Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Kebahagiaan


__ADS_3

Endra menahan perasaannya dan terus memeluk erat tubuh Naina, dalam hati terdalam nya, dia sangat menginginkan hadirnya buah hati, tetapi baginya, kebahagiaan Naina tetaplah yang utama.


"Maaf"


"Kenapa kamu meminta maaf?? kamu tidak bersalah apapun, aku mendukungmu untuk apa yang kamu lakukan dahulu, itu caramu melindungi diri, jadi jangan merasa bersalah sedikitpun" Endra membelai lembut rambut istrinya.


"Bagaimana?? bagaimana kalau sampai kapanpun, aku tidak bisa,,," Naina tidak melanjutkan ucapannya karena dia tidak sanggup mengatakannya.


"Kita akan tetap saja terus seperti ini, tidak akan ada yang berubah, lagi pula zaman sekarang sudah sangat canggih, tetapi aku tidak akan memaksamu untuk cepat memeriksa kondisimu, kita lakukan saat kamu sudah siap, lagipula biarkan dulu seperti ini, aku bisa bebas menguasai dirimu tanpa berebut dengan anak kita kelak" Endra melepaskan pelukannya lalu memandangi wajah Naina.


"Aku tidak akan memaksa dirimu untuk apapun yang kamu tidak mau lakukan, yang paling penting dalam hidupku adalah kebahagiaan dirimu" Devan menyelesaikan perkataannya dengan mencium kening istrinya.


Mereka lalu makan bersama, Endra yang tidak pernah makan jajanan seperti itu sepertinya menjadi ketagihan dan memesan lagi karena merasa belum kenyang.


"Ternyata ini enak" ucap Endra menunjuk pada telur gulung yang diberi saos.


"Kamu kan pernah kecil, memang kamu dulunya jajan apa?"


"Aku tidak pernah jajan, saat SD sampai SMP, aku membawa bekal dari rumah, saat SMA aku mengalami kejadian itu hingga aku tidak bisa menikmati masa-masa yang menurut orang adalah masa paling indah"


"Maaf, bukan maksudku mengingatkan kembali akan luka lamamu" Naina merasa bersalah lalu menggenggam tangan suaminya, tetapi Endra langsung mengambil kesempatan dan dengan cepat menarik Naina.


"Heeeemmmpppttt"


"Aku bisa melakukan semua hal yang seharusnya aku lakukan disaat mudaku saat ini juga, aku bisa melakukan apa saja denganmu, sayangku Naina,, kamu adalah kekasihku yang akan aku ajak berkencan dan berpacaran kapan saja semau ku, kalau anak muda sehabis sekolah atau kuliah, aku bisa sehabis bekerja untuk melakukannya,, kamu adalah istriku tempat dimana aku menumpahkan segala kelelahan ku, atau menumpahkan segalanya, kamu juga adalah ibu dari anak-anakku kelak,,, Naina sayang,, kamu adalah segalanya bagiku" Endra sudah melepaskan ciumannya pada bibir Naina lalu terus menciumi semua bagian wajah Naina dengan terus mengatakan isi hatinya.


Naina begitu bahagia, dia kadang kala masih tidak percaya dengan semua ini, dia juga menjadi lebih waspada dan selalu saja menyiapkan hati karena takut suatu saat suaminya akan berubah, tetapi Endra yang terus menerus mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata dan juga perbuatan, lama-kelamaan membuat Naina sedikit demi sedikit merasakan ketenangan dalam berumah tangga dengan Endra.


Tetapi sekelebat bayangan ingatan tentang kondisi dirinya kembali muncul, dia kembali sedih mengingat dirinya yang sedang bermasalah dengan hormonnya.


"Kenapa melamun?" tanya Endra merasa aneh dengan istrinya yang tiba-tiba tidak respon dengan sentuhannya, Naina menggeleng dan kali ini dia yang mencium Endra, mereka terus berciuman hingga terdengar bunyi pesan masuk, sepertinya jajanan yang Endra pesan telah datang.


Endra keluar dari kamar untuk mengambil jajanan itu tetapi Naina merasa aneh karena Endra tidak membawa makanan pesanan Endra kedalam kamar.


"Aku merasa kenyang, sepertinya tadi aku sudah banyak makan jajan-jajanan itu, hanya karena rasanya enak jadi aku ingin lagi, tapi sekarang aku sudah merasa sangat kenyang, jadi aku memberikan jajanan itu pada kurirnya"


Naina tersenyum karena dia semakin tau kepribadian suaminya yang sangat baik, Naina lalu membereskan meja lipat dan sisa-sisa bungkusan plastik yang isinya sudah dihabiskan semua oleh Endra.


"Biarkan saja, simpan saja dipojokan kamar, biarkan besok dibereskan oleh para pelayan" larang Endra.


"Selagi aku bisa, kenapa harus menyuruh orang lain?"


Endra kembali melihat dan memandangi wajah Naina dengan tajam, hingga membuat Naina kebingungan atas kesalahannya kali ini.


"Apa?" tanya Naina karena tidak juga mengerti akan arti pandangan dari suaminya.


