
Di atas meja, tepatnya di depan Arga, terlihat foto-foto persis seperti yang dilihat oleh Naina, Atika tersenyum meremehkan melihat kearah Endra, karena Atika merasa sangat yakin bahwa Endra tidak bisa mencari alasan lagi.
"Semua CCTV di kantor itu telah aku lumpuhkan sebelum kejadian itu, jadi tidak ada bukti lain yang dimilikinya, CCTV hotel juga jelas memperlihatkan dia memasuki sebuah kamar hotel bersamaku, Endra sayang,,, kalau aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau saat ini, maka aku akan membuatmu bertekuk lutut dulu, sehingga aku ada kesempatan untuk memberikan obat yang lebih tinggi dosis nya"
"Tuan yakin mau melihat kejadian yang sesungguhnya?" tanya Endra.
"Apa yang bisa kamu perlihatkan??!,, jangan banyak alasan dan mengelak, kamu harus bertanggung jawab padaku!!" teriak Atika.
Endra memberikan kode pada Reynolds untuk maju kedepan dan memperlihatkan video CCTV tersembunyi milik Endra, dari awal sampai akhir, terlihat sangat jelas bahwa Atika yang bertindak sangat mengerikan dengan tindakan nya sebagai seorang wanita yang bahkan suaminya sedang terbaring tidak berdaya di rumah sakit.
"Foto itu hanya potongan-potongan dari video ini, saya sungguh merasa sangat malu karena telah dihina oleh seorang wanita, dan karena ini sudah terlalu jauh, saya akan melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian, ada tindakan pelecehan dan pengeroyokan yang pastinya tidak akan mudah untuk bisa lepas dari jeratan hukum" Endra lalu menatap tajam kearah Atika, tatapannya penuh dengan dendam.
"Kamu pikir aku sebodoh itu?" ucap Endra.
"Nak Endra, saya selaku keluarga tidak mengetahui bahwa kejadian yang sebenarnya seperti ini, lakukan apapun yang sebaiknya dilakukan, saya sungguh malu dengan kejadian ini" ujar Arga, lalu tidak lupa memohon permintaan maaf atas tindakan anak dari adiknya itu.
"Paman,,, ini semua tidak benar, ini pasti hanya rekayasa" Atika ketakutan lalu memegangi tangan Arga.
"Kamu telah membuat malu keluarga kita, bahkan telah membuat tuduhan palsu,, sekarang pergilah dari sini!" teriak Arga pada keponakannya.
Arga terus meminta maaf kepada Endra dan berjanji bahwa kerja sama perusahaan mereka, tidak akan pernah dihentikan, tetapi Endra dengan tegas menyatakan bahwa, masalah Atika tetap akan diproses secara hukum, karena perbuatan Atika telah membuat Endra sangat murka dan merasa sangat terhina, apalagi ditambah kepergian Naina, membuat Endra semakin tidak bisa menahan kemarahannya pada Atika.
"Kami pamit undur diri tuan" Endra berpamitan kepada Arga.
Setelah kepergian Endra, Atika diseret keluar dari ruangan Arga, sepertinya Arga sudah tidak bisa lagi mentolerir perbuatan keponakannya itu.
"Paman jangan,, aku mohon bantu aku,, aku akan mati kalau sampai kedua orang tuaku mengetahui hal ini!!" teriak Atika saat diseret oleh security.
"Orang tuamu hanya terlihat keras di depanmu, tetapi mereka sangat menyayangimu, hingga salah memberikan pendidikan sebagai orang tua" gumam Arga setelah pintu ruangan nya kembali tertutup setelah Atika dipaksa pergi.
Hari telah berganti dan tidak terasa tiba waktunya bagi Endra untuk bisa bertemu dengan istri tercintanya, tetapi sebelum dia sampai di asrama anak-anaknya, Rania menghubungi dirinya.
"Jangan langsung temui dia, coba cari tau dulu dimana Naina selama ini bersembunyi, supaya kakak lebih tau tentang Naina, seandainya suatu saat terjadi masalah dikemudian hari lagi"
"Untuk apa aku bermasalah lagi nantinya?"
"Bukan seperti itu maksud aku,, tapi siapa yang akan tau apa yang akan terjadi kedepannya, kakak saja dengan kejadian kemarin tidak bisa menyangka nya, sehingga terjadi seperti sekarang ini"
Endra awalnya tidak akan mengikuti saran dari adik sepupunya itu, tetapi setelah dipikir-pikir, perkataan Rania ada benarnya juga.
Endra menunggu didalam sebuah mobil yang tidak dikenali oleh Naina, karena Naina pasti akan langsung kabur saat mengetahui keberadaannya, dan itu akan membuat Endra semakin kesulitan mencari Naina lagi nantinya.
"Tuan, itu sepertinya nona Naina" ucap Reynolds yang saat itu menjadi supir Endra, saat ini memang Reynolds lebih banyak bekerja dengan Endra dibandingkan dengan Rayhan, itu karena paksaan dari Rayhan yang ingin Reynolds bekerja ditempat yang lebih baik.
Reynolds telah bekerja di perusahaan Endra, hanya sesekali diminta bantuan untuk menjadi supir nya, dikala para pengawal Endra mempunyai tugas lain.
__ADS_1
"Iya benar, ikuti secara perlahan-lahan, jangan sampai membuatnya curiga" perintah Endra.
Mereka mengikuti Naina hingga kesebuah toko bunga, Naina terlihat membuka kunci pada toko bunga kecil itu, terlihat gorden dibuka, seluruh ruangan depan toko itu terbuat dari bahan kaca, jadi dengan mudah terlihat situasi didalamnya.
