua kelakuan busuk mu, tetapi aku juga tidak sudi tinggal dirumah penuh hal kotor ini,, dan aku ingatkan padamu lagi,, jangan pernah berani menyakiti Naina sedikitpun, karena kalau kamu sampai berani,, aku tidak akan memberi ampun padamu!!"



"Kenapa kamu harus tergila-gila dengan wanita murahan itu yang bahkan suaminya saja sudah membuangnya, dia tidak ada bedanya denganku, lalu apa kamu pikir dengan keberhasilannya sekali akan membuat dia terus berhasil?? tentu tidak suamiku tersayang, punyamu itu selamanya memang tidak akan bisa berfungsi, dan saat perempuan itu tau kondisimu, dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan!" Intan mendekati Endra dan menarik dasinya.



Dengan sigap Endra langsung menarik kembali dasinya dengan cepat hingga membuat Intan terjerembab, Endra sudah tidak peduli lagi pada Intan, dia sudah tidak mempunyai rasa takut terhadap Intan maupun keluarga nya, karena yang dia takutkan dari dulu hanya kesehatan ayahnya kalau sampai mengetahui kondisi rumah tangga nya, tetapi ternyata ayahnya sudah tau dari awal, jadi Endra sudah tidak punya alasan lagi untuk bertahan hidup bersama Intan.



"Jangan pernah samakan dirimu dengannya, bahkan seujung kuku pun kamu tidak akan bisa menyamai nya" Endra lalu segera pergi dari sana setelah memberi peringatan kepada Intan untuk tidak berbuat hal bodoh dengan berani main-main dengan Naina, karena kalau Intan berani melakukan hal itu, maka Intan harus berhadapan dengannya.

__ADS_1



Intan marah besar dan menghancurkan semua barang yang ada di atas meja, dua pria yang sejak tadi berada didalam kamar Intan lalu keluar karena mendengar teriakan-teriakan Intan yang terdengar sangat mengerikan.



"Dasar kalian tidak becus, hanya menangani seorang wanita saja tidak mampu, bahkan aku harus mengeluarkan banyak uang untuk menebus kalian tadi!!" Intan berteriak marah dan melampiaskan kemarahannya pada dua temannya selama ini menjadi partner nya bercinta.



"Sekarang masuk kamar dan layani aku!!" perintah Intan pada kedua temannya yang terlihat masih menahan sakit akibat dari dihajar oleh Naina.



"Intan, kami sedang terluka" ucap salah satu pria itu dengan memegangi lengannya yang nampak memar.



"Apa aku perduli?! aku sudah menghabiskan banyak uang untuk kalian, jadi kalian harus tau diri, cepat masuk ke kamar!!" Intan lalu masuk ke kamarnya tetapi karena kedua temannya tidak juga menyusulnya membuatnya kembali berteriak.



"Alek,,, Dirga,, cepatlah!!" teriak Intan memanggil kedua teman nya yang selalu memberikan kepuasan kepada dirinya.



Intan menggoyang Dirga yang terlentang dengan buah kembarnya yang sedang di mainkan oleh Alek yang juga berada di atas tubuh Dirga, Alek mencoba sekuat tenaga untuk tidak menindih tubuh Alek dengan bertumpu pada kedua lututnya, tetapi dia semakin melemah karena Intan juga sambil memainkan burungnya, fantasi Intan benar-benar sangat liar dalam hal ini.



"Lihat saja Naina, kalau aku tidak bisa menguasai Endra, maka tidak ada seorang pun yang bisa memilikinya termasuk kamu" batin Intan sambil terus meremas burung Alek dan menggoyang burung Dirga.



Flashback


Intan melihat Endra yang terlihat sangat sempurna perawakan tubuhnya, dan terlihat sangat tampan dan gagah, Intan jatuh cinta pada Endra saat pertama bertemu di suatu acara, saat itu dia menemani ayah nya dalam suatu perjamuan makan malam para pengusaha sukses di seluruh kota itu.


Intan meminta kepada ayahnya untuk menjodohkan nya dengan Endra karena dia sangat tertarik pada Endra, seiring berjalannya waktu saat mereka melakukan kencan untuk saling mengenal sebelum pernikahan, Intan semakin menyukai Endra karena sifat gentleman nya dan juga sifat dingin Endra yang membuat Intan semakin penasaran.


"Ayah, percepat pernikahan ku dengan Endra, aku sangat mencintai nya" pinta Intan pada ayahnya.


Setelah pernikahan terjadi dan Intan mengetahui kondisi Endra, sudah pasti Intan kecewa, Intan yang memang sudah melakukan hubungan dan pergaulan bebas sebelum menikah tentu saja sudah berfantasi tinggi melakukan malam pertama dengan Endra yang sangat dia kagumi dari awal pertemuan.


Karena nafsunya yang tidak terbendung lagi, akhirnya dia mencari pelampiasan bersama teman-temannya di malam pertama nya dengan Endra, tapi walaupun begitu,, hatinya benar-benar telah jatuh cinta pada Endra, itulah yang membuatnya tidak mau melepaskan Endra karena cintanya begitu besar pada Endra.

__ADS_1


__ADS_2