"Kenapa tidak menurut lagi padaku?"


"Ini sangat ringan sayang, aku hanya membuang bekas makanan kedalam tempat sampah, dan hanya menyimpan meja lipat ini, kenapa yang seperti ini saja aku tidak boleh melakukannya?"


"Kenapa membantah?" Endra masih tetap dalam pendiriannya.


Naina akhirnya hanya bisa menurut untuk kali ini, setelah membuang sampah ketempat sampah yang ada di pojok kamar, Naina lalu hanya meletakkan meja lipat nya di pojokan kamar juga, dan tidak menyimpannya di tempat semula, karena tempat meja lipat itu ada diluar kamar, Endra pasti makin kesal kalau dia keluar kamar.


"Iya tuan Endra Prasetya suamiku tercinta, aku akan selalu menurut padamu, sekarang apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyenangkan mu?"


Endra tidak menjawab apapun dan hanya tersenyum kecil melihat kelucuan istrinya yang sedang menggodanya, Endra langsung mengangkat tubuh Naina, mereka menuju kamar mandi untuk sikat gigi sebelum melakukan pertempuran panjang di malam ini.




"Kakak, ini vitamin pesanan kakak" ucap Ningsih saat siang itu dia mengunjungi kakaknya, rumah Naina terlihat sepi, hanya terlihat beberapa pelayan rumah itu yang sedang membersihkan rumah dengan penuh kehati-hatian, dan sepertinya Endra sudah berangkat bekerja.



"Apa yang terjadi kak? kenapa mata kakak sangat sembab? apa kakak mengalami kekerasan lagi?"



"Tidak enak kalau tidak keras, kamu juga pasti tau" Naina mencoba bercanda, matanya sembab karena kurang tidur dan tadi setelah Endra berangkat bekerja, Naina kembali mengingat akan kondisinya dan kembali menangis.



"Idiihhh, ternyata kakak doyan juga ya"



"Kamu juga doyan makanya lahir Alfin"



Mereka lalu tertawa bersama, awalnya mereka tidak terlalu dekat, apalagi semenjak Naina menikah dengan Roni dan focus pada keluarganya, mereka jarang bertemu bahkan untuk sekedar mengobrol ringan.



"Ning, kamu bilang kalau kemarin kamu ingin curhat tentang sesuatu, ada apa?" Naina mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1



"Aku bingung dengan perjodohan ku dengan kak Seno, memang dia tidak sedingin pas awal-awal, tetapi tetap saja dia tidak mau memulai suatu obrolan terlebih dahulu"



"Bukankah dari awal juga kamu tau kalau dia melakukan dan menyetujui perjodohan ini hanya karena ayah Rayhan, memang kamu berharap apa lag?"



Ningsih menghela nafas, tapi langsung bangkit dari duduknya untuk menuju dapur, lalu dengan cepat kembali ke sisi Naina setelah mengambil beberapa makanan di dalam kulkas.



"Didalam kulkas banyak sekali makanan, apa kakak menimbunnya?"



"Kenapa aku harus menimbun makanan, aku bahkan tidak pernah belanja atau membeli apapun, itu semua disediakan oleh bi Wulan"



"Sangat enak menjadi kakak, seperti seorang putri kerajaan saja, apa-apa disediakan"



"Habis gelap terbitlah terang, dahulu hidupku penuh dengan kegelapan dan sekarang telah bersinar terang dengan kedatangan Endra"



"Puitis sekali kakak ini"



Naina tertawa mendengarnya, dia lalu kembali mengingat kenangan dirinya saat pertama bertemu dengan Endra, awal yang sangat tidak di harapkan, Naina saat itu mengira Endra adalah penjahat yang menyakiti seorang gadis muda, hingga akhirnya dia harus membayar ganti rugi dengan diminta oleh Endra untuk masuk ke kamar gila.



"Kakak bukankah dulu tidak menyukai kak Endra?"



"Iya, tadi akhirnya aku luluh karena dia terus berusaha, butuh waktu lama sampai aku menyadari perasaan ku"




Naina kaget mengetahui hal itu, dia benar-benar baru tau, karena saat itu dia tidak sadarkan diri, setelahnya bahkan dia terus merepotkan Endra, bahkan Endra juga sampai harus kehilangan perusahaan nya yang dulu.



Naina semakin menyadari begitu besarnya cinta Endra padanya, Naina tersenyum mengingatnya, saat mereka masih asyik mengobrol, bi Wulan datang membawa buah-buahan untuk makan siang Naina.



"Apa kakak sedang diet?"



"Iya" jawab Naina singkat dan mengambil sebuah potongan apel lalu memasukkan kedalam mulutnya, bi Wulan sudah memotong buah-buahan itu menjadi potongan kecil supaya Naina mudah memakannya.



"Kakak ini sudah sangat cantik dan bentuk tubuhnya juga ideal, untuk apa kakak diet lagi?"



Naina terdiam mendengar pertanyaan adiknya, dan hanya terus memakan buah yang ada dihadapannya, dia tidak tahu harus menjawab apa.



