
"Kenapa tidak bekerja?" tanya Naina saat pagi harinya dia merasa heran dengan suaminya yang tidak juga mau bergerak dari ranjang.
"Ini weekend" jawab Endra singkat dan masih berada dibawah selimut.
"Biasanya juga tetap bekerja, bagaimana kalau hari ini kita ke rumah ayah Rayhan, sudah lama kita tidak berkunjung ke sana"
"Kita kan mau kencan sayang" jawab Endra dan langsung menarik istrinya masuk kedalam selimutnya.
"Kencan nya kan nanti malam, siang ini kita mau apa?" tanya Naina yang sudah menjadi guling bagi Endra.
"Tidak perlu merisaukan hal tersebut, kita bisa bermain diatas ranjang ini seharian penuh"
Mendengar jawaban dari Endra, membuat Naina berontak dari pelukan suaminya itu, tetapi sudah terlambat, Endra sudah berada dalam mode tempur, dan langsung menghabisi Naina.
Endra benar-benar merealisasikan ucapannya, dia tidak membiarkan istrinya itu turun dari ranjang, saat sarapan Endra yang mengambilkan, bahkan sampai makan siang juga, saat Naina meminta waktu untuk beristirahat, mereka akan saling memeluk dan bercerita dan mengobrol.
"Jadi kamu dulu memang preman?" tanya Endra setelah mereka selesai makan siang.
"Iya, julukanku adalah preman cantik"
"Tidak heran waktu itu kamu berani melawan banyak pria yang lebih besar saat menolongku"
"Kenapa waktu itu kamu tidak melawan?"
"Setelah kejadian naas itu, aku menjadi sedikit lemah, aku menutup diri, tapi entah kenapa para cewek saat itu tetap menyukaiku, mungkin pada dasarnya aku ini memang tampan" Endra menjelaskan sambil bercanda, supaya Naina tidak terlalu serius.
"Sungguh sangat percaya diri, segitu aja bangga" Naina ngambek dan cemburu mendengar nya, membuat Endra tertawa ngakak.
"Kamu pernah bilang tidak akan cemburu pada masa lalu, kenapa sekarang seperti ini?" tanya Endra jahil.
"Siapa juga yang cemburu?" elak Naina lalu membelakangi suaminya, Endra tertawa melihat istrinya, lalu memeluknya dari belakang.
"Teruslah seperti ini sayang, kita mengobrol santai bersama, kamu cemburu padaku, kamu meminta sesuatu padaku, coba sekarang katakan kamu mau apa?"
"Aku kan sudah katakan kemarin, aku mau kita berkencan"
"Kita berdua saja ya, aku tidak mau bersama orang lain" Endra merasa tidak akan bebas saat pergi bersama orang lain.
"Namanya juga double date, berarti bersama pasangan lain, tetapi kamu tidak perlu merasa terganggu, lakukan saja yang ingin kamu lakukan"
"Baiklah kalau begitu, tapi cuma sekali ini saja, seterusnya aku hanya ingin berdua saat berkencan dengan mu"
Naina hanya mengangguk mengiyakan karena dia tidak mau suaminya kembali ngambek dan mengatakan bahwa dia adalah istri yang tidak penurut.
Naina tertidur di dalam pelukan Endra, sepertinya dia sangat kelelahan karena terus di ajak bermain fisik oleh Endra, sementara Endra lalu turun dari ranjang setelah mengetahui istrinya sudah tidur.
Endra keluar kamar dengan pelan, dia kepikiran dengan perkataan Naina yang ingin mengunjungi Rayhan, sementara Endra takut kalau ayahnya akan menyinggung masalah anak, Endra tidak mau istrinya menjadi sedih dan kepikiran.
Setelah memastikan istrinya masih tidur, Endra lalu pergi ke kebun belakang rumah untuk menelepon ayahnya, memang sudah lama dia tidak menghubungi ayahnya.
"Dasar anak ini, setelah menikah jadi melupakan ayah, kapan kalian akan mengunjungi ayah?" tanya Rayhan yang berada dalam sambungan telepon.
"Kalau aku tidak sibuk ayah"
"Naina kan bisa sendiri kesini, ayah merindukan nya, apakah sudah ada tanda-tanda kehadiran cucu ayah?"
Pertanyaan ayahnya sudah sangat diduga oleh Endra, pertanyaan itu pasti akan terlontar, kalau langsung ditanyakan pada Naina, istrinya itu pasti akan sedih.
"Ayah, ada sesuatu yang harus aku ceritakan, aku mohon ayah untuk mengerti, tapi ayah,,, jangan langsung kepikiran dengan masalah ini, karena aku akan terus berusaha dengan berbagai cara supaya keinginan ayah segera terwujud"
"Jangan terlalu bertele-tele, sebenarnya ada apa?" tanya Rayhan tidak sabar.
