
Sudah tiga malam pengantin baru itu menginap di hotel, awalnya Endra belum mau untuk kembali pulang dan masih ingin memperpanjang masa bulan madu mereka tetapi Naina menolak nya dan terus mengajak Endra untuk segera pulang.
"Aku masih ingin disini, tolonglah sayang,," Endra memegangi tangan Naina yang hendak merapikan semua bajunya dan juga baju milik Endra.
"Hari ini ada acara makan bersama keluarga besar, mereka menunggu kita dirumah, kita bisa kesini lagi kapan pun kamu mau" Naina lalu mengecup kening suaminya, Endra menarik tangan Naina hingga terjatuh dan duduk dipangkuan nya.
"Apa?? ayo bersiap,, hari ini ada berita penting yang akan diumumkan oleh ayah Rayhan, aku tidak boleh melewatkan nya, nanti ayah bisa kecewa" Naina mengecup bibir Endra sekilas lalu memegangi pipi suaminya itu dengan kedua tangannya.
"Ayah pasti mengerti, ayolah kita menginap lagi" Endra kembali menyerbu bibir Naina, tidak terima kalau hanya dicium sebentar, Naina semakin terbiasa dengan sentuhan suaminya, dia tidak pernah menolak lagi, hanya saja karena Endra yang seperti tidak ada puasnya terhadap dirinya, kadang Naina menjadi kewalahan, walau selembut apapun sentuhan Endra, tetap saja Naina tidak bisa mengimbangi permainan dan durasinya, sepertinya karena dia belum terbiasa.
"Sayang tolong jawab aku dengan jujur?" tanya Naina setelah Endra melepaskan ciumannya, Endra hanya menjawab dengan menaikkan alisnya, dan kembali hendak mencium Naina, tapi sesaat sebelum bibir mereka saling bertemu, Naina menanyakan sesuatu yang membuat Endra tersenyum.
"Apa kamu tidak puas denganku?!" Naina menutup matanya karena dia juga malu dengan pertanyaannya sendiri, Endra tidak langsung menjawab tetapi kembali ******* bibir Naina, setelahnya dia membenarkan rambut istri tercintanya yang sedikit berantakan.
"Pertanyaan yang sangat salah, bukan karena aku tidak puas, tetapi aku sungguh sangat tergila-gila padamu, jadi aku ingin terus melakukannya, maafkan aku sayang" Endra mengendus leher istrinya yang masih terdapat sedikit bekas luka goresan pisau.
"Apa ini masih sakit?" tanya Endra sambil membelai lembut bekas goresan pisau di leher Naina.
"Tidak, inikan tinggal bekasnya saja,, aaaakkkhhhh" Naina merintih karena Endra telah sampai pada gunung kembarnya dan membuat tanda merah di sana, sepertinya Endra terus mencari celah dimana kulit mulus istrinya yang masih bisa dia beri tanda, karena sebagian besar, kulit Naina telah tertutupi dengan warna merah buatannya selama tiga hari tiga malam ditempat itu, Endra sungguh-sungguh tidak keluar dari kamar dan tidak mengizinkan Naina keluar kamar juga.
"Sayang tolong, sekarang kita benar-benar harus pulang" Naina berusaha untuk membujuk suaminya.
"Jangan bekerja lagi setelah ini ya?" ujar Endra tiba-tiba dan membuat Naina kaget.
"Jangan seperti ini,, biarkan aku tetap bekerja, lagipula kamu juga tau dimana aku bekerja dan apa pekerjaan ku"
"Jangan melayani pelanggan lagi, kamu boleh datang ke kantor salon milikmu, tapi tidak untuk melakukan perawatan kepada pelanggan mu lagi, kamu bisa datang kesana tetapi hanya sebentar saja dan jangan melebihi jam kerjaku, setiap aku pulang bekerja, kamu sudah harus ada dirumah"
"Kenapa harus seperti itu? lalu aku mau apa kesana kalau tidak melakukan apapun?"
"Apa kamu lupa kalau saat ini kamu adalah nyonya Endra Prasetya?"
"Lalu kenapa tuan Endra?? apa anda malu mempunyai istri pegawai salon?"
"Buk, bukan,, bukan seperti itu sayang,,, tapi,,"
"Tapi apa??"
"Aku hanya tidak mau kamu kecapean, sekarang kondisinya sudah berbeda, sekarang sudah kewajiban aku yang menafkahi dirimu dan anak-anak, apa kata orang kalau sampai mereka tahu bahwa aku membiarkan istriku bekerja?"
"Zaman sekarang itu banyak kok wanita karir walaupun sudah berkeluarga, kamu tidak perlu khawatir karena aku pasti bisa membagi waktu, dan baiklah" Naina menghentikan ucapannya lalu mendekati telinga Endra dan berbisik dengan sedikit menggigit telinga suaminya itu.
"Aku akan siap kapanpun kamu menginginkan diriku" Naina tersenyum melihat suaminya yang merem melek karena tingkahnya.
__ADS_1
"Aaagggghhhh!!" Endra berteriak karena Naina menggigit keras telinganya.