"Kakak, ayo kita berlibur ke pantai, aku ingin sekali berlibur ke pantai, kalau perginya sama kakak, nantinya ada yang membantuku menjaga Alfin, karena mama pasti tidak mau kalau diajak ke pantai"



"Aku tidak tau Ning, aku belum tentu dapat izin dari Endra"



"Sejak kapan kakak jadi istri yang penurut begini?"



"Sejak dahulu kala" jawab Naina kesal lalu menyumpal mulut adiknya dengan potongan buah belimbing.


__ADS_1


"Ahh, ini asam,, aku curiga kakak sedang hamil, kenapa dari tadi sangat lahap?"



"Kamu ini sepertinya bukan adikku, dari dulu aku memang suka buah yang asam, jangan kan cuma asam seperti ini, mangga muda juga aku doyan,,, kamu tidak ingat saat aku SMP,, saat itu kamu SD,, aku naik keatas pohon mangga untuk memetik buah mangga muda dengan membawa cobek berisi bumbu rujak, kamu asyik main di bawah pohon, dan hampir saja kamu kejatuhan cobek yang aku pegang karena tidak sengaja tergelincir dari tanganku"



"Iya ingat, kakak dimarahin sama mama, terus mama mengatakan kalau kakak seperti orang yang lagi ngidam"



Mereka lalu tertawa mengingat kejadian itu, maksud Naina menceritakan tentang hal itu lagi karena dia ingin memberi tahu bahwa, tanda dia hamil bukan karena dia suka makan yang asam, karena itu tidak ada pengaruhnya sama sekali untuknya.



"Saat aku hamil Deva dan Yaya, aku seperti orang yang sakit parah dan tidak bisa melakukan apapun, kamu lihat sendiri kalau sekarang aku sehat,, berarti aku tidak sedang hamil"



"Setiap kehamilan itu setahuku berbeda-beda, bahkan satu ibu bisa berbeda keadaannya setiap hamil, tidak selalu sama"



Naina terdiam mendengar penjelasan dari adiknya, karena itu memang bisa saja terjadi, tetapi untuk kondisinya, Naina masih belum yakin, Ningsih lalu pamit pulang karena takut Alfin menangis, tadi tidak dibawa ke rumah Naina karena sedang tidur.



"Nanti kabari aku kalau kakak dapat izin main ke pantai"



Naina menganggukkan kepalanya lalu mengantarkan adiknya sampai ke depan pintu, saat masuk bi Wulan mendekati nya dan memberikan telefon pada Naina.



"Apa yang kalian obrolkan, kenapa sangat lama sekali dia datang berkunjung? apa kamu lelah sayang?? tidur siang dulu ya, istirahat"



"Aku cuma duduk dan mengobrol, aku bisa capek darimana? sayang,, bolehkah aku pergi bermain dengan Ningsih ke pantai?"



"Buat apa?, kalau kamu mau kepantai harus dengan diriku"



"Tidak asyik"



"Apa kamu bilang?? aku tidak asyik,, aku harus membuatmu asyik semalam suntuk tanpa istirahat sepertinya, supaya kamu tau apa itu arti kata dari asyik"



Naina memanyunkan bibirnya dan mematikan panggilan telepon dari suaminya, Endra tersenyum melihat tingkah istrinya yang tentu saja terlihat jelas oleh Endra di layar laptopnya, Endra gemas dan memegangi kepalanya, hingga membuat Suseno yang ada didepannya keheranan.



"Ada apa? apa ada masalah? apa istrimu kabur lagi?" tanya Suseno dengan penuh keseriusan.



"Kamu pikir apa yang aku lakukan sampai dia kabur lagi, dia sangat menggemaskan,, aku mau pulang sebentar" Endra bangkit dari duduknya dan berniat pergi.



"Jangan berani macam-macam, lanjutkan pekerjaan mu dahulu" ujar Suseno melihat kearah Endra, seperti seorang kakak yang memarahi adiknya karena tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya.



"Sebentar saja" Endra tidak memperdulikan perkataan Suseno dan langsung bergegas untuk segera pulang.



"Tidak mungkin sebentar,,, lalu kenapa harus aku yang selalu mengerjakan pekerjaan ini semua, saat orang lain asyik bermesraan dengan istrinya" gerutu Suseno karena Endra tidak mendengarkannya dan tetap berlalu pergi.



"Dia menjadi seperti ini semenjak kenal dengan Naina, apalagi sekarang mereka sudah menikah, kelakuannya semakin menjadi saja,,, baiklah Seno,, semangat lah" ujar Suseno berbicara sendiri lalu pindah duduk di kursi Endra.



Suseno melihat sekilas ke foto pernikahan Endra dan Naina, dia tersenyum, dan merapikan pigura foto itu yang sedikit tergeser oleh banyaknya map yang ada di atas meja.


__ADS_1


"Kamu sudah banyak menderita, kamu juga sudah bekerja dengan keras dari dulu, jadi nikmatilah kebahagiaan mu saat ini dan seterusnya" ucap Suseno sambil melihat kearah foto Endra.


__ADS_2