__ADS_1
Endra lalu menjelaskan kondisi Naina, dan meminta tolong pada ayahnya supaya tidak mengatakan atau menanyakan, bahkan jangan mengungkit tentang anak didepan Naina,,, cukup lama sampai Rayhan bersuara dan menjawab.
"Sungguh malang nasibnya dulu, tugasmu adalah membahagiakan nya, kalian sudah memiliki dua anak gadis, rawat dengan baik kedua anak itu, kalian memang ditakdirkan untuk bersama dan saling melengkapi"
Jawaban Rayhan membuat Endra menjadi tenang, karena takut Naina terbangun dan mencarinya, Endra lalu kembali lagi ke kamar.
"Dari mana?" tanya Naina saat melihat suaminya datang, sepertinya dia terbangun karena mendengar suara pintu, Endra langsung mendekatinya dan ikut masuk lagi kedalam selimut.
"Aku hanya mencari udara segar, supaya aku bisa kuat lagi untuk bekerja" jawab Endra asal lalu langsung menelentangkan tubuh istrinya yang dari tadi miring.
"Jam segini mau kerja? kenapa dari tadi pagi tidak berangkat bekerja? kita kan mau kencan" Naina ngambek dan memanyunkan bibirnya, yang dimaksud Endra bekerja adalah bekerja keras bersama istri tercintanya, melihat bibir Naina yang manyun, membuat Endra langsung melahapnya.
Naina berusaha mendorong tubuh Endra, dia baru saja terbangun, tapi sudah diserang lagi, dari pagi dia bahkan tidak bisa mandi, karena Endra melarangnya dan mengatakan percuma mandi karena akan terus kotor, ternyata benar saja, Endra terus saja melakukan hal ini dan hanya diselingi makan dan obrolan santai.
"Sayang sudah, nanti bagaimana kalau aku tidak bisa bangun? Kitakan mau pergi" ucap Naina.
"Sekali saja, aku janji malam ini setelah pulang dari kencan kamu boleh langsung tidur, sekarang aku tidak kuat lagi, salah siapa kamu begitu cantik, apalagi saat tidur dan bangun tidur seperti ini" Endra tidak mungkin bisa dibantah, Naina hanya pasrah dan menerima apa yang dilakukan oleh suaminya.
Hari menjelang sore saat Endra selesai dengan urusannya, dan benar saja, Naina sedikit kesakitan dan susah berjalan.
"Aku tidak mau pergi dengan kondisi seperti ini" Naina merajuk lalu menyembunyikan tubuhnya didalam selimut, sementara Endra hanya tersenyum tertahan.
"Aku akan menggendong dirimu, atau perlu aku siapkan kursi roda?" Endra menggelitik Naina dan mengajaknya bercanda.
"Ini sungguh sangat sakit" Naina merengek karena bagian bawahnya terasa linu.
"Istirahat dulu sayang, nanti aku bangunkan saat menjelang berangkat, sekarang ayo aku kelonin biar nyenyak" entah kenapa, sekarang Endra senang sekali menggoda dan menjahili istrinya, Naina kesal lalu mencubit pipi suaminya.
Mereka tertawa bersama, sungguh pemandangan yang indah, kebahagiaan yang teramat sangat bagi mereka, untuk sesaat Naina melupakan kondisinya.
Naina sudah memantapkan hatinya untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisinya dan mau untuk melakukan perawatan apapun supaya dia bisa cepat dikaruniai momongan lagi.
"Rey? kenapa kamu ada disini? apa kamu teman kencan Ningsih?" tanya Naina tanpa memperdulikan tatapan mata dari adiknya sendiri, Naina mencoba untuk membuat Reynolds ataupun Ningsih untuk mengutarakan perasaan mereka tanpa harus menyakiti seseorang nantinya.
Naina tidak mengetahui kalau Suseno juga mulai menyukai Ningsih, saat ini Naina pikir Suseno tidak perduli tentang masalah ini, tetapi seharusnya Ningsih tetap menghormati Suseno sebagai calon suaminya.
Naina tidak mau adiknya melakukan kesalahan lagi, apalagi membuat orang menjadi kecewa padanya, Naina sebagai kakak harus dengan tegas memberitahu pada adiknya, disaat adiknya melakukan kesalahan.
"Kak Seno sibuk kak, jadi aku mengajak Rey" elak Ningsih.
"Sayang, tolong telepon Seno dan suruh datang kesini, oh iya untuk Rey,, karena ini double date, jadi ya harus ada pasangan, mungkin nanti bukan jadi double date tapi jadi triple date, ahahah" Naina tertawa garing karena terlihat semua orang sedang bingung dengan tingkahnya dan tidak ikut tertawa.
