Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Benci Obat


__ADS_3

"Ayah, aku dan Naina akan segera menikah, surat perceraian ku sudah ada,,,," Endra belum menyelesaikan ucapannya saat Suseno tiba-tiba menyerahkan ponselnya dan menunjukkan berita tentang Naina dan dirinya.


"Cepat cari penyebar berita ini dan bawa ke tempat biasa, Seno,, antarkan adiknya Naina ke rumahnya sekarang juga"


"Ada apa?" tanya Rayhan yang melihat kepanikan di wajah Endra.


"Kakak lihat lah berita, buka ponselmu" ucap Ningsih pada Naina, tetapi tangan Naina ditahan oleh Endra dengan cepat, Endra tidak mau Naina melihat berita itu.


"Sayang, percaya padaku,,, sekarang sudah semakin malam, kamu menginap disini dan tinggal disini untuk beberapa waktu, biarkan adikmu diantar oleh Seno"


"Ada apa?" tanya Naina yang bingung dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tetapi Endra tetap saja menahannya untuk membuka ponselnya dan menyuruh Endra untuk cepat mengantarkan Ningsih.


"Cepat Seno, sebelum banyak orang datang apalagi para wartawan, jaga ketat salon Naina" setelah mendengar perintah dari Endra, dengan cepat Suseno menjalankan perintahnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? aku harus tau, aku mau pulang" Naina merasa kalau pasti ada hal besar yang sedang terjadi, tetapi Endra tetap tidak mau memberitahu nya, hingga mereka dikagetkan dengan jatuhnya Rayhan dari kursi dan terus memegangi dadanya, ponselnya tergeletak di atas meja,. sepertinya Rayhan telah melihat berita itu.


Semua langsung menghampiri Rayhan, Endra meminta pada Reynolds untuk segera menyiapkan mobil untuk cepat pergi ke rumah sakit.


"Naina, tolong dengarkan aku dan jangan membantah atau melawan, kamu diam dirumah bersama bibi, jangan mencoba untuk pergi dari sini apapun yang terjadi, dan ingat juga untuk tidak membukakan pintu untuk siapapun, kamu mengerti??!" Endra sedikit keras berbicara karena dia panik dengan keadaan yang tiba-tiba ini, melihat keseriusan Endra, Naina akhirnya mengangguk mengiyakan perkataan Endra.


Naina dengan cepat melihat ponsel Rayhan yang tergeletak di meja, ponsel Naina tadi diambil oleh Endra karena Endra tidak mau Naina mengetahui berita yang membuat semua menjadi kacau.


#"Pengusaha terkenal Endra Prasetya ternyata seorang yang impoten"


#"Tidak tahu malu, pengusaha ini ternyata impoten tapi menghianati istrinya"


#"Foto-foto kebersamaan pengusaha Endra Prasetya bersama selingkuhannya"


"Ternyata cantik tidak menjamin sifat baik, lihatlah pemilik salon kecantikan ini yang telah merebut suami dari seorang malaikat wanita bernama Intan"


"Walau selingkuhannya lebih cantik, tapi untuk apa, toh burungnya tidak hidup"


"Nona Naina sayang, kalau kamu gatal sini aku garuk, Endra itu tidak berguna"


"Perusahaan baru Endra terancam bangkrut karena kelakuannya sendiri"


Judul berita yang tiba-tiba muncul di akun media sosial kita setempat yang telah menjadi viral, foto-foto Naina dan Endra saat berkencan terekspos, dari Endra yang mencium pipi Naina, bahkan ciuman Endra saat didalam bioskop, dan masih banyak lagi.


Naina terduduk lemas melihat kondisi ini, dia tidak menyangka akan mengalami masalah yang berat dan melibatkan publik, Naina tidak bisa menghubungi keluarganya karena ponselnya dibawa oleh Endra.


Naina hendak pergi tetapi diingatkan oleh bi Yeni untuk mengingat kembali semua perintah Endra, Naina frustasi lalu masuk kedalam kamar Endra untuk mandi dan mendinginkan dirinya, Naina lalu mengingat dengan judul berita terakhir yang dia baca.


