
"Reynolds,,,!!"
Panggil Rayhan dengan berteriak, sementara yang dipanggil tentu saja masih sibuk memakai kembali pakaiannya, tetapi tidak butuh waktu lama bagi Reynold untuk segera keluar karena tuannya memanggil.
"Iya tuan" Reynolds keluar sudah menggunakan pakaiannya lengkap walau terlihat sangat kusut.
"Apa yang nyonya muda butuhkan sampai harus menemui mu langsung ke dalam kamar dimalam hari seperti ini?'
"Ayah, aku membutuhkan air hangat karena perutku terasa sakit" Intan mencoba mencari alasan, dia bahkan ketakutan karena ayah mertuanya tidak bertanya terlebih dahulu padanya, Intan takut kalau Reynolds salah bicara atau malah mengatakan yang sejujurnya.
"Maafkan saya tuan, tadi nyonya mengetuk pintu kamar tetapi karena saya sudah tidur jadi tidak mendengar, nyonya muda sangat membutuhkan air hangat jadi membangunkan saya, nyonya muda tidak tau dimana letak kamar bibi, ini hanya kebetulan saja pintu kamar saya yang diketuk, karena dekat dengan dapur" jawab Reynolds dengan tenang, dia seperti tidak merasa gugup atau takut.
"Ya sudah, cepat buatkan air hangatnya, setelah itu istirahat kembali, karena masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan besok,,, Intan,, kalau sudah selesai langsung tidur dan temani Endra, dia akan kebingungan saat terbangun karena tidak ada istrinya di sisinya" setelah mengatakan itu Reyhan langsung kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Pintar juga kamu, untung saja kita tidak ketahuan" bisik Intan pada Reynolds, saat Intan berjalan untuk segera pergi ke nya bersama Endra, dengan cepat Reynolds kembali menangkapnya dari belakang dan menggesek kan otong nya kembali pada tubuh Intan.
"Dia terbangun kembali, apa nyonya yakin tidak mau tambah" Reynolds berbisik ditelinga Intan dengan sedikit menjilatinya, membuat Intan kembali bernafsu, tetapi Intan takut ketahuan.
"Yakin nyonya menolak?" Reynolds terus menggoda Intan dan akhirnya Intan tidak bisa menolak rezeki nomplok yang datang padanya malam ini.
"Tadi malam kamu dimana? saat aku terbangun, aku tidak melihatmu di kamar?" Endra memulai pembicaraan saat mereka sedang sarapan.
"Mungkin aku di kamar mandi, tadi malam aku sakit perut, jadi tidak nyaman tidur karena harus bolak balik ke kamar mandi" Intan menjawab pertanyaan suaminya sambil melirik ke arah Reynolds yang sedang menyiapkan makanan penutup untuk mereka.
"Kamu harus lebih perhatian pada istrimu Endra, suami macam apa kamu ini yang tidak mengetahui kalau istrinya sedang sakit, tadi malam bahkan dia sampai harus membangunkan Reynolds untuk meminta air hangat untuk meringankan sakit perutnya" Reyhan ikut masuk dalam pembicaraan anak dan menantunya.
"Apa itu benar Intan? biasanya kamu selalu ribut kalau terjadi sesuatu, kenapa tadi malam tidak membangunkan ku?"
"Aku melihat dirimu sangat nyenyak sekali tidurnya, aku tidak tega membangunkan dirimu"
Intan benar-benar pemain drama yang sangat pintar, dia bahkan tidak ada rasa canggung dalam berbohong dan dengan lancar merangkai kata-kata penuh dusta.
__ADS_1
"Istrimu begitu memperhatikan dirimu, kamu juga harus semakin sadar diri, jangan terlalu sibuk bekerja, mulai sekarang focus dan seringlah temani istrimu" Reyhan sudah menyelesaikan makan sarapan pagi nya, dan memakan makanan penutup yang disukainya, puding gula merah.
"Apa kalian ada rencana hari ini?" tanya Reyhan setelah mereka semua selesai sarapan.
"Aku akan berangkat bekerja, sepertinya langsung pulang kerumah" jawab Endra lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Sayang, aku masih ingin disini, perutku masih terasa tidak nyaman, lagipula tidak masalah kalau kita menemani ayah semalam lagi" Intan mengikuti Endra yang akan bersiap untuk berangkat bekerja.
"Tumben sekali kamu betah disini? biasanya juga kamu tidak mau, kalau kamu masih merasa sakit, lebih baik diperiksakan ke dokter" Endra berhenti setelah mendengar ucapan istrinya.
"Tidak perlu sayang, aku hanya perlu sedikit beristirahat, kamu berangkat bekerja saja dulu, nanti pulang ke sini lagi, baru besok kita kembali ke rumah" Intan menggandeng tangan suaminya menuju kamar untuk bersiap ke kantor.