"Sayang, apa kamu tidak merasa kalau kamu itu aneh?" tanya Endra.
"Aneh bagaimana? aku hanya melakukan hal yang semestinya, coba bayangkan, kalau seseorang mempunyai calon istri tapi calon istri orang itu berkencan dengan orang lain, apa orang itu tidak marah, aku tidak menyukai kebohongan dan penghianat, walau itu adikku sendiri, aku akan menghajarnya" jawab Naina dan membuat seolah-olah wajahnya menyeramkan melihat kearah Ningsih.
Endra malah tertawa melihat tingkah istrinya yang terlihat imut, tidak lama Suseno datang, Naina lalu meminta pada Suseno untuk memanggil Renata, karena Naina tau kalau Renata juga single.
Reynolds dan Ningsih terlihat canggung dengan apa yang dilakukan oleh Naina, tetapi mereka hanya bisa diam, tidak mungkin berani melarang apa yang diperbuat oleh Naina, apalagi saat ini pawang nya sedang bersamanya.
Setelah semua berkumpul, mereka langsung menuju bioskop untuk menonton film, tetapi karena kemalaman mereka tidak mendapatkan tiket, Naina lalu mempunyai ide untuk mereka pergi berkaraoke.
Tentu saja hal itu langsung disetujui oleh Endra, dia juga belum pernah melakukan itu, hanya pernah sekali diajak oleh kliennya untuk rapat ditempat seperti itu.
"Apa kamu sering pergi berkaraoke? dengan siapa? bukankah disana adalah tempat para perempuan malam bekerja?" tanya Endra tiba-tiba menarik tangan Naina.
"Kenapa kamu bisa tau kalau itu tempat perempuan malam bekerja? berarti kamu pernah bekerja bersama mereka?!" tanya Naina balik dengan tatapan membunuhnya membuat Endra kelabakan, sementara yang lainnya hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Endra yang ketakutan pada istrinya.
"Tidak sayang, aku hanya pernah rapat saja"
"Apa yang kalian rapatkan ditempat seperti itu? karaoke itu tempat bernyanyi, apa mereka bernyanyi menggunakan sesuatu yang lain?" tanya Naina penuh selidik.
__ADS_1
Endra menutup mulut istrinya dengan mulutnya hingga membuat yang lain harus memalingkan pandangan dan berjalan lebih cepat, karena tidak mau melihat adegan itu, Naina menggigit bibir Endra supaya suaminya itu melepaskannya.
"Jangan berbuat seenaknya ya, apa kamu tidak malu dilihat yang lainnya?" Naina kesal lalu menyusul yang lain, Endra suka sekali melihat wajah merah merona Naina saat sedang malu.
Setelah mereka mendapatkan ruang karaoke, dengan segera mereka masuk, Ningsih duduk bersama Suseno, sementara Reynolds dengan Renata, Endra sudah tentu langsung merapat pada istrinya, Naina masih kesal dan mencoba melepaskan pelukan tangan Endra di perutnya.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku bebas melakukan apapun dan tidak perlu merasa terganggu dengan kehadiran mereka?" bisik Endra ditelinga Naina, karena saat itu Ningsih sudah mulai bernyanyi jadi ruangan sedikit berisik.
"Tapi tidak dengan ciuman didepan umum" jawab Naina masih menunjukkan wajah malu dan kesalnya.
Mereka terus bergantian bernyanyi hingga saatnya Renata yang bernyanyi, terlihat kalau Renata terus melihat kearah Suseno, sementara Suseno melihat kearah Ningsih, Naina memegangi kepalanya karena menyadari sesuatu.
"Bagaimana bisa menjadi seperti ini" gumam Naina, hingga tiba waktunya dia untuk bernyanyi, Naina menolak karena dia beralasan suaranya jelek, tetapi yang lain terus memaksanya, tapi saat melihat Endra disamping Naina yang menatap tajam ke arah Suseno, membuat yang lain menjadi ciut nyalinya.
"Bukan aku yang memaksanya, kenapa kamu marahnya padaku?" ujar Suseno, tetapi Naina lalu mengambil mikrofon yang dipegang oleh Reynolds, Naina lalu menyanyikan sebuah lagu berjudul 50 tahun lagi, yang penyanyi aslinya adalah Yuni Shara.
"Sekarang atau 50 tahun lagi, ku masih akan tetap mencintaimu, tak ada bedanya rasa cintaku, masih sama seperti pertama bertemu"
Saat Reff semua bernyanyi bersama, Endra hanya diam tidak tau lagu itu, tetapi dengan seksama dan bahkan terpesona, Endra terus melihat kearah istrinya yang sedang bernyanyi.
