Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Mengumbar Aib Sendiri


__ADS_3

Naina penasaran karena Endra tidak meneruskan ucapannya, tetapi memang Endra tidak sanggup untuk menceritakan kembali, kisah kelam yang pernah dia alami.


"Aku harus minum obat anti depresi dan juga obat tidur karena aku tidak bisa tidur dan selalu gelisah, aku yang diculik dan saat itu masih terlalu muda, jadi mentalku belum kuat untuk menghadapi itu semua, setelah kejadian itu karena aku depresi jadi harus terus minum obat, makanya sekarang aku sangat benci obat" batin Endra dan terus melihat kearah Naina yang menunggu jawaban darinya.


"Tidak, bukan apa-apa,,, aku hanya tidak suka karena pahit saja" jawab Endra.


"Apa belum ada kabar dari rumah sakit? mungkin ayah sudah sadar, dan juga tolong kembalikan ponselku"


"Tidak sayang, kamu jangan bermain ponsel dulu, percaya padaku kalau aku akan secepatnya menyelesaikan semuanya"


"Aku harus bekerja"


"Tidak sayang, kamu jangan bekerja lagi, salon itu tetap milikmu, kamu boleh datang kesana kapanpun kamu mau, tapi hanya untuk memantaunya, kamu jangan lagi melayani pelanggan, aku tidak mau kamu celaka seperti saat kemarin wanita itu datang"


"Tidak bisa, aku harus segera mengumpulkan uang untuk mengembalikan uang mu"


"Naaaiii, jangan berani kamu melakukan hal itu, tidak ada uangku yang ada padamu, aku sudah bilang, mereka anak-anakku, jadi itu kewajiban ku untuk mencukupi kebutuhan mereka, tolong jangan keras kepala, aku hanya ingin kamu aman"


"Tapi,,,,," Naina tidak melanjutkan ucapannya karena pintu kembali diketuk, kali ini Endra yang membuka pintu.


"Tuan muda, tuan Rayhan, tuan Rayhan,,,," bi Yeni tidak melanjutkan ucapannya dan malah menangis.


"Ada apa bi?" tanya Naina yang ikut mendekat ke pintu.


"Tuan Rayhan kritis, mungkin,,,"


"Bibi jangan seperti ini, baiklah bi,, sekarang kami akan ke rumah sakit" Naina langsung menarik tangan Endra untuk segera menuju ke rumah sakit, tadinya Endra melarang Naina untuk ikut, tetapi Naina memaksa.


Naina dan Endra yang keluar dari rumah tidak menyangka ada banyak warga yang berkumpul didepan pagar rumah, mereka bersahut-sahutan menghina Endra dan Naina.


"Dasar lelaki impoten!!"


"Dasar pelakor!!"


"Kalian tidak tau malu, sekarang pergilah dari wilayah ini, kalian mencoreng nama baik wilayah ini"


"Cantik-cantik tapi kok mau sama pria impoten"


"Sudah pasti karena mengincar hartanya"


"Cantik, mending sama aku saja, tinggalkan pria tidak berguna itu"


Naina hendak mengatakan sesuatu, tetapi ditahan oleh Endra,


"Sudah, biarkan saja dulu, mereka tidak tau kejadian yang sebenarnya, jangan ladeni mereka karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja" ujar Endra lalu dengan cepat memasukkan Naina kedalam mobil, dia sendiri juga langsung masuk ke dalam mobil lalu dengan cepat melaju dari sana.


Naina menemukan ponselnya diatas jok mobil Endra, dengan cepat dia mengambilnya, sementara Endra tidak bisa berbuat banyak karena dia harus focus menyetir.


"Sayang, aku sudah bilang jangan melihat ponsel dulu, simpan sayang!!" Endra berteriak, tetapi dia tetap focus menyetir karena kondisi jalan yang ramai, dia harus terus memperhatikan jalan supaya tidak celaka, Naina tidak memperdulikan nya dan terus saja memeriksa ponselnya.


"Kenapa mereka ini sok tau sekali!!" teriak Naina geram membaca berita tentang dirinya dan Endra.


"Kamu ini sangat tidak menurut ya!!" Endra marah tetapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa, Naina melihat Endra yang terlihat marah tapi tetap focus melihat kearah depan, apalagi saat ini mereka sedang melewati jalan besar, Naina sadar dengan kemarahan Endra, lalu kembali menyimpan ponselnya.


"Iya,,,, sudah aku simpan kembali, maafkan aku?"


