
"Lepaskan!!" Naina berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Roni
"Kembalilah padaku Nai,,, aaakkkhhh" Roni kaget karena tiba-tiba ada yang memukulnya, Naina juga kaget dengan kejadian yang tiba-tiba.
"Jangan sentuh wanita ku!!" teriak Endra lalu kembali memukul Roni, Naina mencoba melerai dan menahan tangan Endra yang mencoba untuk terus memukuli Roni, Endra lalu menarik tangan Naina dan sedikit kasar menarik dan membawanya menuju mobil, Endra lalu memasukkan Naina kedalam mobilnya.
"Diam!!" Endra berteriak saat memakaikan sabuk pengaman pada Naina karena Naina terus mendorongnya, Endra membawa Naina kerumah Rayhan dan menyeretnya ke dalam kamar, Reynolds dan bibi yang mendengar keributan langsung keluar dari kamar, tetapi saat melihat biang dari keributan, mereka dengan langkah seribu langsung kembali ke kamar mereka masing-masing.
Naina sudah berada dalam kungkungan tubuh Endra, sekuat apapun dia melawan, dia tetap saja berakhir seperti itu, Endra yang sebenarnya masih marah pada Naina ditambah dengan kejadian yang baru saja terjadi, membuatnya semakin marah dan sekarang ditambah cemburu.
Naina sudah tidak memakai baju atasannya, Endra dengan kesetanan telah merobeknya, Endra tidak memperdulikan teriakan dari Naina, hingga akhirnya Naina memohon pada Endra.
"Aku mohon jangan seperti ini" Naina menangis ketakutan, dia ingat perlakuan kasar dari Roni saat dulu melakukan hal itu, Roni selalu kasar padanya saat melakukan hubungan intim dengannya, Endra biasanya tidak pernah melebihi dari ciuman, jadi Naina ketakutan dengan memikirkan kemungkinan besar apa yang akan dilakukan oleh Endra padanya.
"Lepaskan bajumu,, aku tidak mau ada jejak pria lain ditubuh mu!!" Endra melepaskan tangan Naina yang dari tadi berada dalam cengkeraman nya, Endra bangun dan mengambil kemeja nya dari dalam lemari dan memberikan pada Naina.
"Cepat ganti sekarang juga, kalau tidak aku yang akan menggantinya" Endra lalu berjalan ke arah kamar mandi, terdengar teriakan dan sesuatu yang pecah, sepertinya Endra memukul kaca yang ada di dalam kamar mandi, Naina mengikuti perintah dari Endra, dia melepaskan celananya dan bajunya yang sudah tidak berbentuk lalu memakai kemeja Endra yang sudah pasti kebesaran di tubuhnya.
Naina lalu duduk dan menutupi kakinya dengan selimut, karena kemeja yang dipakainya tidak sepenuhnya menutupi pahanya, cukup lama hingga Endra keluar dari kamar mandi, lalu Endra melihat kearah Naina yang sudah memakai bajunya.
"Tidurlah, aku akan kembali kerumah sakit" Endra keluar dari kamar tanpa mendengar jawaban apapun dari Naina.
"Dia terlihat sangat seksi dan cantik memakainya, aku harus cepat pergi kalau tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan, karena aku pasti tidak akan bisa menahannya" Endra lalu dengan cepat pergi lagi.
Naina berusaha untuk tidur dan melupakan tingkah Endra yang menurutnya sangat aneh, sementara itu ditengah perjalanan, Endra dihadang oleh Roni dan anak buahnya, Endra hanya tersenyum meremehkan melihat apa yang diperbuat oleh Roni.
"Dasar tidak berguna" Endra lalu keluar dari mobilnya dengan mengangkat kedua tangannya, tetapi dengan tatapan tajamnya dia melihat sekeliling nya, mereka terlihat seperti preman sewaan, melihat hal itu Endra lebih menambah kewaspadaannya karena tipe seperti mereka biasanya menggunakan segala cara untuk bisa mengalahkan lawannya tanpa memperdulikan aturan.
"Hey lelaki impoten, kamu itu sungguh pria yang tidak tau malu ya,, untuk apa kamu mengambil wanita yang sudah milik orang lain? apa kamu tidak malu mendapatkan bekas diriku?? lagipula tubuh mulus Naina hanya aku yang berhak sepenuhnya, lelaki impoten macam dirimu, tidak akan bisa memuaskannya" Roni begitu percaya diri dengan menghina Endra.