Naina memakai sebuah celemek imut berwarna pink dan bergambarkan bunga-bunga, tidak lupa dengan bando bunganya untuk mempercantik tampilan rambutnya.
"Kenapa dia semakin cantik saja, aku tidak bisa menahan diriku lagi, aku harus menemui dirinya saat ini juga" Endra hendak membuka pintu mobilnya tetapi tepat saat itu telepon dari Rania kembali masuk.
"Kakak, apa kakak tau sekarang dia dimana? coba sekarang kirimkan fotonya, aku akan menganalisa kenapa dia meninggal kakak"
"Tidak perlu dengan analisa dirimu, dia hanya pergi karena salah paham, dan sekarang aku akan menjelaskannya"
"Kakak tahan, dengarkanlah aku, aku ingin tau, apakah Naina juga merindukan kakak"
"Tentu saja, dia kan mencintaiku"
"Kakak terlalu percaya diri,,, ini maksudnya apa?? kenapa Naina ada disebuah toko bunga? itu miliknya, atau dia hanya bekerja ditempat itu?"
"Tahan dulu!! dibilang tidak percaya juga, mungkin ini juga adalah impian Naina, bisa saja dia menginginkan mempunyai sebuah toko bunga"
"Aku akan memberikannya toko bunga yang lebih besar dari ini kalau memang dia menginginkannya"
Rania lalu memberikan pengertian kepada Endra, bahwa tidak semua wanita itu sama seperti yang Endra pikirkan, dari awal mengenalnya juga sangat terlihat kalau Naina berbeda.
Naina adalah wanita mandiri, dia tidak biasa meminta kepada siapapun, dan itu juga disadari oleh Endra, Naina bahkan tidak menyentuh sekalipun kartu ATM yang dia berikan, istrinya itu tidak terlalu suka berbelanja menghamburkan uang, Naina hanya benar-benar membeli sesuatu saat sudah pasti itu adalah keperluan yang sangat penting dan dia butuhkan.
Beberapa pelanggan datang kedalam toko bunga Naina, terlihat senyuman manis dari Naina saat melayani para pelanggan itu, Endra kesal melihatnya, karena tidak suka istrinya itu tersenyum pada orang lain.
"Tuan, Seno memanggil tuan, ada sesuatu yang penting, sepertinya tuan Arga datang ke kantor"
"Apa?? baiklah kalau begitu, sekarang kita harus kembali, jangan lupa tempatkan beberapa pengawal disini untuk selalu menjaga Naina"
__ADS_1
"Baik tuan"
"Atika menghilang, aku bertanya karena masih menghormati dirimu, aku sangat tau betul kesalahan keponakan ku terhadap dirimu, tapi tolong jangan lakukan main hakim sendiri" ujar Arga begitu Endra sampai.
"Tuan, apa menurut tuan aku tidak pantas melakukannya kalau memang itu benar? tapi sayangnya itu tidaklah benar, aku sedang malas berurusan dengan seorang penjahat, aku menyerahkan semuanya kepada kepolisian" jawab Endra.
Arga merasa malu dengan dirinya sendiri, tidak ada keraguan sedikitpun di hati Arga, sepertinya dia menyadari bahwa Endra berbicara serius dan tidak berbohong, Arga lalu pamit pulang setelah mendapatkan penjelasan dari Endra.
"Apa yang kamu rencanakan lagi Atika" gumam Endra setelah Arga pergi dari ruangannya, Endra seperti bisa merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sudah berhari-hari Endra hanya bisa memandangi istrinya dari kejauhan, karena menurut Rania, setidaknya butuh waktu sedikit lebih lama supaya Naina benar-benar tenang, akan lebih berbahaya da beresiko saat Naina belum sepenuhnya tenang, dia malah bisa pergi dan akan susah mencarinya kembali.
Naina kedatangan pelanggan seorang ibu dan anaknya yang masih kecil, kemungkinan anak itu baru sekolah di taman kanak-kanak, anak lelaki itu memakai setelan jas, sehingga tampak lucu sekali.
"Hay ganteng, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Naina pada anak kecil itu, sementara mamanya sedang memilih bunga.
"Adakah bunga yang melebihi cantiknya kakak?"
Naina tertawa mendengarnya, tidak menyangka anak sekecil itu sudah pandai berkata-kata.
"Aku akan masuk sekarang juga, aku tidak tahan lagi!" teriak Endra di dalam mobil, saat Endra turun dari mobilnya, saat itu juga Atika datang dan langsung memberhentikan mobilnya di depan toko Naina.
"Hancurkan semua isinya!" perintah Atika
Naina kaget melihat kedatangan Atika dan para pengawalnya, apalagi mereka langsung menodongkan pisau ke arah Naina yang masih bercanda dengan anak kecil itu, sang mama dari anak itu telah tiarap dengan pisau dilehernya sebagai ancaman.
Naina menggendong anak itu sehingga anak itu menghadap belakang, tidak membiarkannya melihat kondisi mamanya, supaya anak kecil itu tidak panik dan berteriak.
"Sebentar ya sayang, ayo sekarang kita bermain penjahat dan pahlawan, aku sangat takut, tolong peluk aku supaya aku tidak ketakutan" bisik Naina ditelinga anak itu, dan langsung dijawab anggukan.
"Apa maumu? biarkan anak ini dan mamanya pergi terlebih dahulu, jangan membuat anak kecil ketakutan dan trauma karena ulahmu" ujar Naina, tangannya telah memegang sebuah vas dari kaca yang dia pecahkan.
Sementara itu para pengawal Atika dengan tubuh yang tinggi dan kekar itu telah memandangi Naina dengan pandangan memangsa.
__ADS_1