"Lebih baik memang kalau istrimu istirahat dahulu, kamu hati-hatilah" Reyhan lalu kembali masuk ke kamarnya setelah Endra pergi.
Tentu saja hal itu menjadi kesempatan bagi Intan untuk terus memakan dan menikmati singkong besar milik Reynolds yang sedari tadi sudah menunggu Intan dikamar sempitnya.
"Jangan di tempat ini lagi, aku merasa sesak dan susah bernafas, masuk saja ke kamar ku, kita bisa mencari banyak alasan kalau ayah mertuaku melihat mu keluar dari kamar, buktinya tadi malam juga tidak ada yang curiga" Intan berkata seperti itu setelah memakan singkong milik Reynolds hingga tegak dan mengeras.
Tentu saja Reynolds mengikuti Intan, karena singkongnya harus mendapatkan lubang untuk pelepasannya, mereka lupa daratan dan tidak memperdulikan keadaan sekitar, hingga saat-saat terakhir mereka akan mencapai puncaknya terdengar suara benda terjatuh, mereka reflek menoleh, ternyata ada bibi yang menatap tidak percaya pada penglihatannya, bibi langsung berbalik badan dan merapikan alat pel dan kebersihan lainnya, dari tadi bibi ada di kamar mandi di dalam kamar yang ditempati Intan, karena setiap dua hari sekali kamar mandi harus dibersihkan secara total.
__ADS_1
"Bibi,, aku mohon jangan ceritakan hal ini pada tuan Rayhan ataupun tuan Endra, aku mohon bi" Reynolds berlari mendekati bibinya setelah memakai celana pendeknya, karena hanya itu yang dia temukan, karena semua bajunya berserakan tercampur dengan baju Intan.
"Oalah Reynolds, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu mengkhianati tuan Reyhan yang begitu baik padamu dan pada keluarga kita, beliau pasti akan sangat kecewa kalau sampai mengetahui hal ini"
"Itulah bibi, aku mohon jangan ceritakan masalah ini" Reynolds memegangi tangan bibinya.
Intan ikut mendekat hanya dengan memakai selimut untuk menutupi tubuh polosnya, dengan angkuhnya dia memberikan banyak uang untuk bibi supaya tidak membuka mulutnya, tetapi tidak disangka oleh Intan karena bibi menolak uang yang dia berikan.
"Tidak perlu nyonya muda, tuan Rayhan menggaji saya sudah sangat lebih dari cukup, sebagai manusia saya cukup tau diri dan sadar diri, saya tidak menerima uang itu tetapi saya juga tidak akan membicarakan tentang hal ini, karena saya tidak mau melihat kekecewaan tuan Rayhan, sekarang cepat keluar dari kamar ini Reynolds, jangan berlaku yang tidak sepantasnya" Bibi lalu keluar karena kecewa dengan keponakannya.
Tetapi tidak untuk Intan, dia masih tidak menyadari kesalahannya dan tidak memperdulikan, Intan kembali mengunci pintu kamar dan langsung kembali melahap singkong Reynolds yang kembali lemas karena kaget kalau kelakuannya telah diketahui oleh bibinya.
"Nyonya sudahi sampai disini, bibi sudah tau, kita tidak tau kapan sampai tuan Rayhan atau tuan Endra juga akan segera tahu" Reynolds mundur dan mencoba menjauh dari Intan, tetapi Intan tidak mungkin menyerah apalagi dia belum mendapatkan puncaknya, tentu saja dia merasa sangat gatal.
Dengan sentuhan Intan, akhirnya Reynolds kembali masuk dalam kubangan penuh kenikmatan yang tidak bisa dia tolak.
"Ada apa bibi? kelihatannya bibi sangat terkejut, apa yang membuat bibi seperti ini?"
Reyhan melihat bibi yang bekerja bersamanya selama bertahun-tahun bahkan dari saat Endra masih kecil, jadi Rayhan sudah menganggap bibi itu seperti keluarganya.
"Tidak tuan, mungkin saya hanya sedikit lelah, harap maklum tuan, umur saya sudah semakin tua"
"Baiklah, bibi sekarang istirahat dulu sebentar, biar Reynolds yang melanjutkan semua pekerjaan bibi, panggil dia masuk keruangan ku segera,,, aku mencarinya tetapi tidak menemukan keberadaan nya, bibi bisa tolong hubungi dia untuk segera kembali, mungkin dia sedang ada keperluan di luar" Reyhan lalu pergi ke ruang kerjanya.
Bibi tentu saja sangat bingung, bagaimana cara nya untuk memanggil Reynolds.
__ADS_1