"Lalu kenapa dia mencampakkan dirimu kalau kamu bisa memuaskannya? aku rasa kamu sangat jauh dari kata memuaskan sehingga dia membuang dirimu" Endra membalas perkataan Roni dengan lebih kejam.
Roni sangat tersinggung dengan perkataan Endra lalu dia dengan cepat menyerang Endra, tetapi Endra dengan mudah bisa mengalahkan Roni yang sepertinya memang dia sedang sedikit terluka karena dia baru mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tangan kanannya memar-memar.
Preman sewaan yang dibawa Roni mengeroyok Endra bahkan ada yang membawa senjata tajam, Endra sedikit terdesak dan bahkan lengannya terluka karena sabetan pisau dari salah satu preman yang menyerang nya, saat Endra semakin terdesak untungnya datang polisi yang sedang berpatroli, Roni dan komplotannya langsung melarikan diri, Endra yang tidak mau memperpanjang urusan dan tidak ada waktu memberi kesaksian pada polisi, akhirnya juga langsung pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Endra putar balik dan kembali pulang kerumah Rayhan, Endra berganti baju setelah melihat Naina yang sudah tidur, awalnya Endra ingin tidur disebelah Naina, tetapi dia mengurungkan niatnya karena tidak mau Naina semakin takut padanya, Endra lalu memilih tidur di sofa.
Pagi harinya Naina terbangun, dia melihat ke sekeliling ranjang, dia lega karena tidak ada Endra disana, Naina masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia kembali memakai baju kemeja Endra karena bajunya sudah dirusak oleh Endra tadi malam.
Naina terkejut saat melihat Endra yang tidur di sofa, badannya yang kekar dan tinggi besar sepertinya tidak nyaman tidur disana, tetapi Naina tidak melakukan apapun, karena dia tidak mau membangunkan singa tidur.
Bbrruukkkk!!
"Aaawwhhhh,,,!!"
Naina tersungkur karena kaki Endra yang tiba-tiba menjulur panjang padahal sedari tadi ditekuk dalam tidurnya, Endra kaget mendengar teriakkan Naina dan langsung bangun untuk membantu, sementara Naina sendiri tidak mau bangun karena dia malu dengan baju yang dia pakai yang mengekspos pahanya, tadi dia mencari celana di lemari, dan letak lemari itu dibelakang sofa dimana Endra tidur, jadi Naina harus melewati sofa untuk mengambil celana, tapi belum sempat dia memakainya, dia sudah terjatuh karena menubruk kaki Endra.
"Ambilkan aku selimut" pinta Naina.
"Tidak mau, aku lebih suka melihat mu seperti ini" jawab Endra asal lalu dengan cepat menggendong tubuh Naina, dan menahan rasa sakit di lengannya karena sabetan pisau yang dia dapatkan tadi malam.
Naina kaget karena Endra menggendong nya, Naina tidak sempat berontak karena jarak dia jatuh ke ranjang sangat dekat, Naina langsung mengambil selimut dan menutupi kaki dan pahanya.
"Apa kamu sudah mandi?" tanya Endra
"Baiklah aku akan mandi juga sekarang, lalu nanti kita bisa,," Endra tidak melanjutkan ucapannya, sepertinya dia mau menggoda Naina.
"Nanti kita bisa menengok ayah,, memang kamu mau apa lagi?? dasar mesum" ucap Endra dengan senyuman manisnya, membuat Naina terpana untuk sesaat.
"Yang,,, yang mesum itu kamu!!" Naina tergagap dan berteriak lalu melemparkan bantal yang berada di dekatnya kearah Endra.
"Ahahaha,, aku tidak menyangka kalau kamu wanita mesum" Endra menangkap bantal yang dilemparkan oleh Naina lalu mendekati Naina kembali, meletakkan bantal yang dipegangnya ke belakang kepala Naina lalu mendorong tubuh Naina hingga terlentang dan dengan cepat Endra menindih tubuh Naina.
Naina kaget dan memejamkan matanya, tetapi tidak ada pergerakan apapun dari Endra yang biasanya langsung menciumi dirinya, Naina membuka sebelah matanya dan terlihatlah Endra dengan senyuman jahilnya.
