
"Jangan ingat lagi masalalu,, entah kenapa aku menjadi sedikit aneh saat ini, maaf kalau aku menakuti mu,, kalau lelaki itu muncul lagi, aku pasti akan menghabisinya" ucap Endra lalu mengajak istrinya untuk makan siang.
"Jangan lakukan hal yang membuat mu harus menderita lagi,, apalagi yang kamu alami kemarin pasti sangat memalukan untukmu,, seorang pria terhormat harus masuk ke dalam penjara,, kamu pasti sangat malu"
"Kenapa aku harus merasa malu?? aku sangat senang karena mengetahui bahwa kamu sudah aman dari pria itu,, hanya saja aku,," Endra kembali mengingat tentang Roni yang bisa saja keluar dari dalam penjara sewaktu-waktu.
"Aku bisa menjaga diriku,, percayalah padaku" Naina menyadari kekhawatiran yang dirasakan oleh suaminya.
Setelah menyelesaikan makan, mereka lalu berpamitan untuk segera kembali ke rumah mereka, awalnya Rayhan tidak mengizinkan, tetapi setelah memahami situasi dan maksud dari anaknya, Rayhan tentu saja membiarkan mereka untuk pulang.
Sebagai pasangan yang masih terbilang baru dan lagi nafsu Endra yang diatas rata-rata, pasti Endra merasa tidak nyaman tinggal di rumah Rayhan.
Naina kaget dengan banyaknya pelayan yang ada dirumah mereka saat ini, sepertinya jumlahnya lebih tiga kali lipat dari sebelumnya.
"Ini terlalu berlebihan dan menurutku ini pemborosan,, pelayan dan penjaga di rumah ini terlalu banyak, lagipula kasian mereka kalau tidak bekerja apapun dirumah ini" Naina protes begitu sampai didalam kamar.
"Aku tidak mau hal buruk terjadi lagi,, ini bukan pemborosan,, aku hanya harus bekerja lebih keras lagi,, lagipula apa kamu tidak tau siapa suamimu ini?"
"Iya aku tau, suamiku adalah tuan Endra Prasetya yang kaya raya,, tapi untuk apa menggunakan uang yang tidak semestinya"
"Mereka adalah orang-orang yang kurang beruntung, aku sekalian memberikan mereka pekerjaan supaya mengurangi beban berat mereka yang kesusahan mencari pekerjaan"
Naina tidak bisa lagi membalas perkataan suaminya, dia tidak menyangka kalau ada alasan lain dibalik begitu banyaknya pengawal Endra selama ini, ternyata para pria itu adalah pria-pria yang kena PHK, atau para pemuda yang kesusahan mencari pekerjaan, hanya beberapa yang benar-benar pengawal profesional.
Para pengawal yang profesional memberikan didikan dan latihan pada rekan kerjanya yang bisa dibilang hanya orang biasa, sekarang mereka semua menjadi bisa diandalkan dan tidak kalah kuat dengan pengawal profesional yang asli.
"Endra,," Naina berhenti berbicara karena mendapatkan tatapan tajam dari Endra, Naina yang tidak mengerti lalu mencium lembut bibir suaminya, tetapi sangat aneh karena Endra melepaskan ciumannya.
"Ada apa?" tanya Naina.
"Bisakah jangan hanya panggil namaku,, kamu bisa memanggilku dengan sebutan seperti ayah atau papa, mungkin bisa juga dengan panggilan daddy" Endra menahan wajah Naina yang hendak mundur.
"Coba pilih salah satu dan segera panggil aku" pinta Endra penuh harap, Naina malu dan sedikit memalingkan wajahnya, tetapi Endra kembali menuntut nya untuk segera melakukan apa yang sebenarnya dari dulu dia inginkan dari Naina.
"Apa itu tidak aneh? itukan panggilan untuk orang tuanya atau kalau kita sudah jadi orang tua" ujar Naina.
"Kenapa bisa kamu berfikir kalau itu aneh, bukankah itu sudah menjadi keharusan, kita memang sudah memiliki anak" Endra masih tidak menyerah supaya istrinya memenuhi keinginannya.
"Aku sudah sering memanggilmu dengan sebutan sayang,, lebih baik kata itu saja yang kita gunakan" Naina terus saja mencoba untuk bisa lepas dari hal ini.