"Perusahaan baru? lalu perusahaan lamanya apakah ada masalah? kenapa juga Endra membangun perusahaan yang baru?" gumam Naina saat berada dibawah shower air, Naina buru-buru menyelesaikan mandinya dan berniat menanyakan sesuatu pada bi Yeni.


"Bibi, kenapa Endra mempunyai perusahaan baru? lalu bagaimana dengan perusahaan lamanya?" Naina berharap bi Yeni tau sesuatu.


"Tuan muda kehilangan perusahaannya yang lama, karena saat itu menyelamatkan nona dari penjahat"


"Maksud bibi??!" Naina kaget mendengar penjelasan dari bi Yeni.


"Saat itu sedang rapat untuk akuisisi perusahaan, bibi juga menonton secara online bersama tuan Rayhan, tetapi saat acara baru dimulai, tuan muda berlari meninggalkan rapat yang akhirnya perusahaannya jatuh ke tangan wanita jahat itu"


"Siapa wanita jahat?"


"Intan, mantan istri tuan muda, dia mengambil alih perusahaan dan hanya menyisakan sebagian saham punya tuan muda, karena tuan muda tidak mau berurusan lagi dengan wanita jahat itu, akhirnya tuan muda menjual semua sahamnya di perusahaan lama, lalu tuan muda membuka perusahaan baru, tetapi dengan masalah ini bibi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi" bi Yeni merasa sedih untuk tuannya yang telah dia anggap sebagai anaknya sendiri, karena memang bi Yeni telah mengabdi dirumah Rayhan dari semenjak Endra kecil.


"Apa saat itu Endra menyelamatkan ku dari Anton?"


"Bibi lupa lagi, tapi yang bibi ingat saat itu nona mencoba bunuh diri"


Naina menjatuhkan dirinya diatas sofa, dia mulai menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, Endra bahkan harus kehilangan perusahaannya hanya untuk menyelamatkan dirinya, Naina semakin menangis tersedu-sedu.


"Nona,, jangan merasa bersalah,, bibi yakin ini akan segera berlalu, tuan muda tidak pernah menyesal sedikitpun dengan keputusannya, walau dia harus kehilangan perusahaan, tetapi tuan muda bisa tepat waktu menyelamatkan nona, apa nona tidak tau,, kalau nona adalah harta paling berharga bagi tuan muda" bi Yeni menenangkan Naina, dan seperti layaknya seorang ibu, bi Yeni membelai lembut rambut Naina dan memeluknya.


Naina masih sesenggukan didalam pelukan bi Yeni, hingga tiba-tiba Endra datang karena panik melihat Naina menangis, di ruang tamu dan sebagian sudut rumah Rayhan dipasang CCTV jadi Endra tahu saat Naina menangis.


"Sayang, aku sudah bilang jangan membuka ponsel, kamu tenang ya, semua akan segera berlalu, aku akan berusaha supaya masalah ini cepat selesai" Endra berlari mendekati Naina dan langsung memeluknya, bi Yeni langsung melepaskan pelukannya pada Naina dan mundur untuk memberikan ruang pada Endra.


"Maafkan aku, maafkan aku" Naina kembali menangis di pelukan Endra, dia telah menyebabkan Endra begitu banyak mengalami kerugian hingga harus kehilangan perusahaannya tentu saja Naina merasa sangat bersalah.


"Kamu tidak salah apapun sayang, tenang ya,, jangan menangis, ayah sedang mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, aku akan segera kembali kesana, kamu jangan menangis lagi dan tunggu aku disini, ingat untuk tidak keluar dari rumah ini sebelum aku izinkan" Endra menghapus air mata Naina lalu mencium keningnya, Endra dengan cepat kembali ke rumah sakit setelah mengantar Naina ke dalam kamar.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan selama ini? aku terus menyakitinya, tetapi dia terus saja menyelamatkan ku, membantu ku dan bahkan sampai harus kehilangan perusahaan, aku berjanji mulai sekarang akan selalu berada disisimu" Naina mengambil foto Endra yang ada diatas meja samping ranjang, foto itu adalah foto waktu mereka remaja, foto saat perpisahan Endra dahulu, foto yang menunjukkan mereka tertawa bahagia bermain air dari semprotan selang pemadam kebakaran.