"Awas ya!! rasakan pembalasanku" Endra langsung merebahkan tubuh Naina kembali ke ranjang, dan sudah pasti bisa ditebak apa yang dia lakukan selanjutnya, kepulangan mereka menjadi benar-benar terlambat.
Senyum tidak pernah lepas dari bibir pasangan pengantin baru itu, hingga saat tanpa sengaja saat keluar dari hotel untuk menuju ke rumah, mereka dikejutkan dengan teman Naina yang pernah membantu Naina dengan pura-pura menjemputnya.
Teman Naina terus mengejek dan menghina Naina, mengatakan Naina sok jual mahal dengannya, ternyata karena dia mempunyai mainan yang lebih besar, sebenarnya Naina sudah sangat marah dan ingin menghajar temannya itu, tetapi sungguh tenaganya telah terkuras habis oleh Endra.
Bug bug bug
Endra membabi buta memukuli teman Naina itu, dia ingat siapa pria itu, Endra juga tau dengan pasti bahwa pria itu masih mengincar Naina.
"Jangan sembarangan berbicara kepada istriku!!" teriak Endra membuat teman Naina itu sedikit kaget, karena dia tidak mengetahui pernikahan Naina, dia pikir Naina masih menjanda.
"Maaf tidak mengundang mu,, karena aku tau, kamu hanya akan membuat keributan, dan aku juga pernah berkata, kalau kita bertemu, anggap saja kita tidak saling kenal" ujar Naina lalu menarik tangan Endra yang masih mencengkeram erat leher temannya.
"Jangan habiskan tenagamu untuk hal yang tidak berguna, ayo cepat pulang, kita sudah semakin terlambat" Naina berjalan dengan lesu menuju mobil, Endra tau kesedihan hati istrinya, bagaimanapun Naina adalah seorang wanita, dia pasti terluka dengan hinaan yang dia terima, Endra mengirim pesan pada Suseno untuk mengurus teman Naina agar kedepannya tidak mengganggu Naina lagi.
Naina terus terdiam selama perjalanan, dan lama kelamaan dia tertidur, Endra tidak tega membangunkan istrinya, dengan perlahan dia lalu menggendong Naina memasuki rumah, adegan yang dilakukan oleh Endra tentu saja dilihat oleh keluarganya yang sedang duduk diruang tamu, menunggu kepulangannya dengan Naina, Endra tidak merasa malu sedikitpun dengan pandangan yang tertuju padanya dan Naina, bagi Endra saat ini adalah Naina tidak terbangun, tetapi kejahilan Suseno membuat Naina terbangun.
Dengan sengaja, Suseno yang sedari tadi duduk di sofa single memundurkan sofa dengan menekannya, sehingga terdengar bunyi berdecit, Naina membuka matanya dan kaget karena menyadari dia berada digendongan Endra, dan lebih kaget lagi saat dia menoleh, karena keluarganya dan keluarga Endra sedang melihat kearahnya, Naina langsung meminta Endra untuk menurunkannya.
"Tidak mau"
"Maaf semuanya, aku ketiduran,, aku akan mencuci muka terlebih dahulu" Naina langsung berjalan ke kamarnya yang tentu saja di ikuti oleh Endra.
"Aaahhh,,, apa ini??!!" teriak Naina saat memasuki kamarnya.
"Kalian ini kan pengantin baru, sudah sewajarnya seperti itu" mama Nimah mendekati Naina dan memegangi dagu anak sulungnya itu, mama Nimah sangat bahagia melihat kondisi Naina yang sekarang telah menemukan kebahagiaannya.
"Mama,,, bulan madu kami sudah selesai, jadi ini sudah tidak perlu lagi, baiklah ma, aku mau cuci muka terlebih dahulu" Naina masih terlihat bersedih, sepertinya dia masih mengingat hinaan dari temannya, Endra memberi kode pada Suseno untuk cepat bergerak.
Suseno pada awalnya hanya menyerahkan masalah itu pada para pengawal tetapi dia sepertinya harus memastikan sendiri tentang masalah ini, dengan cepat Endra mengikuti Naina kedalam kamar setelah melihat Suseno pergi.
Tanpa mengetuk pintu kamar mandi, Endra langsung masuk kedalamnya dan mendapati istrinya yang sedang mencuci mukanya, Endra mengambilkan handuk tetapi tidak dia berikan untuk Naina karena dia yang ingin menyeka air di wajah Naina.
"Sayang, jangan terlalu memikirkannya, aku tau dengan pasti bagaimana dirimu" ujar Endra dengan menepuk-nepuk pelan wajah Naina menggunakan handuk untuk mengeringkan wajah Naina.
"Aku tidak memikirkannya, aku hanya kesal tidak bisa menghajarnya sendiri, ayo sekarang kita keluar, mereka semua pasti sedang menunggu" jawab Naina menutupi kesedihannya, Naina lalu keluar dari kamar untuk bergabung bersama dengan keluarganya.