Endra yang awalnya marah akhirnya tersenyum kembali, dia senang karena Naina menurut padanya, lagipula dia melarangnya karena tidak mau Naina terluka perasaannya karena berita-berita yang semuanya sangat tidak pantas untuk dibaca.


Endra dan Naina langsung menuju ke ruangan rawat Rayhan, tetapi ruangan itu hanya boleh satu saja orang untuk boleh menjenguk, tadi Rayhan sempat kritis bahkan alat denyut jantungnya berhenti, tetapi tidak berselang lama, jantungnya kembali berdetak saat terus dilakukan pertolongan.


"Seno, apa ada masalah di perusahaan?"


"Tidak, hanya saja tuan CEO dari perusahaan yang kemarin kita baru menandatangani kontrak kerja sama, dia berharap supaya kamu cepat datang kesana untuk menjelaskan semua rumor itu, dia memberi waktu satu Minggu sebelum membatalkan kontrak kerja sama itu, ini juga karena beliau mengenal ayah, kalau tidak saat ini perusahaan kita pasti sudah hancur"

__ADS_1


"Aku akan menemuinya sekarang, tolong terus kabari kondisi ayah" ujar Endra pada Suseno.


"Aku bisa membantumu menjelaskan padanya" Naina merasa bersalah dengan masakan yang terjadi, jadi dia mencoba membantu.


"Tidak sayang, kamu aku antarkan pulang"


"Aku tidak mau, bukankah kita akan segera menikah, kita akan menjadi pasangan, jadi kita harus selalu bersama mengatasi semua masalah yang datang"


Endra tidak bisa mengatakan apapun mendengar ucapan dari Naina, dia menjadi salah tingkah, Suseno yang melihatnya mencibirkan bibirnya.


"Dia akan menjadi suami yang takut istri, kasian sekali nasibnya, tetapi mereka memang terlihat seperti pasangan yang sangat serasi, kapan datang jodohku?" batin Suseno melihat kemesraan pasangan yang ada didepannya.


Endra dan Naina datang ke perusahaan yang kemarin melakukan kerja sama, dan saat akan memasuki perusahaan, Naina melupakan tasnya, jadi dia minta Endra untuk masuk terlebih dahulu, nanti dia akan menyusul.


"Siapa nama CEO nya? dan lantai berapa kantornya?" tanya Naina.


"Tuan Arga Diningrat, ada di lantai 3, kamu benar bisa sendiri?"


"Iya benar, mana kunci mobilnya?" Naina mengambil kunci mobil Endra lalu dia segera menuju kembali ke parkiran mobil untuk mengambil tasnya, sementara Endra masuk kedalam perusahaan terlebih dahulu, karena dia mendapat kabar bahwa tuan Arga akan segera kembali ke luar negeri, dan urusan perusahaan mereka akan diserahkan pada orang lain.


Endra khawatir kalau diserahkan kepada orang lain, maka akan seperti kejadian saat rapat tanda tangan kontrak, yang bisa saja perusahaannya akan mengalami kerugian, benar saja tepat saat Endra datang, tuan Arga hampir meninggalkan kantornya.


Endra menceritakan semuanya dan memperlihatkan akta cerainya dengan membuka Website Badilag Mahkamah Agung.


"Saya tidak perlu menjelaskan apa permasalahan yang terjadi, yang jelas saya dengan istri pertama saya sudah tidak ada hubungan apapun, saya tidak perlu membuka kesalahan orang lain, yang jelas saya sudah bebas untuk mempunyai hubungan dengan siapapun saat ini"


"Berarti ini semua hanya fitnah?" tanya tuan Arga


"Iya tuan"


"Baiklah, karena bukti juga sangat jelas, tapi apa rumor tentang kamu itu benar, maaf sebelumnya, dan tidak perlu dijelaskan, saya paham kalau itu masalah pribadi, lagipula rumor yang tidak mempengaruhi perusahaan tidak perlu aku ketahui" sepertinya tuan Arga ingin bertanya masalah kondisi Endra yang impoten, tetapi karena itu hal yang sangat pribadi, jadi tuan Arga urung menanyakan.


"Saya paham apa yang akan tuan tanyakan, dan saya tidak memungkiri bahwa saya memang seperti itu,,"


"Aaappaa??!!" tuan Arga memotong pembicaraan Endra bahkan saat Endra belum menyelesaikan penjelasannya.


"Apa karena penculikan itu?"


"Tuan tau tentang penculikan itu?"