Itu adalah foto kenangan saat pertama mereka bertemu walau mereka tidak saling mengenal dan akhirnya terpisah, baru setelah dewasa dan mengalami berbagai kepahitan hidup, akhirnya mereka bertemu kembali.


Naina menunggu Endra sampai hampir pagi, tetapi Endra tidak juga kunjung datang, Naina akhirnya ketiduran.




"Bagaimana dokter, ayah saya baik-baik saja kan?" tanya Endra setelah dokter keluar dari ruangan operasi, ternyata selama ini Rayhan menyembunyikan rasa sakitnya, sudah lama seharusnya Rayhan dioperasi tetapi dia selalu menolak, akhirnya sekarang hal itu harus dilakukan karena tidak ada cara lain lagi.



"Kita hanya bisa menunggu keajaiban, tuan Rayhan kondisinya sangat lemah, ditambah dengan kondisi psikologis nya yang langsung nge drop membuatnya tidak bisa menahan rasa sakit lagi, saat ini operasi sudah selesai, tapi kita tidak tau kapan beliau akan sadar"



Endra memandangi ayahnya dari balik pintu dengan sedikit kaca, jadi terlihat ayahnya yang sedang terbaring dengan banyak alat bantu, Endra menitikkan air matanya, tetapi segera menghapusnya saat Suseno menepuk bahunya.



"Pulang lah dulu, Naina pasti menunggumu, aku akan terus berjaga disini dan akan segera mengabari tentang apapun"



Endra mengikuti ucapan Suseno dan segera pulang, saat itu Naina sudah bangun karena hari sudah siang, dia lalu segera mandi, Endra masuk kedalam kamar dan langsung panik kerena tidak melihat Naina, dia mengira bahwa Naina telah pergi, tapi akhirnya Endra menjadi tenang saat mendengar suara shower air didalam kamar mandi.



Naina kaget karena Endra masuk kedalam kamar mandi dan langsung ikut Naina mandi dibawah guyuran shower, Naina awalnya kaget dan berusaha mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya, tetapi Endra menahan tangannya, Endra langsung memeluk Naina.



"Tolong diam lah sebentar saja" ucap Endra lemah dan semakin mempererat pelukannya pada Naina, yang awalnya Naina mencoba menolak akhirnya luluh juga melihat wajah Endra yang terlihat sangat bersedih, tidak seperti biasanya, Endra hanya diam tanpa melakukan apapun pada Naina dan hanya memeluknya.




"Maaf aku pinjam baju, bajuku sudah kotor" ujar Naina, tapi Endra tidak menjawab hanya langsung duduk di sofa dimana Naina sedang duduk, Naina bangkit dari duduknya lalu berdiri di depan Endra, Naina memeluk kepala Endra dan mendekapnya.



"Menangislah, tidak masalah bagi pria untuk menangis, itu bukan karena lemah, tetapi itu tandanya kamu memiliki perasaan" Naina membelai lembut rambut Endra yang masih basah, tidak lama Endra terisak menangis dalam dekapan Naina, mendengar tangisan tertahan dari Endra, membuat Naina ikut mengeluarkan air matanya.



Naina menghapus air matanya, karena dia harus menguatkan Endra, jadi dia harus bisa menahan diri nya, Endra terus memeluk Naina dan menumpahkan segala perasaan nya, dia tidak pernah menangis selama ini, dia seperti melupakan segala perasaan nya, tapi didepan Naina, dia bisa kembali menjadi manusia normal seutuhnya, dia bisa bergembira, dia merasakan cinta, dan sekarang dia bisa menumpahkan kesedihannya.



Setelah Endra tenang dan menghentikan tangisannya, Naina duduk di sofa dengan Endra yang tiduran disampingnya dengan paha Naina sebagai bantalnya, Endra memeluk erat perut rata Naina.



"Aku belum siap kehilangan ayah, dan mungkin tidak akan pernah siap, sekarang aku juga takut kehilangan dirimu" ucap Endra pelan, Naina tersenyum mendengarnya.



"Ayah akan segera sadar dan kembali sehat, lalu kamu tidak perlu khawatir lagi, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan dirimu" ucap Naina lalu mencium kepala Endra yang masih berada dipangkuan nya, suasana mellow itu harus terhenti karena suara ketukan pintu, Naina menurunkan kepala Endra ke sofa, karena Naina akan membuka pintu.