"Nai, kamu baik-baik saja kan?" tanya Rayhan yang sepertinya menyadari kalau Naina sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak ayah, tidak ada apa-apa"
__ADS_1
"Baiklah, kita akan mengumumkan sesuatu yang mungkin saja ini sedikit mengagetkan untuk mu, sebenarnya kita harus menunggu Seno, tetapi lebih cepat lebih baik, karena sepertinya Seno ada pekerjaan penting" Rayhan mulai serius, begitu juga dengan yang lainnya.
"Kamu pasti setuju kan Nai kalau adik kamu Ningsih akan ayah jodohkan dengan Seno" ucapan Rayhan membuat Naina kaget, dan langsung melihat kearah Ningsih.
"Ayah,, ini hanya usulan ayah,, atau mereka saling suka?" tanya Naina, lalu dia mendekati adiknya yang tidak bereaksi apapun dan hanya diam.
"Mereka sudah dewasa, dan mereka juga sama-sama single jadi menurut ayah lebih baik seperti itu, lagipula Alfin butuh figur seorang ayah" jawab Rayhan.
Naina memegang bahu Ningsih supaya adiknya itu melihat kearahnya, Naina juga melihat kearah Reynolds yang duduk di kursi pojok ruang tamu, Naina sangat tahu kalau Reynolds menaruh rasa terhadap Ningsih.
"Apa kamu setuju? apa kamu mencintai Seno?" tanya Naina lalu memangku Alfin karena anak itu mengulurkan tangannya pada Naina.
"Tidak penting apa itu cinta kak, karena itu akan tumbuh dengan sendirinya, aku dan kak Seno sudah membicarakannya, dan kita sudah sepakat"
"Ning,, pernikahan itu bukan untuk main-main, kamu harus yakin, jangan coba-coba untuk memasukinya kalau kamu tidak yakin,, Ning,,, apa kamu tidak melihat apa yang terjadi padaku karena menikah dijodohkan?? aku tidak mengatakan kalau Seno lelaki yang sama tetapi masalah apapun bisa terjadi, dan tanpa pijakan cinta, kalian akan mudah untuk terjatuh" Naina mencoba menasehati adiknya.
"Aku sangat percaya pada kak Seno" jawab Ningsih singkat.
"Baiklah kalau itu keputusan mu, tapi lebih baik kamu pikirkan lagi, aku juga yakin kalau Seno bisa menjagamu tetapi,," Naina tidak melanjutkan ucapannya dan kembali melihat kearah Reynolds, kali ini pria yang dia lihat juga tanpa sengaja melihat ke arah Naina.
Reynolds kembali menundukkan pandangannya, dia tidak mungkin berani menatap wajah nona nya, apalagi dia juga sadar kalau dari tadi Endra melihat kearah Naina dan terus melihat Naina yang melihat kearah dirinya.
"Apa nona menyadari perasaanku pada Ningsih?" batin Reynolds.
Endra kesal melihat Naina yang terus menerus melihat kearah Reynolds, dan langsung berjalan mendekati Reynolds dan berdiri di depan nya, Naina bingung dengan tingkah suaminya, tetapi saat melihat pandangan mata Endra yang begitu tajam, membuat nya menyadari sesuatu.
"Dasar cemburuan" batin Naina lalu menyerahkan Alfin pada Ningsih, Naina mendekati suaminya dan menarik tangan nya, sebelum pergi Naina tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Reynolds.
Naina menarik tangan Endra dan kembali duduk di dekat Rayhan, Ningsih bangun dari duduknya karena Alfin menangis, sepertinya Alfin sedang tidak baik-baik saja karena dia terus menangis tidak bisa ditenangkan oleh siapapun.
"Reynolds, boleh tolong gendong Alfin?? dari tadi hanya kamu yang belum berusaha untuk menenangkannya" ujar Naina, sepertinya Ningsih juga berharap agar Reynolds membantunya karena memang Alfin dari tadi melihat kearah Reynolds, hanya saja Ningsih sungkan untuk mengatakannya.
Karena diminta oleh istri dari tuannya, tentu saja Reynolds tidak bisa menolaknya, dan seperti yang diduga oleh Naina, Alfin tidak lama langsung diam saat digendong oleh Reynolds.
"Sepertinya Reynolds cocok jadi ayah nya Alfin" celetuk Naina membuat semua orang melihat kearah Reynolds yang sedang mengajak Alfin bercanda.
"Reynolds tidak mau, ayah sudah lebih dulu bertanya padanya sebelum bertanya pada Suseno,, Reynolds menolak tapi tidak menjelaskan secara detail alasannya menolak, tetapi Seno langsung mau"
"Aaapppaaa??" Naina kaget mendengar penjelasan dari Rayhan, dia tidak menyangka hal itu sama sekali, karena terlihat sangat jelas kalau Reynolds menyukai Ningsih.
Naina kembali melihat kearah Reynolds yang telah berjalan pergi ke teras supaya Alfin mendapatkan udara segar.
"Aku tidak pantas untuk Ningsih" batin Reynolds lalu menciumi wajah Alfin.
__ADS_1