"Tentu saja, itu bukan hal rahasia lagi, seluruh kota juga tau, tetapi mereka tidak tau siapa yang menculik dirimu, hanya sebagian kecil yang mengetahui nya, mereka pikir itu hanya penculikan biasa tanpa ada tragedi didalamnya, lalu apakah itu menjadi alasanmu bercerai? tetapi kenapa kamu mau menikah lagi?"


"Saat ini saya sudah sembuh"


Tuan Arga terlihat menghela nafas lega mendengar penjelasan dari Endra, dia lalu berjanji untuk tidak akan membatalkan kontrak kerja sama mereka.


Bbbrrraakkk


Intan masuk kedalam ruangan itu dengan kasar, dia mengancam untuk membatalkan kontrak kerja sama itu atau akan menyerahkan video CCTV nya saat indehoy di ruangan CEO.


"Apa tuan tidak takut, nama baik keluarga tuan akan tercoreng??!!" teriak Intan


"Apa maksudnya ini?" tanya Endra pada tuan Arga


Setelah nya tuan Arga menceritakan bahwa pimpinan rapat tempo hari itu adalah adik iparnya, dan adik iparnya itu telah melakukan hal yang diluar batas dengan Intan, Endra tersenyum meremehkan, dia jadi ingat saat di ruangan rapat, pimpinan rapat itu hanya focus pada Intan, ternyata karena sebelumnya mereka sudah melakukan sesuatu, tetapi Endra tidak menyangka kalau pimpinan rapat itu adalah adik iparnya tuan Arga, karena dia pikir hanya bawahannya saja atau orang kepercayaannya.


Naina mengetuk pintu untuk masuki ruangan itu bersama seorang anak kecil digendongan nya, Intan sangat marah melihat kedatangan Naina, dan langsung mendorong tubuh Naina, untung saja Naina bisa menahan tubuhnya jadi anak dalam gendongannya tidak terjatuh.


"Apa yang kamu lakukan??!!" teriak Endra dan tuan Arga berbarengan dan langsung menolong Naina.


"Kakek" anak dalam gendongan Naina menangis dengan kejadian yang tiba-tiba menimpanya, tuan Arga langsung mengambil anak itu dari gendongan Naina, sementara Endra langsung memeriksa kondisi Naina.


"Aku tidak apa-apa" ucap Naina, tetapi dia merasakan sikutnya yang sangat sakit karena terbentur tembok, saat Endra tanpa sengaja memegangnya, Naina merintih kesakitan.

__ADS_1


"Kamu!!!,,, berani-beraninya kamu menyakitinya, aku sudah pernah bilang jangan berani menyentuhnya sedikitpun!!" teriak Endra lalu berjalan mendekati Intan dengan pandangan penuh amarah dan hendak menampar Intan, tetapi Naina dengan masih menahan sakit, menahan tangan Endra dan langsung memeluknya.


"Jangan sayang, jangan rendahkan martabatmu, jangan menyakiti wanita, aku tidak apa-apa, tenangkan dirimu" ucap Naina lalu sedikit mendorong tubuh Endra agar menjauh dari Intan.


"Dia terus saja menyakiti mu, dia harus dikasih pelajaran, aku tidak perduli lagi kalau aku harus kembali kehilangan semuanya, yang pasti aku tidak mau kamu terluka" ucap Endra dan masih berusaha untuk mendekati Intan.


"Sayang sudahlah, aku bisa mengatasinya" Naina lalu semakin mendekap erat tubuh Endra supaya kekasihnya itu tenang.


"Sebenarnya ada apa ini?!" tanya tuan Arga, tetapi mendengar suara keras kakeknya, anak kecil digendongan tuan Arga kembali menangis.


Pengasuhnya datang tergopoh-gopoh dan ingin menggendong anak itu, tetapi anak itu tidak mau dan malah melihat kearah Naina, sebenarnya lengan Naina masih sangat sakit, tapi dia menahannya karena tau kalau anak kecil itu ingin dia yang menenangkannya.


"Sayang, tangan mu masih sakit?" ujar Endra.


"Tidak apa-apa, aku bisa menahannya sebentar" Naina lalu mengambil kembali anak itu dalam gendongannya karena tangan anak itu telah terulur padanya, karena melihat cucunya yang menangis, akhirnya tuan Arga membiarkan Naina kembali menggendong cucunya.


"Kamu wanita gila, kenapa berani menyakiti anak kecil, sebenarnya apa maumu?!" teriak tuan Arga pada Intan.