"Iya bi?" tanya Naina pada bi Yeni yang mengetuk pintu kamar.



"Apa nona dan tuan muda tidak akan makan? ini sudah lewat waktu sarapan dan hampir memasuki waktu makan siang"


__ADS_1


"Baik bi, terimakasih,, aku akan segera keluar" Naina lalu kembali ke dekat Endra dan mengajaknya untuk makan dulu, tetapi Endra menolak dengan alasan malas makan karena tidak nafsu, Naina memegangi kening Endra dan ternyata sedikit panas, Naina lalu menyuruh Endra untuk memakai baju.



"Pakai dulu bajumu, aku akan mengambilkan makanan dan obat, tunggu sebentar" Naina lalu hendak bergegas keluar, tetapi Endra menarik tangannya hingga membuat Naina terjatuh ke pelukan Endra.



"Mau dengar ucapan ku atau tidak? cepat pakai bajumu!!" Naina berakting galak tetapi tetap dengan senyuman manisnya, Naina lalu mengecup bibir Endra, lalu membelai lembut pipi Endra.



"Tunggu sebentar saja, kamu pakai bajumu lalu istirahat dulu sebentar, aku tidak akan lama" Naina lalu keluar setelah melepaskan pelukan Endra, Naina menuju dapur dan membuat bubur untuk Endra, setelah selesai Naina membawa satu mangkok bubur dan obat serta air minum kedalam kamar.



Endra telah memakai bajunya, tapi masih duduk diam di sofa, dia menyalakan televisi dan terlihatlah foto-foto Naina, melihat hal itu Naina menjadi malu, karena foto nya dari sewaktu muda semua ada.



"Kamu ini semacam penguntit atau apa?"


"Aku mendapatkan nya sebagian dari akun media sosial mu, dan sebagian lagi mama Nimah, ini menjadi pengobat rindu ku saat jauh darimu"



"Kamu sudah pintar menggombal rupanya" ucap Naina lalu meletakkan bubur yang dia bawa ke atas meja.



"Menggombal apa, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan" jawab Endra lalu menarik tangan Naina supaya bisa kembali memeluk tubuh Naina.



"Makan dulu dan minum obat" ucap Naina lalu kembali memegangi kening Endra.



"Aku tidak selera makan"



"Kamu harus makan supaya kuat untuk menjaga ayah, lalu kamu juga harus menjagaku" Naina mengecup pipi Endra, membuat Endra kaget, dia tidak menyangka bahwa wanita yang selama ini terus dia kejar sudah benar-benar menerima dirinya, Endra hendak mencium Naina tetapi Naina menolak sebelum Endra mau makan.



"Aku bukan anak kecil sayang" gerutu Endra, yang sebenarnya malah menunjukkan kalau dia seperti anak kecil yang merajuk tidak mau makan, tetapi setelah dibujuk dan disuapi oleh Naina, akhirnya Endra mau makan.



Lalu kembali lagi Endra yang merajuk karena dia tidak mau minum obat, dengan alasan dia tidak memerlukannya karena dia akan sehat dengan sendirinya, Naina membuka obat dan memasukkannya ke mulutnya sendiri, tetapi dengan cepat Naina mendekatkan bibirnya pada bibir Endra, lalu Naina memasukkan obat yang ada di mulutnya ke mulut Endra.



"Ini minum air putih, supaya obatnya cepat tertelan" ucap Naina yang mendapatkan tatapan kesal dari Endra karena dia tetap harus minum obat kerena ulah Naina.



"Pahit, aku tidak suka obat, sekarang berikan aku penawarnya" ujar Endra lalu menarik Naina dan langsung mencium Naina dengan cepat dan dalam, mereka berbagi rasa pahit untuk sementara tetapi tidak lama karena rasa pahit itu berganti dengan rasa manis karena saling mengecap lidah pasangannya.



"Aku sangat benci obat, karena sudah terlalu banyak dulunya aku minum obat" ucap Endra setelah mereka selesai berciuman"



"Obat apa? kamu sakit apa?"



"Dulu aku,,,,"

__ADS_1


__ADS_2