"Apa yang kamu tunggu wanita mesum" ucap Endra kembali menggoda Naina, membuat Naina geram dan mendorong tubuh Endra, tanpa sengaja Naina mendorong kuat lengan Endra yang sedang terluka.
"Aaakkhhhhh!!!" Endra berteriak dan memegangi lengannya, darah kembali keluar dari lukanya yang memang belum dia obati, Naina kaget lalu bangun melihat kondisi Endra, karena tidak biasanya dia bisa lepas dari kungkungan tubuh Endra.
"Kenapa bisa seperti ini?" Naina kaget melihat lengan Endra yang berdarah.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu berganti baju saja, sepertinya masih ada baju-baju kamu di lemari, cari saja sendiri, aku akan mandi dahulu" Endra tidak mau terlihat lemah didepan Naina.
Naina berganti baju lalu segera keluar dari kamar untuk mencari kotak PPPK, Naina pernah tinggal dirumah itu jadi sudah paham setiap ruangannya, saat melewati meja makan, Naina melihat bibi yang sedang sibuk menyiapkan alat-alat untuk sarapan.
"Selamat pagi bibi" sapa Naina ramah.
"Pagi non,, sarapan sudah siap, apa non Naina akan sarapan sekarang?"
"Tidak bi, nanti saja,, aku mau ke kamar dulu, terimakasih bibi" Naina kembali ke kamar diiringi dengan senyuman manis dari bibi, dia pikir pagi ini akan terjadi peperangan karena tadi malam Endra dan Naina terlihat ribut.
"Memang seperti itu bibi, pasangan akan kembali mesra saat sudah memasuki kamar mereka" Reynolds tiba-tiba datang dengan membawa nasi yang terlihat asapnya masih mengepul.
"Huussttt, mereka belum menikah, harus sesuai aturan" jawab bibi lalu kembali ke dapur.
Naina kembali ke kamar dan kaget karena berbarengan dengan Endra yang keluar dari kamar mandi dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Naina segera keluar lagi dari kamar memberi waktu bagi Endra untuk memakai pakaiannya.
Endra keluar kamar setelah memakai baju, sementara Naina malah asyik melihat kearah aquarium yang banyak ikan berwarna-warni, sampai tidak menyadari Endra yang berdiri disampingnya, saat Naina menoleh dengan cepat Endra menyambar bibir Naina dan menciumnya dengan penuh semangat, Naina sempat mendorong Endra tetapi tidak mudah bagi Naina untuk bisa lepas dari cengkeraman tangan Endra yang sudah memeluknya erat.
Endra melepaskan pelukan dan ciumannya lalu merapikan rambut Naina,
"Sudah siap? ayo kita kerumah sakit, kata Seno,, ayah sudah bangun"
"Obati dulu lukamu, nanti bisa infeksi"
"Tidak perlu ini hanya luka kecil" Endra menggenggam tangan Naina lalu mereka keluar rumah bersama setelah pamit pada bibi, mereka minta maaf karena tidak bisa sarapan dirumah padahal semua sudah disiapkan.
"Simpan saja untuk makan siang, atau bagikan saja, kami akan sarapan di rumah sakit setelah menemui ayah" bibi tidak marah, dan malah sangat senang karena mendengar kabar tentang tuan nya yang sudah sadar.
"Tidak apa-apa tuan muda, sekarang cepatlah temui tuan, pasti tuan tidak sabar bertemu tuan dan nona"
Naina dan Endra lalu bergegas menuju rumah sakit, sebelumnya Endra menelfon Suseno untuk membeli sarapan, supaya mereka bisa sarapan bersama di sana.
Rayhan begitu bahagia melihat kedatangan Endra dan Naina yang berbarengan, Naina langsung menuju Rayhan dan menanyakan keadaannya.
"Ayah sangat baik dan menjadi lebih baik setelah melihatmu, maafkan atas kesalahan ayah kemarin, ayah tidak berfikir panjang dan memikirkan perasaanmu, ayah tidak akan meminta hal yang mustahil lagi, ayah hanya ingin kamu tetap selalu menjadi putri ayah" Naina tersenyum senang mendengarnya karena Rayhan tidak memaksanya.
__ADS_1
"Permisi,,"
Naina menoleh dan kaget melihat seseorang yang masuk ke dalam ruangan rawat Rayhan.