"Saya tidak tau kalau itu cucu tuan" Intan benar-benar tidak punya etika, dia bahkan tidak meminta maaf.


"Yang pasti aku tidak akan melepaskan kerja sama perusahaan kita, aku akan menyebarkan video itu secepatnya kalau perusahaan saya tidak mendapatkan kontrak kerja sama" Intan sungguh arogan serta tanpa rasa malu mengumbar aib nya sendiri.


"Sebarkan saja dan lihat siapa yang rugi!!" teriak tuan Arga.


Intan kesal karena lagi-lagi rencana dan usahanya gagal total, sepertinya dia ingin meluapkan emosi nya dengan kembali menyakiti Naina, tetapi Naina sudah lebih waspada dan langsung menendang Intan yang hendak menampar nya, tapi tidak lupa tangan Naina menutupi mata anak kecil yang dia gendong, supaya tidak melihat adegan itu.


Intan menjerit frustasi dan langsung bangun hendak menyerang Naina kembali, tetapi kali ini Endra menghalangi nya dan menangkis tangan Intan lalu mendorong nya, bertepatan dengan datangnya security.


"Kenapa kalian sangat lama datang nya, keributan sudah terjadi dari tadi!!" teriak tuan Arga pada para security.


"Maaf tuan, tadi dibawah ada juga keributan, maaf karena terlalu focus disana"


"Keributan apa lagi?"


"Tuan Rendi kembali berulah tuan"


Tuan Arga memegangi kepalanya karena yang dimaksud para security adalah adik iparnya yang sempat indehoy dengan Intan, setelah Intan diseret keluar dari perusahaan itu, tuan Arga mempersilahkan untuk Naina dan Endra kembali duduk.


"Dery,, sini sama kakek sayang" panggil tuan Arga pada anak yang sekarang ada dipangkuan Naina.


"Aku mau sama kakak cantik, tadi aku tersesat diparkiran lalu datang harimau kecil, tetapi kakak cantik menyelamatkan diri ku, kalau besar nanti, aku akan menikah dengan kakak cantik" mendengar ucapan dari anak kecil itu membuat Endra langsung menatap anak kecil itu penuh tatapan tajamnya.


"Nak Endra, apa ada masalah?"


"Tentu saja masalah tuan, yang anak kecil lamar ini adalah calon istri saya"


"Oowwhh, ahahahaha,,, nona ternyata calon istri nya nak Endra, pantas saja,, pantas saja,, anak kecil saja begitu terpesona pada nona, lalu apa lengan nona masih sakit?"


"Tidak apa-apa tuan, saya bisa mengatasinya" jawab Naina.


"Dery,, kamu kemana saja nak, mama mencari keberadaan mu sampai pusing, kenapa kamu ada disini, mama bilang tunggu mama sebentar, kamu malah berlarian, lalu kamu duduk dipangkuan siapa ini? cantik sekali nona ini? apa belum punya pacar? kalau belum aku mempunyai adik yang sedang mencari jodoh,,,, ayah,,,,, ayah pasti mengenalnya kan karena ada didalam ruangan ayah" tiba-tiba seorang wanita masuk ruangan itu, dan terus berbicara tanpa henti.


"Jangan buat masalah disini, calon suami nya ada disebelahnya" jawab tuan Arga lalu menyuruh anaknya untuk segera pergi membawa cucunya.


"Bawa keluar Dery, masih ada pekerjaan yang harus ayah selesaikan" perintah tuan Arga, awalnya Dery tidak mau lepas dari Naina tetapi akhirnya mau setelah dibujuk akan dibelikan mainan baru.


"Nona sangat keibuan, saya tidak sabar untuk menunggu undangan pernikahan kalian, dan semoga secepatnya kalian mendapatkan momongan"


Naina hanya mengangguk malu mendengarnya.


"Nak Endra, kenapa wanita gila tadi berniat mencelakai calon istri nak Endra, apa kalian saling mengenal?"


"Dia mantan istri saya" jawab Endra jujur

__ADS_1


"Kenapa dunia ini begitu sempit,,, baiklah,,, saya sudah sangat paham,, pantas saja kalian bercerai,, sekarang nak Endra boleh pulang terlebih dahulu, yang pasti kerja sama kita akan terus berlanjut" tuan Arga lalu bangun, begitu juga dengan Endra dan Naina yang langsung berpamitan.


Endra menekuk wajahnya selama perjalanan keluar dari perusahaan tuan Arga.


__ADS_2