"Tidak mau,,, itu panggilan sayang,, aku mau menentukan panggilan wajib" Endra masih saja teguh pada keinginannya.
"Kamu sendiri sering memanggilku dengan nama" Naina mencoba untuk mencari alasan.
"Baiklah,, mulai sekarang aku akan memanggilmu seperti apa yang kamu mau,, coba katakan sebutan apa yang kamu inginkan?"
"Tidak perlu,, cukup panggil apapun yang kamu inginkan" Naina mundur untuk menghindari kecanggungan karena permasalahan panggilan ini, tetapi dia tidak menyadari bahwa dibelakangnya adalah ranjang mereka.
"Apa kamu sudah tidak sabar sayang?? apa rasa sakit yang tadi malam aku berikan sudah menghilang,, kamu mau lagi saat ini?" Endra menggoda Naina dan mendorong tubuh Naina hingga terlentang.
"Karena kamu belum mau menentukan panggilan wajib untuk kita,, baiklah sayang,, aku tidak akan memaksa untuk saat ini,, tapi malam ini aku tidak akan segan-segan lagi atau menahan apapun lagi, disini kita bebas,, berteriak lah sayang,, disini kita tidak perlu untuk menjaga suara kita"
"Apa maksudmu dengan tidak akan segan-segan?? bukankah tadi malam juga,," Naina malu untuk meneruskan apa yang ingin dia katakan, dia hanya kaget karena Endra mengatakan hal itu, bukankah tadi malam Endra sudah berhasil membuat Naina kewalahan seperti biasanya, lalu apa yang akan dilakukan oleh Endra kali ini.
"Tadi malam aku hanya mengeluarkan sedikit dari tenagaku sayang,, malam ini aku akan mengeluarkan semua tenagaku,, apa kamu siap sayang?" Endra tidak menunggu jawaban dari Naina dan langsung menyerang nya.
"Sudah,,, sayang" rintih Naina lemah diatas tubuh suaminya, jam di dinding telah menunjukkan hampir tengah malam, dan mereka lagi-lagi melupakan makan malam mereka, sepertinya bagi Endra, makanan yang paling nikmat di dunia ini adalah tubuh istrinya.
"Terimakasih istriku,, maafkan aku kalau selalu menyakiti mu"
"Tidak,, aku juga menikmati dan menyukainya" jawab Naina lalu menjatuhkan tubuhnya disamping tubuh suaminya, Endra langsung memeluk dan menyelimuti tubuh mereka.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Reynolds dalam panggilan telepon nya dengan Ningsih.
"Iya, segera jemput aku"
Ningsih telah bersiap untuk pergi ke pantai bersama Reynolds, rencananya mereka akan membawa Alfin, tetapi ternyata Alfin sedikit demam, mama Nimah yang mengira bahwa Ningsih akan pergi bersama Suseno lalu meminta anaknya untuk pergi saja dan tidak perlu khawatir, Alfin pasti akan segera sehat karena sepertinya hanya sedikit kelelahan.
Reynolds hendak masuk kedalam rumah terlebih dahulu untuk berpamitan kepada papa Yanto dan mama Nimah, tetapi dilarang oleh Ningsih.
"Tidak perlu, aku sudah memberi tahu pada mereka" Ningsih membuat alasan, karena sebenarnya dia izin kepada kedua orang tuanya akan pergi berlibur bersama dengan Suseno.
"Ini tidak benar Ning,, aku harus izin terlebih dahulu kalau ingin membawa anak orang"
__ADS_1
"Tidak perlu Rey,,, kita hanya sebentar disana dan segera kembali lagi, aku khawatir pada Alfin, jadi aku tidak akan pergi lama"
"Apa kita tidak jadi menginap?" tanya Reynolds dan terlihat sedikit kecewa.
Ningsih hanya diam, bahkan di sepanjang jalan sepertinya Ningsih hanya menjawab saja apa yang ditanyakan oleh Reynolds tanpa mencoba untuk memulai percakapan terlebih dahulu.