"Suara nona sangat bagus, bagaimana kalau ikut audisi bernyanyi" ujar Renata, membuat Endra langsung menolak dengan keras.
"Tidak!" teriak Endra lalu mengambil mikrofon yang dipegang oleh Naina dan memberikannya pada Suseno, Endra tidak mau Naina menjadi pusat perhatian orang lain lagi, mode posesif nya telah muncul kembali.
"Apa? kenapa memangnya aku tidak boleh bernyanyi? apa dulu perempuan yang menemanimu di karaoke suaranya lebih bagus dariku, hemmppptttt" Endra kembali membungkam mulut Naina sehingga Naina tidak bisa melanjutkan ucapannya, sementara yang lain langsung mengalihkan pandangan dari pasangan tersebut, mereka kembali menjadi canggung, untung saja Renata sanggup mencair kan suasana, dengan langsung bernyanyi.
Endra melepaskan ciumannya, lalu memegangi kedua pipi Naina yang kembali merona merah karena dicium didepan banyak orang lagi.
"Aku memang pernah ketempat seperti ini dan disediakan perempuan untuk menemaniku, tapi aku tidak memperdulikan nya, aku tidak pernah tertarik pada perempuan manapun, kamulah satu-satunya, mungkin aku punya masalalu buruk dengan perempuan, tapi itu keterpaksaan, bukan kemauan diriku" Endra berbisik ditelinga Naina untuk menjelaskan, supaya istrinya itu tidak kembali mengungkit hal ini karena salah paham, mereka saling pandang lalu tersenyum.
"Apa kamu mau bernyanyi?" tanya Naina pada Endra, yang pasti langsung dijawab dengan gelengan kepala, Endra terus memeluk istrinya dan tidak memperdulikan sekitar, sementara Naina asyik menikmati suasana yang lama tidak dia rasakan.
Dulu Naina pergi berkaraoke bersama Tari, mereka bernyanyi gila-gilaan bersama, tanpa memikirkan bagus atau tidaknya suara mereka, yang terpenting adalah mereka melepaskan penat, tetapi semua berubah setelah kepergian Tari, dia tidak pernah lagi datang ke tempat karaoke.
Karena mengingat sahabatnya, membuat mata Naina berkaca-kaca, dan itu semua tidak luput dari perhatian Endra, dengan panik Endra lalu bertanya apa yang terjadi pada istrinya.
"Kenapa sayang? apa ada yang sakit?" tanya Endra.
"Aku mengingat Tari, kami selalu datang kemari bersama, bernyanyi bersama, dan seru-seruan, tetapi semenjak kepergian nya, segalanya menjadi berubah, aku tidak pernah datang ketempat ini lagi karena tidak mempunyai teman" jawab Naina lalu menghapus air matanya, Endra menyadari istrinya yang kesepian dan membutuhkan teman.
Endra bisa saja selalu menemani istrinya, tetapi posisinya tidak akan bisa seperti sahabat perempuan, tetapi saat ini Naina juga tidak mempunyai sahabat lain, jadi Endra berbisik pada Naina.
"Anggap saja aku sahabatmu mulai sekarang, aku bisa menjadi apapun untukmu" ujar Endra sambil merapikan rambut Naina.
"Terimakasih" jawab Naina sambil tersenyum dan mengangguk.
Mereka seperti sudah lelah bernyanyi dan berniat makan bersama, seperti saat kencan pertama Naina dan Endra, saat ini Naina juga tidak mau makan di restoran mahal, dan kembali memilih warung tenda dipinggir jalan.
Mereka makan disuatu warung tenda dengan menu makanan serba seafood, mereka boleh memesan sesuka hati karena Endra sudah memboking tempat itu.
"Ayo kita main truth or dare" ajak Naina, yang langsung disetujui oleh semua, Naina mengambil botol minum.
"Aku giliran pertama, ok?" ucap Naina penuh antusias, tentu saja tidak ada yang berani membantah keinginan dari ibu bos.
Naina memutarkan botol dan botol itu berhenti tepat didepan Renata, semua bersorak, Naina lalu memberi pertanyaan, kalau tidak mau jujur, maka harus makan petai mentah yang kebetulan ada ditempat itu.
"Apa kamu menyukai seseorang yang ada disini?" tanya Naina, awalnya Renata bingung untuk menjawab, tetapi tanpa disengaja, pandangan matanya bertemu dengan Suseno.
"Iya" jawaban singkat dari Renata membuat semua bersorak, Renata lalu memutar botol itu dan berhenti tepat di depan Suseno.
"Apa kamu menyukai seseorang juga ditempat ini, kali ini sebutkan namanya kalau ada" pertanyaan Renata membuat semua orang terdiam, dan semua serius serta focus melihat kearah Suseno.
__ADS_1