Begitu sampai di pantai, udara terasa sangat sejuk karena cuaca tidak terlalu panas, Ningsih sangat senang lalu bermain pasir, mereka becanda dan bermain kejar-kejaran hingga tanpa sengaja Ningsih tersandung dan menubruk tubuh Reynolds.
Dengan sigap Reynolds langsung menahan tubuh Ningsih, mereka sempat dilanda kecanggungan, saat Ningsih hendak melepaskan diri, Reynolds berniat mencium bibir Ningsih tapi Ningsih mendorong tubuh Reynolds.
"Maafkan aku" Ningsih menangis dan menundukkan kepalanya, Reynolds seperti menyadari sesuatu dan hanya diam mematung.
"Aku sungguh kejam karena mencintai kalian berdua, aku tidak akan munafik dengan mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu,, aku benar-benar menyukaimu,, tetapi entah kenapa hatiku,, hiikkksss,, maafkan aku" Ningsih menjatuhkan tubuhnya di atas pasir putih dan terus menangis.
Reynolds membelai lembut rambut Ningsih, hatinya sangat sakit, tapi dia harus terus berusaha, Reynolds meminta Ningsih untuk berhenti menangis karena menjadi perhatian umum.
"Mari kita cari makan dahulu sebelum kembali pulang" Reynolds membawa Ningsih kesebuah resto yang ada di pantai tersebut, begitu makanan selesai disajikan, mereka lalu makan dengan cepat.
Terdengar alunan musik di atas panggung kecil yang ada di resto tersebut, ada seorang penyanyi yang menyanyikan lagu cinta, Ningsih menikmati acara tersebut, hingga ada seorang anak kecil yang mendatangi nya dengan membawa setangkai bunga mawar.
"Menikahlah denganku" Ningsih tertawa mendengarnya, karena dia pikir ini adalah lelucon, bagaimana bisa seorang anak kecil melamarnya.
"Menikahlah denganku Ning,, aku mencintaimu,, mungkin aku adalah manusia dengan masalalu kotor, tapi denganmu aku ingin merubah masa depan ku" Reynolds mengucapkan lamarannya dengan memberikan sebuah kotak cincin untuk Ningsih.
"Jangan terlalu terburu-buru,, pikirkan saja dulu,, yang terpenting adalah aku benar-benar serius terhadap dirimu" Reynolds kembali berbicara karena Ningsih tidak bereaksi apapun.
"Maaf Rey,, aku tidak bisa,, sungguh maafkan aku" Ningsih berlari meninggalkan Reynolds.
"Aaakkkkkhhhh!!" Ningsih kaget karena saat dia hendak menyetop taksi, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan nya.
"Masuklah!"
Ningsih menurut dan memasuki mobil itu, tanpa banyak pembicaraan, mobil itu berhenti disebuah hotel mewah, entah kenapa Ningsih hanya terdiam mengikuti, mereka memasuki sebuah kamar hotel.
"Hhhmmmmpppp" bibir Ningsih telah dilahap oleh pria yang ternyata telah mencuri hatinya, pria dingin yang ternyata begitu hangat di dalamnya.
"Kamu menyukai dan mencintai Rey?"
"Iya,, maafkan aku" jawab Ningsih jujur, bagaimanapun dia memang memiliki rasa itu jadi dia tidak mau berbohong.
"Lalu kenapa kamu berada disini bersamaku?"
__ADS_1
"Karena aku lebih mencintai dan menyukaimu!!" teriak Ningsih pada pria didepannya yang tidak lain adalah Suseno.
Tanpa banyak berbicara apapun lagi, Suseno langsung melahap kembali bibir Ningsih, dan menggiring wanita yang dicintainya itu ke arah ranjang.
"Bolehkah?" tanya Suseno saat tubuh Ningsih sudah berada dibawahnya.
"Kalau aku bilang jangan,, akankah kamu pergi?" tantang Ningsih membusungkan dadanya, Suseno tersenyum dan langsung melahap gunung yang disodorkan oleh Ningsih walau masih terbungkus oleh baju.
"Bisakah kita menikah dahulu baru melakukannya?? sebenarnya hal ini sudah umum, bahkan dikota ini sudah umum berpacaran di dalam hotel, tapi bisakah kita menikah dahulu,, supaya aku yakin tidak salah pilih,, aku orangnya terlalu jujur,, jadi aku akan mengatakan langsung apa yang aku pikirkan" ujar Ningsih sambil menahan tangan Suseno yang hendak membuka bajunya.
"Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Suseno.
"Tentu saja,, siapa yang akan langsung percaya begitu saja,, apalagi aku baru saja dilamar oleh seseorang,, tapi aku malah berakhir disini bersama pria lain, bagaimana kalau pria itu sudah puas dengan tubuhku lalu tidak menikahiku,, bukankah aku yang rugi??"
"Jadi?" Suseno yang nafasnya sudah sangat memburu lalu membanting tubuhnya kesamping tubuh Ningsih dan berusaha meredam nafsunya.
"Sangat pintar,, ini yang aku inginkan" ujar Ningsih lalu membuka resleting celana Suseno dan dengan lihai memainkan nya, Ningsih bahagia karena Suseno mampu menahan hasrat nya karena mendengar apa yang dia katakan, untuk itu dia akan memberikan hadiah untuk Suseno, atau mungkin sebagai tester.
"Ooowwwwhhhh,, aaagggghhhh!!" Suseno menyembur wajah Ningsih yang dari tadi memainkan burungnya.
Setelah Ningsih membersihkan wajahnya, dia lalu mendekati Suseno yang tersenyum padanya, mereka lalu berpelukan dan tiduran bersama.
"Kamu sangat pintar,, dengan begini aku ingin cepat menikahimu supaya segera tau sepintar apa permainan mu, barusan lumayan juga,, terimakasih" Suseno mencium kening Ningsih.
Sementara itu, diluar kamar hotel, dengan pandangan penuh kesedihan, Reynolds terus menunggu, tadi dia berlari mengejar Ningsih dan mengetahui kalau Ningsih ternyata bersama dengan Suseno.
"Apa aku bodoh,, untuk apa aku disini?" gumam Reynolds, lalu berjalan lunglai.
"Rey,, apa yang kamu lakukan ditempat ini" sapa seorang wanita yang keluar dari dalam kamar hotel, tanpa permisi Reynolds langsung masuk kedalam kamar hotel tersebut bahkan wanita itu menjadi keheranan.
"Apa yang kamu lakukan? cepat keluarlah,, aku harus segera pergi ke suatu acara,, Aaakkkkkhhh!!" wanita itu berteriak kaget karena Reynolds dengan cepat menariknya keatas ranjang.
"Jangan Rey,, jangan!!" wanita itu terus berteriak karena Reynolds menjamahnya, hingga saat air mata jatuh dari mata Reynolds dan mengenai pipinya, wanita itu terdiam untuk sesaat lalu menarik wajah Reynolds dan langsung melahap bibir Reynolds.
"Apa itu sudah pasti?" tanya wanita itu, Reynolds menjawab dengan anggukan, wanita itu tiba-tiba membuka seluruh pakaiannya, dan dengan sedikit menahan isak tangis, wanita itu juga melucuti pakaian Reynolds dan kembali berciuman panas penuh dengan air mata dari keduanya.
"Kamu yakin?" tanya Reynolds saat wanita itu kembali berada dalam kungkungannya setelah ciuman panjang.
"Lakukanlah"
Reynolds mengerahkan kekuatannya, hingga akhirnya mereka berdua menjerit dan melenguh bersamaan, mereka tertidur bersama setelah kegiatan yang melelahkan itu, dan saat Reynolds terbangun, dia kaget karena wanita itu sudah menghilang dari sisinya, bahkan semua barang-barang nya sudah tidak ada, dan yang lebih mengagetkan adalah bercak darah di sprei tempat dia tidur.
"Jangan cari aku, jangan merasa bersalah, ini kita lakukan bersama,, jadi tidak ada yang perlu disalahkan,, terimakasih untuk pengalamannya,, aku tidak akan mungkin melupakanmu walau kita pasti akan segera terpisah" Reynolds membaca pesan yang ditinggalkan oleh wanita itu di secarik kertas yang diletakkan diatas bantal.
__ADS_1
Reynolds membelalakkan matanya dan langsung memakai kembali pakaiannya karena menyadari apa yang telah dia lakukan, Reynolds segera berlari untuk mencari wanita yang baru saja bersamanya.